p-Index From 2021 - 2026
12.477
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Jurnal Teologi Berita Hidup Manna Rafflesia SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Jurnal Teologi Praktika Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Jurnal DIDASKO Jurnal Teologi Amreta Jurnal Kadesi : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Predica Verbum TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sabda : Jurnal Teologi Kristen ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Dunamos: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Shema : Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Kristen MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen ALUCIO DEI Metanoia : Jurnal Pendidikan Agama Kristen DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Duta Harapan Voice of HAMI Theologia Insani: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Lentera Nusantara Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Ap-Kain ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Pistis: Teologi dan Praktia Hymnos : Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen
Paulus Kunto Baskoro
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Published : 103 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Analisis Makna "Merdeka" Menurut Surat Galatia Dan Implementasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini Baskoro, Paulus Kunto
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (April 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v4i1.111

Abstract

Many believers today are still trapped in living with the customs that apply in a culture or human regulations. So even though you believe in Jesus, you are still bound by the old human way of life. Makes the life of every believer not experience true freedom. In fact, Jesus' sacrifice and redemption perfected life as a whole. That is why the Letter of Galatians is an important reference for analyzing the life of a believer who is free in Christ as a whole, so that life does not depend on customs. As Paul stated, a person who obeys the law is like a slave who is enslaved. Therefore, freedom becomes one of the central teachings of Galatians. This research uses descriptive qualitative methods. The purpose of this writing is, first, to explain the biblical principle of independence. Second, emphasizing the concept of independence in the implementation of the lives of believers today, so that believers' lives are not bound by human customs.AbstrakBanyak orang percaya masa kini masih terjebak dengan kehidupan dengan tata adat istiadat yang berlaku dalam sebuah kebudayaan atau peraturan-peraturan manusia. Sehingga meskipun sudah percaya Yesus, namun masih terikat dengan tata cara hidup manusia lama. Membuat kehidupan setiap orang percaya tidak mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya. Padahal pengorbanan dan penebusan Yesus menyempurnakan kehidupan secara utuh. Itu sebabnya Surat Galatia menjadi acuan penting untuk menganalisis kehidupan orang percaya yang merdeka dalam Kristus secara utuh, sehingga hidup tidak tergantung kepada adat istiadat. Seperti yang dinyatakan Paulus, orang yang melakukan hukum Taurat ibarat seorang hamba yang diperbudak. Maka dari itu kemerdekaan menjadi salah satu pusat ajaran dari surat Galatia ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskritif. Tujuan dari penulisan ini, Pertama, menjelaskan prinsip merdeka yang biblical. Kedua, menekankan konsep merdeka dalam implementasi kehidupan orang percaya masa kini, sehingga hidup orang percaya tidak terikat dengan adat istiadat manusia.
Tinjauan Teologis Saksi Iman Berdasarkan Ibrani 11:1-40 dan Implementasi Logis Bagi Orang Percaya Masa Kini Baskoro, Paulus Kunto
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.44 KB) | DOI: 10.52879/didasko.v2i2.46

Abstract

Faith is the basis of all that we hope for and the evidence of all that we do not see (Hebrews 11:1). Faith plays a very important role in the journey of a believer’s life. Faith is an important faoundation for every believer to live strong and strong in Christ. There are three important parts in the faith of believers in Jesus, namely faith in believing that Jesus is Lord and Savior, faith that whoever believes in Jesus will enjoy eternal life and faith triumphs over all processes of lifet while on earth. On this basis, the author tries to present the theological concept of the principle of faith according to Hebrews 11:1-40 which is based on the study of each faith figure as a part that can be applied to every believer. This writing uses a descriptive literature method. The goal is that through writing, namely : First, every believer understands the principle of faith in the lives of faith figures according to Hebrews 11:1-40. Second, every believer correctly understands the principle of about the faith that makes every believer strong in Christ. Third, every believer can follow the example of the faith figures in Hebrews 11:1-40 and become a strong person in facing life’s struggles.Abstrak“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1). Dan memegang peran yang sangat penting dalam sepanjang perjalanan kehidupan orang percaya. Iman merupakan pondasi penting bagi setiap orang percaya untuk hidup tetap kokoh dan kuat di dalam Kristus. Ada tiga bagian penting dalam iman orang percaya kepada Yesus, yaitu iman percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, iman bahwa siapa yang percaya Yesus akan menikmati hidup yang kekal dan iman menang atas seluruh proses kehidupan selama di dunia. Atas dasar inilah, penulis berusaha untuk menyajikan konsep teologis prinsip iman menurut Ibrani 11:1-40 yang berdasarkan kajian setiap tokoh-tokoh iman sebagai bagian yang dapat diaplikasikan bagi setiap orang percaya. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif literatur. Tujuannya supaya lewat penulisan yaitu Pertama, setiap orang percaya mengerti prinsip iman dalam hidup tokoh-tokoh iman menurut Ibrani 11:1-40. Kedua, setiap orang percaya mengerti dengan benar prinsip hidup dalam iman yang membuat setiap orang percaya kuat dalam Kristus. Ketiga, setiap orang percaya dapat mengikuti teladan tokoh-tokoh iman dalam Ibrani 11:1-40 dan menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi pergumulan hidup.
Prinsip Dasar Kualitas Seorang Pengajar Kristen di Gereja Menurut 1 Timotius 4:6-8 Baskoro, Paulus Kunto; Matulessy, Yosua Yosia
Jurnal Teologi dan Pelayanan Kerusso Vol 9 No 2: Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso - September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33856/kerusso.v9i2.399

