p-Index From 2021 - 2026
12.068
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Jurnal Teologi Berita Hidup Manna Rafflesia SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Jurnal Teologi Praktika Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Jurnal DIDASKO Jurnal Teologi Amreta Jurnal Kadesi : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Predica Verbum TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sabda : Jurnal Teologi Kristen ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Dunamos: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Shema : Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Kristen MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen ALUCIO DEI DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Duta Harapan Voice of HAMI Theologia Insani: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Lentera Nusantara Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Ap-Kain ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Pistis: Teologi dan Praktia Hymnos : Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen
Paulus Kunto Baskoro
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Published : 100 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Biblika Respon Raja Yosafat dalam Menghadapi Masalah Menurut 2 Tawarikh 20:1-30 Yikwa, Abius; Baskoro, Paulus Kunto
Jurnal Lentera Nusantara Vol 2, No 1 (2022): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.156 KB) | DOI: 10.59177/jls.v2i2.179

Abstract

The problems of life can make people excited, but can make people not enthusiastic. Life’s challenges can come in a row and are sudden. Life’s challenges can occur in family, wor, future, study and God’s church. When the response to life’s challenges is not good, it can lead to destruction. No exception, life’s challenges can also happen to believers. Some responded positifvely, some responded negatively. Through this paper, the author invites to learn from the person of Jehoshapat in 2 Chronicles 20:1-30 when he faced problems and succeeded in winning over problems. The method used is descriptive literature method. This research will discuss about effective ways of evangelism, so that evangelism is more effective and can be applied in all ages. The purpose of this writing is first, to find a true biblical study in 2 Chronicles 20:1-30 of the person of Jehoshaphat who has triumphed over the problem at hand. Second, find the principles to win over life’s problems theologically. Three, apply the right principles in dealing with problems in the lives of believers.AbstrakMasalah-masalah kehidupan membuat orang tidak maksimal. Tantangan hidup datang bisa bertubi-tubi dan sifatnya mendadak. Tantangan hidup bisa terjadi dalam keluarga, pekerjaan, masa depan, study dan gereja Tuhan. Ketika respon terhadap tantangan kehidupan tidak baik, maka bisa menyebabkan  kehancuran. Tidak terkecuali, tantangan hidup bisa menimpa juga orang percaya. Ada yang berespon positif ada yang berespon negatif. Lewat tulisan ini, penulis mengajak untuk belajar dari pribadi Yosafat dalam 2 Tawarikh 20:1-30 ketika menghadapi masalah dan berhasil menang atas masalah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif literatur. Penelitian ini akan membahas tentang cara yang efektif dalam penginjilan, sehingga penginjilan lebih tepat guna dan dapat diaplikasikan dalam segala zaman. Tujuan dalam penulisan ini adalah Pertama, menemukan kajian biblika yang benar 2 Tawarikh 20:1-30 dari pribadi Yosafat yang berhasil menang atas masalah yang dihadapi. Kedua, menemukan prinsip-prinsip untuk menang atas masalah kehidupan secara teologis. Ketiga, mengaplikasikan prinsip-prinsip yang benar dalam menghadapi masalah dalam kehidupan orang percaya.
Model Kepemimpinan Rohani di Era Disrupsi Baskoro, Paulus Kunto; Yermianto, Sumbut
Jurnal Lentera Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.77 KB) | DOI: 10.59177/jls.v1i1.135

