Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI MAKANAN JAJANAN DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA SISWI SMA TEUKU UMAR SEMARANG Rina Oktaviani; Indri Mulyasari; Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 17 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia pada usia remaja disebabkan oleh beberapa faktor yaitu seringnya meninggalkan waktu makan, konsumsi makanan jajanan yang rendah zat gizi, dan membatasi frekuensi makan. Dampak negatif kurangnya kadar Hb, berkurangnya konsentrasi, berkurangnya prestasi, berkurangnya semangat belajar, dan mudah terserang infeksi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan energi, protein, dan zat besi dari makanan jajanan dengan kadar hemoglobin pada siswi SMA Teuku Umar Semarang. Penelitian ini merupakan studi korelasi dengan pendekatan cross sectional. Dengan populasi siswi di SMA Teuku Umar Semarang. Jumlah sampel sebesar 61 siswi diambil dengan metode proportional random sampling. Kadar hemoglobin diukur dengan hemoglobinometer digital, dan konsumsi makanan jajanan diukur menggunakan FFQ semi kuantitatif. Analisis data dengan menggunakan uji korelasi pearson product moment pada α 0,05). Rata-rata asupan energi pada siswi 33,1% denganpaling rendah 28,3%, dan paling tinggi 38,0%. Rata-rata asupan protein pada siswi 31,3% dengan paling rendah 27,6%, dan paling tinggi 33,5%. Rata–rata asupan zat besi pada siswi 36,3 % denganpaling rendah 23,5%, dan paling tinggi 43,4%. Ada hubungan antara asupan energi, asupan protein, asupan zat besi dengan kadar hemoglobin dengan nilai p-value secara runtut (p = 0,008), (p = 0,001), (p = 0,001). Ada hubungan antara asupan energi, protein, dan zat besi dari makanan jajanan dengan kadar hemoglobin pada siswi SMA Teuku Umar Semarang.
HUBUNGAN ASUPAN AIR PUTIH DENGAN INDEKS MASSA TUBUH MENURUT UMUR (IMT/U) DAN PERSEN LEMAK TUBUH Indri Mulyasari; Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 18 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja yang kelebihan berat badan dengan indeks massa tubuh (IMT) dan persen lemaktubuh tinggi berisiko menderita sindrom metabolik. Beberapa penelitian melaporkan asupanair putih berhubungan dengan IMT dan persen lemak tubuh. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan kebiasaan asupan air putih dengan Indeks Massa Tubuh menurut Umur(IMT/U) dan persen lemak tubuh.Desain penelitian ini deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitianberusia 11-15 tahu sejumlah 88 orang menggunakan teknik simple random sampling. Analisisbivariat menggunakan uji spearman (=0,05).Hasil penelitian menunjukkan variabel asupan air putih memiliki nilai median 1000 ml,IMT/U +0,0001 SD, dan persen lemak tubuh 20,7%. Ada hubungan antara asupan air putihdengan IMT/U (r=-303, p=0,004) dan persen lemak tubuh (r=-0,419, p=0,0001).Disimpulkan bahwa ada hubungan antara asupan air putih dengan IMT/U dan persen lemaktubuh.
