Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Jenis-Jenis Diatom di Sungai Asahan dan Bak Mandi Sekitar Kabupaten Toba Putri Karenina Siregar; I Ketut Junitha; Ni Made Suartini
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p6

Abstract

Diatom adalah organisme uniseluler, mikroskopis, serta tersusun dari dinding silika yang tahan terhadap pemanasan dan pengasaman. Diatom dapat ditemukan di berbagai jenis perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan jenis diatom yang ditemukan di Sungai Asahan dan bak mandi sekitar Kabupaten Toba. Sampel air diambil sebanyak 50 liter di tiap lokasi kemudian disaring menggunakan plankton net dan ditampung dalam botol kaca 25 ml. Sampel dalam botol diberi 10 tetes larutan iodin sebagai pengawet. Identifikasi diatom dilakukan dengan mengamati karakter morfologi dan morfometri menggunakan Image Raster III. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif dan mengacu pada pustaka untuk menentukan jenis diatom. Hasil penelitian ini memperoleh sebanyak 40 jenis diatom dari 21 genus, 13 famili, sembilan ordo, dan satu kelas yang sama Bacillariophyceae. Sebanyak 37 jenis diatom ditemukan dari sampel air Sungai Asahan. Hanya empat jenis diatom yang ditemukan di wadah air mandi I. Demikian pula, hanya dua jenis diatom yang ditemukan di wadah air mandi III. Namun, lebih banyak jenis diatom yang ditemukan di wadah air mandi II, yaitu 14 jenis. Empat belas jenis diatom ditemukan baik di Sungai Asahan maupun di bak mandi. Jumlah sel diatom yang paling ditemukan adalah jenis Aulacoseira granulata. Kata kunci: bak mandi, diatom, sungai
Jenis-Jenis Diatom di Sungai Asahan dan Bak Mandi Sekitar Kabupaten Toba Putri Karenina Siregar; I Ketut Junitha; Ni Made Suartini
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p6

Abstract

Diatom adalah organisme uniseluler, mikroskopis, serta tersusun dari dinding silika yang tahan terhadap pemanasan dan pengasaman. Diatom dapat ditemukan di berbagai jenis perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan jenis diatom yang ditemukan di Sungai Asahan dan bak mandi sekitar Kabupaten Toba. Sampel air diambil sebanyak 50 liter di tiap lokasi kemudian disaring menggunakan plankton net dan ditampung dalam botol kaca 25 ml. Sampel dalam botol diberi 10 tetes larutan iodin sebagai pengawet. Identifikasi diatom dilakukan dengan mengamati karakter morfologi dan morfometri menggunakan Image Raster III. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif dan mengacu pada pustaka untuk menentukan jenis diatom. Hasil penelitian ini memperoleh sebanyak 40 jenis diatom dari 21 genus, 13 famili, sembilan ordo, dan satu kelas yang sama Bacillariophyceae. Sebanyak 37 jenis diatom ditemukan dari sampel air Sungai Asahan. Hanya empat jenis diatom yang ditemukan di wadah air mandi I. Demikian pula, hanya dua jenis diatom yang ditemukan di wadah air mandi III. Namun, lebih banyak jenis diatom yang ditemukan di wadah air mandi II, yaitu 14 jenis. Empat belas jenis diatom ditemukan baik di Sungai Asahan maupun di bak mandi. Jumlah sel diatom yang paling ditemukan adalah jenis Aulacoseira granulata. Kata kunci: bak mandi, diatom, sungai
Profil genetika DNA mikrosatelit kromosom-Y masyarakat laki-laki soroh Kayuan Pasek Catur Sanak Bali Mula I Ketut Junitha; Ni Luh Watiniasih; Ni Luh Putu Ria Puspitha
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 7 No. 1 (2017): RELASI ETNISITAS DI BALI
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is conducted to find out the genetic profiles of Kayuan clan which is belong to Pasek Catur Sanak Bali Mula, indigenous Balinese people. The DNA profiles is identified by using Microsatellite DNA of Y chromosome. Genes or DNA in Y chromosome are descended from father to son (patrilinealism). Four loci of microsatellite DNA from Y chromosome are used, including DYS19, DYS390, DYS393 and DYS395 to amplified DNA samples from 67 males probands. The probands are people of Kayuan clan from Siakin, Songan, Blandingan and Kutuh villages, Kintamani sub district and others are originally from Jehem village, Tembuku sub district, Bangli regency. The research found 12 allele varieties from all the analyzed loci, which resulted in low genetic diversity (0.33 + 0.001). There are 4 combinations alleles of 4 loci that created12 various haplotypes, the greatest one is haplotype 1 (0.39), followed by haplotype 2 (0.16), haplotype 7 (0,12) and the smallest one is haplotype 6 (0,10). On the other hand, eight other alleles found on the smaller frequencies. Two similar allele combinations were also found on DNA profiles of Celagi clan, which is also belong to the similar family, Pasek Catur Sanak Bali Mula. The two allele are haplotype 6 and 5 found in both, Pasek Kayuan and Pasek Celagi. The haplotype 6 as dominant allele of Celagi clan by adoption, haplotype 5 however, the frequency was the lowest. This allele only detected in one member of each clan due to mutation.
Karakteristik Gabah Padi Gogo Lokal (Oryza sativa L.) Kupang, Nusa Tenggara Timur Dicky Frengky Hanas; Eniek Kriswiyanti; I Ketut Junitha
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.718

