Claim Missing Document
Check
Articles

Meyakini Qadha’ dan Qadar dalam Al-Qur’andan Relevansinya dengan Ketenangan Jiwa Maulidya, Fariha Putri; Fariha Putri; Wiwin Ainis Rohtih; Ahmad Zainuddin; Miftara Ainul Mufid
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.26915

Abstract

Qadha’ dan qadar merupakan konsep penting dalam ajaran Islam yang berkaitan dengan takdir atau ketentuan Allah terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Iman kepada qadha’ dan qadar merupakan rukun iman ke-6 dan umat Islam wajib mengimaninya. Qadha’ merupakan suatu ketentuan Allah SWT atas segala sesuatu yang di dalamnya terdapat suatu kehendak Allah SWT. Sedangkan qadar merupakan suatu perwujudan atas kehendak, ketentuan maupun ukuran Allah SWT atas segala sesuatunya. Tulisan ini bertujuan mengulas mengenai konsep qadha’ dan qadar dalam al-Qur’an dan kolerasinya dengan ketenangan jiwa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-kepustakaan, dengan sumber data primer dari al-Qur’an serta menggunakan metode tafsir maudhu’i. Dengan demikian, tulisan ini menunjukkan bahwa konsep ketenangan jiwa sangat berpengaruh terhadap keyakinan kepada qadha’ dan qadar yang dijelaskan al-Qur’an, di mana seseorang akan merasa lebih tenang dalam menerima segala ketentuan dan ketetapan yang dialaminya. Keimanan kepada qadha’ dan qadar memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari karena memungkinkan seseorang untuk menerima takdir dengan ikhlas, mengatasi stres dan tetap sabar menghadapi tantangan hidup. Tulisan ini berkontribusi dalam memberikan pemahaman nilai-nilai keislaman yang dapat berpengaruh terhadap ketenangan pikiran dan pengelolaan kekhawatiran.
Reducing Understanding of Online Gossip in the Perspective of the Qur'an: From Impact to Solution Dita Febrianti; Wiwin Ainis Rohtih; M. Mukhid Mashuri; Miftara Ainul Mufid
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 26 No 1 (2025): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v26i1.28967

Abstract

In this era of Society 5.0, humanity is faced with a new era marked by rapid technological advancements. With the rise of social media platforms, communication between people is no longer hindered by physical distance, making it easier and more accessible than ever before. However, recent findings suggest that the prevalence of social media today is no longer primarily about education, information, or motivation, but rather about content that goes viral, specifically “online gossip.” This study aims to discuss online gossip from the perspective of the Qur'an, analyzing its impacts and potential solutions. The method used is qualitative, employing the Tafsir Maudhu'i approach with descriptive-analytical data analysis. The results and discussion reveal that the Qur’an’s perspective on online gossip stems from feelings of insecurity and a lack of gratitude for what Allah has bestowed upon humanity. The consequences of gossip are not only spiritual and otherworldly, such as the threat of punishment in the afterlife, but also cause social harm in this world. Therefore, the highly recommended solution is to engage in regular self-reflection or introspection. By recognizing that every human being is created with their own uniqueness, strengths, and weaknesses, it is hoped that individuals can refrain from the tendency to discuss others' faults. This research contributes to reducing the phenomenon of online gossip in the midst of the rapid development of the Society 5.0 era.
Embodying the Qur’an: Tahfidz Practice, Religious Habitus, and Qur’anic Consciousness in Muslim Minority Thailand Munawar, Karam; Rohtih, Wiwin Ainis; Mufid, Miftara Ainul; Zainuddin, Ahmad; Jeeranan Wongphaopan
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620131236

