Claim Missing Document
Check
Articles

Campur Kode Bahasa Batak Toba di Samarinda Kajian Sosiolinguistik Sitorus, Yulian Elfrida; Wahyuni, Ian; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 2 (2023): Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i2.7794

Abstract

ABSTRAK Masyarakat suku Batak Toba menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi sehari-hari yang diselipkan bahasa Indonesia maka dari situ terjadilah campur kode. Campur kode merupakan suatu kondisi di mana seseorang menggabungkan dua bahasa atau lebih ke dalam bahasa lain. Bukti dari masyarakat Indonesia merupakan masyarakat heterogen salah satunya dapat dilihat dari masyarakat suku Batak Toba yang tinggal di Samarinda. Hal ini yang menjadikan salah satu faktor bagi masyarakat suku Batak Toba yang lain untuk menggunakan lebih dari satu bahasa ketika berinteraksi. Adapun Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk campur kode; (2) mendeskripsikan faktor terjadinya campur kode. Penelitian ini menggunakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Penelitian ini memiliki data berupa tuturan lisan masyarakat, sedangkan sumber data penelitian adalah masyarakat suku Batak Toba yang berada di Kelurahan Gunung Lingai, Kelurahan Lempake, Kelurahan Mugirejo, Kelurahan Bengkuring dan Kelurahan Bukit Pinang. Metode dalam penelitian ini adalah teknik libat cakap, teknik rekam, dan catat dan bentuk analisis data mendeskripsikan campur kode.  Hasil peneltian ini adalah campur kode bahasa Batak Toba di Samarinda kajian Sosiolinguistik terdapat beberapa bentuk campur kode dalam tuturan campur kode bahasa    Batak Toba kajian sosiolinguistik yang terdiri dari (1) penyisipan kata (2) penyisipan frasa (3) penyisipan klausa,. Faktor penyebabnya dalah faktor ekstralinguistik yaitu status sosial, sikap penutur menyatakan pretise. Faktor intralinguistik, yaitu adanya padanan kata dan kesesuaian maksud.Kata kunci:bahasa batak toba,campur kode, sosiolinguistikABSTRACTThe Toba Batak people use the local language in their daily communication, which is inserted in Indonesian, so there is code-mixing. Code mixing is a condition in which a person combines two or more languages in another language. The evidence of the Indonesian people being a heterogeneous society can only be seen in the Toba Batak people who live in Samarinda. This is one of the factors for other Toba Batak people to use more than one language when interacting. This study aims to (1) describe the form of code-mixing; (2) describe the factors of code-mixing. This study uses field research with a qualitative approach that is described descriptively. This study has data in the form of community oral speech, while the source of research data is the Toba Batak people who are in Gunung Lingai Village, Lempake Village, Mugirejo Village, Bengkuring Village, and Bukit Pinang Village. The method in this study is a conversational engagement technique, recording technique, and data analysis technique describing code-mixing. The result of this research is that the Toba Batak language code-mixing in Samarinda Sociolinguistic studies there are several forms of code-mixing in the Toba Batak language code-mixing speech which consists of (1) insertion of words for example as a family (2) insertion of phrases in good health (3) insertion of cute clauses, security. The causative factors are extralinguistic, namely social status, and appropriate speech attitudes. Intralinguistic factors, namely the existence of equivalent words and the intent.Keywords: Toba Batak language, code-mixing, sociolinguistics
MAKNA LEKSIKAL DAN GRAMATIKAL LIRIK LAGU DALAM ALBUM MONOKROM KARYA TULUS Saftriani, Iin; Dahlan, Dahri; Wahyuni, Ian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 6, No 4 (2022): Oktober 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i4.6490

