Claim Missing Document
Check
Articles

REKONSTRUKSI TARI TULO-TULO DI KOTA SABANG Ulfa, Mastura; Supadmi, Tri; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 3 (2021): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i3.22578

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul, Rekonstruksi Tari Tulo-Tulo di Kota Sabang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memperkenalkan kembali hasil dari rekonstruksi Tari Tulo-Tulo di Kota Sabang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan kualitatif dengan penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah seniman dan penari yang pernah menarikaan Tari Tulo-Tulo di Kota Sabang, sedangkan objek dari penelitian ini adalah Tari Tulo-Tulo dari Kota Sabang. Lokasi penelitian yang dilakukan berada di Kota Sabang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian mengungkapkan Tari Tulo-Tulo adalah tari peperangan yang merupakan salah satu kesenian daerah dari Kota Sabang dan dikenal sejak tahun 1920. Tarian ini diciptakan oleh orang Nias yang bermukim di Kota Sabang, yang rindu akan tanah kelahiran mereka di Gunung Sitoli, Kepulauan Nias. Tari Tulo-Tulo ini dilakukan oleh kaum pria, baik yang masih muda maupun tua. Tari ini ditarikan oleh 9 penari, ataupun 11 penari, dan seterusnya dalam jumlah ganjil. Tarian ini dipimpin oleh seorang raja/syech, yang memimpin para penari. Gerakan dari Tulo-Tulo adalah gerak yang monoton dan di ulang ulang, namun terdapat banyak ragam gerak dari tarian Tulo-Tulo yaitu, Saru (bersatu), talifuseu (persaudaraan), haru menabaluse (perang dengan senjata pedang dengan baluse atau perisai), faliga baluse (melenggang dengan perisai atau pedang), sara bamaina (main gembira), simate mila menemali (maju pantang mundur walau mati menanti), dan yang terakhir adalah belatu terlak (persilatan dan pisau). Adapun syair yang digunakan dalam tarian ini, adalah syair yang menggunakan bahasa daerah Nias. Alat musik yang digunakan dalam tarian ini yaitu accordion dan perkusi. Busana atau kostum yang digunakan adalah rompi, dan celana panjang sebetis, dan untuk syech/raja menggunakan baju lengan panjang dengan warna seperti merah, kuning, ataupun juga hitam, pengikat kepala yang digunakan dalam tarian ini merupakan pengikat kepala yang dibuat dari kertas kilat. Properti yang digunakan dalam tarian ini adalah tombak, pedang, dan perisai. Bintang yang dilukiskan pada perisai menunjukan pangkat dari para penari, bintang tiga untuk panglima dan bintang satu untuk anggota, sedangkan untuk sang raja tidak memakai perisai.Kata Kunci: Rekonstruksi, Seni Tari, Tari Tulo-Tulo
ALAT MUSIK TRADISIONAL TAGANING DI KECAMATAN LAWE SIGALA-GALA KABUPATEN ACEH TENGGARA Br. Simare-mare, Riris Juliana; Syai, Ahmad; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i1.22569

