Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

POLA SEBARAN SPASIAL JENIS Macaranga gigantea (Rchb.f. & Zoll.) Müll.Arg. DI HUTAN PENDIDIKAN FAHUTAN UNMUL: Spatial distribution pattern of Macaranga gigantea (Rchb.f. & Zoll.) Müll.Arg. in Fahutan Unmul Forest Education Hidayatul Latifah; Paulus Matius; Rita Diana
HUTAN TROPIKA Vol 15 No 2 (2020): Volume 15 Nomor 2 Tahun 2020
Publisher : Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jht.v15i2.2167

Abstract

Macaranga gigantea was one of the pioneer species who started the succession process after the forest fires and grew as dominant species. Therefore, the information on the spatial distribution pattern of M. gigantea is required as necessary data to determine the strategy for managing forest after forest fires. This study aimed to map out of distribution and identified the spatial distribution pattern of M. gigantea. Spatial analysis was to mapping out the location of M. gigantea distribution using remote sensing technology. Vegetation analysis was done by setting up a quadratic method in a square-shaped observation plot in 100 m track and then put into the location of the spread of M. gigantea by a purposive sampling method. The result showed that the spatial pattern of M. gigantea distribution tends to clump. The spatial pattern tends to clumped caused by thesimilarity of life needs between individuals, especially for light. Keywords: Pioneer species, spatial distribution pattern, composition and structure of vegetation
KEHADIRAN DAN KERAGAMAN HERBA-LIANA SEBAGAI SUMBER PAKAN SATWA LIAR DI KAWASAN REKLAMASI PASCATAMBANG BATUBARA PT KIDECO JAYA AGUNG, PASER, KALIMANTAN TIMUR Slamet Rohmadi; Yaya Rayadin; Paulus Matius; Yosep Ruslim
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2018.4.2.71-82

Abstract

Kegiatan pemulihan fungsi kawasan ekosistem pascatambang dilakukan melalui kegiatan reklamasi dan revegatasi lahan. Penilaian keberhasilan kegiatan reklamasi dan revegetasi selama ini hanya didasarakan pada pertumbuhan dan keberadaan tanaman pokoknya. Kehadiran dan keragaman jenis tumbuhan bawah herba dan liana dikawasan reklamasi pascatambang belum menjadi indikator dalam penilaian keberhasilan kegiatan reklamasi. Kehadiran jenis herba-liana sendiri sangat penting bagi sumber pakan satwa liar yang ada didalamnya. Oleh karena ini dalam penelitian ini dilakukan perhitungan kehadiran dan keragaman jenis herba-liana pada berbagai variasi umur tanaman reklamasi yang berbeda. Tingkat keragaman dan kehadiran didasarkan pada nilai frekuensi kehadiran pada masing masing subplotnya. Dari tabel 11 variasi umur tanaman yang berbeda menunjukkan bahwa semakin berkembang umur tanaman reklamasi akan diikuti pula oleh penambahan keanekaragaman jenisnya herba dan liana. Frekuensi dari 176 kehadiran menunjukkan bahwa jenis yang paling banyak hadir adalah jenis Zoysia matrella 80,7% (142 dari 176) diikuti oleh jenis Mucuna sp. 75% (132 dari 176) dan Asystasia intrusa 59,1% (104 dari 176). Secara umum kehadiran jenis tumbuhan bawah kategori herba liana sangat penting dalam mempercepat pemulihan ekosistem pascatambang.
STRATEGI ADAPTASI MASYARAKAT KUTAI MENGHADAPI PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI BERBASIS SDA (STUDI KASUS: WILAYAH KEDANG IPIL, KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR) Hermin Efendi; Mustofa Agung Sardjono; Paulus Matius
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2018.4.2.95-108

