Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

ANALISIS KEMAMPUAN PERESAPAN LIMPASAN AIR HUJAN PADA MODEL EMBUNG LAHAN DIAGONAL (ELD) TERHADAP GRADASI LAPISAN TANAH DI LAHAN KRITIS: Infiltration Capability Analysis of Embung Lahan Diagonal Model to Runoff at Gradation Layer Soil in Critical Land Negara, I Dewa Gede Jaya; Supriyadi, Anid; Salehudin, Salehudin
Spektrum Sipil Vol 3 No 2 (2016): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis air sangat sering terjadi pada daerah aliran sungai (DAS) yang kritis dan ditunjukkan oleh adanya permukaan lahan yang gundul dan tandus, aliran air sungai kritis, air sumur dangkal sekitar yang kering dan terjadi banjir pada musim hujan. Kasus tersebut sering kali terjadi sebagai indikasi rusaknya DAS hulu yang merupakan daerah tangkapan hujan. Uji embung lahan di Laboratorium untuk meningkatkan resapan air ke dalam tanah telah dilakukan (Jaya Negara,dkk, 2014), dengan hasil bahwa pada formasi embung lahan (EL) secara diagonal diperoleh resapan air paling banyak, akan tetapi pengaruh gradasi belum ditinjau sama sekali.Mengingat permasalahan lahan kritis sangatlah kompleks, maka pengaruh gradasi terhadap limpasan dan kemampuan infiltrasi lahan pada uji formasi EL,perku diketahui agar dapat membantu memprediksi resapan hujan yang terjadi pada lahan dalam perbaikan cadangan air dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gradasi lahan terhadap potensi penampungan oleh embung lahan diagonal dengan eksperimental di Laboratorium. EL uji berukuran: 5cm x 10cm x 5cm pada intensitas hujan I2 =187,69 mm/jam. Dimensi lahan uji terdiri dari ukuran: 100cm x 100cm x 30 cm untuk tanah kasar dan uji lapisan gradasi berukuran 100cm x 100cm x 10 cm. Data analisis yang diperlukan mencakup, keseragaman gradasi lapisan, lama waktu infiltrasi, karakteristik limpasan dan lama pencapaian infiltrasi pada tebal lapisan tertentu. Hasil analisis dipresentasikan dalam bentuk tabel dan gambar, dibahas secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada tanah pasir lanauan dengan keseragaman baik sampai sangat baik dan koefisien gradasi buruk tidak terjadi limpasan hujan pada intensitas I2. Jadi dari penelitian ini, tingkat keseragaman lapisan dan gradasinya tidak menunjukan trend terjadinya limpasan permukaan.Pada tanah pasir lanauan dengan 46% kandungan lanau, limpasan hujan yang terjadi masih sangat rendah.Sedangkan pada tanah pasir lanauan dengan kandungan lanau 60 %, limpasan hujan dipermukaan tanah terjadi sangat potensial. Sehingga penggunaan Embung lahan yang diagonal lebih cocok pada tanah dengan kandungan lanau 60% ke atas.
ANALISIS RANCANG BANGUN SISTEM IRIGASI HEMAT AIR TERPADU SPRINKLER MINI DAN LEB PIPA PADA JARINGAN IRIGASI AIR TANAH (JIAT) DI LAHAN KERING KABUPATEN LOMBOK TIMUR: Analysis of The Leb pipe and mini sprinkler Irrigation System Collaboration on Ground Water Irrigation system (JIAT) at dry land West Lombok sub-Province Jaya Negara, Dewa Gede; Supriyadi, Anid
Spektrum Sipil Vol 4 No 1 (2017): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada lahan kering lokasi JIAT tanah bergradasi halus nilai infiltrasi sebesar 3,342 cm/jam dan 0,621cm/jam termasuk rendah untuk dapat mendukung penerapan sistem irigasi hemat air seperti irigasi sprinkler besar dalam usahatani. Pemberian air irigasi JIAT ternyata masih kurang efisien, karena tata kelola air masih tradisional dan boros. Dengan kondisi iklim yang kurang mendukung mengakibatkan hilangnya air irigasi di lahan lebih cepat. Oleh karena itu, dalam penelitian sistem irigasi hemat air terpadu berbasis JIAT perlu dilakukan di lahan kering bergradasi halus Pringgabaya, agar diperoleh sistem irigasi yang lebih sinergis ditingkat lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji sistem irigasi hemat air