Abstract

Lirik lagu memiliki beberapa konsep yang sering digunakan, yaitu menceritakan sesuatu atau membawa kesan pengalaman pengarang. Salah satu kumpulan lagu yang menarik baik dalam hal irama maupun lirik-liriknya adalah kumpulan lagu yang dibawakan oleh Tulus dalam album yang berjudul Monokrom. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk makna leksikal dan gramatikal yang terdapat pada lirik lagu dalam Album Monokrom karya Tulus dengan menggunakan kajian semantik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa, kata, frasa, dan klausa. Sumber data dalam penelitian ini adalah lirik lagu dalam album Monokrom karya Tulus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat. Teknik analisis data menggunakan metode padan intralingual. Hasil dari penelitian ditemukan bentuk makna leksikal yang terdiri dari, repetisi, sinonimi, dan antonimi. Bentuk leksikal yang dominan adalah repetisi. Repetisi yang ditemukan dalam lirik lagu album Monokrom ini umumnya tidak berubah arti atau pemaknaannya tetap sama. Selanjutnya sinonimi yang ditemukan dalam penelitian ini umumnya membentuk verba. Terakhir, antonimi yang ditemukan dalam penelitian ini umumnya membentuk nomina. Sedangkan, bentuk makna gramatikal yang ditemukan dalam lirik album Monokrom karya tulus terdiri dari, afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Bentuk gramatikal yang dominan adalah afiksasi. Afiksasi yang dominan ditemukan umumnya membentuk verba. Selanjutnya bentuk reduplikasi yang ditemukan dalam lirik lagu album Monokrom ini mayoritasnya membentuk pereduplikasian utuh yang dominan memiliki bentuk kata dasar nomina. Terakhir, komposisi yang terdapat dalam penelitian ini dominan berkategori nomina. Secara keseluruhan dari hasil analisis dalam lirik lagu album Monokrom karya Tulus memuat nilai kehidupan yang mencakup delapan nilai, (1) nilai cinta atau kasih sayang; (2) nilai kesetiaan; (3) nilai moral; (4) nilai prestasi; (5) nilai keberanian; (6) nilai kemandirian; (7) nilai kejujuran; (8) nilai kesenangan.
Makna Ujaran dalam Prosesi Mag'nikakan Adat Bajau di Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau: Kajian Antropolinguistik Yanti, Misra; Wahyuni, Ian; Mubarok, Ahmad
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i1.7696

Abstract

Objek penelitian ini menjadi salah satu budaya suku Bajau yang memiliki kekhasan. Dalam prosesinya memperlihatkan citra budaya dan bahasa daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ujaran dan nilai-nilai budaya dalam prosesi mag’nikakan adat Bajau di Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau, dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes dan nilai-nilai budaya Sibarani. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari masyarakat suku Bajau yang berada di Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data penelitian yang digunakan analisis deskriptif dengan metode padan dan teknik pilah unsur penentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna ujaran denotasi pada prosesi mag’nikakan mengandung pengetahuan, kepercayaan, tradisi, kesenian, adat istiadat, dan tingkah laku masyarakat suku Bajau. Makna konotasi dalam ujaran mengandung makna berdasarkan perasaan atau emosi dari pembaca, dan mitos-mitos yang mengambarkan situasi masyarakat suku Bajau yang tetap menjalankan aturan, tata cara, dan struktur yang disepakati bersama. Nilai-nilai budaya yang terkandung ada tiga, yaitu pertama kebudayaan ekspresi yang meliputi keyakinan, intuisi, dan imajinasi kolektif. Kedua, kebudayaan tradisi yang meliputi nilai religi, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan. Ketiga, kebudayaan fisik berupa hasil karya budaya.Kata kunci: antropolinguistik, makna ujaran, prosesi mag’nikakan.
ADJEKTIVA BAHASA DAYAK BENUAQ DI KAMPUNG LAMBING KECAMATAN MUARA LAWA KABUPATEN KUTAI BARAT Pey, Adeliana Chein; Hanum, Irma Surayya; Wahyuni, Ian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 4 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i4.8360

