Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Analisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai Potensi sumber Belajar IPS dalam Kurikulum Merdeka zahrotun islamiyah; Nuansa Bayu Segara; Riyadi; Niswatin
Jurnal Dialektika Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026): issue
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan IPS, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan Cagar Budaya Trowulan sebagai potensi sumber belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru dan siswa untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis lingkungan. Trowulan, yang merupakan bekas pusat Kerajaan Majapahit, memiliki kekayaan situs sejarah seperti Candi Brahu, Candi Tikus, Gapura Wringinlawang, dan Museum Trowulan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari guru IPS, siswa, dan pengelola situs budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kawasan Trowulan memiliki potensi besar sebagai sumber belajar, pemanfaatannya dalam proses pembelajaran masih sangat terbatas. Hambatan utama adalah tidak adanya integrasi dalam kurikulum, kendala administratif, serta kurangnya pemahaman guru terhadap strategi pembelajaran berbasis lingkungan. Penelitian ini memberikan rekomendasi berupa peningkatan kolaborasi antara pihak sekolah dan pengelola situs budaya, serta penyusunan bahan terbuka dan proyek pembelajaran berbasis lokal. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan kompetensi Profil Pelajar Pancasila seperti berpikir kritis, bernalar, kreatif, dan cinta budaya bangsa. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nasionalisme. Dengan demikian, kawasan Cagar Budaya Trowulan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sumber belajar yang kaya nilai edukatif. Kata kunci : Cagar Budaya, Trowulan, Sumber Belajar, IPS, Kurikulum Merdeka ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai sumber belajar potensial untuk Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi guru dan siswa untuk mengembangkan pembelajaran kontekstual dan berbasis lingkungan. Trowulan, yang dulunya merupakan pusat Kerajaan Majapahit, kaya akan situs bersejarah seperti Candi Brahu, Candi Tikus, Gerbang Wringinlawang, dan Museum Trowulan, yang semuanya dapat berfungsi sebagai sumber pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan meliputi guru IPS, siswa, dan pengelola situs cagar budaya. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun Trowulan memiliki potensi yang signifikan sebagai sumber belajar, pemanfaatannya dalam kegiatan pendidikan masih minim. Kendala utama meliputi kurangnya integrasi kurikulum, hambatan administratif, dan pemahaman guru yang terbatas tentang strategi pembelajaran berbasis tempat. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kolaborasi antara sekolah dan pengelola situs, dan pengembangan bahan ajar dan proyek pembelajaran berbasis lokal. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kompetensi-kompetensi utama Profil Pelajar Pancasila, seperti berpikir kritis, penalaran, kreativitas, dan apresiasi budaya nasional. Studi ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nasionalisme. Dengan demikian, Kawasan Cagar Budaya Trowulan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga aset pendidikan yang berharga. Kata Kunci : Warisan Budaya, Trowulan, Sumber Belajar, IPS, Kurikulum Merdeka
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (Tps) Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran IPS di SMPN 21 Surabaya Lufita Nurma Sari; Ketut Prasetyo; Dhimas bagus virgiawan; Riyadi
Jurnal Dialektika Pendidikan IPS Vol. 6 No. 2 (2026): issue
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan IPS, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga dalam pengembangan kerja sama dan interaksi sosial. Pembelajaran IPS di SMP masih sering didominasi metode konvensional yang berpusat pada guru, sehingga siswa cenderung pasif dan hasil belajar kurang optimal. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang mampu mendorong keaktifan, kerja sama, dan interaksi sosial siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Kooperatif Learning terhadap kerja sama, interaksi sosial, dan hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di SMPN 21 Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen. Subjek penelitian terdiri atas kelas eksperimen yang menerapkan model TPS dan kelas kontrol yang menerapkan Pembelajaran Kooperatif. Pengumpulan data dilakukan melalui skala Likert untuk mengukur kerja sama dan interaksi sosial serta tes pretest dan posttest untuk mengukur hasil belajar. Analisis data menggunakan uji normalitas, homogenitas, uji t sampel berpasangan, dan uji t sampel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kerja sama, interaksi sosial, dan hasil belajar siswa dibandingkan dengan model Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran dalam pasangan kecil pada model TPS mampu mendorong keterlibatan aktif siswa, menciptakan interaksi sosial yang lebih intens, dan meningkatkan pemahaman konsep IPS secara lebih bermakna. Dengan demikian, model TPS dinilai lebih efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran IPS kelas VIII.