terpadu sistem leb pipa, sprinkler mini dan lep pipa di lahan kering bergradasi halus pada jaringan JIAT. Uji dilakukan pada petak lahan 5 are sd 6 are dengan debit aliran dari bok outlet JIAT yang besarnya sekitar 13,46 lt/dt. Analisis dilakukan terhadap kinerja irigasi terpadu mencakup besar lengas tanah, waktu irigasi dan diameter basah irigasi.Hasil analisis dipresentasi dalam bentuk grafik dan tabel dan disimpulkan secara deskriptip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Debit minimal yang diperlukan irigasi sistem leb pipa pada 16 lubang pipa adalah sekitar 4,69lt/dt dengan debit luaran lubang leb pipa rata-rata(qs) 0,29lt/dt dan pada 28 lubang pipa diperlukan debit sistem sekitar 7,33lt/dt dengan debit luaran pipa lep (qsr) sekitar 0,46lt/dt. Irigasi sprinkler mini pada debit luaran total 1,93lt/dt dapat membrikan debit luaran masing-masing sprinkler sekitar 0,16lt/dt. Pada debit 8lt/dt sprinkler mini dapat menghasilkan pancaran sekitar 3 m dan debit luaran rata-rata sprinkler sekitar 0,16lt/dt.iri Irigasi sprinkler mini dapat memebrikan imbuhana lengas tanah sekitar 7,7% dengan penurunan harian rata-rata sebesar 1,6%. Pengujan irigasi leb pipa 10 menit mampu memberikan dalam basahan sekitar 30 cm dengan lengas tambahan 9,7%, dan penurunan lengas harian sebesar 2,33%.Irigasi hemat air terpadu sprinkler mini dengan leb pipa, dapat memperpanjang jadual irigasi hingga 6 hari dari yang seharusnya 3 hari sekali.
ANALISIS MODEL PENAMPUNGAN LIMPASAN HUJAN DENGAN EMBUNG LAHAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) KRITIS TERASERING: Run off Recharge Embung Lahan Model Analysis at Critical Watershed Negara, I Dewa Gede Jaya; Supriyadi, Anid; Salehudin, Salehudin; Ainudin, Nurun
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rusaknya daerah aliran sungai (DAS), sering kali ditunjukkan oleh adanya penurunan sumber air di sungai, aliran air sungai keruh di musim hujan dan hilangnya sumber-sumber air permukaan. Pemanfaatan DAS hulu untuk pertanian dapat menjadi penyebab terjadinya kerusakan resapan DAS tersebut. Perbaikan kondisi sumber air di DAS dengan peningkatan resapan air hujan perlu dilakukan pada petak lahan, agar limpasan hujan selesai diresapkan di petak lahan. Untuk itu uji embung lahan sebagai media peresapan limpasan hujan dipetak lahan perlu dilakukan agar limpasan tidak terbuang ke sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji embung lahan (EL) di petak lahan terasering dan pengaruhnya terhadap variasi intensitas hujan, luas lahan dan kemiringan terhadap potensi limpasan yang terjadi. Uji dilakukan dengan media uji lahan terasering berukuran A1= 150 cm x 100 cm, A2=150 cm x 80 cm, A3=150cm x 60 cm dan A4= 150 cm x 40 cm dengan kadar air 20%, pada intensitas hujan yang uji I1= 64,38 mm/jam, I2=30,69mm/jam dan I3=12,35 mm/jam. Pengujian dilakukan selama 1-2 jam sampai limpasan dipetak lahan terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa,limpasan hujan akan semakin besar terjadi pada intensitas hujan yang semakin besar dan pada kemiringan terasering yang semakin besar. Pada intensitas I2 dan I1, limpasan hujan terjadi dan pada intensitas I3, limpasan belum terjadi sigifikan. Selain itu pada luas terasering yang semakin besar, limpasan yang dihasilkan juga semakin besar. Dengan ukuran panjang dan lebar EL yang diperlukan masing-masing lahan 1/10 dari panjang lahan dan 1/20 dari lebar lahan. Jumlah EL terpasang dilahan disesuaikan dengan potensi limpasan yang akan ditampung.
PREDIKSI PERUBAHAN KURVA INTENSITAS-DURASI-FREKUENSI HUJAN UNTUK WILAYAH SUMBAWA: Curve Change Prediction of Intensity-Duration-Frequency of Rain for Sumbawa District saidah, Humairo; Supriyadi, Anid
Spektrum Sipil Vol 7 No 1 (2020): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v7i1.145