Abstract

. This study aims to (1) describe the adjective form of the Dayak Benuaq language in Lambing Village, Muara Lawa District, West Kutai Regency, (2) describe the function of the Benuaq Dayak language adjective in Lambing Village, Muara Lawa District, West Kutai Regency. This type of research is field research. The data in this study is in the form of speech. Sources of data in this study, namely the utterances spoken by three informants. The data collection technique used was observation technique, refer to conversational engagement, note-taking and tapping techniques. The technique of analyzing qualitative descriptive data is by using the distributional method. The results of this study based on the form found that there are two parts, namely, monomorphemic adjectives and polymorphemic adjectives. Based on the function of the adjective, it was found that there are three parts, namely the attributive function is a delimiter in a noun phrase where the noun can be the subject, object, and complement, the predicative function is a predicate or complementary function in a clause, and the adverbial function or description is not a core element. in a sentence.
KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL TUAN KEN (TUT) KARYA FX RUDY GUNAWAN KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Sutiyoso, Bayu; Wahyuni, Ian; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 6, No 4 (2022): Oktober 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i4.7700

Abstract

Kritik sosial diklasifikasikan berdasarkan pada konsep sosiologi sastra Marx, dengan pengembangan konsep lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti politik, ekonomi, dan moral, sehingga peninjauan kritik dilakukan berdasarkan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis fakta cerita dan kritik sosial yang terdapat pada novel Tuan Ken (Tut). Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa kutipan kalimat yang terdapat pada novel Tuan Ken (Tut) karya FX Rudy Gunawan. Sumber data pada penelitian ini adalah novel Tuan Ken (Tut) karya FX Rudy Gunawan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan catat. Adapun teknik penyajian data adalah mendeskripsikan berdasarkan rumusan masalah, yaitu fakta cerita dan kritik sosial  dalam novel Tuan Ken (Tut). Hasil penelitian mendeskripsikan fakta cerita yang terdiri dari alur, tokoh, dan latar. Ditemukan beberapa kritik sosial mengenai masalah moral, politik, dan ekonomi. Kritik sosial terdiri dari tiga, pertama kritik sosial ekonomi, mengkritik tentang kurangnya lapangan pekerjaan yang mengakibatkan kemiskinan dan membuat masyarakat melakukan hal-hal yang menyimpang seperti menjadi pencuri dan pekerja sex untuk menyambung hidup. Kedua, kritik sosial politik mengkritik tentang para pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaannya, sehingga memberi dampak buruk pada masyarakat. Ketiga, kritik sosial moral lebih melihat pada pandangan orang-orang dalam menilai orang lain secara sepihak tanpa melihat etika yang berkembang di masyarakat tersebut.
METAFORA DALAM KUMPULAN CERPEN KENANG-KENANGAN SEORANG WANITA PEMALU KARYA W.S. RENDRA Allobua', Wanti; Dahlan, Dahri; Wahyuni, Ian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 6, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i2.6708

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan fungsi metafora yang terdapat dalam kumpulan cerpen Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu karya W.S. Rendra. Kumpulan Cerpen tersebut memuat banyak penggunaan gaya bahasa terutama metafora. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah kata, frasa, klausa, dan kalimat yang teridentifikasi sebagai bentuk metafora. Sumber data penelitian ini adalah buku kumpulan cerpen Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu karya W.S. Rendra. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan teknik catat. Teknik analisis data menggunakan metode agih dan langkah menganalisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil dari penelitian dalam kumpulan cerpen Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu karya W.S. Rendra ditemukan bentuk metafora antropomorfik,  kehewanan, pengabstrakan, dan sinestetis, serta makna yang dikandung dalam setiap bentuk metafora, yakni makna leksikal dan gramatikal. Hasil analisis menunjukkan Rendra lebih banyak memilih bentuk metafora antropomorfik, yaitu menghidupkan sesuatu yang tidak bernyawa dengan cara membandingkan tubuh, sifat, maupun kebiasaan manusia ditransfer ke sesuatu yang tidak bernyawa, sehingga bernilai estetis dan pendeskripsian suasana lebih indah dan kreatif. Fungsi Metafora ditemukan fungsi informasi, fungsi ekspresif, dan fungsi direktif. Fungsi informasi lebih banyak digunakan untuk menyampaikan informasi yang mengandung ide, keyakinan, kekhawatiran dan kemarahan. Selain penggunaan bentuk metafora, ditemukan juga beberapa data yang berhubungan dengan penggunaan gaya bahasa lainnya, seperti simile dan hiperbola.
Hierarki Kebutuhan Tokoh Utama dalam Novel Represi Karya Fakhrisina Amalia: Kajian Psikologi Sastra Abraham Maslow Nurwahidah, Anisa; Wahyuni, Ian; Mubarok, Ahmad
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 4 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i4.11104