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DAN LEMAK DARI MAKANAN JAJANAN DENGAN STATUS GIZI PADA SISWA USIA 13-15 TAHUN DI KECAMATAN UNGARAN BARAT Shintya Fika Harvi; Sugeng Maryanto; Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 21 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsumsi makanan jajanan turut berkontribusi dalam kecukupan energi dan lemak sertakandungan gizinya yang berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Remaja merupakan salahsatu golongan rentan terhadap pengaruh makanan jajanan. Tujuanpenelitian ini yaitumengetahui hubungan antara asupan energi dan lemak dari makanan jajanan dengan statusgizi pada siswa usia 13-15 tahun di Kecamatan Ungaran Barat.Studi korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalahseluruh siswa usia 13-15 tahun di kecamatan Ungaran Barat, sampel didapat 335 siswadengan metode proportional random sampling. Instrumen penelitian menggunakanmicrotoice, timbangan injak digital, dan FFQ Semi Kuantitatif. Analisis bivariatmenggunakan uji Spearman Rank (α=0.05).Berdasarkan IMT/Ustatus gizi siswa kategori normal yaitu (70,7%),gemuk (12,8%), obesitas(10,1%), sangat kurus (6%), dan kurus (5,7%) dengan rata-rata asupan energi dari makananjajanan 40,50% dan asupan lemak dari makanan jajanan 44,80%. Ada hubungan antaraasupan energi dari makanan jajanan dengan status gizi pada siswa usia 13-15 tahun diKecamatan Ungaran Barat (p=0,003). Ada hubungan antara asupan lemak dari makananjajanan dengan status gizi pada siswa usia 13-15 tahun di Kecamatan Ungaran Barat(p=0,017).Ada hubungan antara asupan energi dan lemak dari makanan jajanan dengan status gizi padasiswa usia 13-15 tahun di Kecamatan Ungaran Barat
HUBUNGAN LAMA PEMBERIAN ASI DAN USIA PERTAMA PEMBERIAN MP-ASI DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 12-24 BULAN DI DESA SURODADI KECAMATAN GAJAH KABUPATEN DEMAK Siti Nurfaizah; Sugeng Maryanto; Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 21 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Status gizi merupakan cerminan ukuran terpenuhinya kebutuhan gizi yangdidapatkan dari asupan dan penggunaan zat gizi oleh tubuh. ASI diberikan sejak anak berusia0-6 bulan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian MP-ASI yang diselingi dengan ASIsampai usia 24 bulan. Faktor yang berpengaruh terhadap pemberian ASI dan MP-ASI adalahriwayat penyakit, pemberian susu formula, serta ketepatan pemberian dan jenis MP-ASI.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan lama pemberian ASI dan usia pertamapemberian MP-ASI dengan status gizi pada anak usia 12-24 bulan di Desa SurodadiKecamatan Gajah Kabupaten DemakMetode : Rancangan penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel 38 anakdiambil dengan metode total sampling. Cara pengambilan data tinggi badan menggunakanmicrotoice, berat badan menggunakan timbangan injak, data lama pemberian ASI dan usiapertama pemberian MP-ASI menggunakan kuesioner. Analisis bivariat menggunakan ujispearman rank (α=0,05).Hasil : Rata-rata lama pemberian ASI usia 17,24 bulan. Usia pertama pemberian MP-ASIkategori tepat 23 anak (60,5%), kategori dini 8 anak (21,1%) dan kategori lambat 7 anak(18,4%). Status gizi anak usia 12-24 bulan, kategori sangat kurus 3 anak (7,9%), kurus 8 anak(21,1%), normal 25 anak (65,8%) dan gemuk 2 anak (5,3%). Tidak ada hubungan antara lamapemberian ASI dengan status gizi pada anak usia 12-24 bulan (p=0,844), ada hubungan antarausia pertama pemberian MP-ASI dengan status gizi pada anak usia 12-24 bulan (p=0,007)Simpulan : Tidak ada hubungan antara lama pemberian ASI dengan status gizi, Adahubungan antara usia pertama pemberian MP-ASI dengan status gizi anak usia 12-24 bulan diDesa Surodadi Kecamatan Gajah Kabupaten Demak
