Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

ASUPAN GIZI IBU HAMIL KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) DI KABUPATEN BANGGAI LAUT Mataiya, Hetiverawati M; Ramli, Ramli; Lalusu, Erni Yusnita
Jurnal Bidan Srikandi Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jbs.2025.v3i2.14467

Abstract

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai Laut prevalensi ibu Hamil KEK tahun 2020 sebanyak 18,5% yang kemudian meningkat pada tahun 2021 sebanyak 19,9% prevalensi KEK pada ibu Hamil di Kabupaten Banggai terus meningkat pada tahun 2022 menjadi 20,7%. Dampak ibu hamil yang mengalami resiko kekurangan energi kronik (KEK) akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada ibu maupun janin. KEK pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain adalah Anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi, Penelitian ini merupakan penelitian Observasional Deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu Hamil KEK di Kabupaten Banggai Laut dengan sampel total populasi sebanyak 91 ibu Hamil KEK. Analisis yang digunakan adalah analisis Univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan Karbohidrat pada ibu Hamil KEK paling banyak berada pada kategori kurang sebanyak 64 ibu Hamil (70,3%) sedangkan paling sedikit berada pada kategori cukup sebanyak 27 ibu Hamil (29,7%).Asupan Protein pada ibu Hamil KEK paling banyak berada pada kategori kurang sebanyak 61 ibu Hamil (67%) sedangkan paling sedikit berada pada kategori cukup sebanyak 30 ibu Hamil (33%).Asupan Lemak pada ibu Hamil KEK paling banyak berada pada kategori kurang sebanyak 69 ibu Hamil (75,8%) sedangkan paling sedikit berada pada kategori cukup sebanyak 22 ibu Hamil (24,2%).Asupan Vita min A pada ibu Hamil KEK paling banyak berada pada kategori kurang sebanyak 69 ibu Hamil (75,8%) dan kategori cukup sebanyak 22 ibu Hamil (24,2%).Asupan Kalsium pada ibu Hamil KEK paling banyak berada pada pada kategori kurang sebanyak 84 ibu Hamil (92,3%) sedangkan paling sedikit berada pada kategori cukup sebanyak 7 ibu Hamil (7,7%). Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan saran bagi ibu Hamil KEK dan pemerintah di Kabupaten Banggai Laut agar lebih memperhatikan asupan zat gizi untuk mengurangi risiko KEK.
Hubungan Menstruasi dengan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri SMA di Kota Luwuk Tahun 2025: The Relationship Between Menstrual and Hemoglobin Levels in High School Female Adolescents in Luwuk City in 2025 Handayani, Lisa; Lalusu, Erni Yusnita; Evriwanda, Indah; Ramli, Ramli; Balebu, Dwi Wahyu; Otoluwa, Anang S.; Sudarsa, Caca
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.362

