p-Index From 2021 - 2026
12.477
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Jurnal Teologi Berita Hidup Manna Rafflesia SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Jurnal Teologi Praktika Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Jurnal DIDASKO Jurnal Teologi Amreta Jurnal Kadesi : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Predica Verbum TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sabda : Jurnal Teologi Kristen ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Dunamos: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Shema : Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Kristen MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen ALUCIO DEI Metanoia : Jurnal Pendidikan Agama Kristen DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Duta Harapan Voice of HAMI Theologia Insani: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Lentera Nusantara Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Ap-Kain ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Pistis: Teologi dan Praktia Hymnos : Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen
Paulus Kunto Baskoro
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Published : 103 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Memaknai Frasa “Menggenapkan Apa yang Kurang pada Penderitaan Kristus”: Studi Teks Kolose 1:24 Baskoro, Paulus Kunto; Setiasih, Yemima
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 2: Juni 2023
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i2.110

Abstract

Paul's statement in Colossians 1:24 is interesting to analyze. The words "completing what is lacking in the afflictions of Christ" present believers with some difficulties. At first, these words reveal indirectly that there is a lack in the sufferings of Christ, that the effectiveness of our Lord's sufferings is limited, and that the purpose of redemption must be completed or accomplished through Paul's sufferings. The sufferings of Christ are perfect, sufficient to atone for the sins of mankind, and do not need to be completed. What needs to be completed or fulfilled is suffering to preach the Gospel about Christ, who died and was raised, so that many will know Him and the power of His Resurrection. This research will be studied by the descriptive qualitative method. First, this study aims to provide a theological answer to the meaning of “fulfilling what is lacking in the sufferings of Christ.” Second, it is given an essential meaning for every believer to live more and more earnestly in Christ because of the perfect atonement that Jesus made. Abstrak Pernyataan Paulus dalam Kolose 1:24 menjadi hal yang menarik untuk di analisis. Perkataan "melengkapkan apa yang kurang dalam penderitaan Kristus” menghadapkan orang percaya pada beberapa diskusi Nas. Sepintas nampaknya perkataan ini mengungkapkan secara tidak langsung bahwa ada kekurangan dalam penderitaan Kristus, bahwa keefektifan penderitaan Kristus itu terbatas dan tujuan penebusan harus dilengkapi atau diselesaikan melalui penderitaan Paulus. Penderitaan Kristus sudah sempurna, sudah cukup untuk menebus dosa manusia dan tidak perlu digenapkan lagi. Hal yang perlu digenapkan atau dipenuhkan adalah penderitaan demi mengabarkan Injil, tentang Kristus yang berinkarnasi menjadi manusia, mati menjadi korban tebusan dan telah dibangkitkan dari antara orang mati. sehingga banyak orang akan mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya. Penelitian ini akan dikaji secara metode kualitatif deskritif. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, memberikan jawaban teologis terhadap makna “menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus.” Kedua, memberikan makna penting bagi setiap orang percaya untuk hidup makin lebih sungguh-sungguh dalam Kristus, karena penebusan yang sempurna yang dilakukan Yesus.
Tantangan Kepemimpinan Kristen di Era Disrupsi dalam Gereja Tuhan Susilo, Arman; Baskoro, Paulus Kunto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 2 (2024): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v4i2.93

