Articles
RASIONALITAS PELAKSANAAN “INTERNSHIP PROGRAM†PADA SEKOLAH BERBASIS AGAMA
CHOIRUL ALVIN NISYAM, MUHAMMAD;
MACHFUD FAUZI, AGUS
Paradigma Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
SMP Islam Manbaul Ulum memiliki program sekolah yang menarik untuk tingkat sekolah menengah pertama. Program tersebut adalah Internship Program, program yang mendatangkan mahasiswa atau mahasiswi bahkan bisa seorang aktifis dari luar negeri untuk bisa magang disekolah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menjelaskan mengenai rasionalitas Internship Program dan pelaksanaannya pada sekolah berbasis agama. Peneliti menggunakan teori rasionalitas yang dikemukakan oleh Max Weber sebagai dasar analisis data. Penelitian ini hanya menggunakan 2 tipe rasionalitas, yakni rasionalitas instrumental dan rasionalitas nilai/tujuan. Hal tersebut dikarenakan karena temuan data yang ditemukan oleh peneliti dalam proses penelitian hanya mengarah pada tipe rasionalitas instrumental dan rasionalitas nilai/tujuan. Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian kualitatif, dengan menggunakan pendekatan verstehen. Penggunaan pendekatan tersebut memiliki tujuan yakni agar kedekatan antara informan dengan peneliti bisa terjalin dengan baik, sehingga bisa memperoleh data terperinci sesuai dengan fenomena. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Internship Program memberikan dampak positif bagi seluruh warga sekolah dalam menumbuhkan atmosfer berbahasa Inggris. Kata Kunci: Internship Program, Max Weber, Bahasa Inggris
PERTUKARAN SOSIAL ELIT PENDUKUNG DAN PASANGAN CALON PADA PILKADA: STUDI KASUS KEMENANGAN SYAHTO PADA PILKADA TULUNGAGUNG 2018
HAMDAN ASRORUDIN, MOHAMMAD;
MACHFUD FAUZI, AGUS
Paradigma Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pemilihan bupati Tulungagung 2018 menjadi ajang kontestasi dua pasangan calon yang terdiri dari calon petahana melawan calon baru sebagai penantang. Proses berjalan sebagai mana mestinya, sampai pada dua minggu sebelum hari pencoblosan calon bupati petahana terkena operasi tangkap tangan KPK. Meskipun terkena kasus korupsi calon petahana masih mampu memenangkan kontestasi dengan selisih suara yang signifikan yaitu 60:40 persen. Trik pemenangan yang digunakan oleh pasangan calon petahana hampir sama seperti kontestasi pada tahun sebelumnya yaitu memanfaatkan relasi sosial baik yang berawal dari hubungan pertemanan sampai hubugan bisnis. Relasi sosial yang kuat memunculkan militansi pendukung yang selanjutnya disebut relawan. Relawan terbentuk dari kesepahaman atas pilihan rasional terhadap pasangan calon bupati. Kesepahaman tersebut di dipengaruhi oleh peran elit yang ada di tengah masyarakat. Namun apa yang menjadi alasan elit masyarakat masih mendukung calon petahana meskipun tercemar integritasnya karena korupsi. Terdapat kemungkinan adanya transaksional atau pertukaran antara elit dengan calon. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pertukaran sosial. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi serta menggunakan teknik analisis data miles dan huberman. Menggunakan sudut pandang Peter M Blau dalam mengupas pertukaran pada dunia politik. Terdapat fakta bahwa antara elit dan calon terjadi pertukaran baik yang sifatnya individu untuk elit sendiri maupun untuk masyarakat atau masa dari elit. Elit memberikan dukungan dan mengkondisikan masa diberikan reward berupa intriksik (rasa hormat, kasih sayang, pertemanan) maupun ekstrinsik (uang, jabatan, proyek). Namun pertukaran tidak selamanya seimbang. Terdapat elit yang merasa reward yang diberikan tidak sesua dengan yang disepakati diawal, sehingga elit tersebut membelot dan mengarahkan dukungan ke calon lawan. Kata kunci: pilkada, pertukaran sosial, pendukung
RASIONALITAS DEMONSTRASI ORANGTUA TOLAK SISTEM ZONASI DALAM PEMILIHAN SEKOLAH
NURLAILI, AGUSTINA;
MACHFUD FAUZI, AGUS
Paradigma Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penolakan terhadap kebijakan seleksi zonasi sekolah pada penerimaan peserta didik baru menimbulkan reaksi yang cukup besar di masyarakat Indonesia. Kebijakan seleksi zonasi yang diterapkan untuk meratakan persebaran fasilitas pendidikan diharapkan dapat memajukan sekolah secara merata dengan menerima siswa baru terdekat tanpa memandang label ?pandai? atau ?tidak pandai?. Namun aturan tersebut justru memunculkan demonstrasi yang dilakukan oleh orangtua. Tindakan penolakan tersebut dilakukan oleh orangtua baik anaknya telah diterima di sekolah negeri maupun belum mendapatkan kepastian. Penelitian dilaksanakan di Kota Surabaya sebagai kota yang memiliki kebijakan khusus dalam menangani masalah pendidikan, subjek