Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Roh Antikristus Menurut 1 Yohanes 2:18-27 dan Keberadaannya dalam Masyarakat Post-Modernisme Kapoh, Meyta Rosalin; Harefa, Otieli
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.315

Abstract

Discussing the end times will not escape discussing the antichrist because he is the central figure as a sign that the end times have come into effect. The Apostle John in 1 John 2 has specifically warned that the Antichrist will come and the spirit of the antichrist is already at work. The signs of the antichrist spirit according to this passage include: denying Jesus as the Christ and denying the Father who sent Him; rejecting that Jesus Christ has come in the flesh; and all of this begins within the community of believers. The movements that characterise postmodernism have strong indications of being influenced by the spirit of the antichrist that makes man the centre of life and denies the existence and sovereignty of God. Using a descriptive qualitative research method, this paper aims to expose the antichrist, specifically the spirit of antichrist that works in postmodernist society. With the spirit of postmodernism, society deconstructs christianity, relativises the truth of the Bible and even pluralises the way of salvation. All this is the work of the spirit of antichrist. Believers must truly abide in the teaching of the Bible, which is the Word of God, and live under the guidance of the Holy Spirit to withstand the influence of the antichrist spirit.AbstrakMembahas akhir zaman tidak akan luput dari membahas antikristus karena merupakan tokoh sentral sebagai pertanda zaman akhir telah berlaku. Rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 2 telah secara spesifik mengingatkan bahwa Antikristus akan datang dan roh antikristus sudah bekerja. Tanda-tanda roh antrikristus menurut perikop ini antara lain; memungkiri Yesus sebagai Kristus dan memungkiri Bapa yang mengutusNya; menolak bahwa Yesus Kristus sudah datang sebagai manusia; dan semua ini diawali dari dalam komunitas orang percaya. Pergerakan-pergerakan yang menjadi ciri postmodernisme berindikasi kuat dipengaruhi oleh roh antikristus yang menjadikan manusia sebagai pusat kehidupan dan memungkiri keberadaan dan kedaulatan Allah. Dengan metode penelitian deskriptif qualitatif, tulisan ini bertujuan memaparkan antikristus, secara khusus roh antikristus yang bekerja dalam masyarakat postmodernisme. Dengan semangat postmodernisme, masyarakat men-dekonstruksi kekristenan, me-relatifkan kebenaran Alkitab bahkan mem-pluralkan jalan keselamatan. Semua ini adalah pekerjaan roh antikristus. Orang percaya harus sunguh-sungguh tinggal dalam pengajaran Alkitab yang adalah Firman Allah dan hidup dalam tuntunan Roh Kudus untuk dapat bertahan dari pengaruh roh antikristus.
Belajar Teologi Perubahan Sosial Gereja dari Masyarakat Adat Ulu Moro’o Gulo, Nestilina; Tambunan, Elia; Waruwu, Famati; Harefa, Otieli
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 1 (2024): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i1.113

Abstract

In this article, we delve into the topic of how religious communities in Indonesia have adapted to the rise of information, technology, and communication. Specifically, we observe the Nias community in Ulu Moro'o District in West Nias Regency, North Sumatra, utilizing a religious psychoanalytic approach. Using grounded theory as a data theorization method, this empirical qualitative research sheds light on the social problems that technology has created in terms of spirituality and emotional tension among indigenous and religious communities. However, it has also served as a mechanism for comforting oneself over past events such as natural disasters. Furthermore, this article proposes a theology of social change in church, society, and customs as a distinct scientific discipline. It recognizes indigenous and religious communities as living social texts that result from self-awareness, imagination, reasoning, and daily life experiences, influencing their attitudes towards the church in changing times, particularly due to the digitization of traditional villages. Abstrak Artikel ini mengkaji bagaimana perubahan perilaku umat beragama terhadap booming informasi, teknologi, dan komunikasi di Indonesia - seringkali menimbulkan persoalan tersendiri - dengan menjadikan masyarakat Nias di Kecamatan Ulu Moro’o di Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara sebagai subjek penelitian. Tidak seperti penelitian sebelumnya, masyarakat Nias (di sini dilihat dalam kerangka masyarakat adat) justru diamati dari pendekatan psikoanalisis keagamaan. Dari sana dapat dikonstruksi pengetahuan yang terbilang baru bahwa terjadinya perubahan sosial memang sangat bisa menimbulkan ketegangan emosional pada masyarakat adat dan masyarakat beragama tetapi juga ada faktor lain, misalnya kehadiran teknologi menjadi salah satu mekanisme untuk penghiburan diri secara sosial atas peristiwa masa silam yang menakutkan sehingga meskipun telah berlalunya waktu, peristiwa namun hal-hal itu tetap saja tidak mudah untuk dihapuskan secara benar-benar bersih dari memori bersama. Penelitian ini adalah jenis kualitatif empiris dengan grounded theory sebagai metode teoritisasi data. Arti penting artikel ini adalah mengusulkan teologi perubahan sosial di gereja, masyarakat, adat sebagai bidang disiplin ilmu mandiri, dengan menempatkan komunitas masyarakat beradat dan beragama sebagai teks sosial yang hidup, sebagai hasil kesadaran diri, imajinasi, penalaran, dan pengalaman hidup sehari-hari yang mempengaruhi perilaku konservatisme mereka terhadap gereja dan perubahan zaman, khususnya akibat digitaslisasi desa adat. Kata Kunci: Digitalisasi: Nias; Psikoanalisis Masyarakat; Teologi Perubahan Sosial; Ulu Moro’o
Sile (Pencak Silat Nias) as a Negotiation of Religion and Culture between Traditional Societies, Islam, and Christianity in Ono Niha Waruwu, Famati; Tambunan, Elia; Harefa, Otieli; Gulo, Nestilina; Apvan Bertin Baene, Ria
Jurnal Sosiologi Agama Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2024.182-03