Abstract

AbstractLeadership is an important foundation in all aspects of life. Good in leadership in the family, environment, company, especially God's church. God's Church must be serious about carrying out leadership. Effective leadership will produce great works for God's church. It cannot be denied that currently in the era of eruption, there are challenges that are not easy in leadership. The era of disruption is an era where change occurs very quickly. Changes that are not taken seriously will have negative impacts. That's why if leadership is not thought about seriously, it will have fatal consequences for the elements below. The biggest challenge in leadership that is currently occurring is the absence of a firm leadership example in it. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The aims of this research are: First, to present the qualities of Christian leadership. Second, stating the findings of leadership challenges in the era of disruption. Third, how God's church can face leadership challenges in the era of disruption.Keywords: Era of Disruption, Church of God, Christian Leadership AbstrakKepemimpinan menjadi pondasi penting dalam segala sisi kehidupan. Baik dalam kepemimpinan dalam keluarga, lingkungan, perusahaan, terutama gereja Tuhan. Gereja Tuhan harus serius untuk mengerjakan sebuah kepemimpinan. Dari kepemimpinan yang efektif akan menghasilkan karya yang besar bagi gereja Tuhan. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini di era erupsi, terjadi tantangan yang tidak mudah dalam kepemimpinan. Era disrupsi adalah era yang sangat cepat terjadi perubahan. Perubahan yang tidak disikapi dengan serius akan membawa dampak yang kurang baik. Itu sebabnya jika kepemimpinan tidak dipikirkan dengan serius, maka akan berakibat fatal pada elemen-elemen dibawahnya. Tantangan terbesar di era dirupsi adalah era perkembangan tehnologi, meningkatnya plurasime agama, pencarian makna spiritual dan tantangan moral etika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah : Pertama, menyajikan kualitas kepemimpinan Kristen. Kedua, menyatakan temuan-temuan tantangan kepemimpinan di era disrupsi. Ketiga, cara gereja Tuhan supaya bisa menghadapi tantangan-tantangan kepemimpinan di era disrupsi.Kata kunci : Era Disrupsi, Gereja Tuhan, Kepemimpinan Kristen
Pemuridan dalam Konsep Teologi Pantekosta bagi Pertumbuhan Gereja Baskoro, Paulus Kunto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.522 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.2

Abstract

Discipleship is the most important part of church growth. The early church, after the descent of the Holy Spirit, experienced tremendous breakthroughs. It cannot be denied that the concept of Pentecostal theology is not overemphasized. That is why this writing about a discipleship makes an effective contribution to thinking about and starting a movement for the concept of Pentecostal theology. The movement in the gifts of the Holy Spirit is indeed very extraordinary and brings great movement in the concept of Pentecostal theology. However, if it is not based on discipleship, then the church will only focus on the sparkling gifts of gifts, but cannot be firmly rooted. This research uses descriptive method, which is studying Discipleship in the Concept of Pentecostal Theology for Church Growth from the point of view of the truth of God's Word. The purpose of this discussion is to provide a new perspective on the discipleship that is the basis of church growth. In discipleship there will be a strong foundation laying on the truth of God's Word, the growth of spiritual maturity, spiritual gifts that function more optimally, the multiplication of new leaders and the church becomes strong from generation to generation. All are fully committed to the power of the Holy Spirit who will help and equip.Pemuridan menjadi bagian yang paling penting dalam sebuah pertumbuhan gereja.. Gereja mula-mula setelah peristiwa turunnya Roh Kudus, mengalami terobosan yang luar biasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam konsep teologi Pantekosta tidak terlalu ditekankan. Itu sebabnya penulisan ini tentang sebuah pemuridan memberikan kontribusi yang efektif untuk memikirkan dan memulai sebuah gerakan bagi dalam konsep teologi Pantekosta. Kegerakan dalam karunia-karunia Roh Kudus memang sangat luar biasa dan membawa kegerakan yang hebat dalam konsep teologi Pantekosta.. Namun kalau tidak didasari dengan sebuah pemuridan, maka gereja hanya fokus kepada gemerlap kehebohan karunia saja, namun tidak bisa berakar dengan kuat. Penelitian ini menggunakan metode deskritif, yaitu mempelajari tentang Pemuridan dalam Konsep Teologi Pantekosta bagi Pertumbuhan Gereja dari sudut pandang kebenaran Firman Tuhan. Tujuan pembahasan ini adalah memberikan pandangan yang baru tentang sebuah pemuridan yang menjadi dasar pertumbuhan gereja. Dalam pemuridan akan terjadi peletakan dasar yang kuat tentang kebenaran Firman Tuhan, pertumbuhan kedewasaan rohani, karunia-karunia rohani yang berfungsi lebih optimal, multiplikasi pemimpin baru dan gereja menjadi kokoh dari generasi ke generasi. Semua diserahkan sepenuhnya dalam kekuatan Roh Kudus yang akan menolong dan memperlengkapi.
Mengelola Konflik dalam Gereja: Strategi Manajemen Konflik Menurut Efesus 4: 1-16 Baskoro, Paulus Kunto; Ayuningrum, Fransiska Nur Endah; Theresna, Jefri; Saputra, Anon Dwi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 2 (2024): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v4i2.94