penelitian adalah orangtua peserta demonstrasi tolak sistem zonasi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi alasan terjadinya demonstrasi, mengidentifikasi karakteristik keluarga dan kondisi objektif keluarga kemudian mengidentifikasi rasionalitas demonstrasi yang dilakukan orangtua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menganalisis realitas sosial dari tindakan demonstrasi. Teori yang digunakan untuk mengkaji lebih dalam tindakan demonstrasi menggunakan teori Tindakan Rasionalitas Max Weber. Teori tindakan rasionalitas menjelaskan mengenai motif dari tindakan sosial yang dilakukan oleh individu atau masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua tindakan rasionalitas yang mendasari tindakan demonstrasi yang dilakukan oleh orangtua yaitu tindakan rasionalitas instrumental dan tindakan tradisional. Kesimpulannya, orangtua melakukan kegiatan demonstrasi untuk menghentikan sistem seleksi zonasi sekolah. Keinginan untuk menghentikan sistem seleksi zonasi juga dipengaruhi oleh adanya pemikiran tradisional terkait labelling pada sekolah. Kata Kunci: Demonstrasi, Rasionalitas, Sekolah, Seleksi Zonasi
RASIONALITAS DEMONSTRASI ORANGTUA TOLAK SISTEM ZONASI DALAM PEMILIHAN SEKOLAH
NURLAILI, AGUSTINA;
MACHFUD FAUZI, AGUS
Paradigma Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penolakan terhadap kebijakan seleksi zonasi sekolah pada penerimaan peserta didik baru menimbulkan reaksi yang cukup besar di masyarakat Indonesia. Kebijakan seleksi zonasi yang diterapkan untuk meratakan persebaran fasilitas pendidikan diharapkan dapat memajukan sekolah secara merata dengan menerima siswa baru terdekat tanpa memandang label ?pandai? atau ?tidak pandai?. Namun aturan tersebut justru memunculkan demonstrasi yang dilakukan oleh orangtua. Tindakan penolakan tersebut dilakukan oleh orangtua baik anaknya telah diterima di sekolah negeri maupun belum mendapatkan kepastian. Penelitian dilaksanakan di Kota Surabaya sebagai kota yang memiliki kebijakan khusus dalam menangani masalah pendidikan, subjek penelitian adalah orangtua peserta demonstrasi tolak sistem zonasi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi alasan terjadinya demonstrasi, mengidentifikasi karakteristik keluarga dan kondisi objektif keluarga kemudian mengidentifikasi rasionalitas demonstrasi yang dilakukan orangtua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menganalisis realitas sosial dari tindakan demonstrasi. Teori yang digunakan untuk mengkaji lebih dalam tindakan demonstrasi menggunakan teori Tindakan Rasionalitas Max Weber. Teori tindakan rasionalitas menjelaskan mengenai motif dari tindakan sosial yang dilakukan oleh individu atau masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua tindakan rasionalitas yang mendasari tindakan demonstrasi yang dilakukan oleh orangtua yaitu tindakan rasionalitas instrumental dan tindakan tradisional. Kesimpulannya, orangtua melakukan kegiatan demonstrasi untuk menghentikan sistem seleksi zonasi sekolah. Keinginan untuk menghentikan sistem seleksi zonasi juga dipengaruhi oleh adanya pemikiran tradisional terkait labelling pada sekolah. Kata Kunci: Demonstrasi, Rasionalitas, Sekolah, Seleksi Zonasi
SOLUSI KAMPANYE TERSELUBUNG DI HARI TENANG PEMILU
Fauzi, Agus Machfud
Metafora: Education, Social Sciences and Humanities Journal Vol 2, No 3 (2015): Pendidikan di Ruang Sosial
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/metafora.v2n4.p83-89
Quiet days is one of a series of elections be used as a policy in each of the Electoral Law (Legislative, President and Head of Region) in order to be a separation between the days of the campaign were at odds a little bit with the D-day implementation of the voting and counting. A quiet day at the time of the elections is an opportunity for electoral participants to rest after a long activity to meet constituents during the campaign schedule. Election participants are expected colling down after delivering a program, a vision and mission for the implementation of the campaign with a variety of creative shapes and models of the campaign. Voters as the object of the campaign as well as subjects that determine victory or defeat of election participants, given the opportunity to weigh up between the pair of candidates, that is where the best of the candidates who have offered programs, vision and mission during the campaign. Quiet day is expected to be the capital of preparation conscience of voters, still somewhat tainted by parties who are not responsible, either the presence of a covert campaign, black campaign, partisan survey implementation and violations of other quiet day.