Abstract

Pencak  Silat  is  no  longer  limited  to  martial  arts  but  goes  far  beyond  this.  Suppose  it  is  generally  understood  as  a  martial  art  commonly  called  Sile.  In  that  case,  it  needs  to  be  seen from the socio-theological praxis of the people of Moro’ö District, West Nias Regency, and the people of Tugala Oyo District, North Nias Regency, where they are Nias people in general  who  tend  to  believe  traditionally  based  on  customs,    as  well  as  Christian  church  congregations,  including  Muslims.  This  article  delves  into  Nias’  traditional  pencak  silat  in  2022-2023.  The  empirical  problem  in  Christianity  is  that  there  is  a  tendency  to  label  synchronicity  that  pencak  silat  as  a  traditional  rite  for  primitive  people,  has  always  been  associated with an attempt to display the dimension of “evil spirits” as opposed to the “good spirits”  in  the  Christian  faith  with  the  modern  eyes  of  urban  people.  Meanwhile,  Muslims  tend to be positioned as immigrants. This paper is in the social setting of North and West Nias as a research field, and it is carried out with empirical qualitative research with a socio-theological approach. Data were collected by observation, interview, and documentation. It was found that there is an increasing immersion in cultural arts expressed through pencak silat as a social space (medium) for people of different faiths and traditions. It was found that North and West Nias Sile displayed spatial negotiations between culture and religion.
Kajian Ekologi Spiritual untuk Menjembatani Alkitab dan Sains dalam Mengatasi Polusi Udara Tjokrohandoko, Soewarto; Harefa, Otieli
Shift Key : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol. 14 No. 2 (2024): Regular Issue, Volume 14 Number 2 (2024)
Publisher : P3M STT Kristus Alfa Omega

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37465/shiftkey.v14i2.469

Abstract

Intensive exploitation of natural resources has triggered a global environmental crisis. This study analyzes the biblical perspective on the human relationship with nature to find a theological foundation for environmental conservation. Through a literature review, it was found that the Bible teaches humans to live in harmony with nature as part of God's creation. This study highlights the concept of stewardship as a relevant theological framework for addressing environmental problems, particularly air pollution. The results of this study   contribute to the development of faith-based environmental ethics and can inspire the development of sustainable policies and educational programs.
Kemurahan Hati dalam Bingkai Kasih Kristus: Analisa Historis Kritis Roma 12:20 Sianipar, Ronald; Tetelepta, Hendrik Bernadus; Harefa, Otieli; Paat, Vicky BGD
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v4i2.156