HUBUNGAN ANTARA KETEPATAN PEMBERIAN MP-ASI DAN FREKUENSI DIARE DENGAN KEJADIAN GIZI KURANG PADA BAYI USIA 7-12 BULAN DI DESA SURODADI KECAMATAN GAJAH KABUPATEN DEMAK Silvia Rokana Alvida; Sugeng Maryanto; Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 21 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gizi kurang menjadi masalah gizi yang sering terjadi pada bayi. Banyak faktor yangmempengaruhi gizi kurang seperti ketepatan pemberian MP-ASI dan frekuensi diare. Tujuanpenelitian ini mengetahui hubungan antara ketepatan pemberian MP-ASI dan frekuensi diaredengan kejadian gizi kurang pada bayi usia 7-12 bulan di desa Surodadi Kecamatan GajahKabupaten DemakDesain pada penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional.Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bayi yang berusia 7-12 bulan dan pemilihansampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang.Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu timbangan baby scale, kuesioneridentitas dan ketepatan pemberian MP-ASI dan frekuensi diare. Analisis data yang digunakanyaitu uji kendall tau (α = 0,05).Status gizi bayi usia 7-12 bulan dengan kategori gizi kurang 37,1% (13 bayi) dan 62,9% (22bayi) dengan kategori tidak gizi kurang. Ketepatan pemberian MP-ASI dengan kategori dini91,4% (32 bayi), kategori tepat 5,7% (2 bayi), dan kategori lambat 2,9% (1 bayi). Frekuensidiare dengan kategori tidak pernah 57,1% (20 bayi), kategori kadang-kadang 42,9% (15 bayi)dan kategori sering 0%. Serta terdapat hubungan yang bermakna antara ketepatan pemberianMP-ASI dengan kejadian gizi kurang (p= 0,020) dan tidak ada hubungan yang bermaknaantara frekuensi diare dengan kejadian gizi kurang (p= 0,765).Terdapat hubungan yang bermakna antara ketepatan pemberian MP-ASI dengan kejadian gizikurang pada bayi usia 7-12 bulan di Desa Surodadi Kecamatan Gajah Kabupaten Demak
HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI LAWAR DENGAN STATUS GIZI PADA SISWA USIA 16-18 TAHUN DI SMA NEGERI 8 DENPASAR Ni Putu Tiara Saraswat; Indri Mulyasari; Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 21 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Lawar merupakan salah satu makanan tradisional Bali yang saat ini makinpopuler dan luas konsumennya. Bahan utama pembuatan lawar adalah daging babi yangdicampur dengan sayuran. Daging babi memiliki kandungan lemak paling tinggi diantaradaging ayam, sapi, dan kelinci. Konsumsi tinggi lemak dapat mengakibatkan kegemukan.Prevalensi remaja gizi lebih di Bali tertinggi di Kota Denpasar sebesar 14.1%. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan konsumsi lawar dengan status gizi padasiswa usia 16-18 tahun di SMA Negeri 8 Denpasar.Metode : Rancangan penelitian ini adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruhsiswa kelas XI dan XII SMA Negeri 8 Denpasar dengan jumlah sampel 97 orang diambildengan teknik proportional random sampling. Kebiasaan konsumsi lawar diukur denganmelakukan wawancara FFQ Semi Quantitative. Status gizi dinilai dengan indeks antropometriIMT/U. Analisis data menggunakan program SPSS. Analisis bivariat menggunakan ujikorelasi kendall tau (α = 0.05).Hasil : Mayoritas responden memiliki kebiasaan konsumsi lawar termasuk dalam kategorisangat jarang yaitu sebesar 50.5%, sisanya dalam kategori sangat sering 17.5%, sering 16.5%,jarang 2.1%, dan tidak pernah 13.4%. Sebanyak 67.0% responden memiliki status gizi normal,18.6% overweight, 11.3% obesitas, dan 3.1% kurus. Tidak ada hubungan kebiasaan konsumsilawar dengan status gizi pada siswa usia 16-18 tahun di SMA Negeri 8 Denpasar (p = 0.129).Simpulan : Tidak terdapat hubungan kebiasaan konsumsi lawar dengan status gizi pada siswausia 16-18 tahun di SMA Negeri 8 Denpasar.