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul Alat Musik Tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara mengangkat masalah bagaimana organologi dan teknik bermain alat musik tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan organologi dan teknik bermain alat musik tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitiaan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organologi alat musik tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara meliputi (a) bahan dasar alat musik menggunakan kulit lembu sebagai membran, kayu nangka sebagai tubuh Taganing berbentuk tabung, rak terbuat dari besi/kayu, dan palu-palu (stik) terbuat dari kayu jeruk purut, (b) bentuk Taganing yaitu tabung melengkung dan ukuran gendang tingting tinggi 52 cm diameter membran 17 cm, paidua tingting tinggi 53 cm diameter membran 18 cm, painonga tinggi 54 cm diameter membran 19 cm, paidua odap tinggi 54 cm diameter membran 20 cm, dan odap-odap tinggi 54 cm diameter membran 21 cm, (c) struktur Taganing terdiri dari badan Taganing (ruang resonator), kulit/membran (penutup resonator/sumber bunyi), pinggol-pinggol (pelindung rotan pada membran), tali rotan (penghubung membran dan laman), pakko (pengait rotan pada membran), tangan- tangan (tali penggantung Taganing pada rak), sollop (penutup resonator bagian bawah), solang (penyetem suara), dan laman (alas Taganing), (d) memproduksi bunyi dengan cara dipukul, Taganing menghasilkan suara nang, ning, nung, neng, nong atau jika meminjam istilah musik barat yaitu tangga nada pentatonik yaitu nada do, re, mi, fa, sol. Teknik bermain alat musik tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara meliputi, (a) Taganing dimainkan dengan posisi duduk, (b) cara memegang stik, (c) teknik memukul stik yang terdiri dari memukul stik pada bagian tengah gendang, memukul stik pada bagian tepi gendang, serta memukul stik pada bagian tengah gendang dan menghentikannya seketika dengan cara menekan permukaan gendang dengan ujung stik, dan teknik memukul stik tersebut berkaitan dengan pola-pola permainan Taganing yaitu mangarapat, manganak-anaki, dan mangodap-odapi.Kata Kunci: Organologi, Teknik, Musik, Tradisional, Taganing
KARAKTERISTIK ALAT MUSIK TRADISIONAL SULING GAYO Muazin, Muazin; Palawi, Ari; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 4 (2020): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i4.22557

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Karakteristik Alat Musik Tradisional Suling Gayo, mengangkat masalah bagaimana karakteristik alat musik tradisional suling gayo yang ada di bagian uken (hulu) dan toa (hilir). Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan karakteristik alat musik tradisional suling gayo yang ada di bagian uken (hulu) dan toa (hilir). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah suling gayo sedangkan objek dalam penelitian ini adalah karakteristik suling gayo khususnya daerah uken dan toa. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Aceh Tengah, di dua desa yaitu desa uken dan toa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suling gayo merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup yaitu melalui lubang yang telah disediakan dari suling tersebut tergantung bentuk karakter suling itu sendiri. Pada umumnya suling gayo saat ini ditiup dari samping bagian kepala suling. Karakter nada suling gayo bagian uken sering disebut dengan kata loteng yang berarti melenting karena karakter nada ini berasal dari suara wanita yang tinggi sedangkan Karakter nada suling gayo bagian toa sering disebut dengan kata lungun yang berarti merdu karena karakter nada ini berasal dari suara lelaki yaitu rendah. Yang membedakan karakteristik peniupan yaitu yang pertama dari tinggi atau rendah nada dan yang kedua adalah dari bentuk dan jenis suling itu sendiri. Tergantung dari besar, sedang dan kecil bentuk suling. Nada suling ini tidak pasti cukup menggunakan rasa atau feeling sehingga mendapatkan karakter nada yang diinginkan. Suling uken memiliki panjang kurang lebih 25 cm dan menghasilkan suara yang melenting. Pada umumnya suling loteng berawal dari pepongoten dan memiliki alunan-alunan sering disebut denang (lagu) ditambah lagi dengan sarik (teriakan). Suling toa memiliki panjang kurang lebih 40 cm yang menghasilkan suara yang rendah. Pada umumnya suling lungun berawal dari sebuku yang memiliki alunan denang (lagu) yang merdu.Kata kunci: Karakteristik, Alat Musik, Suling Gayo.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN PADA SEBUKU BEGURU DALAM KONTEKS SOSIAL MASYARAKAT ETNIK GAYO Arda, Nantuhateni; Ismawan, Ismawan; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 3 (2020): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i3.22554

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Nilai-nilai Pendidikan pada Sebuku Beguru dalam Konteks Sosial Masyarakat Etnik Gayo. Mengangkat masalah tentang nilai-nilai pendidikan pada adat beguru dalam konteks sosial masyarakat etnik Gayo. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan pada adat beguru dalam konteks sosial masyarakat etnik gayo. metode penelitian ini adalah Deskriptif, dengan pendekatan Kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Teknik analisis data yaitu mereduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adat sebuku beguru merupakan salah satu dari proses upacara adat sebelum perkawinan Etnik Gayo yang dimulai dari Munginte, Mujule Emas, dan Beguru. Nilai-nilai pendidikan dan kehidupan sosial yang terkandung di dalam adat Sebuku Beguru yaitu nilai pendidikan aqidah, nilai pendidikan ibadah, dan nilai pendidikan akhlak.Kata Kunci: Sebuku Beguru, Etnik Gayo, Nilai-nilai Pendidikan.
INSTRUMEN SARON SEBAGAI MUSIK IRINGAN TARI GEDRUK PADA SANGGAR KRIDHA MUDA DI JAGONG JEGET Sari, Dwi Artika; Supadmi, Tri; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 3 (2020): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i3.22550