Abstract

Since the beginning, Christian education has come from the church, the church has become the center or center of Christian religious education so that Christian education in the church should be taken seriously, quality and quality should be improved. The church in the modern era needs qualified teaching staff. The quality of a teacher can be reviewed in the letter 1 Timothy 4:6-8 which is the topic of discussion in this article. By using a qualitative method and an interpretive approach (interpretative design) the author observes the text of 1 Timothy 4:6-8 with the principle of hermeneutic interpretation to reveal and explain the basic principles regarding the quality of Christian teachers in the church. The results found are that the quality of Christian teachers must have knowledge of the scriptures (intellectual) as a basis for teaching and have a good spiritual life (spiritual).
Nilai-Nilai Internalisasi Pendidikan Kristen Menurut 2 Timotius 3:16: Implikasi Logis bagi Gereja Masa Kini di Era Dirupsi Baskoro, Paulus Kunto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.734

Abstract

The world of education covers a very broad discussion. However, it is not uncommon nowadays that education is only seen from the perspective of the world of secular education and without, realizing that education in a church, the church will experience a spiritual decline in the congregation’s spiritual maturity. As this era advances, the church and the world of education should be able to work together to make big changes towards a better direction. Because basically Christian education is also centered on the Bible as well as the preaching of the Word in the church, which is studied according to 2 Timothy 3:16. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The purpose of this research is First, to examine important principles in Christian education based on 2 Timothy 3:16. Second, the church plays its function in Christian education for the entire congregation. Third, the entire congregation experiences Biblical spiritual maturity in Christian education.Dunia pendidikan mencakup pembahasan yang sangat luas. Namun tidak jarang pada masa sekarang ini pendidikan hanya dilihat dari segi dunia pendidikan sekuler saja dan tanpa disadari bahwa pendidikan juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan gereja. Sebab tanpa adanya pendidikan dalam sebuah gereja, gereja tersebut akan mengalami kemerosotan kerohanian dalam kedewasaan rohani jemaat. Semakin maju zaman ini, sepatutnya gereja dan juga dunia pendidikan bisa berkerja sama guna untuk melakukan perubahan yang besar untuk menuju ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya pendidikan Kristen juga berpusat pada Alkitab demikian juga dengan pemberitaan Firman dalam gereja, yang dikaji menurut 2 Timotius 3:16. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskritif. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, mengkaji prinsip-prinsip penting dalam pendidikan Kristen berdasarkan 2 Timotius 3:16. Kedua, gereja memerankan fungsinya dalam pendidikan Kristen bagi seluruh jemaat. Ketiga, seluruh jemaat mengalami kedewasaan rohani secara Alkitabiah dalam pendidikan Kristen.
Manajemen Teguh Terhadap Visi Dalam Tokoh-Tokoh Di Alkitab Dan Implementasinya Bagi Pemimpin Gereja Masa Kini Baskoro, Paulus Kunto; Lestari, Teresia Puji
Jurnal Lentera Nusantara Vol 4, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Desember 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v4i1.325