Eksistensi Kegiatan Keagamaan Islam Aboge pada Masa Pendemi COVID-19 di Kabupaten Probolinggo
Dewi, Khofifah Kurnia;
Fauzi, Agus Machfud
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 02 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.19184/jes.v10i02.27552
There are many followers of Aboge Islam (Alip Rebo Wage) in Probolinggo Regency, including the Districts of Leces, Tegalsiwalan, Dringu, and Bantaran. Adherents experience differences in calculations because it is based on the Old Javanese calender and is influential on Islamic holidays. Of course it is different from the calculation of the Hijri calender. Aboge Muslims do not mind these differences in calculations. The existence of Aboge Muslims until now is still a lot because they consider it a legacy from their ancestors. The spirit in religious activities is also different, of course. The purpose of this study was to determine whwther there were changes in the religious activities of Aboge Muslims during the pandemic in Probolinggo Regency. Using qualitative research methods because they are appropriate and suitable for analyzing phenomena. Herbert Mead’s theory of action explains action, in the form of religious activities of Aboge Muslims during the Covid-19 pandemic in Probolinggo Regency. The results of this study stated that there is no significant difference in religious activities before and during the pandemic. The implementation of religious activities is carried out with enthusiasm and the intention has not decreased to worship amid the Covid-19 pandemic.Keywords : Islam Aboge, religious activities, pandemic Penganut Islam Aboge (Alip Rebo Wage) banyak terdapat di Kabupaten Probolinggo, meliputi Kecamatan Leces, Tegalsiwalan, Dringu, dan Bantaran. Penganutnya mengalami perbedaan dalam perhitungan karena didasarkan pada kalender Jawa Kuno dan berpengaruh pada hari besar Islam. Tentunya berbeda dengan perhitungan kalender Hijriyah. Penganut Islam Aboge tidak mempermasalahkan perbedaan perhitungan tersebut. Eksistensi penganut Islam Aboge sampai sekarang masih banyak karena mereka menganggap sebagai warisan leluhur. Semangat dalam kegiatan keagamaan juga berbeda pastinya. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat perubahan pada kegiatan keagamaan penganut Islam Aboge pada masa pandemi di Kabupaten Probolinggo. Menggunakan metode penelitian kualitatif karena tepat dan sesuai untuk melakukan analisis fenomena. Teori tindakan Herbert Mead menjelaskan tentang tindakan, berupa kegiatan keagamaan penganut Islam Aboge pada masa pandemi COVID-19 di Kabupaten Probolinggo. Hasil penelitian menyatakan tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada kegiatan keagamaan sebelum dan saat pandemi. Pelaksanaan kegiatan keagamaan dilaksanakan dengan penuh semangat dan niat tidak mengalami penurunan untuk beribadah ditengah pandemi COVID-19.Kata kunci : Islam Aboge, kegiatan keagamaan, pandemi Covid 19.
