Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Relationship Between Age and ASA Physical Status with Recovery Time for Post-General Anesthesia Patient Norhidayat, Muhammad; Suwandewi, Alit; Aprilia, Hanura; Khalilati, Noor; Daud, Izma
Journal of Nursing Invention Vol. 6 No. 2 (2025): Journal of Nursing Invention
Publisher : LPPM Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/jni.v6i2.980

Abstract

Latar Belakang: General anestesi merupakan salah satu jenis pembiusan yang menimbulkan hilangnya kesadaran, hilangnya persepsi nyeri, hilangnya memori dan relaksasi. Salah satu perhatian utama bagi pasien yang menjalani operasi dengan general anestesi adalah waktu pemulihan kesadaran. Di antara faktor yang dapat mempengaruhi waktu pulih sadar adalah usia dan status fisik ASA (American Society of Anesthesiologists) pasien. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia dan status fisik ASA dengan waktu pulih sadar pada pasien post operasi dengan general anestesi. Metode: Desain penelitian ini adalah analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 96 responden. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin pada bulan Mei-Juni 2025. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan waktu pulih sadar dengan p value 0,768 (p>0,05), dan tidak ada hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pulih sadar dengan p value 0,278 (p>0,05). Kesimpulan: Diharapkan hasil penelitian ini dapat mendorong penata anestesi untuk meningkatkan kualitas manajemen anestesi sehingga dapat meminimalkan terjadinya resiko komplikasi pasca pembedahan.
Hubungan PHBS dengan Kejadian Diare pada Balita Usia 0–36 Bulan yang Tinggal di Pinggiran Sungai Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin [The Association between Clean and Healthy Living Behavior and the Incidence of Diarrhea among Infants Aged 0–36 Months Living in Riverside Areas within the Working Area of Pekauman Public Health Center Banjarmasin] Munawarah, Raudatul; Harun, Lukman; Suwandewi, Alit; Millati, Rida'
Indonesia Berdaya Vol 7, No 2 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261481

Abstract

Diarrhea in toddlers is one of the main causes of illness and death that still frequently occurs in residential areas with poor sanitation, including areas along rivers. This study aims to determine the relationship between Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS) and the incidence of diarrhea in toddlers aged 0–36 months in the working area of the Pekauman Banjarmasin Community Health Center. This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 98 respondents selected through purposive sampling. Data collection was conducted using a CHB questionnaire and a diarrhea incidence observation sheet. Data analysis was performed using the Chi-Square test. The results showed that there was a significant relationship between PHBS and the incidence of diarrhea in toddlers (p = 0.002). Toddlers with poor PHBS had a higher proportion of diarrhea cases (75.9%) compared to toddlers in families with good PHBS (45.5%). These findings indicate that poor PHBS practices, such as not washing hands with soap, using unclean water, inadequate sanitation, low rotavirus immunization coverage, and using unsanitary toilets, contribute to the high incidence of diarrhea. This study is expected to serve as a basis for health workers in improving PHBS education programs, especially through a family approach in riverside settlements. The research outputs, in the form of leaflets and PHBS education applications, can also be used as a medium for promotive-preventive interventions in efforts to reduce the incidence of diarrhea in toddlers. Abstrak. Diare pada balita merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian yang masih sering terjadi di daerah permukiman dengan sanitasi buruk, termasuk wilayah bantaran sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita usia 0–36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 98 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner PHBS dan lembar observasi kejadian diare. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS dengan kejadian diare pada balita (p = 0,002). Balita dengan PHBS yang kurang baik memiliki proporsi kejadian diare yang lebih tinggi (75,9%) dibandingkan dengan balita pada keluarga dengan PHBS yang baik (45,5%). Temuan ini menunjukkan bahwa praktik PHBS yang buruk, seperti tidak mencuci tangan dengan sabun, penggunaan air yang tidak bersih, sanitasi yang tidak memadai, rendahnya cakupan imunisasi rotavirus, serta penggunaan jamban yang tidak layak, berkontribusi terhadap tingginya kejadian diare. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam seperti tidak mencuci tangan dengan sabun, penggunaan air yang tidak bersih, sanitasi yang tidak memadai, rendahnya cakupan imunisasi rotavirus, serta penggunaan jamban yang tidak layak, berkontribusi terhadap tingginya kejadian diare. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam  meningkatkan program edukasi PHBS, khususnya melalui pendekatan keluarga di permukiman bantaran sungai. Luaran penelitian berupa leaflet dan aplikasi edukasi PHBS juga dapat dimanfaatkan sebagai media intervensi promotif-preventif dalam upaya menurunkan kejadian diare pada balita.