Abstract

ABSTRAKMasalah utama yang dihadapi oleh masyarakat Kutai di wilayah Kedang Ipil adalah terkait ketergantungan mereka pada penggunaan lahan dan hasil hutan mulai terbatas karena perkembangan pembangunan ekonomi berbasis sumberdaya alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi adaptasi masyarakat Kutai wilayah Kedang Ipil dalam menghadapi perubahan lingkungan biofisik dan sosial sebagai implikasi dari perkembangan pembangunan ekonomi berbasis sumberdaya alam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pemaparan secara deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara mendalam (indepth-interview), studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan sosial dalam aspek sosial ekonomi masyarakat dan aspek sosial budaya. Dalam perubahan sosial yang dihadapi masyarakat mengadaptasi mata pencaharian diversifikasi melalui pola napkah ganda, mempertahankan sistem berladang berpindah, mengumpulkan/berburu berbagai hasil hutan non-kayu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya. Adaptasi proses dilakukan oleh masyarakat adalah proses adaptasi yang adaptif di mana perubahan ini memiliki dampak positif pada keberlanjutan hutan (SDA).Kata kunci: Adaptasi, Strategi
PERILAKU BERSARANG ORANGUTAN MORIO (Pongo pygmaeus morio) PADA HABITAT DI SEKITAR SUNGAI SANGATA KANAN Zheri Hermawan; Yaya Rayadin; Paulus Matius; Yosep Ruslim
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2019.5.1.11-20

Abstract

Perubahan lanskap hutan alami akibat aktifitas pembangunan ekonomi maupun bencana kebakaran hutan memberi dampak kepada keberadaan habitat dan populasi Orangutan morio (Pongo pygmaeus morio). Kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan morio di Kalimantan Timur saat ini telah terfragmentasi menjadi beberapa unit habitat, dengan luasan yang bervariasi dan tersebar pada berbagai fungsi lanskap. Orangutan morio memiliki perilaku adaptasi yang baik dalam habitatnya. Oleh karena ini dalam penelitian ini dilakukan pengamatan karakteristik pohon sarang dan sarang orangutan morio pada habitatnya di sekitar sungai Sangata Kanan. Hasil pengamatan dijumpai 26 sarang di 25 pohon sarang dengan jenis Ulin (Eusideroxylon zwageri) yang paling banyak digunakan. Pada jalur transek tidak ditemukan sarang tipe A dan B. Secara umum, karakteristik sarangnya sangat penting dalam pemahaman kondisi habitat orangutan.
Keragaman Jenis Tumbuhan Berkhasiat Obat Di Kampung Sakaq Lotoq Kabupaten Kutai Barat Zefanius Zefanius; Kiswanto Kiswanto; Paulus Matius
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2020.6.1.51-62

Abstract

Pengetahuan tradisional yang memanfaatkan tumbuhan untuk mengobati berbagai penyakit telah dimiliki dan dipertahankan oleh masyarakat secara turun temurun. Sebagai contoh, pengetahuan suku Dayak yang bermukim di pedalaman hutan Kalimantan cukup besar sehingga dapat memilih dan memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan obat secara tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis tumbuhan yang telah digunakan secara tradisional oleh masyarakat suku Dayak Tunjung dan Dayak Benuaq di Kampung Sakaq Lotoq sebagai obat. Pengumpulan data-data lapangan menggunakan metode purposive sampling dan wawancara langsung dengan tokoh adat, petinggi kampung, dan para pembeliatn (dukun pengobatan). Penelitian ini telah menemukan 48 jenis tumbuhan dari 28 suku yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan sebagai obat adalah daun dan akar. Jenis tumbuhan berkhasiat obat tersebut telah dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat untuk menyembuhkan 29 jenis penyakit.
DINAMIKA JENIS Macaranga gigantea: DAMPAK DARI TEBANG PILIH DAN KEBAKARAN HUTAN DI KALIMANTAN TIMUR: Dynamics of Macaranga gigantea: Couple impact of selective logging and forest fire in East Kalimantan Sutedjo Sutedjo; Paulus Matius; Rita Diana; Rohman Rohman
Jurnal Silva Tropika Vol. 5 No. 1 (2021): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v5i1.12291