Abstract

AbstractIn church life, conflict cannot be separated. Conflict is not something that must be avoided, but must be overcome in order to create congregational unity. Conflicts that occur are due to different backgrounds in the lives of each person in the congregation. Management is used to prevent conflict, but if conflict occurs, the focus is on resolving it. Conflicts that occur in a church have fatal consequences if they are not handled well, such as leadership not being optimal, the number of congregations decreasing, leadership cadre not occurring, church services becoming ineffective and the local church not reflecting the likeness of Christ. Based on the analysis of Ephesians 4: 1 – 16, there are four principles that can be applied in the church to maintain unity and prevent conflict, namely living in unity, building unity, diversity to build unity, the means to achieve true unity is Jesus. The method used is a descriptive qualitative method. The aim is First, to examine conflict management strategies based on Ephesians 4:1-6. Second, implementing the values from the results of the conflict management strategy study into today's church.Keywords: Ephesias, Church, Unity, Conflict, Management AbstrakDalam kehidupan gereja juga tidak terlepas dengan namanya konflik. Konflik itu bukan hal yang harus dihindari, tetapi harus diatasi agar dapat tercipta kesatuan jemaat. Konflik yang terjadi dikarenakan perbedaan latar belakang dalam kehidupan setiap orang di dalam jemaat. Manajemen digunakan untuk mencegah konflik, tetapi apabila terjadi konflik, maka fokusnya adalah pada penyelesaiannya. Konflik yang terjadi dalam sebuah gereja berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik, seperti kepemimpinan menjadi tidak maksimal, mengalami penurunan jumlah jemaat, pengkaderan kepemimpinan tidak terjadi, pelayanan gereja menjadi tidak efektif dan gereja secara lokal tidak mencerminkan keserupaan dengan Kristus. Berdasarkan analisis Efesus 4: 1 – 16 ada empat prinsip yang bisa diterapakan di dalam gereja untuk menjaga persatuan dan mencegah terjadinya konflik, yaitu hidup dalam kesatuan, membangun kesatuan, keberagaman untuk membangun kesatuan, sarana untuk mencapai kesatuan sejati adalah Yesus. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Tujuannya adalah Pertama, mengkaji strategi managemen konflik berdasarkan Efesus 4:1-6. Kedua, mengimplementasikan nilai-nilai dari hasil kajian strategi managemen konflik ke dalam gereja masa kini.Kata kunci : Efesus, Gereja, Kesatuan, Konflik, Manajemen
Kajian Teologi Markus 10:45 Terhadap Prinsip Pelayanan Yesus Kristus dan Relevansinya bagi Pemimpin Gereja Masa Kini Baskoro, Paulus Kunto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 2, No 1 (2022): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v2i1.31