Abstract

Kurva Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDF) adalah salah satu kurva hubungan yang umum digunakan dalam pengelolaan sumberdaya air, baik untuk perencanaan, perancangan maupun pengoperasian sumber daya air. Perubahan iklim yang terjadi diyakini akan membuat bentuk dari lengkung IDF di wilayah ini juga akan mengalami perubahan. Studi ini ingin memprediksikan perubahan bentuk kurva IDF di daerah Sumbawa untuk kepentingan penyesuaian sekaligus prediksi persamaan umumnya untuk masa yang akan datang. Studi dimulai dari perhitungan curah hujan rancangan yang dihitung dengan analisis frekuensi. Intensitas hujan dihitung dengan mempergunakan metode Mononobe. Penelitian Analisa Lengkung IDF wilayah Sumbawa menghasilkan Persamaan untuk menentukan besaran Intensitas Hujan, menurut kala ulang adalah 100 tahun, I = 1091.7 t-0.667; 50 tahun, I = 1039.3 t-0.667; 25 tahun, I = 949.65 t-0.667; 10 tahun, I = 895.46 t-0.667; 5 tahun, I = 813.24 t-0.667; 2 tahun, I = 656.27 t-0.667 . Sedangkan prediksi lengkung IDF pada 2030 adalah, untuk kala 100 tahun, I = 1578.2 t-0.667; 50 tahun, I = 1461.4 t-0.667; 25 tahun, I = 1396.2 t-0.667; 10 tahun, I = 1178 t-0.667; 5 tahun, I = 1037.5 t-0.667; 2 tahun, I = 839.5 t-0.667
ANALISIS KARAKTERISTIK INFILTRASI LAHAN PADA PETAK SAWAH BARU UNTUK MENDUKUNG PERTANIAN DAN PENERAPAN SISTEM IRIGASI LAHAN KERING DI KECAMATAN BAYAN KABUPATEN LOMBOK UTARA: Analysis of Land Infiltration Characteristics in New Rice Fields to Support Agriculture and Application of Dry Land Irrigation System in Bayan Regency North Lombok District Anwar, Sayful; Negara, IDG Jaya; Hanifah, Lilik; Supriyadi, Anid
Spektrum Sipil Vol 6 No 2 (2019): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v6i2.158

Abstract

Pencetakan petak-petak lahan baru di lahan kering, merupakan program pemerintah dalam upaya pemanfaatan lahan-lahan yang kurang produktif untuk kegiatan pertanian. Lahan kering di Lokoq Bakoq, kabupaten Lombok, untuk pengembangan pertanian di lahan kering dimasa mendatang. Dengan terbentuk sawah baru, diperkirakan akan berpengaruh pada kemampuan infiltrasi lahan dan penerapan sistem irigasi lahan dikemudian hari.. Untuk dapat menentukan teknik irigasi yang berpotensi digunakan pada lahan kering tersebut, perlu diidentifikasi faktor-faktor lahan yang berpengaruh pada pemilihan teknik irigasi lahan kering dikemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik infiltrasi dan jenis tanari petak-petak lahan kering baru, pada 4 lokasi lahan pada musim kemarau. Pengukuran laju infiltrasi di lapangan dilakukan dengan alat double ring infiltrometer melalui metode penggenangan, dan uji jenis tanah dilakukan uji laboratorium di Lab Geotektik Fak. Teknik Unram. Data hasil uji dianalisis dengan program excel dan dipresentasi bentuk tabel dan grafik, serta disimpulkan secara deskriptip. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwal laju infiltrasi rata-rata (f) yang diperoleh, pada lokasi 1 (f = 26,90 cm/jam) tergolong sangat cepat, lokasi 2 (f = 14,94 cm/jam) tergolong cepat, lokasi 3(f = 27,33 cm/jam) tergolong agak cepat dan lokasi 4 (f = 8,21 cm/jam) tergolong sedang. Jenis tanah untuk semua lokasi ternasuk tanah liat berpasr. Untuk laju infiltrasi tanah yang tergolong cepat berpotensial digunakan sistem irigasi tetes, tanah yang tergolong infiltrasi agak cepat sampai sangat cepat potensial digunakan sistem irigasi sprinkler, dan untuk kondisi dengan klasifikasi infiltrasi sedang, berpotensi diterapkan sistem irigasi sistem lep atau cara tradisional.
ANALISIS PERBANDINGAN KURVA INTENSITAS DURASI FREKUENSI (IDF) KOTA BIMA MENGGUNAKAN DATA HUJAN TERUKUR DAN DATA HUJAN DARI SATELIT JAPAN AEROSPACE EXPLORATION AGENCY: Comparative Analysis of Frequency Duration Intensity Curve (IDF) Using Measured Rainfall Data and Rain Data from Satellite Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) Farhan, Agil; Saidah, Humairo; Supriyadi, Anid
Spektrum Sipil Vol 8 No 2 (2021): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v8i2.213