Abstract

The aim of the study is to analyze the dynamics of Macaranga gigantea for 12 years from 2005 to 2016. The indicator used is the Important Value Index (INP) which includes density, dominance and type frequency. Measurements on trees up to 10 cm in diameter, carried out on a permanent plot derived from light, heavy and medium cuts, with each sample plot covering an area of 3 ha. Identification has found 11 species of Macaranga spp. The species that dominates the highest INP is M. gigantea, followed by M. hypoleuca and M. triloba. The results of the analysis showed that Type M. gigantea had the highest number of individuals during 12 years of observation and that the presence of Type M. gigantea had reached the highest number in 10 years after fire disturbances. In addition, the type of M. gigantea present in forest research areas due to light logging is 2 (two) times more than heavy cutting because the heavy cutting of the area is very open to competition between species of pioneer plant.
Persepsi Masyarakat terhadap Adanya Penangkaran Rusa untuk Mengetahui Potensi Pemanfaatan Daging Rusa di Penangkaran Rusa Wana Wisata, Buana Jaya, Tanjung Sari, Bogor Eva Oktaviani; Yaya Rayadin; Chandradewana Boer; Paulus Matius; Emi Purwanti; Rachmad Budiwijaya Suba
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 23, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v23i1.2925

Abstract

Efforts to protect nature is one of the main things and is quite important in order to maintain all levels of life in this universe. Conservation of nature is the main thing that is most influential for humans to survive, but as time goes by, the existence of nature is increasingly threatened. Preserving nature can be done in situ and ex-situ. One of the efforts in preserving nature ex-situ can be done with captivity efforts so that it can overcome the level of extinction. The research was carried out using a descriptive method with a cross-sectional approach in several stages, namely the interview was conducted by giving several questions to the respondents in the form of a questionnaire and there were 25 women and 36 men as respondents who gave opinions regarding the management of deer breeding and the use of venison. in West java. The results of interviews conducted from 61 respondents produced the following data, namely 67.2% agreed about the captive breeding program, 59% of people were interested in the captive breeding program as a tourist attraction, 70.5% of people admitted that deer meat could be consumed, 80.3% claimed that they had never consumed venison, 21.3% knew the benefits of venison, 42.6% admitted that they knew the law regarding illegal deer capture and 24.6% admitted that they knew the law regarding illegal hunting. This research is expected to be a reference for captive managers in Wana Wisata to obtain information about the success of deer breeding and the potential use of deer meat.
Perubahan struktur dan komposisi tegakan pada areal bekas tebangan sistem TPTI di Kalimantan Timur Marjenah Marjenah; Paulus Matius; Doto Tri Purnomo; Kiswanto Kiswanto; Sutedjo Sutedjo
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v7i1.8385

Abstract

Komposisi jenis permudaan alami dan tegakan tinggal, menganalisis struktur dan volume tegakan tinggal pada areal hutan bekas tebangan umur 6 tahun, 4 tahun dan 2 tahun. Metode pembuatan plot menggunakan metode Purposive Sampling. Plot sampel berukuran 20 m x 125 m untuk pohon, sub plot berukuran 5 m x 5 m untuk pancang dan sub plot berukuran 2 m x 2 m untuk data semai. Hasil perhitungan yang diperoleh, komposisi jenis tingkat semai plot umur 6 tahun 29.500 individu/ha (28 jenis), tingkat pancang 7.360 individu/ha (35 jenis), tingkat pohon 356 individu/ha (46 jenis). Pada umur 4 tahun tingkat semai 77.000 individu/ha (26 jenis), tingkat pancang 8.400 individu/ha (33 jenis), tingkat pohon 360 individu/ha (50 jenis). Pada plot umur 2 tahun tingkat semai 44.500 individu/ha (37 jenis), tingkat pancang 2.400 individu/ha (17 jenis), tingkat pohon 272 individu/ha (43 jenis). Struktur tegakan tinggal di plot penelitian menunjukkan pada fase akhir pertumbuhan pohon memiliki jumlah yang semakin sedikit dan terdapat kesinambungan struktur horizontal dan vertikal. Potensi tegakan penebangan pada plot umur 6 tahun, sebesar 561,7 m3/ha dan 385,5 m3/ha; plot umur 4 tahun 406,3 m3/ha dan 150,3 m3/ha; pada plot umur 2 tahun 472,4 m3/ha dan 248,7 m3/ha; semuanya termasuk jenis komersil.
KOMPOSISI JENIS TUMBUHAN BAWAH DI LAHAN REVEGETASI PASCA TAMBANG BATUBARA Krisna Adib Setiawan; Sutedjo Sutedjo; Paulus Matius; Rita Diana
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.595 KB) | DOI: 10.32522/ujht.v1i2.1012