Abstract

The church is an organization and an organism. As an organization, the church needs to implement management. Church management is very necessary for the success of the church ministry in its task of serving God's work on earth. Church leaders need to understand that management is not worldly as long as it is managed by relying on the authority of the Bible. God Himself has set an example in terms of management when He carried out His works, starting from the work of creation to the work of saving mankind. Even in the Bible, you will find many figures in the Bible, during their lives and leadership, they received visions from God, and to realize these visions they implemented management patterns in their leadership and ministry. This research method uses descriptive qualitative methods.  The aim of the research is First, to examine management that adheres to the vision obtained from God. Second, church leaders must implement God's vision by emulating figures in the Bible.AbstrakGereja merupakan organisasi dan organisme. Sebagai suatu organisasi, gereja perlu menerapkan manajemen. Manajemen gereja sangat diperlukan untuk keberhasilan roda pelayanan gereja dalam tugasnya untuk melayani pekerjaan Tuhan di bumi. Pemimpin-pemimpin gereja perlu memahami bahwa manajemen tidaklah bersifat duniawi selama manajemen itu dikelola dengan bersandar pada otoritas Alkitab. Allah sendiri telah memberikan teladan dalam hal manajemen ketika Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya, mulai dari pekerjaan penciptaan hingga pada karya keselamatan umat manusia. Bahkan dalam Alkitab, akan didapati banyak tokoh di dalam Alkitab, yang pada masa kehidupan dan kepemimpinannya, mereka beroleh visi dari Tuhan, dan untuk mewujudkan visi-visi itu mereka menerapkan pola manajemen dalam kepemimpinan serta pelayanan  mereka. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskritif. Tujuan dari penelitian adalah Pertama, mengkaji manajemen teguh terhadap visi yang didapat dari Tuhan. Kedua, para pemimpin-pemimpin gereja untuk melaksanakan visi dari pada Tuhan dengan meneladaninya dari tokoh-tokoh di dalam Alkitab.
Nilai-Nilai Internalisasi Pendidikan Kristen Menurut 2 Timotius 3:16: Implikasi Logis bagi Gereja Masa Kini di Era Dirupsi Baskoro, Paulus Kunto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.734

Abstract

The world of education covers a very broad discussion. However, it is not uncommon nowadays that education is only seen from the perspective of the world of secular education and without, realizing that education in a church, the church will experience a spiritual decline in the congregation’s spiritual maturity. As this era advances, the church and the world of education should be able to work together to make big changes towards a better direction. Because basically Christian education is also centered on the Bible as well as the preaching of the Word in the church, which is studied according to 2 Timothy 3:16. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The purpose of this research is First, to examine important principles in Christian education based on 2 Timothy 3:16. Second, the church plays its function in Christian education for the entire congregation. Third, the entire congregation experiences Biblical spiritual maturity in Christian education.Dunia pendidikan mencakup pembahasan yang sangat luas. Namun tidak jarang pada masa sekarang ini pendidikan hanya dilihat dari segi dunia pendidikan sekuler saja dan tanpa disadari bahwa pendidikan juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan gereja. Sebab tanpa adanya pendidikan dalam sebuah gereja, gereja tersebut akan mengalami kemerosotan kerohanian dalam kedewasaan rohani jemaat. Semakin maju zaman ini, sepatutnya gereja dan juga dunia pendidikan bisa berkerja sama guna untuk melakukan perubahan yang besar untuk menuju ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya pendidikan Kristen juga berpusat pada Alkitab demikian juga dengan pemberitaan Firman dalam gereja, yang dikaji menurut 2 Timotius 3:16. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskritif. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, mengkaji prinsip-prinsip penting dalam pendidikan Kristen berdasarkan 2 Timotius 3:16. Kedua, gereja memerankan fungsinya dalam pendidikan Kristen bagi seluruh jemaat. Ketiga, seluruh jemaat mengalami kedewasaan rohani secara Alkitabiah dalam pendidikan Kristen.
TUGAS GEMBALA SEBAGAI TELADAN DALAM FIGUR KEPEMIMPINAN MASA KINI MENURUT 2 TIMOTIUS 2:1-7 Simbolon, Bostan Rejeki; Baskoro, Paulus Kunto; Saputro, Anon Dwi
Alucio Dei Vol 9 No 1 (2025): Alucio Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i1.167

