Claim Missing Document
Check
Articles

Quo Vadis Teluk Jakarta Yonvitner; Agus, Syamsul Bahri; Perdinan; Budiman, Mukhammad Asyief Khasan; Sahibuddin, Muhammad Qustam; Akmal, Surya Genta; Rudiyanto, Bambang Yudho
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 1 No. 1 (2019): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0101.1-6

Abstract

Teluk Jakarta merupakan salah satu kawasan strategis di DKI Jakarta yang sarat dengan aktivitas dan persoalan. Salah satu persoalan yang menonjol saat ini adalah pemanfaatan ruang untuk reklamasi. Perjalanan rencana reklamasi yang terjadi ternyata tidak sepenuhnya sesuai harapan, karena berbagai persoalan terkait legalitas yang kemudian mengacu pada UU belum sepenuhnya terpenuhi. Keberadaan masyarakat sekitar lokasi reklamasi belum terakomodasi dengan baik, serta rencana pemanfaatan dan peruntukan ruang area reklamasi belum tuntas dalam rencana tata ruang. Status sumberdaya hayati dan ekosistem di sekitar lokasi yang menunjukkan tren perubahan dari waktu ke waktu karena tekanan pemanfaatan ruang. Berbagai kepentingan dalam hal ini kemudian mendorong perlunya sebuah solusi komprehensif dalam pengelolaan kedepan yang lebih baik dan berkeadilan. Model pengelolaan terpadu dengan tetap memberikan peran kepada pemerintah sebagai pengendali utama akan sangat baik, sehingga semua kepentingan dapat terakomodasi dengan baik.
PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN MANGROVE DAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN CITRA MULTI SPEKTRAL DI TALIBURA, KABUPATEN SIKKA Parera, Guido Roberto Jerun; Siregar, Vincentius P.; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 15 No 1 (2024): FEBRUARI 2024
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.15.57-67

Abstract

Degradasi lahan mangrove menyebabkan perubahan pada garis pantai. Wilayah pesisir Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka merupakan salah satu wilayah yang memiliki ekosistem mangrove. Keberadaan penduduk di wilayah ini, menyebabkan adanya interaksi antara penduduk dengan ekosistem mangrove sehingga terjadinya degradasi pada ekosistem mangrove. Pada wilayah pesisir Kecamatan Talibura, belum ada sama sekali penelitian yang menunjukkan perubahan tutupan lahan mangrove dan garis pantai selama 30 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan mangrove dan garis pantai pada tahun 1990-2019 di Kecamatan Talibura. Tutupan lahan mangrove diperoleh menggunakan metode Supervised Classification dan untuk mengetahui perubahan garis pantai digunakan metode DSAS yang menghitung statistik laju perubahan garis pantai dari data citra landsat perekaman tahun 1990, 2004, dan 2019. Hasil penelitian menunjukkan adanya degradasi mangrove 60,84 ha periode waktu 1990-2004 dan mengalami penambahan 2,43 ha, yang dapat terlihat adanya abrasi di daerah degradasi mangrove dengan nilai tertinggi -487,54 m dan nilai akresi tertinggi 307,45 m di daerah yang masih terjaga ekosistem mangrovenya selama 30 tahun.
Estimasi Area Tergenang Akibat Kenaikan Muka Air Laut Menggunakan Data Unmanned Aerial Vehicles (UAV) pada Kawasan Pesisir Teluk Ambon Dalam, Provinsi Maluku, Indonesia (Studi Kasus: Kawasan Pesisir Desa Waiheru) Noya, Theo Imanuel; Gaol, Jonson Lumban; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 27, No 2 (2024): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v27i2.23005

