Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Rice Field Carrying Capacity as A Source of Ruminant Feed in the Rice-Cattle Integration System Husnaeni, Husnaeni; Suparman, Suparman; Bahari, Doddy Ismunandar; Tatra, Afsitin Joan
Jurnal Agripet Vol 25, No 2 (2025): Volume 25, No. 2 October 2025
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v25i2.47618

Abstract

Kolaka Regency is recognised not only as a major rice producer but also as an important centre for smallholder livestock farming. The Rice-Cattle Integration System (R-CIS) has been identified as an effective approach to optimize local agricultural resources for smallholder livestock development. However, its dissemination has remained limited due to the uneven carrying capacity of rice fields across different regions. This study aimed to analyse the current and projected carrying capacity of rice fields in Kolaka Regency, Southeast Sulawesi (20232024), considering land availability, livestock population, and feed resources. Data analysis included assessments of land carrying capacity, livestock density, livestock concentration index (LCI), and feed concentration index (FCI). Results indicated that Kolaka had 12,203 ha of rice fields, producing 3,188 tons of crude protein (CP) annually from unfermented rice straw and 10,539 tons CP/year from fermented straw. Feed distribution within the regency was uneven: in districts such as Baula, Pomalaa, Samaturu, Wolo, and Wundulako, livestock populations could be increased, whereas Toari and Watubangga exceeded carrying capacity even after straw fermentation. The study estimated that fermented straw could support an additional 24,335 livestock units (LU) across Kolaka Regency, equivalent to about 2,028 LU per district annually. These findings highlight the need for inter-district feed substitution and livestock redistribution. Overall, fermented rice straw significantly enhanced feed availability, thereby supporting sustainable livestock production.
Penentuan Komoditas Perikanan Strategis Bagi Penguatan Ekonomi Wilayah Pesisir di Kabupaten Buton Tengah Nursalam Nursalam; Indriyani Nur; Darlina Darlina; Doddy Ismunandar Bahari
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.16139

Abstract

Kabupaten Buton Tengah memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar, baik dari sektor perikanan tangkap maupun budi daya. Akan tetapi pengembangan sektor ini belum optimal karena belum tersedianya peta komoditas unggulan yang terarah dan tidak adanya analisis kuantitatif berbasis wilayah untuk mengukur keunggulan komoditas secara objektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis komoditas perikanan yang termasuk dalam kategori basis dan non-basis, serta menganalisis tingkat pertumbuhan produksi sektor perikanan di Kabupaten Buton Tengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2023 dengan menggunakan data sekunder berupa data runtun waktu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Buton Tengah dan Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan harga berlaku tahun 2018–2022. Analisis dilakukan dengan metode Location Quotient (LQ) untuk mengukur tingkat spesialisasi komoditas, dan Shift Share (SS) untuk menilai kecepatan pertumbuhan sektor. Hasil analisis menunjukkan bahwa satu-satunya komoditas basis dengan nilai rata-rata LQ > 1 adalah rumput laut, sedangkan komoditas non-basis (LQ < 1) meliputi ikan cakalang, tongkol, tuna, udang, bandeng, dan kerapu. Pertumbuhan produksi perikanan tergolong cepat (Gj – Nj > 1) pada periode 2018–2019, 2020–2021, dan 2021–2022, sedangkan pertumbuhan lambat (Gj – Nj < 1) terjadi pada periode 2019–2020.Title: Identification of Strategic Fisheries Commodities for Strengthening the Coastal Regional Economy in Buton Tengah Regency Buton Tengah Regency has considerable potential in fisheries resources, both in capture and aquaculture sectors. However, the development of this sector has not been optimal due to the absence of a well-directed map of leading commodities and the lack of region-based quantitative analysis to objectively assess commodity competitiveness. This study aims to identify fisheries commodities classified as basic and non-basic, and to analyze the production growth rate of the fisheries sector in Central Buton Regency. The research was conducted in November 2023 using secondary time series data from the Gross Regional Domestic Product (GRDP) of Central Buton Regency and Southeast Sulawesi Province at current prices for the period 2018–2022. The data were analyzed using the Location Quotient (LQ) method to measure the level of commodity specialization, and the Shift Share (SS) analysis to assess the sector's growth rate. The results show that the only basic commodity with an average LQ > 1 is seaweed. Non-basic commodities (LQ < 1) include skipjack, mackerel tuna, tuna, shrimp, milkfish, and grouper. Fisheries production growth was categorized as rapid (Gj – Nj > 1) during the periods 2018–2019, 2020–2021, and 2021–2022, while slow growth (Gj – Nj < 1) occurred during the period 2019–2020.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Transformasi Administrasi Bisnis dan Pemasaran Digital pada Kelompok Usaha Mikro Kuliner Rita Mulyandari; Doddy Ismunandar Bahari; Anas Romzy Hibrida
Tanggap Masyarakat untuk Aksi dan Sinergi Vol 2 No 02 (2026): Volume 02 Nomor 02 - Juni 2026
Publisher : TAM Global Insights