Abstract

Pentingnya sebagai pemimpin di dalam gereja untuk melahirkan pemimpin yang baru agar menjangkau lebih luas dan mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi, Penulis akan memberikan penjelasan bagaimana Paulus mendidik seorang anak muda yang bernama Timotius untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin terhadap jemaat, menurut 2 Timotius 2:1-7. Paulus memberikan keteladanan yang baik terhadap dalam mengajar dan menghadapi masalah dengan mengandalkan Tuhan Yesus dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri dan terus melakukannya dengan setia. Yesus menjadi teladan yang paling utama mengajarkan kebenaran Firman Allah memberitakan Injil dan kehidupan sosial Metode penulisan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Tujuan dari penelitian ini menjelaskan prinsip-prinsip sebagai pemimpin dan menjadi gembala yang benar dalam kehidupan saat ini dengan kajian dari prinsip-prinsip dalam 2 Timtoius 2:1-7, sehingga menghasilkan karya penting dalam sebuah penggembalaan untuk memunculkan pemimpin baru
Prinsip-Prinsip Pendampingan Generasi yang Fatherless menurut 1 Tesalonika 2:7 Novianti, Novianti; Baskoro, Paulus Kunto
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.47

Abstract

Abstract: The phenomenon of "fatherlessness," or the absence of a father figure, has become an increasingly concerning social issue, including in Indonesia. Children growing up without a father face various negative impacts, such as psychological disorders, difficulties in forming self-identity, and increased involvement in risky behaviours. The church has the potential to act as an agent of restoration through mentoring based on love and spiritual values. This study aims to examine the church’s mentoring principles for the "fatherless" generation based on 1 Thessalonians 2:7 and identify its implications and logical applications in church life. This study employs a qualitative approach with a hermeneutic analysis of 1 Thessalonians 2:7 and a literature review from relevant books and journals. The findings indicate that church mentoring for the "fatherless" generation can be realized through a gentle and loving approach, effective discipleship, character and identity formation, and emotional healing. The church can also function as a community that provides spiritual and psychosocial support for children who lack a father figure. The implications of this study emphasize that the church must develop a sustainable discipleship system, instil Christ-centered values, and create a supportive environment for young people experiencing "fatherlessness." The novelty of this research lies in its perspective on spiritually-based mentoring, highlighting the church’s role as a "home" for those who have lost a father figure. Abstrak: Fenomena "fatherlessness" atau kehilangan figur ayah menjadi isu sosial yang semakin mengkhawatirkan, termasuk di Indonesia. Anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah mengalami berbagai dampak negatif, seperti gangguan psikologis, kesulitan dalam membentuk identitas diri, serta keterlibatan dalam perilaku berisiko. Gereja memiliki potensi untuk berperan sebagai agen pemulihan melalui pendampingan yang berbasis kasih dan nilai-nilai spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prinsip pendampingan gereja bagi generasi "fatherless" berdasarkan 1 Tesalonika 2:7, serta mengidentifikasi implikasi dan penerapan logisnya dalam kehidupan gerejawi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis hermeneutik terhadap teks 1 Tesalonika 2:7 serta kajian pustaka dari buku dan jurnal yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan gereja bagi generasi "fatherless" dapat diwujudkan melalui pendekatan lembut dan penuh kasih, pemuridan yang efektif, pembentukan karakter dan identitas diri, serta penyembuhan emosional. Gereja juga dapat berfungsi sebagai komunitas yang memberikan dukungan spiritual dan psikososial bagi anak-anak yang kehilangan figur ayah. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa gereja harus mengembangkan sistem pemuridan yang berkelanjutan, menanamkan nilai-nilai kasih Kristus, dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi generasi muda yang mengalami "fatherlessness". Kebaruan penelitian ini terletak pada perspektif pendampingan berbasis spiritual yang menekankan peran gereja sebagai "rumah" bagi mereka yang kehilangan figur ayah.
Fatherhood dalam Surat Efesus 6:4 Sebagai Perspektif Baru tentang Peran Pengasuhan Ayah Terhadap Perkembangan Anak-Anak Baskoro, Paulus Kunto; Dewantari, Shinta; Umboh, Steven Tommy Dalekes
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.93