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan yang banyak dialami remaja putri akibat kehilangan darah saat menstruasi, yang berisiko menurunkan kadar hemoglobin (Hb) dalam tubuh. Kondisi ini penting untuk diteliti karena kadar Hb yang rendah dapat mengganggu fungsi fisiologis, termasuk keteraturan siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara siklus menstruasi, lama menstruasi, dan gangguan menstruasi dengan kadar hemoglobin pada remaja putri SMA di Kota Luwuk tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross- sectional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri SMA 1, 2, dan 3 di Kota Luwuk, dengan total sampel sebanyak 154 responden yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran kadar hemoglobin menggunakan alat Easy Touch GCHb. Kategori anemia ditentukan berdasarkan kadar Hb, yaitu dinyatakan anemia apabila kadar Hb < 12 g/dl. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari total responden, sebagian remaja putri mengalami anemia dengan presentase sebesar 9,7%, sedangkan yang tidak anemia sebanyak 90,3%. Analisis data menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara siklus haid (p=0,000) dan lama menstruasi (p=0,000) dengan kadar hemoglobin. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara gangguan menstruasi dengan kadar hemoglobin (p=0,426). Disimpulkan bahwa keteraturan siklus h dan lama menstruasi berpengaruh terhadap kadar Hb remaja putri. Diharapkan para remaja lebih memperhatikan pola menstruasi dan faktor-faktor atau determinan yang mempengaruhi pola menstruasi, serta mengikuti edukasi kesehatan melalui posyandu remaja untuk mencegah anemia. Anemia is a health problem commonly experienced by adolescent girls due to blood loss during menstruation, which can lower hemoglobin (Hb) levels. This condition is important to study because low Hb levels can disrupt physiological functions, including menstrual cycle regularity. This study aims to determine the relationship between the menstrual cycle, menstrual duration, and menstrual disorders with hemoglobin levels in high school female adolescents in Luwuk City in 2025. This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The study population was all female adolescents in grades 1, 2, and 3 of high school in Luwuk City, with a total sample of 154 respondents selected using a random sampling technique. Data were collected through questionnaires and hemoglobin level measurements using the Easy Touch GCHb device. The anemia category was determined based on Hb levels, with anemia defined as Hb < 12 g/dl. Data were analyzed using univariate and bivariate methods using the chi-square test. The results of the study showed that of the total respondents, some adolescent girls experienced anemia with a percentage of 9.7%, while those who were not anemic were 90.3%. Data analysis showed a significant relationship between the menstrual cycle (p = 0.000) and the duration of menstruation (p = 0.000) with hemoglobin levels. However, no significant relationship was found between menstrual disorders and hemoglobin levels (p = 0.426). It was concluded that the regularity of the menstrual cycle and the duration of menstruation affect the Hb levels of adolescent girls. It is hoped that adolescents will pay more attention to menstrual patterns and the factors or determinants that influence menstrual patterns, and participate in health education through adolescent posyandu to prevent anemia.
Edukasi Cuci Tangan Pakai Sabun Menggunakan Media Permainan Hand’s Card pada Siswa Sekolah Dasar Apriyanti, Dewi; Haris, Yuli Fathiyah; Ratnawati, A. Sri; Zahrany, Asyifa; Kurniawan, Nanang; Lalusu, Erni Yusnita; Rachmat, Muhammad
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 4, No 2 (2024): Abdira, April
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v4i2.453

Abstract

A number of behavior-based illnesses are linked to inadequate soap handwashing. This demonstrates how important it is to practice hand washing with soap (HWWS). Teaching children to wash their hands with soap at a young age is the goal of this education program. Children in school are the ideal audience for HWWS promotion activities since they are receptive to new information and eager to share it with others. This activity used the educational game method with Hand's Card media (picture cards) and installation of HWWS poster. This service was conducted on January 13 and 14, 2023, at five public elementary schools (SDN) in Bonto Matene Village, South Sulawesi: SDN 26 Mangkaca, SDN 9 Mangkaca, SDN 34 Citta, SDN 1 Segeri, and SDN 2 Segeri. Students in Bonto Matene Village's grade 4 elementary school are benefiting from this activity, as seen by their excitement and participation in HWWS instruction, as well as by the notable changes of knowledge (p-value0.05) that occur both before and after education. It is anticipated that students will be able to put HWWS into practice in order to foster a HWWS culture that can enhance health.
Hemoglobin Levels of Pregnant Women Consuming Multiple Micronutrients VS Fe+Folate in Banggai District Lalusu, Erni Yusnita; Luwiati, Luwiati; Balebu, Dwi Wahyu; Otoluwa, Anang Samudera
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 3 (2023): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i3.2197