Abstract

Leadership is a fundamental part of a life order. There is an element of leadership in all aspects of life. Leadership in the family, leadership at work, school leadership, campus leadership, state leadership and church leadership. Leadership in the church is called the era of disruption. Every era there is always something new in the concept of leadership. There is a particural challenge in leadership in the era of disruption, an era of rapid change. Spiritual leadership is expected to be able to adapt quickly to the era of disruption. Because what happens, when spiritual leadership cannot adapt and keep pace with this time, it will experience setbacks. That is why it is important to examine the Disrupotion Era Leadership Model that can answer the needs of God’s church and spiritual institutions to remain a blessing. Thus study uses a descriptive method of literature as a methos used to describe or explain research ideas. The purpose of this research is First, to understand the challenges that arise in the concept of spiritual leadership in the era of disruption. Second, find models of spiritual leadership that can answer a challenge from the era of disruption. Third, make an effective contribution for Christian leaders in the era of disruption to continue to develop themselves.AbstrakKepemimpinan menjadi bagian fundamental dalam sebuah tatanan kehidupan. Segala aspek kehidupan selalu ada unsur kepemimpinan. Kepemimpinan dalam keluarga, kepemimpinan di tempat pekerjaan, kepemimpinan sekolah, kepemimpinan kampus, kepemimpinan negara dan kepemimpinan dalam gereja. Kepemimpinan dalam gereja disebuh sebagai kepemimpinan rohani. Zaman mengalami perkembangan yang sangat cepat, dimana zaman ini disebut dengan era disrupsi. Setiap masa zaman selalu ada hal baru dalam konsep kepemimpinan. Ada sebuah tantangan khusus dalam kepemimpinan di era disrupsi, era yang mengalami perubahan secara cepat. Kepemimpinan rohani diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan cepat menghadapi era disrupsi. Sebab yang terjadi, ketika kepemimpinan rohani tidak bisa menyesuaikan diri dan berpacu dengan masa ini, maka akan mengalami kemunduran. Itu sebabnya penting untuk mengkaji Model Kepemimpinan Era Disrupsi yang dapat menjawab kebutuhan gereja Tuhan dan lembaga kerohanian untuk tetap menjadi berkat. Penelitian ini menggunakan metode diskritif literatur pustaka sebagai metode yang dipakai untuk menggambarkan atau memaparkan ide penelitian. Tujuan dari penelitian ini yaitu Pertama, memahami tantangan-tantangan yang muncul dalam konsep kepemimpinan rohani di era disrupsi. Kedua, menemukan model-model kepemimpinan rohani yang dapat menjawab sebuah tantangan di era disrupsi. Ketiga, memberikan kontribusi yang efektif bagi pemimpin Kristen di era disrupsi untuk tetap mengembangkan diri.
Strategi Penerapan Ilustrasi Cerita Ber-Pathos Pada Kotbah dalam Kitab 2 Samuel 12:1-13 dan Implementasinya Bagi Pengkotbah Masa Kini Senas, Audi Oktavian; Baskoro, Paulus Kunto
Jurnal Lentera Nusantara Vol 2, No 2 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristen - Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jls.v2i2.212

Abstract

Preaching is a means created by God to communicate His purpose to His people, as the function of the Bible is written in 1 Timothy 3:16, to teach, state mistakes, correct behavior, and educate people in truth. Likewise the role of the goal of a sermon. However, there has not been an effective preacher in conveying the message of God’s Word. Every preacher has a unique method, way and style of communication his sermon, both verbally and non-verbally, but the purpose of a sermon is to transform new life the congregation or listeners, as the Holy Spirit does. The aims of this research are : First, a theological study of the use of the story by the Prophet Nathan to David in the text of 2 Samuel 12:1-13. Second, the preacher can discover biblically about the role and effectiveness of illustratations in the form of stories that have the power of pathos. Third, the preacher, the application of the use of illustrations in the form of stories in achieving the goals of preaching in the church today.AbstrakKhotbah adalah sebuah sarana yang diciptakan oleh Allah untuk mengkomunikasikan tujuan-Nya bagi umat-Nya, sebagaimana fungsi Alkitab yang tertulis dalam 1 Timotius 3:16, untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakukan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Demikian juga peran tujuan dari sebuah khotbah. Setiap pengkhotbah memiliki metode, cara dan gaya yang khas dalam mengkomunikasi khotbahnya, baik secara verbal dan non verbal, namun tujuan sebuah khotbah adalah mentransformasikan kehidupan baru dalam diri jemaat atau pendengarnya, seperti yang dikerjakan Roh Kudus.  Tujuannya penelitian ini, yaitu: Pertama,merupakan sebuah kajian teologis mengenai penggunaan cerita oleh Nabi Natan kepada Raja Daud dalam teks 2 Samuel 12:1-13. Kedua, pengkhotbah dapat menemukan secara biblika mengenai peran dan keefektifan ilustrasi dalam bentuk cerita yang memiliki kekuatan pathos. Ketiga, pengkhotbah, pengaplikasian penggunaan ilustrasi bentuk cerita dalam pencapaian tujuan khotbah di gereja dan jemaat  masa kini.
Membangun Struktur Khotbah yang Transformatif Menurut 2 Timotius 3:16-17 Bagi Generasi Muda Di Era 5.0 Suwondo, Victorio Emmanuela Sammy; Baskoro, Paulus Kunto; Jani, Jani
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 2 (2025): Ap-Kain: Jurnal Penelitian dan PKM
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i2.214