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Instrumen Saron Sebagai Musik Iringan Tari Gedruk Pada Sanggar Kridha Muda di Jagong Jeget. Pada kesenian jawa dikenal salah satu bentuk kesenian Gedruk yang berkembang di Jagong dari dulu hingga saat ini,seni Gedruk merupakan seni tari yang diiringi musik secara langsung. Pada musik iringan terdapat salah satu alat musik tradisional yaitu alat musik Saron yang menjadi simbol/ikon pada kesenian ini, dengan suaranya yang keras dan nyaring menjadikan alat musik ini berperan penting dalam pertunjukan kesenian ini. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian Saron dalam musik iringan tari Gedruk. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian Saron dalam musik iringan tari Gedruk pada sanggar Kridha Muda di Jagong Jeget. Yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah seniman/pemain alat musik Saron yaitu Tuparji Saputra dan Rejo selaku ketua sanggar Kridha Muda. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data digunakan dengan Teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan mereduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa instrument Saron memiliki pola irama yang sangat sederhana, ada 3 bentuk pola irama dalam pertunjukan kesenian ini yaitu, irama lancar, irama tanggung dan irama dados. Pada pertunjukan ini terdapat tiga pemain alat musik Saron yakni masing-masing pemain memakai Saron yang ukurannya berbeda-beda yakni Saron demung yang berukuran besar, Saron barung yang berukuran sedang dan Saron penerus/peking yang berukuran kecil.adapun alat musik pengiring lainnya yaitu, gong, kempul, bende, kendang, drum, keyboard, gitar bass, gitar melodi dan properti yaitu kerincingan/klintingan. Kesenian ini berfungsi sebagai hiburan rakyat .Kata kunci: Saron, Iringan Tari, Tari Gedruk.
MOTIF DAN FUNGSI KERAJINAN ANYAMAN TAPE DI GAMPONG KEMILI KECAMATAN BEBESEN KABUPATEN ACEH TENGAH Yuliandari, Wilda; Selian, Rida Safuan; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 2 (2020): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i2.15690

Abstract

Penelitian yang berjudul motif dan fungsi kerajinan anyaman Tape di Gampong Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah ini mengangkat masalah bagaimanakah motif yang terdapat pada kerajinan anyaman Tape di Gampong Kemili Kabupaten Aceh Tengah dan bagaimanakah fungsi kerajinan anyaman Tape yang terdapat di Gampong Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan jenis motif pada kerajinan anyaman Tape di gampong Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah dan untuk mendeskripsikan jenis fungsi kerajinan anyaman Tape di gampong Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah. Jenis Penelitian yang digunakan adalah pendekatan Kualitatif. Pendekatan Kualitatif digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara tidak terstruktur dan dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif-motif yang terdapat pada anyaman Tape di Gampong Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah ialah motif bunga nam, motif matapat, motif sesiku, motif bunga semelah, motif sesesip, motif peperting, motif keras kulir, motif genipo, motif bintang opat dan motif katir. fungsi anyaman Tape yaitu sebagai fungsi sosial, ekonomi, ritual dan keindahan (estetika), anyaman Tape merupakan tempat penyimpanan wadah pengganti plastik yang difungsikan untuk pernikahan, menaruh tempat sirih, beras, emas, nasi, dan lain sebagainya.Kata Kunci: motif, fungsi, kerajinan anyaman Tape
PERKEMBANGAN MOTIF PADA BAJU PENGANTIN DI MEULABOH KABUPATEN ACEH BARAT Fadzila, Marliza; Selian, Rida Safuan; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i1.15685

