Penelitian ini mengkaji peran komunikasi verbal dan non-verbal yang digunakan fotografer dalam praktik foto-running di Kota Samarinda. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta dokumentasi visual berupa unggahan media sosial dan materi distribusi foto. Sampel penelitian terdiri dari fotografer lapangan dan pelari sebagai penerima pesan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik dari Braun & Clarke untuk menemukan pola komunikasi serta konteks kemunculannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi non-verbal seperti gerakan tubuh, contoh pose, kontak mata, dan penggunaan papan atau properti menjadi saluran utama yang paling efektif dalam situasi ramai dan bising. Meskipun demikian, instruksi verbal tetap memiliki peran penting, terutama untuk menyelaraskan momen pemotretan melalui hitungan seperti “satu-dua-tiga.” Teknologi seperti Instagram, Google Drive, dan FotoYu tidak hanya berfungsi sebagai media distribusi, tetapi juga turut membentuk ulang cara kerja fotografer serta menimbulkan pertimbangan etis dalam publikasi foto. Hambatan komunikasi yang kerap terjadi meliputi jarak, kerumunan, kebisingan, kondisi cuaca, dan masalah privasi peserta. Untuk mengatasinya, fotografer memadukan strategi verbal dan non-verbal dengan prosedur koordinasi sebelum acara dimulai. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian interaksi simbolik pada komunikasi visual olahraga dan memberikan rekomendasi praktis berupa SOP pra-event, lexicon gestur, dan standar repositori digital untuk meningkatkan efektivitas serta etika praktik fotorunning di era digital.