Claim Missing Document
Check
Articles

PENYULUHAN HUKUM PARTISIPATIF: MENINGKATKAN KAPASITAS HUKUM MASYARAKAT TERHADAP TRANSISI DAN MITIGASI PROBLEMATIKA IMPLEMENTASI KUHP DAN KUHAP BARU L. Alfies Sihombing; Yeni Nuraeni; Yuyut Prayuti; Ahmad Jamaludin; Happy Yulia Anggraeni
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.14412

Abstract

ABSTRACT Indonesia is entering a new era of decolonization of its criminal justice system, shifting toward a restorative and rehabilitative paradigm, with the enactment of Law No. 1 of 2023 (the New Criminal Code) and Law No. 20 of 2025 (the New Criminal Procedure Code) on January 2, 2026. However, the legislative process which has been criticized as rushed has created a gap between the ideal of the law (das Sollen) and on-the-ground reality (das Sein), particularly regarding the potential erosion of civil rights due to the expansion of law enforcement agencies’ authority to use coercive measures without strict judicial oversight. This gap is exacerbated by a lack of public understanding, which risks triggering premature criminalization. This community service program aims to enhance the public’s capacity for self-defense through legal education via a National Webinar-based Participatory Legal Education initiative. Using interactive and dialogic methods, this initiative involves legal practitioners, academics, and the general public to analyze the legal implications and mitigate the risks associated with the legal transition. Based on Soerjono Soekanto’s theoretical framework of legal awareness, evaluation results show a significant increase across all dimensions of participants’ legal awareness, with the highest surge occurring in the indicators of legal behavior and legal understanding. Comparative analysis indicates that participatory outreach methods are effective in transforming normative knowledge into tactical actions, such as readiness to utilize pretrial mechanisms and the right to legal representation. As reflected in the supporting documents, this initiative has proven to be crucial as a social and legal mitigation tool in addressing the structural challenges of the transition period. The program recommends continuing legal literacy efforts at the grassroots level and fostering cross-sectoral collaboration to ensure accountability in democratic law enforcement. ABSTRAK Indonesia tengah memasuki era baru dekolonisasi sistem hukum pidana Indonesia menuju paradigma restoratif dan rehabilitatif, dengan pemberlakuan UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP Baru) dan UU No. 20 Tahun 2025 (KUHAP Baru) pada 2 Januari 2026. Namun, proses legislasi yang dinilai tergesa-gesa memicu kesenjangan antara cita hukum (das Sollen) dengan realitas lapangan (das Sein), khususnya terkait potensi pelemahan hak sipil akibat perluasan wewenang upaya paksa aparat tanpa pengawasan yudisial yang ketat. Kesenjangan ini diperparah oleh minimnya pemahaman masyarakat, yang berisiko memicu kriminalisasi prematur. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas pertahanan hukum mandiri masyarakat melalui inovasi Penyuluhan Hukum Partisipatif berbasis Webinar Nasional. Menggunakan metode interaktif-dialogis, kegiatan ini melibatkan praktisi hukum, akademisi, dan masyarakat umum untuk membedah implikasi yuridis dan mitigasi risiko transisi hukum. Berdasarkan kerangka teori kesadaran hukum Soerjono Soekanto, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh dimensi kesadaran hukum peserta, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada indikator perilaku hukum dan pemahaman hukum. Analisis komparatif menunjukkan bahwa metode penyuluhan partisipatif efektif mentransformasi pengetahuan normatif menjadi tindakan taktis, seperti kesiapan menggunakan mekanisme praperadilan dan hak pendampingan hukum. Sebagaimana tercermin dalam dokumen pendukung, inisiatif ini terbukti krusial sebagai instrumen mitigasi sosial-yuridis dalam menghadapi tantangan struktural masa transisi. Program ini merekomendasikan keberlanjutan literasi hukum di tingkat akar rumput dan sinergi lintas sektor untuk mengawal akuntabilitas penegakan hukum yang demokratis.
Sex Assignment and Legal Protection for Children with DSD in Indonesia: A Normative Analysis of Legal, Medical, and Religious Perspectives Hanum Ferdian; Ahmad Jamaludin
Research Horizon Vol. 6 No. 4 (2026): Research Horizon - Agustus 2026
Publisher : LifeSciFi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54518/rh.6.4.2026.1482

Abstract

Disorders of sex development involving ambiguous genitalia present complex challenges because sex assignment decisions intersect with medical uncertainty, child rights, positive law, Islamic jurisprudence, and socio-cultural expectations. In Indonesia, the absence of DSD-specific regulations may create uncertainty regarding sex assignment, informed consent, multidisciplinary decision-making, and irreversible genital surgery. This study aims to examine the Indonesian legal framework governing sex assignment and legal protection for pediatric patients with DSD, assess its consistency with international medical standards, identify disharmony among legal, Islamic, and cultural perspectives, and formulate a harmonization framework. The study uses a normative juridical approach through library research, employing statutory, conceptual, comparative, and gap analysis methods. The findings reveal four principal regulatory gaps: the absence of DSD-specific technical guidelines, mandatory multidisciplinary team requirements, legal safeguards for deferring irreversible surgery, and mechanisms for progressive child participation. The study also identifies terminological, substantive, and operational disharmony between positive law, Islamic jurisprudence, medical standards, and socio-cultural practices. It concludes that Indonesia needs an integrated, child-centered DSD regulatory framework that emphasizes multidisciplinary assessment, DSD-specific informed consent, protection against premature irreversible interventions, and culturally and religiously sensitive family counseling to safeguard children’s long-term rights and best interests.
Mapping Knowledge, Raising Awareness: How Do Health Law Research Trends in Indonesia Progress? Rifaldy Nabiel Erisadana; Ahmad Jamaludin
Research Horizon Vol. 6 No. 4 (2026): Research Horizon - Agustus 2026
Publisher : LifeSciFi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54518/rh.6.4.2026.1520