HUBUNGAN AGAMA DAN PEKERJAAN SEBAGAI PSK DI KEMBANG KUNING SURABAYA
Neny Sujianti Sujianti;
Tito Surya Baskara;
Bella Ayu D;
Nimas Noormala D;
Agus Machfud Fauzi
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 24 No. 2 (2020): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (275.583 KB)
|
DOI: 10.37108/tabuah.v24i2.347
Commercial Sex Work is work that is prohibited by religion but is lawful for those who undergo this work. The woman who works as a commercial sex worker is considered a social disease in the community. In addition to religious factors that are forbidden, economic factors become the cause due to the increasing daily needs. These factors are the cause of someone doing this job. This research uses a descriptive qualitative method using the phenomenology of Alfred Schutz. Data collection techniques in this study using observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques using data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study are that someone who works as a prostitute is not only prohibited by religion but the economic factors that cause him to do this work
Sosiologi Keluarga Pada Partisipasi Politik Pemilih Pemula
Fauzi, Agus Machfud
SOSIETAS Vol 9, No 1 (2019): SOSIETAS: JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (93.184 KB)
|
DOI: 10.17509/sosietas.v9i1.19572
Penelitian ini bertujuan untuk menempatkan keluarga sebagai pendidik pertama bagi anak sehingga berperan dalam menanamkan pengetahuan politik bagi generasi penerus. Selanjutnya dari penelitian ini adalah bagaimana keluarga bisa memberikan pengetahuan politik bagi anak sebagai pemilih pemula di pemilihan mendatang agar pemilih pemula mempunyai skala prioritas dalam memilih calon pemimpin yang berkualitas pula. Memasuki fase sebagai pemilih pemula dihrapakan bisa meningkatkan partisipasi politik demi hadirnya pemimpin. Peneliti memilih lokasi penelitian yaitu pada tiga kota dengan tiga sampel yang berbeda (Tuban, Bojonegoro dan Sidoarjo). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan penjelasan secara deskriptif sedangkan penggaliannya menggunakan pendekatan In-depth interview. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan pada setiap informasi yang mempunyai peran keluarga yang berbeda di mana di masyarakat kota keluarga lebih memilih untuk membiarkan dan mempercayakan keputusan kepada anak, apalagi sudah ada program sosialisasi dari penyelenggara pemilu, media informasi yang semakin mempermudah untuk memberi informasi kepada generasi muda. Peran keluarga yang ada didesa menunjukan hasil bahwa para orang tua lebih memilih untuk memaksakan anggota keluarga dalam penetuan memilih calon pemimpin, apalagi sebelumnya kandidat sudah memberikan segelontor dana bagi warga desa. Pada keluarga urban mengalami hal yang sama seperti keluarga masyarakat kota yang mana cara berfikirnya hampir sama seperti keluarga yang ada di kota meski ada sedikit perbedaan.
Partisipasi Politik Pemilih Pemula Etnis Minoritas Pasca Reformasi
Fauzi, Agus Machfud;
Legowo, Martinus;
Maliha, Novi Fitia;
Mudzakkir, Moh;
Harianto, Sugeng;
Raditya, Ardhie;
Sudrajat, Arif
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i1.41030
Muda-Mudi Budhayana Surabaya merupakan pemilih pemula yang mempunyai perhatian dan berpartisipasi terhadap Pemilu, biasanya kelompok minoritas tidak mempunyai kepedulian terhadap agenda politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap partisipasi kelompok minoritas dalam agenda pemilu paska era reformasi, ini juga untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya peduli terhadap dunia bisnis dan ekonomi, namun juga mempunyai perhatian dan berpartisipasi terhadap pemilu. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode campuran antara kuantitaf dan kualitatif, supaya lebih menghasilkan penelitian yang mendalam. Peneliti menggunakan teori voting behavior untuk menganalisis perilaku pemilih Muda-Mudi Budhayana, yaitu seperti apa saja perilaku mereka dalam dunia politik. Hasil penelitian menggambarkan bahwa perilaku politik mereka berpartisipasi aktif dalam pemilu dengan wawasan politik terbuka setelah dicabutnya Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967. Implikasi penelitian ini dalam dunia bisnis maka berpengaruh lebih bagus dalam menjalankan roda bisnis sebab ada kebebasan dalam menjalankan.
Polemik Pengesahan Omnibus Law: UU Cipta Kerja Dalam Perspektif Sosiologi Hukum
Karinina Anggita Farrisqi;
Agus Machfud Fauzi
UIR Law Review Vol. 5 No. 2 (2021): UIR Law Review
Publisher : UIR Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25299/uirlrev.2021.vol5(1).5882
A law with a concept on the omnibus law in the world of law in the State of Indonesia is a new perspective in the field of law. The point in omnibus law is different from the meaning, nature, and concept of legal norms in existing laws. We can also interpret this concept as a way of settling the forms of regulation in legislation into law and which in the end have consequences for revoking some invalid regulations. With the use of a new perspective like this, of course, people's thinking is also increasingly modern, including following the flow of globalization. In this era of globalization, there are certainly many incidents in the spread of hoax news. This problem is carried out by qualitative research methods and using several theories. The subject matter to be discussed can also be found in the conclusion that the perspective used by the drafters of the law is increasingly modern which will also provide the potential for the spread of hoaxes from people who follow the flow of globalization. Therefore, if the government and the DPR enforce themselves in making laws with the concept of the omnibus law, then the formation process needs to follow the method of prolegnas, has a good academic script, and is not in a hurry by involving stakeholders and the community.