Claim Missing Document
Check
Articles

Spatializing Narrative: Postcolonial Spaces of Oswald Andrew Bushnell’s Ka’a’awa Kristiawan Indriyanto
Journal of Language and Literature Vol 23, No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/joll.v23i1.5455

Abstract

This study explores the representation of space in O.A Bushnell’s Ka’awa in which the seemingly contradictory spatial scene of the urban, the rural, the picturesque and the macabre delineates the complexity of postcolonial spaces. Ka’a’awa foregrounds the journey of Hiram Nihoa through his travel all around O’ahu in the 1850’s. Nihoa’s first-person account provides a vivid avenue for the readers through textual cues delineating spaces as they mentally mapped the slowly unfolding and unfamiliar spaces as his narration progresses. This study is the intersection between environmental/eco-criticism and geo-criticism which focuses on the complexities between spatial referents and their real-world referents as is stated by Tally Jr and Prieto, especially the postcolonial contexts of Hawai’i-West interaction during the second half of the 19th century. The finding posits how the readers familiarize themselves with the picturesque landscape of O’ahu through Nihoa’s evocative narration and how the spatial scene later resurfaces as space connotes death and diseases due to epidemic which defamiliarizes readers from prior spatiality. The spatial scene narrating scene of disease, despair and death highlights the discursive and material condition of Hawai’i as a postcolonial space. Space in Ka’a’awa alludes both toward the referential condition of 1850’s Hawai’i and symbolically represents the decline of the Hawai’ian natives.
Postcolonial Travel Writing: Ambivalence of Colonial Discourse in O.A Bushnell’s the Return of Lono Kristiawan Indriyanto; Tan Michael Chandra
Wanastra: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2023): March
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/wanastra.v15i1.14821

Abstract

This paper analyzes O.A Bushnell’s the Return of Lono from postcolonial perspective, focusing on the ambivalence of colonial discourse and the resulting contradiction which ultimately undermine Western claim of superiority. This novel dramatizes the arrival of Captain Cook’s expedition on the Hawai’ian isles from the first-person perspective of Jonathan Forrest as he reminiscences of their prior expedition. The Westerners’ view of an idealized and imagined Hawai’i constructs Hawai’i as a space which is exotic and primitive while simultaneously promotes the idea of beauty and welcoming. While previously abiding on the Western paradigm which denigrates the natives as animalistic and savage Others, Forrest’s perspective unsettles this dominant thought and contextualizes the resulting ambivalence within colonial discourse. This paper employs the concept of contact zone as stated by Pratt and also the theory of colonial discourse and ambivalence as is proposed by Ashcroft et al. The finding concurs that every exertion of colonial thought will result in resistance as by nature, the colonial discourse itself is intertwined with ambivalence.
MEMBANGUN KARAKTER MELALUI KESANTUNAN BERBAHASA PADA SISWA KELAS XI SMA N 3 MEDAN Lesnaria Girsang; Kristiawan Indriyanto; Dame Uli Eva Christina Aritonang; Mayang Savira; Natalia Simarmata
Literasi : Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya Vol 7, No 1 (2023): JURNAL LITERASI APRIL 2023
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/literasi.v7i1.10235

Abstract

Dewasa ini, kemerosotan dalam kebahasaan terutama dalam aspek kesopanan menjadi sebuah permasalahan yang harus diselesaikan oleh tenaga pendidik dan pengajar, terutama di tingkat sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pembentukan kesantunan berbahasa, baik kesantunan antar murid maupun kesantunan berbahasa murid terhadap pendidik. Fokus penelitian ini adalah pembentukan karakter siswa yang dapat ditinjau melalui kesantunan berbahasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Objek penelitian adalah murid dan pendidik di kelas XI SMA Negeri 3 Medan. Pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, survei, dan rekaman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa membangun karakter murid melalui kesantunan berbahasa sangat penting sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yaitu terbentuknya insan yang cerdas, berbudaya, kompetitif, inovatif serta peduli lingkungan sesuai dengan profil pelajar pancasila berlandaskan iman dan taqwa.    
Karakter Perempuan dalam Novel Penari dari Serdang Karya Yudhistira Andi Noegraha Massardi Ibnu Hajar; Kasih Kristina Waruwu; Kristiawan Indriyanto
Hortatori : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 1 (2023): Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jh.v7i1.1760

Abstract

This study analyzes the depiction of the characterization of female characters and perspectives presented through the study of socialist feminism on the novel Dancer from Serdang by Yudhistira Andi Noegraha Massardi. As literary research, this research includes a qualitative descriptive approach with the perspective of feminism as a frame of thought. The novel Dancer from Serdang is the source of data for this study, and the data is obtained through reading, recording, data reduction techniques before conducting descriptive analytical analysis. In collecting data, researchers use data collection in certain parts to facilitate the research carried out. The author concludes that in the novel studied the existence of women in the social environment is quite prominent because the efforts to achieve women in terms of education, economy, and so on can be realized and can be seen from the form of freedom of opinion, rejecting something that is not in accordance with her expectations.
Charting The Development and Intersection of Agrarianism, Transcendentalism and Ecocriticism Kristiawan Indriyanto; Desca Angelianawati
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 15 No. 1 (2023): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v15i1.3323