Abstract

Penelitian ini berfokus pada analisis hierarki kebutuhan tokoh utama dalam novel Represi (2018). Hierarki kebutuhan merupakan susunan kebutuhan bertingkat yang tersusun berdasarkan kebutuhan terendah hingga tertinggi. Tujuan penelitian ini ialah untuk: (1) mendeskripsikan fakta cerita dalam novel Represi karya Fakhrisina Amalia; (2) mendeskripsikan hierarki kebutuhan tokoh utama dalam novel Represi karya Fakhrisina Amalia. Penelitian ini merupakan penelitian studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang digunakan ialah kata, frasa, kalimat, dan wacana yang terdapat dalam novel Represi, sumber datanya ialah novel Represi karya Fakhrisina Amalia. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah teknik baca dan catat serta teknik analisis data, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori pendukung yang digunakan ialah teori fakta cerita Robert Stanton dan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Hasil dari penelitian ini, tokoh utama dalam novel Represi ialah Anna. Novel ini menggunakan alur campuran, latar tempat yang digunakan ialah Kota Yogyakarta. Berdasarkan hasil analisis hierarki kebutuhan pada tokoh utama, Anna memiliki lima kebutuhan manusia seperti dalam teori hierarki kebutuhan, yakni (1) kebutuhan fisiologis dipenuhi melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi serta beristirahat yang cukup; (2) kebutuhan rasa aman melalui kepedulian orang tua dan sahabat-sahabatnya; (3) kebutuhan rasa cinta dan rasa memiliki dari Saka yang mencintainya; (4) kebutuhan harga diri dari pujian yang diberikan oleh Nabila saat sesi konsultasi serta; (5) kebutuhan aktualisasi diri dengan menerima masalah dan meyakini adanya pilihan hidup. Dengan terpenuhinya kelima hierarki kebutuhan tersebut maka Anna telah mencapai aktualisasi diri continued freshness of appreciation atau mensyukuri segala hal yang terjadi dalam hidupnya.
RESPONS PEMBACA NOVEL MATA DI TANAH MELUS KARYA OKKY MADASARI KAJIAN RESEPSI SASTRA Liana, Riska Mey; Hanum, Irma Surayya; Wahyuni, Ian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 6, No 4 (2022): Oktober 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i4.6615

Abstract

Novel Mata di Tanah Melus karya Okky Madasari menarik untuk dijadikan objek penelitian karena novel ini memberikan pengetahuan tambahan dan penggambaran sejarah. Novel tersebut membuat remaja dapat belajar sejarah dan memetik nilai-nilai yang ada. Teori yang digunakan adalah teori resepsi sastra menurut Hans Robert Jauss. Kajian resepsi sastra dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil analisis respons pembaca melalui unsur intrinsik pada novel Mata di Tanah Melus karya Okky Madasari. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian ialah interpretasi responden terhadap novel dan sumber data ialah 18 siswa kelas XII Bahasa SMAN 4 Berau. Teknik pengumpulan data merupakan teknik wawancara, teknik catat, teknik rekam, dan transkripsi data tutur menjadi teks. Teknik analisis data menggunakan metode resepsi sinkronis secara eksperimental. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, respons pembaca terhadap novel Mata di Tanah Melus karya Okky Madasari menunjukkan adanya tanggapan positif dan negatif. Mulai dari tokoh, latar, alur, tema, sudut pandang, dan nilai moral. Perbedaan tanggapan terhadap unsur intrinsik ini dikarenakan pemahaman setiap pembaca memiliki horizon harapan tersendiri dalam merespons cerita novel tersebut. Kedua,  kategori pembaca siswa kelas XII Bahasa SMAN Berau yang sesuai ialah actual reader, yaitu manusia yang benar-benar melaksanakan tindakan pembacaan. Ketiga, novel Mata di Tanah Melus karya Okky Madasari layak untuk dibaca oleh anak dan remaja mulai dari usia operasional formal (11 atau 12 tahun ke atas). Responden beranggapan bahwa novel Mata di Tanah Melus merupakan novel yang bagus dan penuh dengan imajinatif sehingga responden dapat menikmati novel tersebut. 
PEMBENTUKAN HABITUS MASYARAKAT SUKU DAYAK BENUAQ PADA RITUAL BELIATN SENTIU DI KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA ING MARTADIPURA Vivian, Yofi Irvan; Arifin, Muhammad Bahri; Wahyuni, Ian
Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol. 15 No. 1 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/sorai.v15i1.4562