Abstract

Salah satu komponen dari ekosistem hutan hujan tropis adalah tumbuhan bawah. Tumbuhnya secara alami tumbuhan bawah di lahan pasca tambang batubara akan membantu dalam proses memulihkan lahan hutan yang terganggu.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi tumbuhan bawah dan jenis pionir alami di lahan pasca tambang batubara dalam hal kekayaan jenis, keragaman jenis. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode garis berpetak di lahan revegetasi. Hasil inventarisasi diluar lahan revegetasi dijumpai 71 jenis tumbuhan bawah, sedangkan di lahan revegetasi dijumpai 43 jenis tumbuhan bawah. Dari kedua lokasi penelitian, jenis tumbuhan bawah di lahan sekeliling lokasi penelitian dijumpai lebih banyak. Jika dibandingkan dengan data rona awal, jenis tumbuhan bawah lebih beragam pada saat penelitian dilakukan. Kondisi tersebut diduga karena tempat penelitian sebelum dilakukan penambangan merupakan hutan sekunder bekas hutan produksi yaitu Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Di lahan revegetasi terdapat 4 jenis tumbuhan pionir yaitu Homalanthus populneus (Geiseler) Pax., Macaranga gigantea (Rchb.f. & Zoll.) Muell.Arg.,Macaranga tanarius (L.) Muell.Arg., dan Trema orientalis L. (Blume). Lahan pasca tambang batubara merupakan lahan yang mengalami gangguan berat, serta merupakan komunitas yang terkendali oleh manusia, sehingga memiliki keragaman jenis yang rendah.
PROFIL POHON PENGHASIL BUAH JENIS Artocarpus elasticus Reinw. Ex Blume, Artocarpus lanceifolius Roxb DAN Litsea garciae Vidal DI KHDTK DIKLAT KEHUTANAN FAHUTAN UNMUL Rita Diana; Mila Septiana; Paulus Matius; Sutedjo Sutedjo
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.62553