Abstract

AbstractThis paper charts the emergence of agrarianism as a philosophical thought, situates its development within other ideas such as Romanticism and Transcendentalism, and how agrarian thought intertwined with ecocritical literary analysis. The premise of this study is that within the current state of environmental crisis and degradation, the insight from agrarianism can provide an alternative environmental imagination to reconsider the position of humanity in the wider world. This study applies intellectual history as the framework on how the concepts and theories interacted and influenced other social/cultural/intellectual developments. Agrarianism celebrates rural life and agriculture as a response to industrialization, championed by thinkers like Emerson and Thoreau, who see it as a path to a more meaningful existence. It then examines how agrarianism intersects with ecocriticism, an environmental literary perspective that emerged in the 1960s. Agrarianism contributes significantly to ecocriticism, particularly in its critique of industrialization, exemplified by Rachel Carson's "Silent Spring." Both perspectives emphasize a holistic approach to the environment, emphasizing the interconnectedness of humans and nature. Wendell Berry's ecological agrarianism embodies these principles, stressing sustainable agriculture and environmental care. In conclusion, this paper highlights agrarianism's historical significance and contemporary relevance, illustrating its convergence with ecocriticism in their shared commitment to environmental ethics and preserving the natural world. Keywords: Agrarianism, ecocriticism, environmental philosophy, transcendentalismAbstrakTulisan ini memetakan kemunculan agrarianisme sebagai sebuah pemikiran filosofis, menempatkan perkembangannya dalam gagasan lain seperti Romantisisme dan Transendentalisme, dan mengkonstruksikan korelasi pemikiran agrarian dengan analisis sastra ekokritik. Premis penelitian ini adalah dalam kondisi krisis dan degradasi lingkungan yang dihadapi masyarakat secara global, wawasan agrarianisme dapat memberikan alternatif imajinasi lingkungan untuk mempertimbangkan kembali posisi umat manusia di dunia yang lebih luas. Penelitian ini mengadopsi sejarah intelektual sebagai kerangka kerja untuk memahami bagaimana konsep dan teori-teori tersebut saling berinteraksi dan memengaruhi perkembangan sosial, budaya, dan intelektual lainnya. Agrarianisme merayakan kehidupan pedesaan dan pertanian sebagai respons terhadap industrialisasi, dipromosikan oleh pemikir seperti Emerson dan Thoreau yang melihatnya sebagai jalan menuju keberadaan yang lebih bermakna. Kemudian, makalah ini mencermati bagaimana agrarianisme mempunyai kesamaan perspektif dengan ekokritik,perspektif sastra lingkungan yang muncul pada tahun 1960-an. Agrarianisme memberikan kontribusi besar bagi ekokritik, terutama dalam kritiknya terhadap industrialisasi, yang diwakili oleh "Silent Spring" karya Rachel Carson. Keduanya menekankan pendekatan holistik terhadap lingkungan, menekankan keterkaitan antara manusia dan alam. Agrarianisme ekologis Wendell Berry mewujudkan prinsip-prinsip ini, menekankan pertanian berkelanjutan dan perawatan lingkungan. Sebagai kesimpulan, makalah ini menyoroti signifikansi historis agrarianisme dan relevansinya dalam konteks kontemporer, menggambarkan konvergensinya dengan ekokritik dalam komitmen bersama terhadap etika lingkungan dan pelestarian dunia alam.Kata kunci : agrarianism, filosofi lingkungan, transcendentalisme, ekokritik
Penerapan metode pembelajaran berbasis proyek untuk meningkatkan kemampuan menulis teks berita Pane, Asmidar; Indriyanto, Kristiawan; Parangin-angin, Esra
Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol 10, No 1 (2024): Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/1202424541

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media pembelajaran berbasis proyek dalam meningkatkan keterampilan menulis teks berita siswa serta mengevaluasi efektivitas penerapan media ini di SMK Pangeran Antasari, Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus melibatkan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan tes keterampilan menulis teks berita, yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media pembelajaran berbasis proyek, khususnya penggunaan aplikasi Canva, secara signifikan meningkatkan keterampilan menulis teks berita siswa. Pada siklus I, nilai rata-rata siswa meningkat dari 68,33 pada pratindakan menjadi 70,55. Pada siklus II, terjadi peningkatan lebih lanjut dengan nilai rata-rata mencapai 80,0. Siswa menunjukkan peningkatan partisipasi, antusiasme, dan fokus selama pembelajaran, yang mencerminkan pembelajaran yang lebih aktif dan menyenangkan. Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran berbasis proyek terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis teks berita siswa kelas XI di SMK Pangeran Antasari.
Analisis Kesalahan Penggunaan Kata Baku dalam Karangan Eksposisi Siswa Sekolah Dasar Salim, Salim; Indriyanto, Kristiawan; Sari, Sartika
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 10 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v10i3.9025