Abstract

Keberadaan padi gogo lokal semakin sulit ditemukan padahal padi gogo lokal telah beradaptasi terhadap kondisi lahan marginal termasuk varietas padi gogo lokal Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman dan karakteristik gabah padi gogo lokal Kupang. Eksplorasi dan koleksi padi gogo lokal dilakukan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Ciri morfologi yang diamati menggunakan deskriptor padi. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa terdapat 6 ragam padi gogo lokal Kupang, yaitu Aen muti, Aen metan, Aen me’e putih, Aen me’e merah, Aen Molo, dan Aen Lekes. Tiap varietas padi gogo lokal Kupang dapat dibedakan berdasarkan ciri yang tampak. Terdapat variasi karakter morfologi Padi gogo lokal Kupang, meliputi warna kulit gabah yaitu coklat, coklat kemerahan, kuning jerami, kuning kecoklatan, bergaris coklat pada latar kuning jerami; panjang gabah antara 7,6–8,9 mm; lebar gabah antara 2,43 - 3,59 mm; tebal gabah antara 1,95 - 2,24 mm; tebal kulit gabah antara 0,09–0,115 mm, bentuk gabah antara sedang dan ramping, warna beras meliputi putih, merah dan hitam; warna aleuron meliputi putih, putih kecoklatan, merah kecoklatan dan ungu kehitaman; panjang beras antara 5,52 - 6,31 mm; lebar beras antara 2,12 - 2,84; tebal beras antara 1,75 - 2,01 mm; bentuk beras meliputi membulat, sedang dan ramping; berat gabah antara 0,025 - 0,031g; berat kulit gabah antara 0,005 - 0,006g serta berat beras per butir antara 0,020 - 0,025g. Variasi morfologi yang ditunjukkan oleh setiap varietas padi mengindikasikan karakteristik dari masing-masing varietas padi gogo lokal.
THE ETHNOBOTANY OF SENSE DISEASE MEDICAL PLANT USED BY NGIS MANGGIS COMMUNITY KARANGASEM IN BALI, INDONESIA Dewa Ayu Sri Ratnani; I Ketut Junitha; Eniek Kriswiyanti; Desak Nyoman Budiningsih
International Journal of Applied Science and Sustainable Development (IJASSD) Vol. 4 No. 2 (2022): International Journal of Applied Science and Sustainable Development (IJASSD)
Publisher : Lembaga Penelitian dan `Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Ngis Manggis community has ethnobotanical knowledge in utilizing plants from the forest for traditional medicine. Local people have little knowledge of managing forests sustainably. This study aimed to identify plants used for sense disease medicinal by the Ngis Manggis community, including species, family, local names, parts of plants used, processing method, usage method, obtained sources, and the Index of Cultural Significance (ICS). Qualitative method to obtain data on the local names of plants used for the sense disease medicinal. Purposive and Snowball sampling methods were applied to collect key informants through semi-structured interviews and moderate participation. Data analysis was qualitative and quantitative. The results showed that 55 species were distributed in 32 families to treat 17 diseases dominated by Fabaceae (6 species). Most of them were harvested from wild 29 (52.72%). The most widely used part of the plants is the leaf. Crushing is the most widely used preparation method by the community. The greatest number of medicinal uses of Ngis Manggis community is smeared. Based on the results of the ICS analysis, the highest ICS value is Arenga pinnata L. (61).
Profil genetika DNA mikrosatelit kromosom-Y masyarakat laki-laki soroh Kayuan Pasek Catur Sanak Bali Mula I Ketut Junitha; Ni Luh Watiniasih; Ni Luh Putu Ria Puspitha
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 7 No. 1 (2017): RELASI ETNISITAS DI BALI
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is conducted to find out the genetic profiles of Kayuan clan which is belong to Pasek Catur Sanak Bali Mula, indigenous Balinese people. The DNA profiles is identified by using Microsatellite DNA of Y chromosome. Genes or DNA in Y chromosome are descended from father to son (patrilinealism). Four loci of microsatellite DNA from Y chromosome are used, including DYS19, DYS390, DYS393 and DYS395 to amplified DNA samples from 67 males probands. The probands are people of Kayuan clan from Siakin, Songan, Blandingan and Kutuh villages, Kintamani sub district and others are originally from Jehem village, Tembuku sub district, Bangli regency. The research found 12 allele varieties from all the analyzed loci, which resulted in low genetic diversity (0.33 + 0.001). There are 4 combinations alleles of 4 loci that created12 various haplotypes, the greatest one is haplotype 1 (0.39), followed by haplotype 2 (0.16), haplotype 7 (0,12) and the smallest one is haplotype 6 (0,10). On the other hand, eight other alleles found on the smaller frequencies. Two similar allele combinations were also found on DNA profiles of Celagi clan, which is also belong to the similar family, Pasek Catur Sanak Bali Mula. The two allele are haplotype 6 and 5 found in both, Pasek Kayuan and Pasek Celagi. The haplotype 6 as dominant allele of Celagi clan by adoption, haplotype 5 however, the frequency was the lowest. This allele only detected in one member of each clan due to mutation.