Abstract

The estimation model of potential tidal flooding areas in this study was built using altimetry satellite data for the period January 1993–July 2023, tidal data of Teluk Ambon Dalam (TAD) for the period 2012–2018, and Digital Terrain Model (DTM) data or land surface height recorded by the Unmanned Aerial Vehicle (UAV) DJI Mavic 2 Pro series. Satellite altimetry and tidal data were used to calculate the estimated values of the tidal flood inundation height in 2023 and 2050 under the highest tide conditions. UAV data recording was carried out at two variations of flight height, namely 80 m and 100 m, to determine the accuracy of the best geometry to be used in modeling. The bathtub-method approach was used to model the potentially inundated area by integrating the estimated inundation heights and DTM values. The results of the analysis of altimetry satellite data for the period 1993–2023 showed that the value of the sea level rise rate of Ambon Bay waters is 4 mm/year. The estimated value of tidal flood inundation extent in 2050 is 1.40 m. The flying height of 100 produces better geometry accuracy with a horizontal accuracy value of 1.51 m and vertical accuracy of 0.61 m at a scale of 1:5.000. Land elevation contours in the study area based on DTM data ranged from 0.12 - 1.82 m. Modeling results estimated that the inundated area in the study area in 2023 was 0.46 m and increased to 0.50 ha in 2050 due to sea level rise. Model estimasi area berpotensi tergenang banjir rob pada penelitian ini dibangun dengan menggunakan data satelit altimetri periode Januari 1993 – Juli 2023, data pasang-surut Teluk Ambon Dalam periode tahun 2012 - 2018 dan data Digital Terrain Model (DTM) atau ketinggian permukaan tanah hasil perekaman Unmanned Aerial Vehicle (UAV) seri DJI Mavic 2 Pro. Data satelit altimetri dan data pasut digunakan untuk menghitung nilai estimasi tinggi genangan banjir rob pada tahun 2023 dan 2050 saat kondisi pasang tertinggi. Perekaman data UAV dilakukan pada 2 variasi ketinggian terbang yakni 80 m dan 100 m untuk menentukan ketelitian geometri terbaik yang akan digunakan pada pemodelan. Pendekatan bathtub-method digunakan untuk memodelkan area berpotensi tergenang, yakni dengan mengintegrasikan nilai estimasi tinggi genangan dan nilai DTM. Hasil analisis data satelit altimetri periode tahun 1993 - 2023 memperoleh nilai laju kenaikan muka air laut perairan Teluk Ambon adalah 4 mm/tahun. Nilai estimasi jangkauan genangan banjir rob pada tahun 2050 adalah 1,40 m. Ketinggian terbang 100 menghasilkan ketelitian geometri yang lebih baik dengan nilai ketelitian horizontal adalah 1,51 m dan vertikal adalah 0,61 m pada skala 1:5.000. Kontur ketinggian tanah pada kawasan penelitian berdasarkan data DTM berkisar antara 0,12 – 1,82 m. Hasil pemodelan estimasi area tergenang pada kawasan penelitian tahun 2023 adalah seluas 0,46 m dan bertambah menjadi 0,50 ha pada tahun 2050 akibat kenaikan muka laut.
LITERATURE REVIEW OF FLYING FISH: BIOLOGY, DISTRIBUTION, FLYING FISH FISHERIES, AND CURRENT RESEARCH: Tinjauan Pustaka Ikan Terbang: Biologi, Distribusi, Perikanan Ikan Terbang, dan Penelitian Terkini Putri, Rini Sahni; Jaya, Indra; Pujiyati, Sri; Agus, Syamsul Bahri; Palo, Mahfud
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 14 No. 2 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmf.v14i2.45755

Abstract

This article presents various literature related to flying fish from 1930 to the present, which are shown in the form of aspects of biology, distribution, fisheries, and utilization of Current Technology in Flying Fish Research. This study was conducted through a systematic search and review of various articles, books, dissertations, and theses that discuss flying fish. Literature studies related to flying fish are important to provide more complete information required to maintain the sustainability of their resources. This study shows the classification, type, spawning process, body shape, ability to glide in the waters, distribution, fishing technology, and current technology in various researches. Keywords: biology, distribution, flying fish, fisheries
Mapping and validation of spatial algorithm for monitoring turbidity of seagrass habitat using sentinel-2B imagery in Ternate Island Paembonan, Rustam Effendi; Bengen, Dietriech Geoffrey; Nurjaya, I Wayan; Agus, Syamsul Bahri; Natih, Nyoman Metta N; Subhan, Beginer; Santoso, Joko
Depik 2025: Special Issue ICMF
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.0.0.46989