Abstract

Studies on Qur’anic tahfidz have largely focused on memorization techniques and pedagogical achievement, while the formation of religious consciousness through memorization practices remains underexplored. This study examines how the sabaq method functions as a process of forming Qur’anic habitus and embodied religious consciousness among Muslim students at At-Taqwa School, Chiang Mai, Thailand. Employing a qualitative approach within the framework of the Living Qur’an, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation of tahfidz activities. The findings demonstrate that repetitive memorization practices constitute forms of lived engagement with the Qur’an operating through cognitive, affective, and practical dimensions. Memorized verses are not only retained verbally but also connected to moral reflection, emotional attachment, spiritual discipline, and everyday religious conduct. Drawing on Pierre Bourdieu’s concept of habitus, this study argues that tahfidz practices function as mechanisms of religious habituation through which Qur’anic values become embodied within students’ dispositions, bodily routines, and socio-religious subjectivity. In the context of the Muslim minority in Thailand, tahfidz also serves as a medium for reproducing Islamic identity and sustaining Qur’anic culture. This study contributes to Living Qur’an scholarship by repositioning tahfidz as an embodied religious practice rather than merely a pedagogical activity of textual memorization. [Kajian mengenai tahfidz Al-Qur’an selama ini lebih banyak berfokus pada teknik hafalan dan capaian pedagogis, sementara pembentukan kesadaran religius melalui praktik menghafal masih relatif kurang mendapat perhatian. Penelitian ini menganalisis bagaimana metode sabaq berfungsi sebagai proses pembentukan habitus Qur’ani dan kesadaran religius yang embodied pada santri di At-Taqwa School, Chiang Mai, Thailand. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka Living Qur’an dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi kegiatan tahfidz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik repetisi hafalan merupakan bentuk lived engagement with the Qur’an yang berlangsung melalui dimensi kognitif, afektif, dan praksis. Ayat-ayat yang dihafal tidak hanya direproduksi secara verbal, tetapi juga dikaitkan dengan refleksi moral, keterikatan emosional, disiplin spiritual, dan perilaku religius sehari-hari. Dengan menggunakan konsep habitus Pierre Bourdieu, penelitian ini menunjukkan bahwa praktik tahfidz berfungsi sebagai mekanisme habituasi religius yang menginternalisasikan nilai-nilai Qur’ani ke dalam disposisi, ritme tubuh, dan subjektivitas sosial-keagamaan santri. Dalam konteks Muslim minoritas di Thailand, tahfidz juga berfungsi sebagai medium reproduksi identitas Islam dan pelestarian budaya Qur’ani. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan studi Living Qur’an dengan memosisikan tahfidz sebagai praktik religius embodied, bukan sekadar aktivitas pedagogis reproduksi teks.]
Gaya Hidup Elit Politik Dalam Perspektif Al Qur-an Khodijah, Miftakhu Nuril; Mufid, Miftara Ainul; Mahmud, Amir; Rohtih, Wiwin Ainis
EL-MAQRA' Vol 6 No 1 (2026): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v6i1.14466

Abstract

This study analyzes the concept of political elite lifestyles from the perspective of the Qur’an through a comparative interpretative approach toward Tafsir Ibn Kathir, Tafsir Al-Azhar by Hamka, and Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab. The research employs a qualitative method based on library research by examining QS. Al-A’raf [7]: 31, QS. Al-Isra’ [17]: 26–29, QS. Al-Furqan [25]: 67, and QS. Luqman [31]: 18–19. The findings reveal that the three exegetes equally reject israf (excessiveness), tabdzir (wastefulness), and takabbur (arrogance) as deviations from leadership ethics, although they differ in their interpretative approaches. Ibn Kathir emphasizes a normative-textual approach, Hamka highlights social criticism toward consumerism and social inequality, while Quraish Shihab develops the dimensions of public ethics and responsibility in the exercise of power. The novelty of this study lies in its effort to connect Qur’anic interpretation with the phenomenon of modern political elite lifestyles through the perspective of Islamic political ethics. This study affirms that the values of moderation, social justice, and humility remain relevant as moral foundations of leadership in contemporary political contexts.
Analisis Tematik Psikoterapi Al-Qur’an dalam Antisipasi Skizofrenia Paranoid Elfira Abidatul Maula; Wiwin Ainis Rohtih; Miftara Ainul Mufid; Amir Mahmud
Jurnal Semiotika Quran Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v6i1.34538