Abstract

Health law in Indonesia has expanded alongside regulatory reform, digital healthcare, public health challenges, and emerging legal issues, yet its overall research development remains insufficiently mapped. This study maps the development, productivity, citation impact, institutional distribution, and thematic evolution of health law research related to Indonesia. A quantitative bibliometric analysis was conducted using 82 documents. Publication and affiliation trends were analyzed through Scopus, citation impact was examined using Publish or Perish, and keyword co-occurrence and overlay visualizations were generated using VOSviewer. The findings indicate substantial growth in publications since 2019, with the highest output recorded in 2025. Research productivity was concentrated in major Indonesian universities, particularly Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, and Universitas Airlangga. Highly cited publications primarily addressed telemedicine, public health, medical dispute resolution, and pandemic governance. Keyword analysis revealed interconnected themes involving health law, healthcare, public health, human rights, mental health, and health policy, with an apparent shift toward contemporary and applied issues. Health law research in Indonesia is developing into a multidisciplinary and increasingly policy-oriented field.
Analisis Kebijakan Hukum Terhadap Pengguna Autonomous Drive Pada Kecelakaan yang Mengakibatkan Kematian Dalam Perspektif Pembaharuan Hukum Pidana Fasa Muhamad Hapid; Ahmad Jamaludin
Hukum dan Masyarakat Madani Vol. 14 No. 1 (2024): Mei
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/humani.v14i1.8151

Abstract

Autonomous drive atau kemudi otomatis memungkinkan kendaraan bergerak tanpa pengemudi, fitur ini memberi dampak yang positif dalam perkembangan dunia transportasi karena bisa mempermudah manusia dan fitur ini juga sedang coba dikembangkan di Indonesia, namun karena sistem yang menjadi pengendali utamanya, fitur ini juga memungkinkan terjadinya kecelakaan karena kegagalan sistem. Maka, penelitian ini akan berupaya untuk melihat bagaimana pengaturan hukum terkait fitur ini jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan kematian, sudah sejauh mana pengaturannya di Indonesia dan bagaimana kemungkinan pemidanaannya jika dikaitkan  dengan perspektif pembaharuan hukum pidana. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang juga bersifat preskriptif. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan perbandingan, undang-undang dan konseptual. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: Pertama, perkembangan fitur autonomous drive di Indonesia adalah sebuah dilematis karena perkembangan dan pengembangannya belumlah dibarengi dengan kehadiran regulasi terkait, yang mana regulasinya masihlah berpedoman pada Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan termasuk juga ketentuan pidananya, padahal tidak bisa dipersamakan antara kendaraan autonomous drive dengan kendaraan konvensional. Kedua, pemerintah sejatinya tidak harus menunggu terjadi dulu kecelakaan yang menyebabkan kematian untuk membuat aturan hukum pidana, ada asas precautionary principle atau kehati-hatian yang bisa dijadikan sebuah dasar untuk mengatur pemidanaan, karena sesuai juga dengan teori pemidanaan relatif, yang mana bisa dikaitkan dengan pembaharuan hukum pidana yang salah satu tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan untuk hal yang mungkin saja terjadi.
Co-Authors AA Sudharmawan, AA Ahmad Ma’mun Fikri Ani Suryani Anri Iryana Ardiyanti, Novita Arief Koswara Arvin William Alphazandra Aryaningruh, Eunike Astuti, Felly Dwi Azmi, Rahma Nur Kamilatul Bihar, Syamsul Budi Santoso Chiko, Syahruddin Dame Lestaria Dandi Ditia Saputra Dede Hermawan Deden Sumantry Egi Fauzi Erliana, Rena Erna Listiawati Erna Listiawati Ervandha, Mochammad Fasa Muhamad Hapid Fasa Muhamad Hapid Fathan Mubiina Flea Akbar Permana Hanum Ferdian Happy Yulia Anggraeni Hasanah, Rizka Hendri Darma Putra Hesti Apriliani Ihsan Mahfudz Ima Nursyami Irfan Hakim, Muhammad Joni Aji Pangestu Juliantary, Sella Romika Jumrati Lakoro, Danny Des Kartyko Laura Mande Nata Listiawati, Erna M Kautsar Thariq Syah Makhfud, Mukhamad Martin Benyamin Chandra Mohammad Muammar Zaky Mohd Zakhiri Md Nor Mubiina, Fathan Muhammad Al Hadad Muhammad Hafiy Bin Abdul Rashid Najah, Nurun Noviyanti Noviyanti Nuraeni, Risti Dea Nurzakiya, Anisa Prastiono, Suryo Purwadi Pusdikawati, Rani Putra, Naufal Dekananda Anggara Putri, Junia R. Irma Rachmawati, R. Irma Ramadhan, Noval Ratna Sari Putri Adiwijaya Ratu Arti Wulan Sari Ridwan, Ahmad M. Rifaldy Nabiel Erisadana Rino Rachmatullah Risa Helilintar Risky Aswi Ramadhani Rizali, Deden Fajar Ronaldo William Limadibrata Sabar Sabar Saiful Anwar Saputra, Dandi Ditia Sayid Muhammad Rifqi Noval Sihombing, L. Alfies Soecipto Soecipto Soecipto Soecipto Soecipto, Soecipto Sony Nurmansyah Suci Nurlaeli SUMITRA, SYAMSUL Susilo, Dody Hendro Sutarya, Idat Mustari Teti Ratnasari Tua, Rolando Wandari, Tsania Wibowo, Dimas Arif Yeni Nuraeni Yuyut Prayuti