Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Analisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai Potensi sumber Belajar IPS dalam Kurikulum Merdeka zahrotun islamiyah; Nuansa Bayu Segara; Riyadi; Niswatin
Jurnal Dialektika Pendidikan IPS Vol. 5 No. 3 (2025): issue
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan IPS, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai potensi sumber belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru dan siswa untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis lingkungan. Trowulan, yang merupakan bekas pusat Kerajaan Majapahit, memiliki kekayaan situs sejarah seperti Candi Brahu, Candi Tikus, Gapura Wringinlawang, dan Museum Trowulan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari guru IPS, siswa, dan pengelola situs budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kawasan Trowulan memiliki potensi besar sebagai sumber belajar, pemanfaatannya dalam proses pembelajaran masih sangat terbatas. Hambatan utama adalah kurangnya integrasi dalam kurikulum, kendala administratif, serta kurangnya pemahaman guru terhadap strategi pembelajaran berbasis lingkungan. Penelitian ini memberikan rekomendasi berupa peningkatan kolaborasi antara pihak sekolah dan pengelola situs budaya, serta penyusunan bahan ajar dan proyek pembelajaran berbasis lokal. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan kompetensi Profil Pelajar Pancasila seperti berfikir kritis, bernalar, kreatif, dan cinta budaya bangsa. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nasionalisme. Dengan demikian, kawasan Cagar Budaya Trowulan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sumber belajar yang kaya nilai edukatif. Kata kunci: Cagar Budaya, Trowulan, Sumber Belajar, IPS, Kurikulum Merdeka ABSTRACT This study aims to analyze the Trowulan Cultural Heritage Area as a potential learning resource for Social Studies (IPS) within the implementation of the Merdeka Curriculum. The Merdeka Curriculum provides flexibility for teachers and students to develop contextual and environmentally-based learning. Trowulan, formerly the center of the Majapahit Kingdom, is rich in historical sites such as Brahu Temple, Tikus Temple, Wringinlawang Gate, and the Trowulan Museum, all of which can serve as educational resources. This research uses a descriptive qualitative approach with data collected through observation, interviews, and documentation. Informants include social studies teachers, students, and heritage site managers. The findings reveal that although Trowulan has significant potential as a learning resource, its actual use in educational activities remains minimal. Major obstacles include lack of curriculum integration, administrative barriers, and limited teacher understanding of place-based learning strategies. This research recommends enhancing collaboration between schools and site managers, and developing local-based teaching materials and learning projects. Through this approach, students are expected to develop key competencies of the Pancasila Student Profile, such as critical thinking, reasoning, creativity, and appreciation of national culture. The study also emphasizes the importance of cultural preservation as part of character education and nationalism. Thus, the Trowulan Cultural Heritage Area is not only a tourist attraction but also a valuable educational asset. Keywords: Cultural Heritage, Trowulan, Learning Resource, Social Studies, Merdeka Curriculum
Analisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai Potensi sumber Belajar IPS dalam Kurikulum Merdeka zahrotun islamiyah; Nuansa Bayu Segara; Riyadi; Niswatin
Jurnal Dialektika Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026): issue
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan IPS, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan Cagar Budaya Trowulan sebagai potensi sumber belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru dan siswa untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis lingkungan. Trowulan, yang merupakan bekas pusat Kerajaan Majapahit, memiliki kekayaan situs sejarah seperti Candi Brahu, Candi Tikus, Gapura Wringinlawang, dan Museum Trowulan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari guru IPS, siswa, dan pengelola situs budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kawasan Trowulan memiliki potensi besar sebagai sumber belajar, pemanfaatannya dalam proses pembelajaran masih sangat terbatas. Hambatan utama adalah tidak adanya integrasi dalam kurikulum, kendala administratif, serta kurangnya pemahaman guru terhadap strategi pembelajaran berbasis lingkungan. Penelitian ini memberikan rekomendasi berupa peningkatan kolaborasi antara pihak sekolah dan pengelola situs budaya, serta penyusunan bahan terbuka dan proyek pembelajaran berbasis lokal. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan kompetensi Profil Pelajar Pancasila seperti berpikir kritis, bernalar, kreatif, dan cinta budaya bangsa. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nasionalisme. Dengan demikian, kawasan Cagar Budaya Trowulan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sumber belajar yang kaya nilai edukatif. Kata kunci : Cagar Budaya, Trowulan, Sumber Belajar, IPS, Kurikulum Merdeka ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai sumber belajar potensial untuk Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi guru dan siswa untuk mengembangkan pembelajaran kontekstual dan berbasis lingkungan. Trowulan, yang dulunya merupakan pusat Kerajaan Majapahit, kaya akan situs bersejarah seperti Candi Brahu, Candi Tikus, Gerbang Wringinlawang, dan Museum Trowulan, yang semuanya dapat berfungsi sebagai sumber pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan meliputi guru IPS, siswa, dan pengelola situs cagar budaya. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun Trowulan memiliki potensi yang signifikan sebagai sumber belajar, pemanfaatannya dalam kegiatan pendidikan masih minim. Kendala utama meliputi kurangnya integrasi kurikulum, hambatan administratif, dan pemahaman guru yang terbatas tentang strategi pembelajaran berbasis tempat. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kolaborasi antara sekolah dan pengelola situs, dan pengembangan bahan ajar dan proyek pembelajaran berbasis lokal. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kompetensi-kompetensi utama Profil Pelajar Pancasila, seperti berpikir kritis, penalaran, kreativitas, dan apresiasi budaya nasional. Studi ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nasionalisme. Dengan demikian, Kawasan Cagar Budaya Trowulan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga aset pendidikan yang berharga. Kata Kunci : Warisan Budaya, Trowulan, Sumber Belajar, IPS, Kurikulum Merdeka
Culinary Education: Evaluating Stake’s Countenance Model in Case-Based Learning Aulia, Yuni; Riyadi; Febriana, Rina
Journal of Pedagogi Vol. 2 No. 1 (2025): Journal of Pedagogi - February
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/9cwzxp75