Abstract

Penelitian ini berjudul Perkembangan Motif pada Baju Pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Mengangkat masalah perkembangan motif pada baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat pasca Tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan motif pada baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat pasca Tsunami. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara. Subjek penelitian ini adalah Syarifah Hennizar selaku pemiliki Cut Aja Wedding dan Rina selaku pemiliki Rina Queenna, objek penelitian ini adalah baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa perkembangan motif pada baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat pasca Tsunami, merupakan salah satu bukti nyata bahwa perkembangan yang terjadi pada motif baju pengantin di Meulaboh dapat dilihat dari tampilan motif yang berbeda seperti penambahan motif pada motif yang sudah ada, hal ini dapat kita lihat pada motif pinto aceh, yang mana terdapat beberapa bagian pada motif pinto aceh yang ditambahkan motif baru untuk memperindah motif pinto aceh yang sudah ada, seperti penambahan ukiran daun maupun ukiran batang. Masyarakat sekitar tidak mempermasalahkan perkembangan yang terjadi pada motif yang terdapat pada baju pengantin, hal ini dikarenakan tidak terdapatnya motif-motif yang memilliki arti negatif. Motif itu sendiri merupakan identitas suatu masyarakat sehingga adanya motif sangat penting untuk diterapkan pada baju pengantin. Namun saya berharap agar motif-motif yang sudah ada seperti pinto aceh, uke bate, pucok reubong dan motif Aceh yang lain tetap diterapkan pada baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat, meskipun nantinya ada penambahan motif ragam hias pada motif-motif Aceh tersebut.Kata Kunci: perkembangan, motif, baju pengantin, pasca Tsunami.
MAKNA PELAMINAN KAMAR PENGANTIN SUKU ANEUK JAMEE DI KECAMATAN TAPAKTUAN Septiana, Ardilla; Ramdiana, Ramdiana; Lindawati, Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i1.15682

Abstract

Penelitian ini berjudul Makna Pelaminan Kamar Pengantin Suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan, mengankat masalah bagaimana fungsi dan makna simbolik pelaminan kamar pengantin suku Anauk Jamee. Tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan fungsi dan makna simbolik pelaminan kamar pengantin suku Aneuk Jamee di kecamatan Tapaktuan. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan Semiotika, jenis penelitian ini yaitu deskriptif. Subjek penelitian ini ialah suku Aneuk Jamee dan objek penelitian ialah kamar pengantin suku Aneuk Jamee. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, fungsi keseluruhan dari pelaminan kamar pengantin ialah tempat pelaksanaan ritual adat pernikahan suku Aneuk Jamee dan di kamar itulah mempelai wanita akan melepaskan keperwanannya untuk dipersembahkan kepada sang suami. Makna simbolik yang terdapat di pelaminan kamar pengantin suku Aneuk Jamee di kecamatan Tapaktuan ialah (1) Labah Mangirok (lebah hinggap) yang bermaknakan seorang raja dan rakyat yang saling tolong-menolong, (2) Banta Gadang Tagak (bantal besar berdiri) bermaknakan seorang perempuan yang akan melahirkan keturunan, (3) Meracu dan Tapak diibaratkan seorang raja dan ratu, (4) Kipas Berwarna Warni yang memiliki tiga warna yaitu kuning, merah, dan hijau, (5) Banta Basusun (bantal bersusun) bermakna empat pihak delapan kaum, (6) Tilam Pandak adalah tempat duduk pengantin yang diumpamakan sebagai singgasana kehormatan untuk pengantin yang disandingkan di pelaminan, (7) Renda Putih yang bermaknakan suatu kesucian, (8) Langik-langik (langit-langit), (9) Buah Butun Kuning di Bangku yang berjumlah lima ruas mengartikan rukun islam ada lima perkara, (10) Pancuang Soa Kelambu (kelambu tujuh lapis) bagian utama yang terdapat pada pelaminan kamar pengantin, Bii (kening kelambu) maknanya kesucian hati suami istri dalam menjalankan bahtera rumah tangga, (11) Seprai Berlapis Tujuh, (12) Sampang Kain berfungsi tempat penyampangan kain yang dibawa oleh mempelai laki-laki, (13) Tikar Jajakan. Selain itu properti yang juga terdapat di kamar pengantin yaitu Ceurano (tempat sirih), Tuduang saji (tudung saji). Pelaminan Kamar Pengantin Suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan hanya dapat digunakan oleh perempuan yang bisa menjaga kehormatannya.Kata Kunci: Fungsi, makna simbolik, pelaminan kamar pengantin, Suku Aneuk Jame
BASIC STICKING SNARE DRUM PADA BATTERY LINE DRUM CORPS UNIVERSITAS SYIAH KUALA Rahmayana, Rahmayana; Syai, Ahmad; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 4 (2019): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i4.15294