Abstract

Abstract: This study aims to present the hermeneutics of Romans 12:20 concerning Paul's teaching to the Roman church about loving one's enemies. The research highlights the thematic shift in Romans 12, from the doctrinal discussions in the previous eleven chapters to the implementation of doctrine in daily life, with an emphasis on attitudes toward others, including enemies, in the context of the socio-political tensions in Rome at that time. The author employs the historical-critical hermeneutical method to analyze key terms in Romans 12 and the book of Romans, while also considering the socio-political context of the time. The findings of this study reveal that Romans 12:20 parallels Proverbs 25:21-22, reflecting the influence of Jewish tradition in Paul's teaching about loving enemies. This concept is highly relevant in the context of the complex social, political, and religious pluralism in Rome, underscoring the importance of theological and ethical guidance in Christian life. These findings also offer insights for applying the principle of loving enemies in the context of the contemporary church and Christian society, serving as a guide in addressing similar social and political tensions. Abstrak: Kajian ini bertujuan untuk mempresentasikan hermeneutika Roma 12:20 mengenai pengajaran Paulus kepada jemaat Roma tentang mengasihi musuh. Penelitian ini menyoroti pergeseran tema dalam teks Roma 12, dari doktrin yang dibahas dalam 11 pasal sebelumnya, ke implementasi doktrin dalam kehidupan sehari-hari, dengan penekanan pada sikap terhadap sesama, termasuk musuh, dalam konteks ketegangan sosial-politik Roma pada masa itu. Penulis menggunakan metode hermeneutika historis-kritis untuk menganalisis kata kunci dalam perikop Roma 12 dan kitab Roma, serta memperhatikan konteks sosial-politik pada waktu itu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Roma 12:20 memiliki paralel dengan Amsal 25:21-22, yang mencerminkan pengaruh tradisi Yahudi dalam pengajaran Paulus tentang mengasihi musuh. Konsep ini sangat relevan dalam konteks kompleksitas struktur sosial, politik, dan pluralitas agama di Roma, serta menekankan pentingnya panduan teologis dan etika dalam kehidupan Kristen. Temuan ini juga memberikan wawasan bagi penerapan prinsip mengasihi musuh dalam konteks gereja dan masyarakat Kristen masa kini, sebagai pedoman dalam menghadapi ketegangan sosial dan politik yang serupa.
PERDAGANGAN MANUSIA DI PINTU GERBANG NUSANTARA: TANGGUNG JAWAB GEREJA SEBAGAI KOMUNITAS PEMBEBAS Pasaribu, George Rudi Hartono; Purba, Gomgom; Harefa, Otieli
JURNAL TABGHA Vol. 6 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : UPPM Sekolah Tinggi Teologi Tabgha Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61768/kej38454

Abstract

This article explores the reality of human trafficking in the Batam and Riau Islands region, one of Indonesia’s primary trafficking hotspots due to its strategic location as a gateway to neighboring countries. Using a qualitative case study approach, this research investigates the awareness and role of local churches in responding to this phenomenon. The findings reveal that many churches remain unaware of the theological connection between faith and social responsibility toward trafficking victims. However, some churches have begun transforming into liberating communities through ministries of restoration and advocacy. This study recommends a transformative diakonia approach and liberation theology as frameworks for the church to act as an agent of social justice in a world marked by oppression.
PERDAGANGAN MANUSIA DI PINTU GERBANG NUSANTARA: TANGGUNG JAWAB GEREJA SEBAGAI KOMUNITAS PEMBEBAS Pasaribu, George Rudi Hartono; Purba, Gomgom; Harefa, Otieli
JURNAL TABGHA Vol. 6 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : UPPM Sekolah Tinggi Teologi Tabgha Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61768/pphk9690

Abstract

This article explores the reality of human trafficking in the Batam and Riau Islands region, one of Indonesia’s primary trafficking hotspots due to its strategic location as a gateway to neighboring countries. Using a qualitative case study approach, this research investigates the awareness and role of local churches in responding to this phenomenon. The findings reveal that many churches remain unaware of the theological connection between faith and social responsibility toward trafficking victims. However, some churches have begun transforming into liberating communities through ministries of restoration and advocacy. This study recommends a transformative diakonia approach and liberation theology as frameworks for the church to act as an agent of social justice in a world marked by oppression.
Problematika Pengajaran Pendidikan Agama Kristen di Indonesia: Perspektif Regulasi, Kurikulum, dan Sarana Prasarana Ronald Sianipar; Hendrik Bernadus Tetelepta; Talizaro Tafonao; Otieli Harefa; Jan Lukas Lombok
Educatum: Jurnal Dunia Pendidikan Vol. 1 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah (LPPI), Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/je.v1i2.157-170