Abstract

Beliatn Sentiu is used by the Benuaq Dayak people as a non-medical treatment. This is because, The Beliatn Sentiu process uses offerings and mantra readings (bememang). The purpose of this study is to determine the musical characteristics of one of the music played and the formation of habitus that occurs in the Dayak Benuaq tribe in the Beliatn Sentiu Ritual process in Kutai Ing Martadipura. Research Methods The research methods used are Qualitative. This research also uses the approach of field research methods by Bruno Nettl, namely desk work and field work. Pemeliatn is the dominant agent, while Pengugu, Penu'ung, and Rotatn are the dominating agents. This is because Pemeliatn has a large capital, especially in cultural and social capital. The interaction of these two capitals forms a symbolic capital so that in The Beliatn Sentiu Ritual, the command of the Pemeliatn is always followed by The Pengugu, Penu'ung, and Rotatn. The beliefs of the Dayak Benuaq people are influenced by ancestral spirits and supernatural realms, making habitus constructed in the Beliatn Sentiu Ritual. The Beliatn Sentiu process is believed to be the help of ancestral spirits in healing. This is what makes the Beliatn Sentiu still carried out today.
ANALISIS SEMIOTIKA: ROLAND BARTHES DALAM IKLAN K-NATURAL WHITE BRIGHTENING BODY WASH VERSI AGATHA CHELSEA Nurfitriani, Nur; Wahyuni, Ian; Mubarok, Ahmad
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 2 (2023): Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i2.10732

Abstract

K- Natural White merupakan produk yang berasal dari bahan Korea, yang berinovasi memberikan standar kecantikan ideal Korea bagi wanita Indonesia. Penelitian ini membahas tentang makna tanda semiotika dalam iklan produk kecantikan K-Natural White. Tujuan penelitian mendeskripsikan makna tanda denotasi, konotasi, dan mitos yang membentuk pemaknaan kecantikan wanita Indonesia berdasarkan standar ideal Korea. Pendekatan penelitian adalah pendekatan kualitatif deskriptif dan termasuk jenis penelitian kepustakaan. Teknik pengumpulan data berupa teknik simak dan teknik catat. Teknik analisis data berupa teknik dasar metode agih dan padan. Data penelitian berupa kata, frase, klausa, dan kalimat iklan.Sumber data tiga jenis iklan K-Natural White yakni (1) Cotton Flower; (2) Magnolia Berkilau; dan (3) Lidah Buaya. Hasil penelitian secara umum, yakni (1) Denotasi iklan K-natural white yaitu kecantikan menjadi persoalan wanita yang digambarkan dengan kulit lembut, wangi, dan segar. (2) Konotasi berupa makna kecantikankwang skin (kulit cerah Korea) yang dijadikan standar kecantikan wanita Indonesia sebagai kecantikan luar diri. (3) Mitos kecantikan iklan K-Natural White, yaitu menghadirkan tanda yang membentuk kesadaran palsu berupa keyakinan bahwa bahan alami Korea dapat mencerahkan kulit wanita Indonesia.Kata Kunci: Semiotika, denotasi, konotasi, mitos, dan iklan