Abstract

The pastor is the leader in a church. The pastor is the highest authority in a church. However, it should be realized that the leadership of the Pastor is also inherent in his life. This means that the leadership and character of the pastor's life cannot be separated. The character of the Pastor greatly influences his leadership in a church and family. So, the success of the leadership of the Congregation Shepherd is largely determined by the character of the Congregation Shepherd. The character of the Church Shepherd is fundamental in all things. Some of the pastor's leadership are not optimal, because they have characters that are not in accordance with the truth of God's Word. Shepherd with goals that are self-interested. And the focus of the Shepherd's character will be discussed in the context of Mark 10:45 which is centered on Jesus Christ. This writing uses a descriptive literature method. The goal is that through writing the Personal Principles of the Lord Jesus According to Mark 10:45, namely, First, come not to be served. Second, come to serve. Third, came to give His life. Fourth, came to give a ransom for many. The person of the Lord Jesus must be an answer to the relevance of the current pastor's character in the leadership of the congregation, namely: First, the pastor must be present not to be served. Second, the pastor of the congregation is here to serve. Third, the pastor of the congregation is always ready to make sacrifices. Fourth, the pastor is present to always set an example. Fifth, the pastor is here to give encouragement. By having this kind of character, surely the leadership of the pastor will be a blessing to the entire congregation and the name of the Lord Jesus will be glorified.AbstrakGembala Sidang adalah pemimpin dalam sebuah gereja. Gembala Sidang pemegang otoritas tertinggi dalam sebuah gereja. Namun perlu disadari bahwa kepemimpinan Gembala Sidang melekat juga dalam sisi kehidupannya. Artinya kepemimpinan dan karakter kehidupan Gembala Sidang tidak bisa dipisahkan. Karakter Gembala Sidang sangat mempengaruhi kepemimpinannya dalam sebuah gereja dan keluarga. Jadi, keberhasilan kepemimpinan Gembala Sidang sangat ditentukan dengan karakter yang dimiliki Gembala Sidang. Karakter Gembala Sidang menjadi dasar dalam segala hal. Beberapa kepemimpinan Gembala Sidang sangat tidak maksimal, karena memiliki karakter yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Menggembalakan dengan tujuan-tujuan yang bersifat demi kepentingan diri sendiri. Dan fokus karakter Gembala Sidang akan dibahas dalam konteks Markus 10:45 yang bersentral kepada Yesus Kristus. Penulisan ini menggunakan metode deskritif literatur. Tujuannya supaya lewat penulisan yaitu Prinsip-Prinsip Pribadi Tuhan Yesus Menurut Markus 10:45 yaitu, Pertama, datang bukan untuk dilayani. Kedua, datang untuk melayani. Ketiga, datang untuk memberikan nyawa-Nya. Keempat, datang untuk memberikan tebusan bagi banyak orang. Pribadi Tuhan Yesus ini harus menjadi sebuah jawaban terhadap relevansi karakter gembala sidang masa kini dalam kepemimpinan jemaat yaitu : Pertama, gembala sidang harus hadir untuk bukan dilayani. Kedua, gembala sidang hadir untuk melayani. Ketiga, gembala sidang selalu siap untuk berkorban. Keempat, gembala sidang hadir untuk selalu memberi teladan. Kelima, gembala sidang hadir untuk memberikan semangat. Dengan memiliki karakter seperti ini pasti kepemimpinan gembala sidang akan menjadi berkat bagi seluruh jemaat dan nama Tuhan Yesus dipermuliakan.
Membingkai Prinsip Kepemimpinan Kristen Bagi Generasi Milenial : Studi Analisis 1 Timotius 4:12 Nazara, Elfriday Riang Sari; Yermianto, Sumbut; Baskoro, Paulus Kunto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 2 (2023): RITORNERA - JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v3i2.66

Abstract

Christian leadership has become a crucial aspect in shaping the direction and development of society, including among the millennial generation who have a strategic role in today’s world transformation. That research aims to find Christian leadership principles that are relevant and can be applied specifically to the millennial generation, using 1 Timothy 4:12 as the main foundation. Research using qualitative methods with analysis of the text of the Bible 1 Timothy 4:12 as a frame of reference to explore the principles of Christian leadership. The data is obtained through text analysis, text criticism, and historical context analysis to understand of the research show that 1 Timothy 4:12 provides relevant and valuable leadership principles for the millennial generation. These principles include positive influence through speech, conduct, in love, loyalty and chastity. The principles of millennial generation leaders include five things being able to be role models, havinh a sense responsibililty, daring to take risks, having a sense of belonging and creating good collaboration. This research can be a basis for further research regarding the application of Christian leadership principles in the ever-evoling millennial era. Keywords: Prinsiciples, Christian Leadership, Millenial Generation, 1 Timothy 4:12.Kepemimpinan Kristen telah menjadi aspek krusial dalam membentuk arah dan perkembangan masyarakat, termasuk di kalangan generasi milenial yang memiliki peran strategis dalam transformasi dunia saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen yang relevan dan dapat diaplikasikan secara khusus bagi generasi milenial, dengan menggunakan 1 Timotius 4:12 sebagai landasan utama. Penelitian dengan metode kualitatif dengan studi analisis teks Alkitab 1 Timotius 4:12 sebagai kerangka acuan untuk menggali prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen. Data diperoleh melalui analisis teks, kritik teks, dan analisis konteks historis untuk memahami makna sejati dari ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 Timotius 4:12 memberikan prinsip-prinsip kepemimpinan yang relevan dan berharga bagi generasi milenial. Prinsip-prinsip tersebut mencakup pengaruh positif melalui perkataan, tingkah laku, dalam kasih, kesetiaan dan kesucian. Prinsip pemimpin generasi milenial mencakup lima hal mampu menjadi teladan, memiliki rasa tanggung jawab, berani mengambil resiko, mempunyai sense of belonging, dan menciptakan kerjasama yang baik. Penelitian ini dapat menjadi pijakan untuk penelitian lebih lanjut mengenai penerapan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen dalam era milenial yang terus berkembang. Kata kunci: Prinsip, Kepemimpinan Kristen, Generasi Milenial, 1 Timotius 4:12
Kajian Teologis Konsep Hidup Tekun Menurut Surat Yakobus 1:2-8 dan Aplikasinya Bagi Kehidupan Orang Percaya Pada Masa Kini Yanto, Stefanus Agus Budi; Baskoro, Paulus Kunto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 2 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.041 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i2.16