Abstract

Kota Bima merupakan wilayah yang sering dilanda banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, banjir kiriman dari hulu dan sistem drainase yang kurang baik yang menimbulkan banyak kerugian termasuk infrastruktur dan persawahan warga. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan perancangan bangunan sistem drainase yang baik dan benar melalui analisis IDF, yang dapat digunakan untuk menghitung banjir rencana dalam perencanaan bangunan hidrolik dengan menggunakan metode yang tepat. Data curah hujan yang digunakan ialah data curah hujan Terukur jam-jaman dan hujan satelit JAXA jam-jaman. Metode yang digunakan ialah Sherman untuk data hujan jam-jaman dan Mononobe untuk data hujan harian dan untuk menyamakan durasi kedua metode dilakukan ekstrapolasi data untuk mendapatkan intensitas curah hujan dengan durasi kurang dari 1 jam. Hasil yang didapatkan nilai persamaan lengkung IDF dengan kala ulang 2 tahun pada data hujan terukur metode Sherman sebesar I2 = 52.20/t1.66, metode Mononobe sebesar y2 = 27.86 x -0.67 dan data hujan satelit JAXA sebesar I2 = 28.064/t1.38.
Potential Characteristics Of Biopori Absorption In Mandalika Terminal Area: Infiltrastion Jaya Negara, I Dewa Gede; Supriyadi, Anid; Alit Karyawan, I Dewa Made; Suroso, Agus; Hanifah, Lilik; Azmi, Muhammad Khoirul
Spektrum Sipil Vol 10 No 1 (2023): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v10i1.286

Abstract

Pengembangan ekonomi masyarakat di Kota Mataram sudah semakin menggeliat dengan berkembangnya pembangunan Terminal dan Pasar Mandalika saat ini. Pembangunan tersebut menimbulkan perubahan fungsi lahan sawah menjadi aspal atau beton dan hal ini telah mengurangi daerah resapan wilayah hulu Kota Mataram. Perubahan fungsi lahan tersebut telah meningkatkan jumlah limpasan didaerah sekitarnya saat musim hujan sehingga sering terjadi genangan-genangan dan perlu ditangani. Studi ini bertujuan mengetahui karakteristik peresapan dengan lubang resapan biopori (LRB) yang dibandingkan dengan klasifikasi Uhland and O’Neal (1951) dan potensinya. Uji biopori dilakukan pada lahan 0,3844 ha dengan 6 titik uji yang terdiri dari 1 uji kontrol dan 5 uji biopori perlakuan dengan sampah organik, dengan panjang pipa PVC biopori 60 cm berdiameter 10 cm. Kemampuan resapan LRB uji dan kontrol memiliki kemampuan infiltrasi termasuk sangat cepat dengan dua potensi infiltrasi yaitu 80cm/jam – 100 cm/jam dan 200 cm/jam – 250 cm/jam. Laju resapan konstan diperoleh pada durasi 60 menit untuk semua LRB.  
PEMANFAATAN SUMUR RESAPAN UNTUK MEREDUKASI LIMPASAN PADA LINGKUNGAN PERMUKIMAN PERUMAHAN: Utilization of Absorption Wells to Reduce Runoff in a Residential Settlement Jaya Negara, I Dewa Gede; Wiradarma, Lalu Wirahman; Yasa, I Wayan; Saidah, Humairo; Supriyadi, Anid; Wardana, I G A N K
Spektrum Sipil Vol 10 No 2 (2023): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v10i2.328