Abstract

Providing Fe+Folate for a long time to pregnant women has not been able to show a significant reduction in the incidence of anemia during pregnancy. This study aims to determine the effect of consuming multiple micronutrient supplements on the Hb levels amonv pregnant women in Banggai District. This was a quasi-experimental study with a non-randomised community trial and pre and post-test control group design, which involved 48 pregnant women assigned in the intervention and control groups. This study was conducted in Banggai District in 2020. The intervention group involved pregnant women who were administered with Multiple Micronutrient (MMN) supplements based on the UNIMMAP formula. The control group involved pregnant women who were administered with Fe+Folate supplements. Supplements were administered during the second trimester of pregnancy. Hemoglobin levels were assessed at the 12th week and 24th week of pregnancy. Various anthropometric characteristics and measures were assessed at study baseline. Hemoglobin levels were assessed using the Hemocue Hb 201 tool. Nutritional intake was assessed using the Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data were analyzed using the chi-square test, independent t-test and dependent t-test. The results of the study showed that during the second trimester of pregnancy, the mean hemoglobin level in the intervention group who were given MMN decreased by 0.3 g/dl (p-Value=0.143) and in the control group who were given Fe+Folate decreased by 0.1 g/dl (p-Value=0.408). The adifference in the decrease was not statistically significant. At the 24th week of pregnancy, the mean hemoglobin level of pregnant women who were given MMN was 0.1 g/dl higher than those who were given Fe+Folate. Such difference was not statistically significant (p-Value=0.415). Further study needs to be conducted to examine the effect of MMN and Fe+Folate on hemoglobin levels based on anemia status, characteristics of pregnant women and health status.
Asupan Gizi Balita Stunting di Daerah Pesisir Kecamatan Bualemo Tahun 2022: Nutritional Intake of Stunting Toddlers in the Coastal Area, Bualemo District in 2022 Lalusu, Erni Yusnita; Rahimatul Azmi; Otoluwa, Anang Samudera
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v14i2.223

Abstract

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis pada anak balita yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama. Stunting pada anak disebabkan karena hasil jangka panjang pola konsumsi kronis diet yang memiliki kualitas yang buruk dan diiringi dengan morbiditas, penyakit infeksi, serta masalah lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui asupan gizi balita stunting di daerah pesisir Kecamatan Bualemo tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan subjek penelitian yaitu 47 balita stunting usia 12-59 bulan di daerah lokus stunting di pesisir Kecamatan Bualemo. Pengukuran asupan gizi menggunakan metode recall 24 jam. Analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian diperoleh asupan karbohidrat kurang (97,9%), asupan karbohidrat baik (2,1%), asupan protein kurang (42,6%), asupan protein baik (34,0%), asupan zat besi kurang (83,0%), asupan zat besi baik (2,1%), asupan zinc kurang (78,7%), asupan zinc baik (4,3%), asupan kalsium kurang (83,0%), asupan kalsium baik (2,1%), asupan vitamin D kurang (93,6%), dan asupan vitamin D baik (4,3%). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa asupan karbohidrat, zat besi, zinc, kalsium, dan vitamin D dalam kategori sangat kurang. Oleh karena itu disarankan perlu dilakukannya sosialisasi kepada orang tua balita tentang upaya pemenuhan gizi balita yang mengandung karbohidrat, zat besi, zinc, kalsium, dan vitamin D dengan memanfaatkan sumber pangan lokal. Stunting is a problem of chronic malnutrition in children under five which is caused by a lack of nutritional intake for a long time. Stunting in children is caused by the long-term results of chronic consumption patterns of poor quality diets and is accompanied by morbidity, infectious diseases and environmental problems. The aim of the research is to determine the nutritional intake of stunted toddlers in the coastal areas of Bualemo District in 2022. This research is a descriptive observational study with research subjects namely 47 stunted toddlers aged 12-59 months in the stunting locus area in the coastal Bualemo District. Measuring nutritional intake uses the 24 hour recall method. Descriptive data analysis. The results of the study showed that carbohydrate intake was low (97.9%), good carbohydrate intake (2.1%), low protein intake (42.6%), good protein intake (34.0%), low iron intake (83. 0%), good iron intake (2.1%), low zinc intake (78.7%), good zinc intake (4.3%), low calcium intake (83.0%), good calcium intake (2 .1%), vitamin D intake was poor (93.6%), and vitamin D intake was good (4.3%). From the research results it can be concluded that the intake of carbohydrates, iron, zinc, calcium and vitamin D is in the very deficient category. Therefore, it is recommended that there be outreach to parents of toddlers about efforts to fulfill toddler nutrition which contains carbohydrates, iron, zinc, calcium and vitamin D by utilizing local food sources.
Pengetahuan Masyarakat tentang Bahaya Merokok Meningkat Melalui Kegiatan penyuluhan di Desa Doda Bunta Kecamatan Simpang Raya Kabupaten Banggai : Community Knowledge about the Dangers of Smoking Increases Through Extension Activities in Doda Bunta Village, Simpang Raya District, Banggai Regency Lalusu, Erni Yusnita; Balebu, Dwi Wahyu; Thirayo, Yunita Sari; Sattu, Marselina
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 2 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v2i2.291