Abstract

Turbidity is a parameter of the marine environment that greatly affects the condition of seagrass whose habitat is an intertidal zone in shallow sea waters. Seagrass is an important type of ecosystem that can be found in several coastal areas of Ternate Island. This study aims to analyze the turbidity conditions of seagrass habitat waters and apply a remote sensing algorithm using Sentinel 2B images. The turbidity research method was carried out by field measurements. The turbidity algorithm model used refers to references with mathematical equations (Rrs665-0.014)/0.013, and the development of a new algorithm as a comparison algorithm. Both algorithms were validated with field data to determine the level of accuracy using the Normalized Mean Absolute Error (NMAE) and determination coefficient (R2). The results were obtained from turbidity data with values ranging from 0.3 NTU to 1.5 NTU with an average value of 0.87 0.45 NTU. The Sentinel 2B image in this study was restored with geometric corrections, atmosphere, radiometric digital values, land masking, and sun glint. The turbidity algorithm model used obtained good accuracy in mapping and monitoring the turbidity of seagrass habitat waters on Ternate Island. The application of the turbidity algorithm used as a reference in this study has an NMAE value of 50.44 and R2 of 0.8822, while the newly discovered turbidity algorithm has an NMAE value of 29.38 and R2 of 0.8827.Keywords:remote sensingecosystemscoastalsedimentationNorth Maluku
Mapping and validation of spatial algorithm for monitoring turbidity of seagrass habitat using sentinel-2B imagery in Ternate Island Paembonan, Rustam Effendi; Bengen, Dietriech Geoffrey; Nurjaya, I Wayan; Agus, Syamsul Bahri; Natih, Nyoman Metta N; Subhan, Beginer; Santoso, Joko
Depik 2025: Special Issue ICMF
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.0.0.46989

Abstract

Turbidity is a parameter of the marine environment that greatly affects the condition of seagrass whose habitat is an intertidal zone in shallow sea waters. Seagrass is an important type of ecosystem that can be found in several coastal areas of Ternate Island. This study aims to analyze the turbidity conditions of seagrass habitat waters and apply a remote sensing algorithm using Sentinel 2B images. The turbidity research method was carried out by field measurements. The turbidity algorithm model used refers to references with mathematical equations (Rrs665-0.014)/0.013, and the development of a new algorithm as a comparison algorithm. Both algorithms were validated with field data to determine the level of accuracy using the Normalized Mean Absolute Error (NMAE) and determination coefficient (R2). The results were obtained from turbidity data with values ranging from 0.3 NTU to 1.5 NTU with an average value of 0.87 0.45 NTU. The Sentinel 2B image in this study was restored with geometric corrections, atmosphere, radiometric digital values, land masking, and sun glint. The turbidity algorithm model used obtained good accuracy in mapping and monitoring the turbidity of seagrass habitat waters on Ternate Island. The application of the turbidity algorithm used as a reference in this study has an NMAE value of 50.44 and R2 of 0.8822, while the newly discovered turbidity algorithm has an NMAE value of 29.38 and R2 of 0.8827.Keywords:remote sensingecosystemscoastalsedimentationNorth Maluku
MARINE COPERNICUS OCEANOGRAPHIC DATA ANALYSIS: A COMPARATIVE STUDY WITH BUOY RAMA MEASUREMENTS Nurzeha, Ridwan; Lumban-Gaol, Jonson; Bahri Agus, Syamsul
Jurnal Segara Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v20i1.16083