Abstract

The life of a believer is a process that continues until the end of his life. Because believe in the Lord Jesus, everyone faces a process to live a more beautiful life in Christ. Living like Jesus is the ultimate goal for every believer. But many are faound in the lives of believers, their lives are not optimal in following Jesus. Even though they have been to church for a long time and have even served, many Christians when facing life’s challenges, struggles, problems and suffering, are quicker to grumble and leave the Lord Jesus. This ia a sign of the spiritual immaturity of the believer. Not because believres do not understand, but not serious in following Jesus. In order to obtain accurate and accountable data, in this study the authors used the method of writing is Frist, to provide an understanding to every believer that perseverance is one the characteristics of spiritual maturity; Second, perseverance will make every believer experience a strong spiritual life process; Third, today’s beliavers can be witnesses for everyone who is facing life’s challenges. Kehidupan orang percaya merupakan proses yang terus berjalan sampai akhir hidupnya. Sebab percaya Tuhan Yesus, setiap orang menghadapi proses untuk hidup makin indah dalam Kristus. Hidup menjadi serupa dengan Yesus adalah tujuan utama bagi setiap orang percaya. Namun banyak ditemukan dalam kehidupan orang percaya, hidupnya tidak maksimal dalam mengikuti Yesus. Meskipun sudah lama ke gereja bahkan sudah melayani, namun banyak orang Kristen ketika menghadapi tantangan hidup, pergumulan, persoalan dan menderita, lebih cepat bersunggut-sungut dan meninggalkan Tuhan Yesus. Ini adalah sebuah tanda ketidakdewasaan rohani orang percaya. Bukan karena orang percaya tidak memahami, namun ketidakseriusan dalam mengikut Yesus. Untuk mendapatkan data-data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penulisan deskriptif literatur. Tujuan penulisan ini adalah Pertama, memberikan pemahaman kepada setiap orang percaya bahwa ketekunan adalah salah satu ciri kedewasaan rohanit; Kedua, ketekunan akan membuat setiap orang percaya mengalami proses hidup rohani yang kuat; Ketiga, orang percaya masa kini bisa menjadi saksi bagi setiap orang yang sedang menghadapi tantangan hidup.
Kajian Teologis Pemberitaan Injil Berdasarkan Surat Paulus dalam 2 Timotius 1:8-10 bagi Misi Masa kini Arifianto, Yonatan Alex; Fernando, Andreas; Baskoro, Paulus Kunto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 1 (2023): Jurnal Teologi dan Pentakosta Indonesia - April 2023
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v3i1.58