Abstract

Prevalensi kejadian merokok di Indonesia masih tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Kebiasaan merokok tidak hanya dimiliki oleh kelompok usia dewasa namun juga remaja dan anak-anak. Merokok berisiko terhadap kesehatan khususnya pada kelompok penyakit pembuluh darah seperti Hipertensi, jantung, diabetes mellitu hingga stroke. Penyebab tingginya kejadian merokok dipedesaan terutama dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan tentang dampak negatif rokok. Kegiatan penyuluhan ini dilakukan di Desa Doda Bunta Kecamatan Simpang Raya yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya merokok bagi kesehatan. Kegiatan ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain pre-post test non-control group design. Sampel penelitian ini berjumlah 50 orang yang ditentukan secara accidental sampling. Yaitu masyarakat yang datang saat dilakukan penyuluhan. Tes pengetahuan awal (pre-test) dilakukan sebelum diberikan penyuluhan. Sedangkan post-test diberikan setalah penyuluhan. Kuesioner yang diberikan berisi pertanyaan pengetahuan masyarakat tentang bahaya merokok. Analisis data bersifat deskriptif. Hasil kegiatan penyuluhan ini menunjukan pengetahuan masyarakat dengan kategori baik meningkat dari 2% menjadi 66%. Pengetahuan cukup dan kurang masing-masing menurun dari 58% menjadi 28% dan 40% menjadi 6%. Demikian pula sikap positif tetap 94%, sikap negative 6%. Begitu pula pada tindakan masyarakat dengan kategori baik meningkat dari 82% menjadi 92%. sebaliknya tindakan kurang baik menurun dari 18% menjadi 8.0%. Kesimpulan: pengetahuan., sikap dan tindakan masyarakat menjadi lebih baik setelah dilakukan penyuluhan. Saran bagi pemerintah setempat agar lebih sering melakukan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. The prevalence of smoking in Indonesia is still high and continues to increase from year to year. The smoking habit is not only owned by the adult age group but also teenagers and children. Smoking poses a risk to health, especially in the group of blood vessel diseases such as hypertension, heart disease, diabetes mellitus and even stroke. The cause of the high incidence of smoking in rural areas is mainly influenced by a lack of knowledge about the negative impacts of smoking. This outreach activity was carried out in Doda Bunta Village, Simpang Raya District, with the aim of increasing public understanding about the dangers of smoking for health. This activity uses a quasi-experimental method with a pre-post test non-control group design. The sample for this research consisted of 50 people who were determined by accidental sampling. Namely people who come when counseling is carried out. An initial knowledge test (pre-test) is carried out before counseling is given. Meanwhile, the post-test was given after the counseling. The questionnaire given contained questions about public knowledge about the dangers of smoking. Data analysis is descriptive. The results of this outreach activity show that public knowledge in the good category increased from 2% to 66%. Sufficient and insufficient knowledge decreased from 58% to 28% and 40% to 6% respectively. Likewise, positive attitudes 94% , negative attitudes same 4% . Likewise, community actions in the good category increased from 82% to 92%. on the other hand, unfavorable actions decreased from 18% to 8%. Conclusion: knowledge, attitudes and actions of the community become better after counseling is carried out. Suggestions for local governments to provide health education to the community more often.
Hubungan Kondisi Sarana Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Totikum Selatan Tahun 2025: The Relationship between Basic Sanitation Facilities Conditions and the Incidence of Stunting in the South Totikum Community Health Center Work Area in 2025 Kundondung, Jeinlavenia; Lalusu, Erni Yusnita; Dwicahya, Bambang
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 2 (2026): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i2.398