Abstract

Sermons are the primary means of conveying God's word in church life. However, sermons today often focus solely on theological information. Sermons should be transformative, bringing about real change in the mindset, attitudes, and behavior of listeners. This is so that today's younger generation can become doers of the Word, not just hearers. This study aims to examine how to build a transformative sermon structure based on the principle of 2 Timothy 3:16, which emphasizes four key functions of God’s Word: teaching, rebuking, correcting, and training in righteousness. Using a kualitatf deskritif method, this research highlights that transformative preaching is urgently needed by young people who live amidst digitalization, moral relativism, and identity crises. Preaching that is rooted in the Word of God, delivered in a communicative language, and contextualized to the digital life of the younger generation will serve as an effective means of shaping faith and Christlike character. This study is expected to contribute theoretically to the field of homiletics and practically to churches and preachers in designing sermons that are relevant, applicable, and transformative for the young generation in the Society 5.0 era.AbstrakKhotbah merupakan sarana utama penyampaian firman Tuhan dalam kehidupan gereja. Namun saat ini yang terjadi kotbah hanya berhenti dalam informasi teologis semata. Padahal kotbah harus bersifat transformatif, yaitu membawa perubahan nyata dalam pola pikir, sikap hati, dan perilaku pendengar. Supaya generasi muda sekarang dapat menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar Firman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana membangun struktur khotbah transformatif berdasarkan prinsip 2 Timotius 3:16, yang menekankan empat fungsi utama firman Allah: mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran. Dengan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menegaskan bahwa khotbah transformatif sangat dibutuhkan generasi muda yang hidup di tengah arus digitalisasi, relativisme moral, dan krisis identitas. Khotbah yang berakar pada firman Allah, disampaikan dengan bahasa komunikatif, serta relevan dengan konteks kehidupan digital generasi muda, akan menjadi sarana efektif bagi pembentukan iman dan karakter Kristus. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis dalam bidang homiletika serta manfaat praktis bagi gereja dan pengkhotbah untuk merancang khotbah yang relevan, aplikatif, dan transformatif bagi generasi muda di era 5.0.
Konektifitas Peran Orang Tua dalam Memuridkan Anak: Biografi Timotius Menurut 2 Timotius 1:5 Baskoro, Paulus Kunto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.262

Abstract

Other than church, the family is the main place of discipleship for young Christians in realizing their spiritual growth so that they grow up and are ready to face the challenges of life in today's modernization era. By using a descriptive qualitative approach and literary study methods, this research aims to answer several  questions about how young people in this modern era can be properly discipled both in the church and in the family. Parents should involved an important role in discipleship of children whom God has entrusted to them so that they become a generation that fulfills God's call. So that the purpose of discipleship is achieved where these young people become mature in personality, spirituality and morality so that they do not easily fall into negative things that do not glorify the name of God.This article will provide an understanding of how parents as the main responsible for making disciples of their children can synergize or cooperate with the youth leaders whom the Lord also uses in guiding their spiritual younger siblings. And in the end, the implementation of discipleship of young people will be something good if done together. AbstrakSelain gereja, keluarga merupakan tempat utama pemuridan bagi anak-anak muda Kristen dalam mewujudkan pertumbuhan rohani mereka sehingga bertumbuh dewasa dan siap menghadapi tantangan kehidupan di era modernisasi saat ini. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif serta  metode studi literatur, maka penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang bagaimana anak-anak muda di era serba modern ini dapat dimuridkan dengan benar baik dalam gereja mau pun di dalam keluarga. Orang tua seharusnya berperan penting dalam melakukan pemuridan terhadap anak-anak yang Tuhan sudah percayakan kepada mereka sehingga menjadi suatu generasi yang menggenapi panggilan Allah.  Sehingga tujuan dari pemuridan pun tercapai dimana anak-anak muda ini menjadi dewasa dalam kepribadian, kerohanian dan moralitas sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif yang tidak memuliakan nama Tuhan. Penelitian ini akan memberikan pengertian bagaimana orang tua sebagai penanggung jawab utama dalam memuridkan anak-anak mereka dapat bersinergi atau bekerja sama dengan para pemimpin kaum muda yang Tuhan juga pakai dalam membimbing adik-adik rohani mereka. Dan pada akhirnya dalam implementasi pemuridan terhadap anak-anak muda akan menjadi sesuatu yang baik jika dikerjakan bersama-sama. 
Peran Orang Tua dalam Mengoptimalkan Kecerdasan serta Kehidupan Spiritual Anak Menurut Amsal 1:7 Udam, Geissler; Baskoro, Paulus Kunto
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 3 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v3i2.74