Abstract

Skizofrenia paranoid merupakan gangguan mental kronis yang ditandai dengan delusi, halusinasi, dan gangguan berpikir. Skizofrenia termasuk salah satu dari penyebab utama kecacatan, meskipun jumlah kejadiannya relatif lebih rendah dibanding dengan beberapa gangguan mental lainnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep psikoterapi Al-Qur’an sebagai upaya antisipasi gejala skizofrenia paranoid. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan model studi kepustaan (library research), yaitu dengan cara menelaah dan menganalisis secara tematik ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan konsep waswas, dzikir, membaca dan mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an. Hasil kajian menunujukkan bahwa konsep waswas dalam Al-Qur’an memiliki relevansi fenomenologis dengan halusinasi audiotorik pada penderita skizofrenia paranoid. Selain itu, praktik psikoreligius seperti dzikir, membaca dan mendengarkan murottal Al-Qur’an berpotensi membantu menenangkan emosi, menurunkan intensitas halusinasi. psikoreligius dapat menjadi upaya komprehensif dalam mengantisipasi gejala skizofrenia paranoid. Kontribusi penelitian ini ada pada Pembangunan kerangka psikoterapi al-Qur’an yang integratif antara tafsir dan psikologis klinis, serta menwarkan pendekatan pendamping dalam penanganan skizofrenia paranoid.
FONDASI UKHWAH DAN ETIKA SOSIAL DALAM AL-QUR’AN: Analisis Tafsir Maudhui ayat Tafāhum dan Iḥtirām Lily Haris Maulani; M. Mukhid Mashuri; Wiwin Ainis Rohtih
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10140

Abstract

Studi ini meneliti landasan persaudaraan dan etika sosial dalam Al-Qur'an melalui analisis tafsir tahlili (interpretasi keagamaan) ayat-ayat yang mewakili konsep tafahum (saling pengertian) dan ihtiram (saling menghormati). Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan, studi ini membedah makna tekstual dan kontekstual ayat-ayat kunci, seperti QS. Al-Hujurat: 10-13, untuk mengungkap bagaimana Al-Qur'an membangun struktur masyarakat yang harmonis. Hasil analisis menunjukkan bahwa tafahum berperan sebagai pilar kognitif untuk meminimalkan prasangka, sedangkan ihtiram berfungsi sebagai pilar perilaku dalam menjaga kehormatan sesama manusia. Sinergi antara keduanya membentuk model etika sosial transformatif, di mana persaudaraan tidak hanya didasarkan pada keyakinan bersama, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan universal yang inklusif. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan nilai-nilai tafahum dan ihtiram merupakan solusi mendasar dalam menghadapi polarisasi sosial dan krisis etika di era kontemporer.
A AL-RU’YA DALAM AL-QUR’AN: (Studi penafsiran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani) Mochammad Ayuub Bil Ansori; Nyoko Adi Kuswoyo; Wiwin Ainis Rohtih
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10178

Abstract

Mimpi (al-ru’yā) dalam Al-Qur’an sering dipahami secara parsial sebagai fenomena tidur, padahal ia memiliki dimensi spiritual, epistemologis, dan moral yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan menjelaskan konsep al-ru’yā dalam Al-Qur’an melalui pendekatan penafsiran spiritual, serta mengungkap makna simbolik mimpi sebagai media bimbingan Ilahi dan evaluasi diri. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu‘i) terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan mimpi, disertai analisis pemaknaan sufistik. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa mimpi dalam Al-Qur’an terbagi menjadi mimpi yang benar sebagai busyra dari Allah dan mimpi yang bersumber dari gangguan setan atau refleksi kondisi nafsani. Simbol-simbol dalam mimpi merepresentasikan keadaan ruhani manusia, sehingga berfungsi sebagai sarana muhasabah dan pendidikan akhlak. Kesimpulannya, al-ru’yā bukan sekadar pengalaman tidur, tetapi merupakan instrumen spiritual yang menuntun manusia kepada perbaikan diri, peningkatan iman, serta kedekatan kepada Allah, dengan pemahaman yang tepat melalui bimbingan keilmuan dan spiritual.