HUBUNGAN ASUPAN ENERGI, LEMAK DAN KARBOHIDRAT DARI MAKANAN JAJANAN DENGAN RASIO LINGKAR PINGGANG PANGGUL (RLPP) PADA REMAJA USIA 13-15 TAHUN DI KECAMATAN UNGARAN BARAT Candra Wulandari; Galeh Septiar Pontang; Indri Mulyasari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 21 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : RLPP merupakan indikator obesitas sentral yang menggambarkandistribusi lemak di daerah perut. Konsumsi makanan jajanan tinggi energi, lemak dankarbohidrat dapat meningkatkan penyimpanan lemak di jaringan adiposa.Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara asupan energi, lemak dan karbohidrat darimakanan jajanan dengan rasio lingkar pinggang panggul (RLPP) pada remaja usia 13-15tahun.Metode : Jenis penelitian ini adalah korelasional menggunakan pendekatan cross sectionaldengan populasi siswa SMP di Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang dan jumlahsampel 335 responden diambil dengan metode proportional random sampling. Asupan energi,lemak dan karbohidrat diukur menggunakan kuesioner FFQ semi kuantitatif. Lingkarpinggang dan panggul diukur menggunakan metline dengan ketelitian 0,1 cm. Analisisbivariat menggunakan uji korelasi Spearman (α = 0,05).Hasil : Rata-rata asupan energi, lemak dan karbohidrat dari makanan jajanan sebesar 932,24 ±448,80 kkal, 34,47 ± 28,79 gram, dan 158,49± 96,75 gram. Rata-rata RLPP responden sebesar0,80 ± 0,06. Terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi dan karbohidrat darimakanan jajanan dengan RLPP (p = 0,02 dan p = 0,03). Tidak terdapat hubungan antaraasupan lemak dari makanan jajanan dengan RLPP (p = 0,06).Simpulan : Terdapat hubungan antara asupan energi dan karbohidrat dari makanan jajanandengan RLPP. Tidak terdapat hubungan antara asupan lemak dari makanan jajanan denganRLPP.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, ZAT BESI DAN VITAMIN C DENGAN ANEMIA PADA IBU HAMIL TRIMESTER II DAN III DI DESA GONDORIYO KECAMATAN BERGAS KABUPATEN SEMARANG Rulivan Tarihan; Indri Mulyasari; Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 21 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi anemia pada ibu hamil masih tinggi. Di Indonesia sebesar37,1%. Pola makan ibu hamil yang tidak teratur menyebabkan kurangnya asupan zat besisehingga terjadi anemia. Penyerapan zat besi dipengaruhi oleh protein dan vitamin C. Anemiapada ibu hamil menyebabkan pendarahan waktu kelahiran dan menyebabkan gangguan padajanin. Tujuan: Mengetahui hubungan asupan protein, zat besi dan vitamin C dengan anemiapada ibu hamil trimester II dan III di Desa Gondoriyo Kecamatan Bergas KabupatenSemarang.Metode: Desain penelitian adalah deskriptif korelasi menggunakan pendekatan crosssectional. Populasi seluruh ibu hamil trimester II dan III di Desa Gondoriyo KecamatanBergas Kabupaten Semarang dengan jumlah sampel 42 ibu hamil menggunakan metodeteknik total sampling. Kadar hemoglobin diukur menggunakan hemoglobinometer digital.Asupan protein, zat besi dan vitamin C diukur menggunakan kuesioner dan FFQ semikuantitatif, analisis data menggunakan uji korelasi Kendall Tau dengan nilai α ≤ 0,05.Hasil: Asupan protein lebih 9,5%, cukup 33,3%, kurang 57,1%, asupan zat besi lebih 50,0%,cukup 23,8%, kurang 26,2%, asupan vitamin C lebih 11,9%, cukup 40,5%, kurang 47,6%,tidak anemia 73,8%, anemia 26,2%. Ada hubungan asupan protein (p=0,018), asupan zat besi(p=0,001) dan asupan vitamin C (p=0,017) dengan anemia.Simpulan: Ada hubungan asupan protein, zat besi dan vitamin C dengan anemia pada ibuhamil trimester II dan III.