Abstract

The Great Commission delivered by the Lord Jesus delegated and gave a mandate for Christians to go and be witnesses and of course make all nations, disciples of Jesus. This legality is a mandate to preach the good news and salvation or an evangelistic mandate. But it is undeniable, many of God's churches or believers are unable to actualize in earnest in carrying out the mission mandate which is God's will to bring people to know and believe in the Savior. Using a qualitative method with a descriptive approach, it can be concluded that, the theological study of Gospel Preaching Based on Paul's Epistle in 2 Timothy 1:8-10 For Today's Missions is to understand believers as God's church that grows spiritually and is not shy in actualizing evangelism, because true mission It is based on God's mercy for humans. And of course this mission brings the congregation not only to serve in the local church, but also to have the heart and spirit of evangelizing by making mission a way of life.AbstrakAmanat Agung yang disampaikan oleh Tuhan Yesus mendelegasikan dan memberi mandat bagi orang Kristen untuk pergi dan menjadi saksi dan tentunya menjadikan semua bangsa, murid-murid Yesus. Legalitas ini merupakan mandat untuk memberitakan kabar baik dan keselamtan atau mandat penginjilan. Namun tidak bisa dipungkiri, banyak gereja Tuhan atau orang percaya tidak mampu mengaktualisasi dengan sungguh-sungguh dalam melaksanakan mandat misi yang merupakan kehendak Tuhan untuk membawa manusia dalam mengenal dan percaya kepada Juruselamat. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dapat disimpulkan bahwa, kajian Teologis Pemberitaan Injil  Berdasarkan Suratan Paulus dalam 2 Timotius 1:8-10 Bagi Misi Masa kini adalah memahami orang percaya sebagai gereja Tuhan yang bertumbuh secara spritualitas dan tidak malu dalam mengaktualisasikan penginjilan, karena sejatinya misi tersebut berdasarkan belas kasihan Tuhan bagi  manusia. Dan tentunya misi tersebut membawa jemaat tidak hanya melayani di gereja lokal saja, namun memiliki hati dan semangat menginjil dengan menjadikan misi sebagai gaya hidup.
Studi Teologis Makna Menghujat Roh Kudus Menurut Injil Sinoptik Sebagai Dosa Yang Tidak Diampuni Baskoro, Paulus Kunto; Purdaryanto, Samuel
Manna Rafflesia Vol. 8 No. 2 (2022): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.625 KB) | DOI: 10.38091/man_raf.v8i2.221

Abstract

Sin is an attitude that destroys human life (Ps. 32: 3-4; 51: 4, 7). Since the fall of the first man in the garden of Eden, all humans have been under the bondage of sin (Gen. 3; Rom. 5:12-14). Over time, all attempts at repair fail and one error leads to another (Isa. 64:6; Rom. 3:10-12). Various issues regarding the sin of blaspheming the Holy Spirit as an unpardonable sin have caused anxiety in the hearts of believers because they think they have committed the sin without realizing it. This study uses the descriptive method of literature as the method used to describe or present the results based on a literature review as well as by extracting hermeneutics and exegesis of texts in the synoptic gospels. The purpose of this study is, first, to describe the notion of blaspheming the Holy Spirit as an unpardonable sin, using appropriate and biblical principles. Second, compare the results of the interpretation with several interpretations that contrast with the statements of the Bible in other parts that take all sin seriously (Rom. 6:23). Third, every believer has a complete understanding of the meanings of sin, so that they can seriously live in Christ.
IMAM SEBAGAI PEMIMPIN PUBLIK ANALISIS BIOGRAFI ZERUBABEL MENURUT KITAB EZRA DAN IMPLEMENTASINYA BAGI PEMIMPIN GEREJA MASA KINI Baskoro, Paulus Kunto
Manna Rafflesia Vol. 9 No. 2 (2023): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v9i2.295

Abstract

Leadership is central to all church decisions and develoments. Strong leadership will bring great impact to the church. Often what happens, leaders only focus on structure and not on function. The leadership sungction will be seen from the work produced. A trus leader is a leader who always focuses on paying attention to the spiritual life and relationship of the people wirh God. Zerubbabel becomes an important part in this writing, because the writer will conduct a study of the person of Zerubabel who carried out his function of the public leaders who have a big impact on the nation of Israel. Today it is necessary to have leaders who have function of the priesthood according to the of God’s Word. This writing uses descriptive literature method. The goal is that through writing, namely First, every church leader can carry out leadership function effectively and not just structurally. Second, every church leader really pays attention to the spiritual life of the people. Third church leaders who have clear goals in developing God’s church