Claim Missing Document
Check
Articles

Pendampingan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pangan Lokal di Desa Tanjung dan Desa Kalijambe, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang Pontang, Galeh Septiar; Sri Setyaningsih; Anissa Putri Aliya; Zeinisa Fariza
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i1.4006

Abstract

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pangan Lokal  program is a government initiative aimed at reducing the prevalence of stunting and wasting among children under five.  PMT has the potential to increase nutrient intake where it is lacking in the diet. A study of the nutritional status of children under five in the villages of Desa Tanjung and Desa Kalijambe revealed that 6.3% exhibited stunting (impaired growth), and 74% demonstrated an energy deficit. A total of 13 children aged 12–59 months participated in the PMT programme, alongside YBM BRILiaN cadres and their mothers. The methodology encompasses observational studies, socialisation initiatives and training programmes for childcare providers and parents of young children. Direct intervention strategies were also employed during the 90-day intervention period. The intervention took the form of a comprehensive menu made available during the designated lunch period. Dietary intake data was collected using a 1x24-hour recall form, administered once every 30 days during the intervention period. It has been demonstrated that the mean energy and macronutrient intake of children under five has increased compared to the mean intake prior to the implementation of the providing supplementary food. A systematic and continuous monitoring process must be implemented within the programme to ensure the efficacy of PMT is preserved.   ABSTRAK Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pangan lokal merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai target penurunan balita stunting dan wasting.  Program PMT berpotensi meningkatkan asupan zat gizi balita yang defisit. Di Desa Tanjung dan Desa Kalijambe terdapat 6,3% balita stunting dan 74% diantaranya balita memiliki asupan energi yang defisit. Pendampingan program PMT pangan lokal dilakukan pada 13 balita berusia 12-59 bulan dengan melibatkan peran kader dan ibu balita. Metode yang digunakan yaitu penyuluhan pada orang tua balita, pelatihan kepada kader serta intervensi program PMT pada balita selama 90 hari. Intervensi diberikan berupa paket menu lengkap saat jam makan siang. Pengambilan data asupan gizi menggunakan formulir recall 1x24 jam dilakukan tiap bulan selama intervensi. Hasil program diketahui bahwa rata-rata asupan energi dan zat gizi makro balita mengalami peningkatan dibandingkan sebelum PMT pangan lokal. Monitoring menu dalam program perlu dilakukan secara berkala dan terus menerus untuk mempertahankan daya terima PMT.
POLA KONSUMSI DAN MOTIVASI MAHASISWA PROGRAM STUDI S1 GIZI UNIVERSITAS NGUDI WALUYO DALAM MEMILIH STREET FOOD SEBAGAI MENU MAKAN UTAMA Devi, Chindya Paramitha; Pontang, Galeh Septiar
Science Technology and Management Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v5i2.407

Abstract

Street food berkembang pesat di Indonesia terkait kemudahan akses dan harga yang terjangkau. Aspek pengetahuan gizi juga mempengaruhi konsumsi street food yaitu berperan dalam menentukan jenis makanan. Mahasiswa Program Studi S1 Gizi dibekali dengan pengetahuan tentang prinsip gizi seimbang untuk mendukung kompetensinya, namun prevalensi konsumsi street food pada “mahasiswa gizi” tetap tinggi terkait efisiensi waktu dan kenyamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi dan motivasi pemilihan street food sebagai menu makan utama pada mahasiswa Program Studi S1 Gizi Fakultas Kesehatan Universitas Ngudi Waluyo. Pada penelitian deskriptif ini, digunakan pendekatan cross-sectional dengan teknik purposive random sampling dan diperoleh total responden sebanyak 63 subjek. Hasil penelitian yang diperoleh dengan pengambilan data berupa kuisioner menunjukkan bahwa pola konsumsi dan motivasi mahasiswa Program Studi S1 Gizi Universitas Ngudi Waluyo dari tahun perkuliahan ke-1, ke-2, ke-3, dan ke-4 memiliki kesamaan dalam memilih street food sebagai menu makan utama, yaitu dari aspek jenis menu, frekuensi konsumsi, kisaran harga per porsi, dengan motivasi keterjangkauan lokasi dan harga.
Waist Circumference and Waist-to-Height Ratio as Indicators for Excess Adiposity in Adolescents Mulyasari, Indri; Pontang, Galeh Septiar
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 13 No. 3 (2018)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.176 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2018.13.3.131-136

Abstract

The aimed of study was to evaluate the accuracy of Waist Circumference (WC) and Waist-to-Height Ratio (WHtR) for identification of excess adiposity in adolescents. The study design was diagnostic study. The subjects consisted of 620 adolescents (283 boys and 337 girls) aged 14-18 years. The classification of excess adiposity termed as overfat and obese was based on age-and sex-specific percent body fat cut-off values of body fat reference curves for children from the Growth Foundation. Receiver-operating characteristic (ROC) curve analyses was used to assess the accuracy of WC and WHtR as diagnostic tests of excess adiposity in adolescent. Area under curve (AUC) of WC and WHtR for the diagnostic of overfat were over 0.8 for boys and over 0.9 for girls. Whereas for obese, the AUC of WC and WHtR were over 0.9 for both sexes. The thresholds for defining overfat were 75.25 cm for WC and 0.45 for WHtR (Sensitivity (Se) and Specificity (Sp) >0.8) for boys, and 73.85 cm for WC and 0.49 for WHtR (Se dan Sp >0.8) for girls. The thresholds for defining obese were 86.45 cm for WC and 0.51 for WHtR (Se=1; Sp>0.9) for boys, and 75.60 cm for WC (Se and Sp >0.8) and 0.55 for WHtR (Se>0.8; Sp >0.9) for girls. WC and WHtR are accurate for screening of excess adiposity in adolescents.