Abstract

This study examines the effectiveness of case-based learning in a culinary education program through the lens of Stake’s Countenance Model of evaluation. The research seeks to identify how this evaluation framework can illuminate critical dimensions of teaching and learning, ultimately guiding improvements in curricular design and instructional practices.
TINGKAT INFEKSI CACING FASCIOLA PADA TERNAK DOMBA DI DESA GIRIKULON KECAMATAN SECANG KABUPATEN MAGELANG: The Infection Rate of Fasciola Worms in Sheep in Girikulon Village, Secang District, Magelang Regency Purwono, Edi; Wida Wahidah Mubarokah; Ferdian Achmad; Riyadi; Lutfan Makmun; Siti Mustamimah
Wahana Peternakan Vol. 10 No. 1 (2026): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v10i1.2950

Abstract

Sektor peternakan memiliki peran yang sangat strategis dalam perekonomian secara keseluruhan dan memiliki peluang pasar yang baik dan cukup menjanjikan. Namun, dalam proses budidayanya, banyak faktor yang menjadi kendala, salah satunya adalah penyakit cacingan. Penyakit cacingan ini sering menyerang ternak domba dan menyebabkan pertumbuhan ternak menjadi terganggu, hewan tampak kurus, produktivitas turun, dan tidak jarang berujung dengan kematian ternak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat infeksi cacing Fasciola sp. yang diduga menginfeksi ternak domba di Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang serta menentukan seberapa besar tingkat prevalensinya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan 50 sampel feses domba. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposif dengan mengambil feses segar domba langsung dari rektum domba menggunakan metode palpasi atau dengan menampung feses yang baru keluar. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam wadah bersih, diberi label, dan segera dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan metode uji sedimentasi. Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil uji sedimentasi menunjukkan bahwa 4 sampel dari total 50 sampel feses domba yang diperiksa dengan menggunakan uji sedimentasi dinyatakan positif terinfeksi cacing Fasciola sp. dengan derajat infeksi ringan. Tingkat prevalensi cacing Fasciola sp. pada ternak domba di Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang diketahui sebanyak 8% dari total populasi sampel. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ternak domba di Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, positif terinfeksi cacing Fasciola sp. derajat ringan dengan tingkat prevalensi tergolong rendah.   Kata kunci: cacing, domba, Fasciola sp., infeksi, prevalensi
GeoGebra Applets as Double Edged Tools for Visualization and Reasoning in Technology Based Mathematics Learning Raharjo, Elisabeth Parwati; Mardiyana; Riyadi; Wahid , Yunianto; Mazlini , Adnan
Pi: Mathematics Education Journal Vol. 9 No. 1 (2026): April
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/pmej.v9i1.13893

Abstract

Although GeoGebra applets are widely used in technology-based mathematics learning, their implementation still faces limitations in optimally supporting students’ visualization and mathematical reasoning. This study aims to analyze their utilization, challenges, and impact on students’ mathematical thinking. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted using the Publish or Perish (PoP) application by retrieving articles from Google Scholar and Scopus published between 2020 and 2025, based on predefined inclusion criteria. The review followed the PRISMA framework. Out of 263 identified articles, 20 studies were selected for in-depth analysis. The findings reveal that GeoGebra applets are predominantly implemented in higher education and junior high school contexts, particularly in geometry topics that require strong visual representation. The use of GeoGebra applets contributes positively to students’ conceptual understanding, visualization ability, mathematical reasoning, and higher-order thinking skills (HOTS), especially when integrated with interactive and student-centered learning approaches. However, several challenges remain, including limited technological facilities, varying levels of teacher competence, insufficient student readiness, and the tendency to emphasize technical features over conceptual reasoning. Therefore, this study underscores the importance of designing pedagogical strategies that integrate GeoGebra applets with structured learning activities to explicitly foster students’ mathematical reasoning rather than merely serving as visualization tools.