Abstract

Penelitian yang berjudul Basic sticking Snare Drum pada Battery Line Drum Corps Universitas Syiah Kuala. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Basic sticking Snare Drum pada Battery Line Drum Corps Universitas Syiah Kuala dan apa saja kendala yang dialami pelatih selama proses latihan Basic sticking Snare Drum. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan Basic sticking Snare Drum pada Battery Line Drum Corps Universitas Syiah Kuala dan mendeskripsikan kendala yang dialami pelatih selama proses latihan berlangsung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah pelatih dan alumni pemain snare drum pada Battery Line Drum Corps Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal yang diteliti, wawancara untuk menggali keterangan yang lebih mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan dengan cara menyelidiki benda-benda untuk membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Basic sticking Snare Drum pada Battery Line Drum Corps Universitas Syiah Kuala meliputi pengenalan alat, cara memegang stick, basic sticking, dan rudiment. Kendalanya adalah sulit menyamakan posisi tangan kanan dan kiri sesuai dengan teknik tradisional grip, sulit menyatukan ketukan ketika melakukan rudiment pada setiap pemain, sulit mengontrol tangan kanan dan kiri, serta kurangnya kedisiplinan pemain saat proses latihan berlangsung.Kata kunci: basic sticking, snare drum, Battery Line Drum Corps
BENTUK PENYAJIAN TARI MALIKUSSALEH PADA SANGGAR SENI AL-IKHLAS KABUPATEN ACEH UTARA Amalia, Rifkah; Zuriana, Cut; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 4 (2019): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i4.15295

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan Bentuk Penyajian Tari Malikussaleh pada Sanggar Seni Al-Ikhlas Desa Paloh Lada Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara. Latar belakang penelitian ini adalah Tari Malikussaleh masih kurang dikenal oleh masyarakat setempat, selain itu karena bukti fisik seperti foto dan video tentang Tari Malikussaleh tidak banyak karena pernah terjadi kebakaran di sanggar Seni Al-Ikhlas. Metode Penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Objek penelitian ini adalah Tari Malikussaleh yang berasal dari Sanggar Seni Al-Ikhlas Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini difokuskan pada bentuk penyajian Tari Malikussaleh. Subjek dalam penelitian ini ialah pencipta Tari Malikusslah yaitu, Tarmizi yang sekaligus pengurus sanggar, dan para penari Reza, Sarah, dan lain-lain. Data penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Data dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi dan penarika kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Malikussaleh termasuk tari kreasi yang menjadi tarian yang berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat setempat maupun luar daerah.Tari Malikussaleh terdiri dari 38 ragam gerak dan 21 ragam pola lantai. Tari Malikussaleh disajikan dengan penyajian yang terdiri dari: 1) iringan tari menggunakan rapai, gitar gambus, kendang, biola juga puisi dan syair, 2) lirik dari puisi dan syair berisi tentang gambaran Sultan Malikussaleh 3) kostum dari tari ini, penari wanita menggunakan celana dan baju motif Aceh, songket, dan tali pinggang, sedangkan penari pria menggunakan jubah arab polos, celana panjang hitam polos, dan sorban arab polos, 4) riasan yang digunakan untuk penari wanita adalah rias cantik dan penari pria tidak menggunakan riasan apa-apa, 5) panggung pertunjukannya adalah panggung proscenium, dan 6) properti yang digunakan adalah payung dan rencong.