Abstract

AbstractThe parenting pattern of fathers towards children is an important thing to understand and study seriously, because it is related to a generation. This understaning is called Fatherhood. The principles of parenting fathers to children, known as Fathergood, will be studied specifically through Ephesians 6:4. Paul in his letter discusses relationship in the family and specifically Paul advises fathers not to raise their children in anger that causes bitterness. Instead of educating children with the truth of God’s Word. So that the principles of Fatherhood can be implemented in the lives of believers today. The method used is descriptive literature method. This research will discuss about effective ways of evangelism, so that evangelism is more effective and can be applied in all ages. The Purpose of this writing is First, to find the principles of Fatherhood in Ephesians 6:4. Second, make every Chirstian family an example and pattern in educating children. Third, applying parenting patterns to children today. Keywords : Fatherhood, Role, Upbringing, Father, Son, Ephesus, Colossians  AbstrakPola asuh ayah terhadap anak menjadi hal penting untuk dipahami dan dipelajari secara serius, sebab berhubungan dengan sebuah generasi. Pemahaman inilah yang disebut dengan Fatherhood. Prinsip-prinsip pola asuh ayah kepada anak yang dikenal dengan Fatherhood inilah yang akan dipelajari secara khusus lewat Surat Efesus 6:4. Paulus dalam suratnya membahas mengenai hubungan dalam keluarga dan secara khusus Paulus menasihatkan para ayah untuk tidak mendidik anak mereka dalam kemarahan yang menyebabkan kepahitan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif literatur. Penelitian ini akan membahas tentang cara yang efektif dalam penginjilan, sehingga penginjilan lebih tepat guna dapat diaplikasikan dalam segala zaman. Tujuan dalam penulisan ini adalah Pertama, menemukan prinsip-prinsip Fatherhood dalam Surat Efesus 6:4. Kedua, menjadikan setiap keluarga Kristen menjadi teladan dan pola dalam mendidik anak yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Ketiga, mengaplikasikan pola asuh ayah kepada anak-anak pada masa kini. Kata-kata Kunci: Fatherhood, Peran, Asuh, Ayah, Anak, Efesus 
Keterkaitan Kedewasaan Rohani dengan Penatalayanan yang Maksimal dalam Gereja dan Dunia Market Place Baskoro, Paulus Kunto; Anggiriati, Indra
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v2i2.52

Abstract

Kehadiran orang percaya seharusnya bukan saja menjadi dampak di kalangan gereja, namun juga harus berada dalam kalangan market place atau sukelur yaitu dalam dunia bisnis. Yesus menghendaki setiap orang percaya menjadi berkat dimananpun berada. Namun tidak bisa dipungkiri, kedewasaan rohani menjadi bagian terpenting untuk kegerakan dalam gereja dan dunia market place. Inilah yang dinamakan sebuah penatalayanan yang sesungguhnya. Sebab banyak sekali didapati orang-orang percaya hanya hebat di gereja atau diantara kalangan orang Kristen saja. Namun tidak bisa membawa dampak yang besar dalam dunia sekuler, dunia bisnis, dunia pendidikan dan pengaruh yang lebih besar lagi. Pemahaman penatalayanan yang efektif terjadi ketika kedewasaan rohani bertumbuh dengan maksimal. Sehingga sentuhan orang percaya menjadi seimbang antara gereja dan market place. Sebab dalam dunia market place, lebih banyak orang yang merindukan sentuhan penatalayanan secara maksimal. Metode yang akan digunakan secara deskritif untuk memahami prinsip ini adalah dengan studi kasus dan studi pustaka yang berfokus membahas kegerakan penatalayanan di gereja dan market place, sehingga menghasilkan sebuah jawaban yang maksimal. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk menyatakan keterkaitan antara kedewasaan dengan penatalayanan yang maksimal dalam gereja dan market place, sehingga setiap orang percaya memahami ketika rohani dewasa, maka bisa melihat sebuah pelayanan bukan saja di gereja, namun juga menjadi berkat bagi market place. Memberikan jawaban juga bahwa market place juga bisa menjadi dampak kegerakan gereja Tuhan yang lebih mudah dinikmati. Abstract The presence of believers should not only be an impact the church circle, but must also be in the market place of sukelur, namely in the business world. Jesus wants every believer to be a blessing wherever they are. However, it cannot be denied that spiritual maturily is the most important part of movement in the church and the wolrld of the market place. This is that real stewardship is all about. It is because there are so many people who believe that they are only great in the church or among Chirstians. However, it cannot have a big impact in the secular world, the world of business, the world of education and a bigger influence. The understanding of effective stewardship occurs when spiritual maturity is maximized. So that the believers’s touch become a balance between the church and the market place. Because in the wolrd of market plave, more people miss the maximum stewardship touch. The methods that will be used descriptively to understand this principle are case studies and literature studies that fokcus on discussing the movement of stewardship in churches and market places, so as to pruduce a maximum answer.The purpose of this discussion is to state relationship between maturity and maximum stewardship in the church and market place, so that every believer understands that when spiritually matures, he can a servise not only in the church, but also a blessing for that market place. He alson gave an answer that the market place cam also be an impact of the movement of God’s church is easier to enjoy.