Abstract

Mulawarman University's Forest Area with Special Purpose for Forestry Education and Training is a tropical rainforest with various plant species such as meranti, understory species, lianas and herbs, and edible fruit tree species. The purpose of this study was to determine the profiles of three fruit-producing tree species: Terap, Keledang, and Kalangkala. Furthermore, to understand the relationship between tree diameter and total height and to determine the condition of healthy or deformed trunks. This study lasted approximately five months, from June 2022 to October 2022. The study used a transect sampling technique, with each transect having a width of 20 m and a length of 920 m for transect A, 1000 m for transect B and C, and 600 m for transect D. The analysis relies on data from three different species of fruit-bearing trees. With a diameter of 33.46 cm and a tree height of 19.50 m, Artocarpus elasticus has a high value for its diameter and total height. Artocarpus lanceifolius, with a diameter of 33.75 cm and a total height of 20.50 m, was the medium value. Litsea garciae had the smallest value, with a diameter of 34.90 cm and a full height of 15.60 m. The correlation value of the regression coefficient between the diameter and total height of the three types is medium. This indicates that the diameter of the tree has no effect on the crown's growth.Keywords: Artocarpus elasticus, Artocarpus lanceifolius, Edible fruit trees, Litsea garciae, Tree profileAbstrakKawasan Hutan dengan Tujuan Khusus DIKLAT Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda merupakan suatu kawasan hutan hujan tropis yang memiliki beragam jenis vegetasi diantaranya meranti-merantian, tumbuhan bawah, liana, herba serta jenis buah yang dapat dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui profil dari ke tiga jenis pohon penghasil buah terap, keledang, dan kalangkala, menganalisis korelasi antara diameter dan tinggi total pohon dari ke tiga jenis, serta untuk mengetahui kondisi batang yang sehat atau cacat. Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih lima bulan dari bulan Juni 2022 sampai Oktober 2022. Objek penelitian ini adalah pohon terap, keledang, dan kalangkala. Pengambilan sampel untuk penelitian menggunakan transek dengan masing- masing transek mempunyai lebar 20 m dan panjang transek A 920 m, panjang transek B dan C 1000 m serta panjang transek D 600 m. Hasil pengukuran ke tiga jenis pohon penghasil buah jenis Artocarpuelasticus Reinw Ex Blume memiliki diameter rataan 33,46 cm dengan tinggi  total rata-rata 19,50 m. Jenis Artocarpus lanceifolius Roxb memiliki diameter rata-rata 33,75 cm dengan tinggi total rata-rata 20,50 m. Jenis Litsea garciae Vidal memiliki diameter rata-rata 34,90 cm dengan tinggi total rata-rata 15,60 m. Dari hasil analisis didapat nilai koefisien regresi antara diameter dengan tinggi total dari ke tiga jenis memiliki nilai korelasi sedang, hal ini mengindikasikan bahwa diameter pohon tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi pohon. Kata kunci: Terap, Keledang, Pohon penghasil buah, Kalangkala, Profil pohon
Co-Authors A. Syafei Sidik Ach. Ariffien Bratawinata Adriansyah Adriansyah Agung Adhitya Priahutama Agustina Hura Ahyauddin Ahyauddin Aipassa, Marlon Ivanhoe Andi Nugroho, Andi Anggraini, Yustina Bratawinata, Ach. Ariffien Carolina, Veronica Chandradewana Boer Chandradewana Boer Christian Dini, Gabriella Cicha Rantika Meilani Dendi Nur Ramadani Diana , Rita Diana, Rita Doto Tri Purnomo DWI SURYANTO Emi Purwanti Esti Handayani Hardi Eva Oktaviani Fajriansyah Fajriansyah Haris Retno Susmiyati Hastaniah Hastaniah Hastaniah Hastaniah Hastaniah Hastaniah Hastaniah, Hastaniah Herlambang, Heru Hermin Efendi Hidayatul Latifah IMANG, NDAN Jamilatul Munawarah Karyati Karyati Kasransyah, Kasransyah Kiswanto Kiswanto Kiswanto Kiswanto Komsanah Sukarti Krisna Adib Setiawan Maria Yani Mapa Marjenah Marjenah Marjenah, Marjenah Marlan Usmani Putra Marthomas R Mila Septiana Mustofa Agung Sardjono Nurul Puspita Palupi Ola, Rosa Penaten Parliansyah, Eldi Patmawati, Agatha Lastika Pratama, Micshelin Jhosi PURWANTI, EMI Rachmat Budiwijaya Suba Ramadhanil Pitopang Ratna Wardani Rita Diana Rita Diana Rita Diana Rizki Maharani Rizky Isyarah Rochadi Kristiningrum, Rochadi Rohman Rohman Rujehan Rujehan Rujehan, Rujehan Rukmi Rukmi Rustam Rustam Sepsamli, Letus Slamet Rohmadi Soetioso, Rusdi Suba, Rachmat B Sutedjo Sutedjo Sutedjo Sutedjo Syahrinudin, Syahrinudin Teffani Angela Toma, Takeshi Wasli, Mohd Effendi Wijaya, Anang Adi Yaya Rayadin Yolanda, Resvita Yosep Ruslim Yustina Anggraini Zefanius Zefanius Zheri Hermawan