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS DISKURSUS MULTI REPRESENTASI (DMR) TERHADAP TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATERI SEJARAH SISWA KELAS XI SMKS MAHARDHIKA Hawa Khalida, Duarte; Riyadi
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 06 Juni (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini ditujukan guna diketahuinya pengaruh model Problem Based Learning (PBL) berbasis Diskursus Multi Representasi (DMR) terhadap pemahaman konsep materi sejarah siswa kelas XI SMKS Mahardhika Surabaya. Penelitian mempergunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment serta desain nonequivalent control group design. Sampel penelitian ialah kelas XI MP 1 sebagai kelas eksperimen serta XI MP 2 sebagai kelas kontrol dengan setiap kelas berisi 32 siswa. Pengumpulan data dikerjakan dengan pretest-posttest, observasi, dokumentasi, serta angket, lalu dianalisis memakai uji normalitas, homogenitas, Independent Sample T-Test, serta effect size dengan bantuan SPSS 21. Temuan penelitian memperlihatkan bahwasannya model PBL berbasis DMR berpengaruh signifikan terhadap pemahaman konsep materi sejarah siswa. Perihal ini terbukti dengan adanya nilai signifikansi uji Independent Sample T-Test senilai 0,000 < 0,05. Rerata nilai posttest kelas eksperimen bertambah dari 19,90 menjadi 63,46, sementara kelas kontrol hanya bertambah dari 22,81 menjadi 23,69. Hasil effect size memperlihatkan nilai Cohen’s d senilai 2,16 dalam kategori besar serta respon siswa terhadap pengaplikasian model mendapati persentase 89% dengan kategori sangat baik. Maka, model PBL berbasis DMR efektif dalam memperluas kemampuan pemahanan konsep siswa dalam pembelajaran sejarah.
PEMAHAMAN SEJARAH SISWA DI KAWASAN SITUS MAJAPAHIT TROWULAN: ANALISIS TINGKAT PEMAHAMAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA Muhammad Rizki Permana; Riyadi
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 06 Juni (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara potensi lingkungan Trowulan sebagai kawasan peninggalan Kerajaan Majapahit dengan tingkat pemahaman sejarah siswa yang belum optimal, meskipun mereka berada dekat dengan sumber sejarah lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemahaman sejarah siswa kelas X Unit Layanan Wisata SMKN 1 Trowulan terhadap situs peninggalan Majapahit serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain explanatory sequential, di mana data kuantitatif diperoleh melalui tes dan dilanjutkan dengan data kualitatif melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman siswa tergolong sangat rendah, dengan hanya 2 dari 29 siswa (6,9%) yang mencapai nilai di atas KKM 80; siswa dengan pemahaman tinggi cenderung aktif dan mandiri, pemahaman sedang bersifat situasional, dan pemahaman rendah tidak terstruktur serta dipengaruhi lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa kedekatan geografis dengan situs sejarah tidak secara otomatis meningkatkan pemahaman siswa karena adanya habituasi dan familiarity effect, sehingga pemahaman lebih dipengaruhi oleh faktor kognitif, kebiasaan belajar, motivasi, lingkungan sosial, serta strategi pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan integrasi yang lebih optimal antara sumber sejarah lokal dan proses pembelajaran agar potensi lingkungan Trowulan dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam meningkatkan pemahaman sejarah siswa.
Kehidupan Sosial Masyarakat Etnis Tionghoa di Kampung Banyu Urip Wetan Surabaya pada Masa Orde Baru (1967–1998) Kholifatur Royani; Riyadi
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 07 Juli (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji kehidupan sosial masyarakat etnis Tionghoa di Kampung Banyu Urip Wetan, Surabaya, pada masa Orde Baru (1967–1998), dengan fokus pada komunitas yang bermukim di Gedung Setan (Spookhuis). Penelitian bertujuan menganalisis kebijakan Orde Baru terhadap etnis Tionghoa, kehidupan sosial komunitas tersebut, serta pola ikatan persaudaraan dan solidaritas sebagai strategi bertahan hidup. Metode yang digunakan adalah metode sejarah (heuristik, verifikasi, interpretasi, historiografi) dengan pendekatan sejarah sosial, melalui studi pustaka, penelusuran arsip, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan Orde Baru bersifat sistematis dan multidimensional, namun komunitas Gedung Setan justru membangun solidaritas internal, ekosistem ekonomi komunal berbasis home industry kue tradisional, dan hubungan harmonis dengan warga lokal berbasis toleransi dan saling melindungi, yang menjadi strategi bertahan hidup sekaligus medium pelestarian identitas budaya.