Abstract

Abstract: The role of parents is very important in a child growth perioed, both spiritually and physically. Often Christian families are not serious about educating their children. Currently, many families focus more on work and ignore their children’s education. Children’ education is handed overe to household assistants of children grow up on their own without God’s direction. In fact, the role of parents is very important fos children’s spiritual growth, especially in children’s intelligence and maturity. Because children are the successors of the family, church and nation. Educational attiention to children is very important. The author uses the basis of the Book of Proverbs as part of examining the role of parents in educating children. This research was conducted using descriptive qualitative methods. Namely research that focuses on exploring data from library soutces. The aim of this research is First, to explain how important the role of parent is in children’s education. Second, examine the role of parents in educating children according to The Book of Proverbs. Third, implementing the role of parents for today’s children in optimizing children’s intelligence and spiritual life. Abstrak: Peranan orang tua sangatlah penting dalam masa pertumbuhan seorang anak, baik dalam pertumbuhan secara rohani dan jasmani. Seringkali keluarga Kristen tidak serius dalam mendidik anak mereka. Saat ini banyak keluarga lebih befokus kepada pekerjaan dan mengabaikan pendidikan anak. Pendidikan anak diserahkan kepada asisten rumah tangga atau anak-anak bertumbuh sendiri tanpa arahan orang Tuhan. Padahal peran orang tua, sangat penting bagi pertumbuhan kerohanian anak, terutama dalam kecerdasan dan kedewasaan anak. Sebab anak adalah penerus keluarga, gereja dan bangsa. Perhatian pendidikan kepada anak sangat penting. Penulis menggunakan dasar Kitab Amsal sebagai bagian mengkaji peranan orang tua dalam mendidik anak. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskritif. Yaitu penelitian yang berfokus menggali data dari sumber-sumber pustaka. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, menjelaskan betapa penting peranan orang tua dalam pendidikan anak. Kedua, mengkaji peranan orang tua dalam mendidik anak menurut Kitab Amsal. Ketiga, mengimplementasikan peranan orang tua bagi anak-anak masa kini dalam mengoptimalkan kecerdasan dan kehidupan spiritual anak.
Kualitas Kedewasaan Rohani serta Implementasinya bagi Jemaat di Abad ke 21: Kajian 2 Petrus 1:3-11 Baskoro, Paulus Kunto; Hutapea, Orlando
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 4, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53674/teleios.v4i1.97

Abstract

Abstract: Spiritual maturity is an important part of a believer's spiritual life. There are quite a few Christians who have been going to church for a long time but their spiritual condition is still childish, and there are even quite a few church administrators or church servants who, even though they are actively involved in the church, are still often disappointed and hurt. A healthy spiritual life must also experience healthy growth. Spiritual maturity should be an important point since a person experiences repentance and new birth. So that you become a Christian who has the maximum quality of spiritual maturity. This will be studied based on 2 Peter 1:3-11. This research uses descriptive qualitative methods. The aim of this research is First, to find the principles of the quality of spiritual maturity in 2 Peter 1:3-11. Second, the principles of the quality of spiritual maturity can be implemented in the lives of believers today. Third, the quality of maturity of believers grows rapidly and becomes an important part of the process of spiritual life. So, everything experienced by every believer can have a greater impact on personal life and God's church, so that the character of Christ becomes real.Abstrak: Kedewasaan rohani menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual orang percaya. Tidak sedikit orang Kristen, yang sudah lama ke gereja tetapi keadaan rohaninya masih kekanak-kanakan bahkan tidak sedikit pengurus gereja atau pelayan gereja yang meskipun terlibat aktif di dalam gereja namun masih sering kecewa dan sakit hati. Kehidupan rohani yang sehat haruslah mengalami pertumbuhan yang sehat pula. Kedewasaan rohani hendaknya menjadi point penting sejak seseorang mengalami pertobatan dan kelahiran baru. Sehingga menjadi orang Kristen yang memiliki kualitas kedewasaan rohani yang maksimal. Hal ini akan dikaji berdasarkan 2 Petrus 1:3-11. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, menemukan prinsip-prinsip kualitas kedewasaan rohani dalam 2 Petrus 1:3-11. Kedua, prinsip-prinsip kualitas kedewasaan rohani dapat diimplementasikan dalam kehidupan orang percaya masa kini. Ketiga, kualitas kedewasaan orang percaya menjadi bertumbuh pesat dan menjadi bagian penting dalam proses kehidupan rohani. Jadi dari semua dialami oleh setiap orang percaya dapat lebih berdampak bagi kehidupan secara pribadi dan gereja Tuhan, sehingga karakter Kristus menjadi nyata.
Implementasi Logis Pengenalan akan Kristus dalam Analisis Filipi 3:7 Paulus Kunto Baskoro; Yabes Yabes
REDOMINATE Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 5 No. 1 (2023): REDOMINATE
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v5i1.106