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan usia standarnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kondisi sarana air bersih, kondisi sarana jamban, kondisi sarana tempat sampah, kondisi sarana pembuangan air limbah dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Totikum Selatan Tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain case control serta Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu proportional sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah kepala keluarga sebanyak 110 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan metode Backward LR. Hasil analisis bivariat menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi sarana jamban (p=0,007) dan kondisi sarana tempat sampah (p=0,023) dengan kejadian stunting. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi sarana pembuangan air limbah (p=0,074) dengan kejadian stunting. Analisis multivariat menggunakan Regresi logistik dengan metode Backward LR yaitu metode yang dilakukan secara bertahap dengan mengeluarkan variabel yang tidak signifikan hingga diperoleh model akhir. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa Kondisi sarana jamban adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting dengan nilai (P=0,005, OR=3,110). Sanitasi dasar secara tidak langsung memengaruhi gizi balita. Sanitasi yang buruk dapat menimbulkan penyakit infeksi pada balita seperti diare dan cacingan yang dapat mengganggu proses pencernaan dalam proses penyerapan nutrisi, jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan masalah stunting. Stunting is a chronic nutritional problem characterized by a child’s height being lower than the standard age. The purpose of this study was to determine the relationship betwen the condition of clean water facilities, the condition of toilet facilities, the condition of trash can facilities, the condition of wastewater disposal facilities with the incidence of stunting in the working area of the South Totikum Commuity Health Center in 2025. The type of research used was quantitative with a case control design and the sampling technique used was proportional sampling. The sample in this study was the head of the head of the family as many 110 respondents. Data analysis used was bivariate analysis using the chi square test and multivariate using logistic regression with the Backward LR method. The results of the bivariate analysis showed a significant relationship between the condition of toilet facilities (p=0,007) and the condition of trash can facilities (p=0,023) with the incidence of stunting. Meanwhile, there was no significant relationship between the condition of wastewater disposal facilities (p=0,074) with the incidenci of stunting. Multivariate analysis used logistic regression with the Backward LR method, a method carried out in stages by removing insignificant variables until the final model was obtained. The results of the multivariate analysis showed that the condition of toilet facilities was the most influential variable on stunting incidence, with a value of (p=0,005, OR=3,110). Basic sanitation indirectly affects toddler nutrition. Poor sanitation can cause infectious diseases in toddler, such as diarrhea and worms, which can interfere with the digestive process and nutrient absorption. If this condition persists for a long time, it can lead to stunting.
Pengaruh Tiga Hari Pemberian Jus Mentimun Terhadap Penurunan Tekanan Darah Penderita Hipertensi: The Effect of of Three Days Cucumber Juice Administration on Lowering Blood Pressure in Hypertension Patients Lalusu, Erni Yusnita; Balebu, Dwi Wahyu; Nurrachmatika, Ninik Kurniawati; Ramli, Ramli; Sattu, Marselina; Otoluwa, Anang Samudera
Amerta Nutrition Vol. 9 No. 1SP (2025): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 5th Amerta Nutrition Conferenc
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v9i1SP.2025.194-201

Abstract

Background: Hypertension is one of the leading non-communicable diseases worldwide. In general, non-pharmacological therapy is crucial to minimize side effects and the risk of complications. Cucumber (Cucumis sativus L.) has been proposed as an alternative therapy for hypertension due to the high potassium, magnesium, and water content, along with the diuretic and vasodilatory effects, which can help lower blood pressure. Objectives: This study aims to analyze the effect of 3 days of cucumber juice on lowering blood pressure in hypertension patients. Methods: A pre-experimental study was conducted using a one-group pretest-posttest design. The subjects were 40 randomly selected hypertension patients. The intervention comprised 200 ml of cucumber juice once daily in the afternoon for 3 consecutive days. Blood pressure was measured before and after the intervention and analyzed using Wilcoxon test. Results: The results showed that the mean systolic and diastolic blood pressure before intervention were 166.50 mmHg and 99.25 mmHg, respectively. After the intervention, a significant decrease in mean blood pressure was observed (p-value = 0.001), both systolic (150.38 mmHg) and diastolic (87.85 mmHg). Stratification analysis of covariate subcategories also showed a similar trend. The decrease in blood pressure after cucumber consumption was seen in all subcategories. This indicates that the effect of cucumber in lowering blood pressure is not influenced by various covariates. Conclusions: The mean blood pressure of hypertension patients decreased significantly after cucumber juice consumption, both overall and after, leading to differences in subject characteristics. Further studies need to demonstrate the effectiveness of cucumber juice by adding a control group.