Abstract

Pengajaran Pendidikan Agama Kristen di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan multidimensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis problematika utama yang dihadapi dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen dari tiga perspektif utama: regulasi, kurikulum, dan sarana prasarana. Dari perspektif regulasi, ditemukan bahwa terdapat kekurangan sinkronisasi antara peraturan pemerintah pusat dan implementasinya di daerah, serta adanya diskriminasi terhadap sekolah-sekolah Kristen di beberapa daerah. Dalam hal kurikulum, terdapat ketidaksesuaian antara kebutuhan lokal dan kurikulum nasional yang bersifat homogen, serta kurangnya pengembangan materi ajar yang kontekstual dan relevan dengan kondisi sosial budaya setempat. Dari aspek sarana prasarana, banyak sekolah Kristen yang masih kekurangan fasilitas pendukung, termasuk ruang kelas yang memadai, perpustakaan, dan teknologi pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di beberapa sekolah Kristen di Indonesia, melalui wawancara mendalam dengan guru, kepala sekolah, dan pembuat kebijakan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas Kristen untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut. Rekomendasi yang diusulkan mencakup revisi regulasi yang lebih inklusif, pengembangan kurikulum yang adaptif dan kontekstual, serta peningkatan investasi dalam sarana prasarana pendidikan. Dengan demikian, diharapkan pengajaran Pendidikan Agama Kristen di Indonesia dapat lebih efektif dan relevan, sehingga mampu memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan karakter peserta didik yang beriman, berilmu, dan berintegritas.
Peran Gereja dalam Menanggapi Isu Sosial di Tengah Keberagaman Budaya dan Agama di Indonesia Krisdiyanti; Nugroho Agustinus Manalu; Otieli Harefa
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2 (2025): July
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v2i2.124-136

Abstract

Keberagaman budaya dan agama di Indonesia merupakan kekayaan sekaligus tantangan yang membutuhkan peran aktif dari berbagai elemen masyarakat, termasuk institusi keagamaan. Gereja sebagai lembaga keagamaan Kristen tidak hanya menjalankan fungsi spiritual, tetapi juga memainkan peran sosial yang penting dalam merespons isu-isu kemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk peran gereja dalam isu sosial di Indonesia, menganalisis tantangan yang dihadapi, serta merumuskan strategi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas peran sosial gereja. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui analisis berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa gereja terlibat aktif dalam pelayanan sosial, pendidikan inklusif, advokasi hak asasi manusia, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan komunitas rentan. Namun, gereja juga menghadapi tantangan seperti diskriminasi, resistensi budaya lokal, kesenjangan gender, keterbatasan sumber daya, dan hambatan digitalisasi. Sebagai upaya penguatan perannya, gereja perlu membangun strategi berbasis dialog antaragama, kolaborasi sosial, inovasi teknologi, serta kontekstualisasi budaya dan spiritualitas. Dengan strategi tersebut, gereja diharapkan dapat menjadi agen transformasi yang berdampak nyata dalam masyarakat plural Indonesia.
Transformasi Digital dan Komunitas Iman: Peluang dan Tantangan bagi Gereja dalam Era Globalisasi Informasi Elisasmita Natalia; Otieli harefa
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2 (2025): July
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v2i2.153-164

Abstract

Transformasi digital telah menjadi kekuatan dominan yang membentuk pola pelayanan dan kehidupan bergereja di era globalisasi informasi. Gereja dituntut untuk mampu merespons perubahan ini secara kontekstual agar tetap relevan dalam menyampaikan pesan Injil dan membangun komunitas iman lintas generasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peluang dan tantangan yang dihadapi gereja dalam proses transformasi digital, serta merumuskan pendekatan pelayanan yang inovatif dan tetap berakar pada nilai-nilai iman Kristen. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka dan observasi terbatas, dengan menganalisis literatur teologis dan praktik pelayanan digital aktual. Hasil kajian menunjukkan bahwa digitalisasi memberikan peluang strategis bagi gereja dalam memperluas jangkauan pelayanan, membentuk komunitas iman daring yang inklusif, serta menjawab kebutuhan rohani generasi digital-native melalui pemuridan kontekstual. Namun, transformasi ini juga menghadirkan tantangan berupa pendangkalan spiritualitas, disrupsi relasi personal, serta lemahnya kesiapan kepemimpinan dan literasi digital dalam tubuh gereja. Kesimpulannya, keberhasilan gereja dalam menghadapi era digital sangat bergantung pada kemampuannya mengintegrasikan inovasi teknologi dengan kedalaman teologis, etika pelayanan, dan visi kepemimpinan yang transformatif. Transformasi digital bukan ancaman, tetapi peluang untuk menyatakan kasih Kristus secara lebih luas, relevan, dan berdampak.