Abstract

Penelitian ini  bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan berbahasa bidang morfologi pada karangan eksposisi siswa Kelas VI SD Negeri 1 Blangkajeren, Kabupaten Gayo Lues. Data penelitian ini berupa karangan eksposisi  siswa sebanyak 30 karangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Setelah data terkumpul dilakukan analisis kemudian dideskripsikan dalam bentuk tulisan. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik tes, yakni siswa diminta untuk menulis karangan eksposisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 30 karangan eksposisi terdapat sejumlah kesalahan morfologi dalam karangan eksposisi siswa yakni kesalahan dalam afiksasi, kesalahan kompositum, kesalahan reduplikasi, kesalahan penggunaan kata baku/ tidak baku, dan kesalahan karena adanya interfrensi bahasa Gayo terhadap bahasa Indonesia dalam karangan eksposisi siswa.
Pemanfaatan Pertunjukan Drama “Ulang Durhaka” Sebagai Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Efikasi Diri dan Pendidikan Karakter Siswa SMA Harapan Medan Prabuwati, Rin; Indriyanto, Kristiwan; Sari, Sartika
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 10 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v10i3.9377

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan pertunjukan drama “Ulang Durhaka” sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan efikasi diri dan pendidikan karakter siswa kelas XII IPS 1 SMA Harapan Medan Tahun Ajaran 2023/2024. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian Kualitatif dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian ini melibatkan 30 orang siswa kelas XII IPS  sebagai populasi. Pada metode penelitian ini, peneliti menggunakan 2 siklus dengan rentang waktu penelitian selama 3 bulan. Metode pengumpulan data yaitu Observasi, Angket dan dokumentasi. Temuan dari penelitian ini mengindikasi adanya manfaat pertunjukan drama “Ulang Durhaka” sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan efikasi diri dan pendidikan karakter siswa kelas XII IPS SMA Harapan setelah membaca naskah drama dan menonton pertunjukan drama “Ulang Durhaka”. Sebelumnya siswa kelas XII IPS SMA Harapan menyatakan bahwa pertunjukan drama tidak sering dilakukan di kelas, sehingga mereka kurang memahami manfaat dari pertunjukan drama. Lewat data yang dikumpulkan  maka terlihat sebagian besar responden berhasil memanfaatkan pertunjukan drama sebagai bahan ajar untuk meningkatkan efikasi diri dan pendidikan karakter siswa. Oleh karena itu, temuan dari penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan bahwa sebuah pertunjukan drama yang digunakan sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan efikasi diri dan pendidikan karakter siswa.
CHARTING THE STAGES OF ENVIRONMENTAL HISTORY : ECOLOGICAL READING OF JAMES MICHENER’S HAWAI’I Indriyanto, Kristiawan; Darmawan, Ruly Indra; Chandra, Tan Michael
International Journal of Humanity Studies (IJHS) Vol 6, No 2 (2023): March 2023
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/ijhs.v6i2.5774

Abstract

This study analyzes James Michener’s Hawai’i to underline how the environment was changed, altered and transformed over time based on differing paradigms of conceptualizing nature and environment. It primarily focuses on how the Native Hawai’ians, American settlers and Chinese immigrants have contrasting ways of perceiving the more-than-human world. The stages of environmental history, as underlined by Worster and Cronon argue how the differing paradigm is intertwined within the cultural contexts and socio-historical circumstances of a particular ethnicity in Hawai’i. Their paradigm manifested through social reproduction resulting from the mode of production, either instrumentalising or respecting the land. Moreover, race, social status and gender also problematize how the environment is conceptualized. From the perspective of environmental history, the environment is positioned as dynamic and changing, contrary to a prior depiction of nature as passive and static. The finding suggests that environmental perspectives in the novel Hawai’i can provide an avenue to reinterpreting human and non-human relationships by considering humanity as part of the natural world.
A Literary Crossroads: Colonial Anxiety and Ecological Imperialism in The Tale of Saidjah and Adinda Edward Owen Teggin; Kristiawan Indriyanto
Journal of Language and Literature Vol 24, No 2 (2024): October
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/joll.v24i2.8282

Abstract

This article examines the concepts of ecological anxiety and imperialism through the prism of colonial literature, with the aim of contextualising them alongside the broader theory of colonial anxiety. The study examines The Tale of Saidjah and Adinda, contained in Max Havelaar, as a case study. The text was investigated in order to identify key signifiers of anxiety, with the buffalo being the strongest signifier identified for discussion. The premise is that colonial and ecological signifiers can be seen in the narrative containing the buffalo due to the exploitative imperial process at work and the anxiety experienced by characters such as Saidjah and Adinda when buffalo were stolen. This approach is well suited to the current study due to the way in which Multatuli has used the buffalo, both symbolically and as a major part of the narrative, to demonstrate the damage done to the Javanese people and the environment by the colonial-imperial process. This study demonstrates that colonial and ecological anxiety are closely allied fields that can be used to expand on literary works and analyses dealing with the colonial-imperial era. So too, it is argued, that Indonesia has a key role to play in future debates of both colonial and ecological anxiety.