Abstract

Many are found nowadays as believers who are lukewarm or not severe and leave God. The correct introduction to the Lord Jesus is the basis of the life force of every believer. Believers do not only focus on Christian religious rituals. Every believer must discipline himself to live and know God correctly so that his life can grow spiritually and mature in Christ. The research will discuss how far the impact is on the believers whose lives know God with complete sincerity compared to believers who only ordinarily follow Jesus. The method used in this research is descriptive qualitative with a library research approach. The conclusions in this study provide an essential basis for living as a believer knowing the Lord Jesus so that it becomes a solid basis for becoming spiritually mature and can have a strong discipleship impact on other believers.
Kajian Teologis "Yesus Mengutus Berdua-dua" Dalam Pemberitaan Injil Menurut Lukas 10:1-12 : Role Model Penginjilan Masa Kini Manurung, Well Therfine Renward; Baskoro, Paulus Kunto
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23 No. 2 (2023): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v23i2.139

Abstract

Pengutusan Pemberitaan Injil merupakan pekerjaan Allah sendiri sebagai suatu pernyataan kasih Allah kepada dunia. Suatu pengutusan yang tidak menjadikan kumpulan orang percaya atau Gereja sebagai pusat pemberitaan melainkan sebagai sarana atau alat-Nya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretative (interpretative design) dapat menemukan makna dan implementasi frasa “mengutus berdua-dua” dalam suatu Pemberitaan Injil: Pertama, Bahwa peran pengutusan sangat penting di dalam proses awal dari pemberitaan Injil. Tanpa pengutusan, pemberitan Injil tidak akan terjadi. Pengutusan ini harus dengan suatu kerelaan hati di dalam pemberitaan Injil. Pemberitaan Injil merupakan salah satu bentuk keterlibatan Allah di dalam dunia, dengan demikian orang-orang percaya harus mengamati apa yang sedang terjadi di dalam dunia dengan melibatkan Roh Kudus sebagai penolong dan berperan aktif bagi sang pemberita Injil. Kedua, Pemberitaan Injil dilakukan kepada οἶκος (oikos), keluarga, tetapi bukan menjadikannya sebagai tujuan akhir dari Pemberitaan Injil melainkan mempersiapkan οἶκος (oikos) sebagai sarana atau alat-Nya di kemudian hari. Ketiga, Pasca Penginjilan merupakan suatu fase yang sangat penting dan krusial di dalam pertumbuhan dan perkembangan kerohanian οἶκος (oikos), oleh karena ini proses pemberitaan Injil harus tuntas sampai kepada fase ini.
Karakteristik Pemimpin Menurut 2 Timotius 2:22-25 dan Implementasinya Bagi Pemimpin Komsel Di Gereja Eben Haezer Community Church, Semarang Tilaar, Bonny Bruce; Baskoro, Paulus Kunto; Arifianto, Yonatan Alex
Hymnos: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen Vol. 1 No. 2 (2025): Hymnos: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64533/hymnos.v1.i2.12

Abstract

The life characteristics of the cell group leader are very important for the church because if the life characteristics of the cell group leader are not good, it will have a negative impact on the spiritual growth of the cell group members being shepherded. But the problem is why it is difficult for South Seoul to develop, some even go dormant or actually die, it really depends on the leader of the South Seoul. Therefore, it is hoped that church leaders can provide new work to answer this problem so that the cell can continue to develop and even multiply, so that the church will become stronger.  The method that will be used in writing this paper is a qualitative research method, with descriptive research stages using a library approach or literature study. The aim of this research is First, to find the characteristics of South Korean leaders according to 2 Timothy 2:22-25. Second, implementing the characteristics of leaders in the cell group at Eben Haezer Community Church, Semarang.