Pengaruh Argument-Driven Inquiry Terhadap Keterampilan Berpikir Sejarah Peserta Didik SMK Labschool Unesa 1 Surabaya Ferdynand Riong Permana; Riyadi
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 07 Juli (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterlibatan peserta didik yang belum optimal dalam pembelajaran sejarah. Kondisi tersebut terlihat dari kecenderungan peserta didik menghafal materi dan kesulitan memahami hubungan sebab-akibat. Peserta didik juga belum terbiasa menilai sumber dan bukti sejarah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh model pembelajaran Argument-Driven Inquiry (ADI) terhadap keterampilan berpikir sejarah peserta didik serta mengukur besarnya pengaruh tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimen tipe non-equivalent control group. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan melibatkan 66 peserta didik kelas XI SMK Labschool Unesa 1 Surabaya. Kelas eksperimen terdiri atas 32 peserta didik, sedangkan kelas kontrol berjumlah 34 peserta didik. Data dikumpulkan melalui tes uraian berupa pretest dan posttest, kemudian dianalisis menggunakan independent-samples t-test dan Hedges’ g. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan nilai t(64) = 5,812 dan p < 0,001. Rata-rata posttest kelas eksperimen sebesar 57,25, sedangkan kelas kontrol sebesar 45,76. Nilai Hedges’ g sebesar 1,415 menunjukkan pengaruh812 dan p < 0,001. Rata-rata posttest kelas eksperimen sebesar 57,25, sedangkan kelas kontrol sebesar 45,76. Nilai Hedges’ g sebesar 1,415 menunjukkan pengaruh dalam kategori besar. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan model ADI dalam pembelajaran sejarah untuk mengukur keterampilan berpikir sejarah peserta didik SMK. Penelitian sebelumnya lebih banyak menerapkan ADI dalam pembelajaran sains atau untuk mengukur keterampilan argumentasi dan berpikir kritis. Temuan ini menunjukkan bahwa ADI dapat dipertimbangkan sebagai alternatif model pembelajaran sejarah di SMK karena terbukti memberikan pengaruh besar terhadap keterampilan berpikir sejarah peserta didik.
Pedagogical Communication of Generation Y History Teachers in Digital-Era History Learning for Generation Z Students at SMA Petra 4 Sidoarjo Aprillia Ayu Tri Widyaningrum; Riyadi
Journal of Multidisciplinary Science: MIKAILALSYS Vol 4 No 3 (2026): Journal of Multidisciplinary Science: MIKAILALSYS
Publisher : Darul Yasin Al Sys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/mikailalsys.v4i3.11765

Abstract

Digital transformation has reshaped how Generation Z students access information, communicate, and participate in learning, requiring teachers to adapt their pedagogical communication accordingly. This study examined how Generation Y history teachers adapted their communication practices to the characteristics of Generation Z students in digital-era history learning at SMA Petra 4 Sidoarjo. A qualitative case-study design was employed, with data collected through in-depth interviews, participant classroom observations, and documentation from February to April 2026. The analytical framework operationalized stimulus, organism, and response components to connect teachers’ verbal messages, digital media, and instructional methods with students’ characteristics and learning responses. Data were analyzed through the interactive processes of data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Credibility was strengthened through source, technique, and time triangulation. The findings indicate that students responded most positively to audiovisual media, two-way communication, discussions, contextual examples, feedback, and positive reinforcement. Generation Y teachers integrated Canva, learning videos, electronic modules, learning management systems, educational games, verbal and nonverbal communication, and dialogic interaction. These practices were qualitatively associated with increased motivation, participation, attention, conceptual understanding, and confidence in expressing opinions. However, students’ multitasking remained a persistent barrier to sustained attention. The study concludes that effective intergenerational pedagogical communication in history education requires multimodal, dialogic, and contextually relevant strategies alongside deliberate efforts to manage digital distraction.