Abstract

Perubahan kawasan persawahan menjadi perumahan kerap kali terjadi dan sekitar ±6 hektar sawah dijadikan perumahan dengan tipe  27/77, 36/103 dan 50/105. Adanya pembangunan perumahan tersebut  akan meningkatkan limpasan air hujan dipermukaan, dan untuk mengatasinya dapat memanfaatkan sumur resapan sebagai alternatif. Berdasarkan data uji  resapan tanah lokasi studi diperoleh 6,329 cm/jam dan  kedalaman muka air tanah 2,8 m sampai 3 m musim hujan, maka sumur resapan berpotensi diterapkan pada lokasi  studi. Studi ini bertujuan untuk mengetahui besar reduksi limpasan hujan dari penggunaan sumur resapan. Debit limpasan rata-rata lokasi studi  sebesar 0,0103 m³/dt, dan  0,0408 m³/dt. Reduksi limpasan rata-rata  pada tipe rumah 36/103 sebesar 30%-43%, pada tipe rumah 50/105 reduksi limpasan besarnya 39,9% dan pada tipe rumah 27/77 reduksi limpasan terjadi sebesar 27%- 47%. Secara umum reduksi limpasan hujan dilokasi studi besarnya kurang dari 50%.
Pemanfaatan Down Flow Sand Filter Sebagai Pengolah Kualitas Air Sungai Berampes Di Desa Setanggor, Kabupaten Lombok Tengah (Tahap Instalasi dan Uji Fungsi Alat) Setiawan, Ery; Supriyadi, Anid; Sulistiyono, Heri; Budianto, Muh. Bagus; Hartana; Pracoyo, Atas; Agastya, Dewandha Mas; Dewi, Evrianti Syntia; Sari, Nopia Puspita
Portal ABDIMAS Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal PORTAL ABDIMAS
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/portalabdimas.v2i1.4479

Abstract

Desa Setanggor dilewati oleh sebuah sungai yaitu Sungai Berampes yang dapat dimanfaatkan sebagai penyediaan air di musim kering melalui pengolahan kualitas air. Sebagian besar masyarakat di Desa Setanggor Kecamatan Praya Barat belum memanfaatkan dan terlayani oleh jaringan air bersih PDAM sehingga memanfaatkan air dari sumur bor komunal sebagai penghasil air baku sehari-hari. Namun, karena beberapa keterbatasan teknis dan non-teknis menyebabkan ketidakcukupan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar. Akibatnya sebagian masyarakat mengalami kekurangan air bersih terutama di masa kemarau panjang. Hasil instalasi dan uji fungsi alat menggunakan sampel air dari sungai Berampes menghasilkan 4 dari 5 nilai parameter kualitas air yang sesuai dengan standar dari Permenkes 32/2017, kecuali temperatur. Oleh karena itu, disarankan lokasi dan waktu pengambilan sampel air serta perlakuan pra-pengujian mendapatkan perhatian dan porsi khusus dalam proses pengujian, selain jenis material gradasi partikel penyaringnya.
Upaya Mendorong Pencapaian SDGs-12 melalui Sosialisasi Pemanfaatan Sampah Organik menjadi Eco Enzyme pada Masyarakat Desa Jelantik Saidah, Humairo; Yasa, I Wayan; Wiradharma, Lalu Wirahman; Suroso, Agus; Supriyadi, Anid; Hasyim; Karyawan, I Dewa Made Alit; Negara, I Dewa Gede Jaya; Rohani
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 7 No 3 (2024): Juli - September
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v7i3.8996

Abstract

The Jelantik Village community still faces environmental problems, especially the problem of waste generation that disrupts environmental comfort. The limited capacity of the village government and the low level of community knowledge in processing waste are the main causes of this problem. So, this community service activity aims to disseminate information about processing organic waste into eco enzyme, which is beneficial and simple in procedures. Socialization is carried out using a counseling method on how to make eco enzyme using fruit/vegetable waste mixed with sugar and water in a ratio of 3:1:10. This counseling has eco enzyme carried out and attended by at least 30 participants. The team has delivered counseling on how to select materials, the process of making eco enzyme, and how to utilize it. The team informed the Jelantik Village community about the principles and stages of making eco enzyme correctly so the community can practice it to process their waste at home. This activity is expected to increase community knowledge while reducing waste problems, producing beneficial eco enzyme, and promoting SDGs-12 achievement.