HUBUNGAN KONSUMSI FAST FOOD DAN KEBIASAAN MENONTON TELEVISI DENGAN KEJADIAN GIZI LEBIH PADA REMAJA AWAL USIA 10-12 TAHUN DI SDN SEKARAN 02 GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Anita Septiani; Purbowati; Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 22 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kejadian gizi lebih terus meningkat pada kelompok remaja. Kejadian gizi lebih dapat disebabkan karena tingginya konsumsi fast food dan perubahan gaya hidup yang mengarah pada kebiasaan menonton televisi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi konsumsi fast food dan kebiasaan menonton televisi dengan kejadian gizi lebih pada remaja awal usia 10-12 tahun di SDN Sekaran 02 Gunungpati Semarang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional. Pengambilan sampel sebanyak 59 siswa dilakukan dengan cara total sampling. Data kejadian gizi lebih didapatkan berdasarkan persen lemak tubuh. Data frekuensi konsumsi fast food diperoleh dengan mengisi kuesioner FFQ. Data kebiasaan menonton televisi diambil dengan mengisi kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah Uji Kendall Tau (α = 0,05). Hasil: Hasil uji Kendal Tau menunjukan bahwa sebagian besar mengkonsumsi fast food dengan kategori sering sebesar 83,1% (n = 49), sebagian besar mempunyai kebiasaan menonton televisi kategori berat sebesar 45,8% (n = 27), dan kejadian gizi lebih sebesar 49,1% (n = 29) yang terdiri dari overfat sebesar 18,6% (n = 11) dan obes sebesar 30,5% (n = 18). Tidak ada hubungan frekuensi konsumsi fast food dengan kejadian gizi lebih (p = 0,452). Ada hubungan kebiasaan menonton televisi dengan kejadian gizi lebih (p = 0,0001). Simpulan: Tidak ada hubungan frekuensi konsumsi fast food dengan kejadian gizi lebih pada remaja awal usia 10-12 tahun, tetapi ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan menonton televisi dengan kejadian gizi lebih pada remaja awal usia 10-12 tahun.
HUBUNGAN KEBISASAAN KONSUMSI MINUMAN BERPEMANIS DENGAN KEJADIAN GIZI LEBIH PADA REMAJA DI SMA INSTITUT INDONESIA SEMARANG Farhatus Saidah; Sugeng Maryanto; Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 22 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Obesitas adalah keadaan dimana terjadi peningkatan massa jaringan lemak dalam tubuh. Obesitas dapat terjadi karena adanya ketidak seimbangan antara energi yang masuk dan energi yang dikeluarkan. Minuman ringan berpemanis merupakan minuman ringan dalam kemasan yang menambahkan pemanis berkalori sebagai salah satu bahan atau kandungan dalam minuman. Minuman ringan berpemanis termasuk dalam golongan karbohidrat sederhana. Dampak buruk obesitas menyebabkan penyakit seperti tekanan darah tinggi, jantung, diabetes militus, gangguan pernapasan karena saluran pernapasan tersumbat oleh lemak yang menghimpit saluran pernapasan sehingga sulit untuk bernafas. Tujuan : mengetahui hubungan kebiasaan konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian gizi lebih pada remaja di SMA Institut Indonesia Semarang. Metode : Jenis penelitian ini adalah korelasional menggunakan pendekatan cross sectional dengan populasi siswa SMA Institut Indonesia Semarang dan jumlah sampel 99 responden diambil dengan metode proposional random sampling. Pengambilan data menggunakan timbangan injak digital, mikrota dan untuk data konsumsi minuman berpemanis menggunakan FFQ. Hasil : frekunsi kebiasaan konsumsi minuman berpemanis sebanyak 43,4% responden jarang, 34,7% sering, 22,4% selalu, 0% tidak pernah. Sedangkan responden yang mempunyai ststus gizi lebih sebanyak 10,2% dan 89,8% status gizi normal. Hasil uji kendall’s tau didapatkannilai p 0,001 < =0,05 Simpulan : Ada hubungan kebiasaan konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian gizi lebih pada remaja di SMA Institut Indonesia Semarang (p=0,001).