Abstract

Oceanographic data such as Sea Surface Temperature (SST), Sea Surface Salinity (SSS), and Sea Surface Height (SSH) have a significant role in understanding ocean related studies, such as fisheries and ocean biology. This study analyzed the accuracy of Marine Copernicus datasets by comparing with data from buoy RAMA in the Indian Ocean. The results show a strong correlation for SST (r=0.988, R2=0.976, bias -0.020, RMSE 0.110) and SSS (r=0.960, R2=0.921, bias -0.001, RMSE 0.119). For SSH, after correction also has strong correlation with lower bias (r=0.934, R2=0.872, bias -0.000, RSME 0.032). The seasonal trend analysis shows SST peaks in April-May and declines to its lowest in September, while salinity increases from April to July-August before decreasing. SSH has a rising trend from January to June and declines afterward. These findings suggest that Marine Copernicus data provide reliable SST, SSS, and SSH estimates.
PENERAPAN ALGORITMA SPECTRAL ANGLE MAPPER (SAM) UNTUK KLASIFIKASI LAMUN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT WORLDVIEW-2 Aziizah, Nunung Noer; Siregar, Vincentius Paulus; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 13 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.pjpdcd.2016.v13.a2205

Abstract

Remote sensing technology has been developed for monitoring and identification of coastal environment and resources, such as seagrasses. In Indonesia, particularly seagrass mapping spectrometer utilizing spectral library has not been done. This study aimed to determine the spectral signature based in situ measurement and image analysis, analyze the implementation of the algorithm Spectral Angle Mapper (SAM) and test accuracy in mapping seagrass to species level based on spectral libraries. Research conducted in seagrass Tunda Island, Banten. Satellite imagery used is WorldView2 and the seagrass spectral reflectance was measured using a spectrometer USB4000. SAM classification algorithm utilizing spectral libraries and classify objects in a single pixel can be homogeneous. Classification results in the form of class Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, and Halophila ovalis. The resulting accuracy of 35.6%. The area of each class is 0.8 hectares for the class Cymodocea rotundata, 2.79 hectares for Enhalus acoroides, class Thalassia hemprichii 3.7 hectares, and 3.5 hectares for Halophila ovalis. Classification of seagrass to species level yet produce good accuracy. Seagrass area with a variety of species and number of channels on a multispectral satellite image is assumed to be the cause of the low value of accuracy.
KLASIFIKASI HABITAT BENTIK PERAIRAN DANGKAL DARI CITRA WORLDVIEW-2 MENGGUNAKAN DATA IN-SITU DAN DRONE Sugara, Ayub; Siregar, Vincentius Paulus; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2058.291 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v12i1.26448

Abstract

Aplikasi citra Worldview-2 dengan data groud truth habitat masih memiliki kekurangan yaitu membutuhkan waktu yang lama, akses yang terbatas, biaya yang tinggi serta faktor resiko. Teknik survei menggunakan drone dapat mengurangi keterbatasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan klasifikasi dan uji akurasi hasil klasifikasi habitat perairan dangkal di Pulau Lancang dan Pulau Sebaru Besar dari citra Worldview-2 dengan inputan data ground truth habitat (GTH) dan virtual ground truth (VGT) serta mengeksplorasi resolusi spasial citra drone pada ketinggian yang berbeda. Hasil overall accuraccy diperoleh untuk 7 kelas habitat di Pulau Lancang dengan data GTH dan VGT masing-masing sebesar 65,5% dan 60,6%. Sedangkan di Pulau Sebaru Besar masing-masing sebesar 67,5% dan 64,6%. Perbandingan akurasi hasil klasifikasi didapat selisih 4,9% di Pulau Lancang dan 2,9% di Pulau Sebaru Besar. Hasil uji signifikansi metode GTH dan VGT di Pulau Lancang berbeda nyata dengan nilai Z sebesar 2,0851, sedangkan di Pulau Sebaru Besar tidak berbeda nyata dengan nilai Z sebesar 0,5255, sehingga pemetaan habitat bentik dengan metode VGT dapat digunakan sebagai alternatif pengamatan di lapangan secara in-situ, namun ini masih memerlukan penelitian lanjutan.
STUDI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN MANGROVE BERBASIS OBJEK (OBIA) MENGGUNAKAN CITRA SATELIT DI PULAU DOMPAK PROVINSI KEPULAUAN RIAU Saputra, Robin; Gaol, Jonson Lumban; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v13i1.27886