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner melalui transformasi administrasi bisnis dan pemasaran digital. Mitra dalam kegiatan ini adalah Warung Soto Daging Sapi dan Babat "Mbah Wito" yang berlokasi di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, ditemukan permasalahan utama berupa pencatatan keuangan yang masih manual, belum optimalnya pemanfaatan media sosial untuk pemasaran, serta keterbatasan pengetahuan tentang strategi digital marketing. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan program, pelaksanaan pendampingan, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman mitra dalam pentingnya pengelolaan keuangan digital menggunakan aplikasi pencatatan keuangan, optimalisasi akun media sosial Instagram dan WhatsApp Bisnis, serta perbaikan identitas visual usaha melalui pembuatan katalog menu digital. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan bagi UMKM kuliner lainnya dalam menghadapi era transformasi digital.
PKM Pemberdayaan Kelompok Perikanan Pengolahan dan Pemasaran (POKLAHSAR) Toengge Sejahtera Menjadi Sentra Ikan Teri di Kabupaten Kolaka Masitah Masitah; Anti Landu; Doddy Ismunandar Bahari
MALLOMO: Journal of Community Service Vol 5 No 1 (2024): Desember-Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/mallomo.v5i1.1659

Abstract

The Toengge Sejahtera Processing and Marketing Fisheries Group (Poklahsar) is a productive economic fisheries group engaged in the production/processing of dried fish to improve the welfare and development of group members' resources. The Toengge Sejahtera group members are mothers who process and partially market anchovy products. The methods used in the production process are still traditional. However, in carrying out their business activities, partners are constrained in developing their products. Some of the priority issues of partners include 3 areas, namely the production field, the business management field, and the marketing field. The solution to this priority problem is product diversification which can improve the quality and quantity of partner business products so that it has an impact on sales interest. PKM aims to help partners develop their products through the diversification of processed anchovy products. The methods used in this activity are FGD, socialization, training, and evaluation of activities. The results of Community Service activities are an increase in partner skills and knowledge in hygienic anchovy production, processing anchovies into anchovy sauce, packaging anchovy-based fishery products by standards and increasing digital marketing.
Analisis Pengaruh Pertanian Berkelanjutan terhadap Ketahanan Pangan di Daerah Perdesaan: Analysis of the Impact of Sustainable Agriculture on Food Security in Rural Areas Doddy Ismunandar Bahari; Mitra Musika Lubis; Eka Apriyanti; Muhammad Rispan Affandi; Rizal Perlambang
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 2: Februari 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i2.7073

Abstract

Pertanian berkelanjutan menjadi salah satu solusi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di daerah perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pertanian berkelanjutan terhadap produktivitas, biaya produksi, pendapatan petani, dan diversifikasi tanaman sebagai faktor utama dalam ketahanan pangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods dengan metode survei, wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Sampel penelitian terdiri dari 50 petani, 10 penyuluh pertanian, 5 pejabat pemerintah daerah, dan 20 rumah tangga perdesaan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas petani berkelanjutan meningkat sebesar 40,6% dibandingkan dengan petani konvensional, sementara biaya produksi menurun sebesar 30,7% akibat penggunaan pupuk organik dan pestisida alami. Dari segi ekonomi, pendapatan petani yang menerapkan pertanian berkelanjutan meningkat sebesar 46,4%, yang menunjukkan bahwa sistem ini lebih menguntungkan dalam jangka panjang. Selain itu, petani berkelanjutan memiliki rata-rata 5 jenis tanaman dalam satu musim, dibandingkan dengan petani konvensional yang hanya menanam 2 jenis tanaman, sehingga meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi risiko gagal panen. Penelitian ini menegaskan bahwa pertanian berkelanjutan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan di daerah perdesaan. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan, edukasi, dan insentif untuk memperluas adopsi praktik ini. Dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan, sektor pertanian dapat menjadi lebih resilien terhadap tantangan global, seperti perubahan iklim dan krisis pangan.