Abstract

Berbagai ancaman pada hutan mangrove baik secara alamiah seperti perubahan iklim dan kegiatan manusia seperti penimbunan, alih fungsi lahan dan penebangan semakin meningkatkan kerentanan ekosistem itu sendiri. Pengindraan jauh merupakan metode yang sangat efektif untuk digunakan dalam kegiatan pemantauan mangrove karena dapat dilakukan secara berkala dan mampu menjangkau area yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan mangrove di Pulau Dompak Provinsi Kepulauan Riau. Metode yang digunakan berupa klasifikasi citra satelit berbasis objek (OBIA) dengan algoritma support vector machine (SVM). Data citra satelit yang digunakan adalah SPOT 4 Tahun 2007 dan Sentinel 2B Tahun 2018 dengan resolusi spasial 10 x 10 m. Survei lapang dilakukan pada bulan September-Oktober 2018 dengan metode sampling secara acak. Hasil klasifikasi OBIA dengan algoritma SVM menghasilkan tingkat akurasi sebesar 89%, nilai kappa 0,86 dengan skala segmentasi optimum yang diperoleh adalah skala 3. Berdasarkan analisis perubahan tutupan lahan terjadi adanya penurunan luasan hutan mangrove sebesar 34,19% atau sekitar 46,61 ha sejak Tahun 2007 hingga 2018.
Co-Authors . Jihad Abdul Aziz, Nandi Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Adhitya Nugroho Adi Imam Wahyudi Adinuha, Dinda Afifah Aditya Hikmat Nugraha Adriani Sunuddin Agnestesya Manuputty Agustin Rustam Aji Hermawan Akmal, Surya Genta Alam, Al Fajar Aldi Agus Setiawan Andi Alamsyah Ani Rahmawati Arifin Taslim Ario Damar Armanda Aryani, Desy Ayub Sugara Beginer Subhan Bisma Nababan Budhi Agung Prasetyo Budhi Agung Prasetyo Budiman, Mukhammad Asyief Khasan Budy Wiryawan Danang Aria Nugroho Devy, Nanda Riska Dietriech Geoffrey Bengen Emma Suri Yanti Siregar Emy Mupid Erni Kusumawati FERY KURNIAWAN Forcep Rio Indaryanto Fredinan Yulianda Guido Roberto Jerun Parera Hartoni Hartoni I Wayan Nurjaya Ilham Marasabessy Ilham Marasabessy Indra Jaya Insaniah Rahimah James Parlindungan Panjaitan Joko Santoso Jonson Lumban Gaol Lucy Peter Liew Luky Adrianto Luky Adrianto Mahfud Palo Maulana Ishak Muhammad Iksan Badarudin Muhammad Iqra Prasetya Muta Ali Khalifa Mutiara Alkayakni Harahap NEVIATY PUTRI ZAMANI Nico Wantona Prabowo Nimmi Zulbainarni Noya, Theo Imanuel Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah, Nunung Noer Nursan, Muhammad Nurzeha, Ridwan Nyoman M N Natih P. Perdinan Prasetya, Muhammad Iqra Prastomo, Arul Tabah Putri, Rini Sahni Retno Asih RIDWAN AFFANDI Rosdyani Rachmi Rudiyanto, Bambang Yudho Rustam Effendi Paembonan, Rustam Effendi Sahibuddin, Muhammad Qustam Sam Wouthuyzen Setyo Budi Susilo Sigid Hariyadi Sri Pujiyati Sugeng Heri Suseno Surya Gentha Akmal Tarlan Subarno Tarlan Subarno Tarlan Subarno van Beek, Ruben Vincentius P Siregar Wikanti Asriningrum Wikanti Asriningrum Wikanti Asriningrum Wildan Nurussalam Wildan, Dudi Muhammad Yonvitner - Yulius Yulius Yuni Puji Hastuti Yusuf Arief Afandy Zulahamsyah Imran Zulfikar Afandy Zulfikar Afandy Zulhamsyah Imran