Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBERDAYAAN KADER DALAM UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SOSIALISASI PENCEGAHAN DINI MALARIA DI WILAYAH KERJA PKM SRI KUNCORO KECAMATAN PONDOK KELAPA KABUPATEN BENGKULU TENGAH TAHUN 2024 Tedy Febriyanto; Jon Farizal; Putri Widelia W; Evi Fitriyani; Yunita, Yunita
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1: Juni 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria is an infectious disease that is still a public health problem in Indonesia. Malaria is caused by protozoa of the Plasmodium group, which is transmitted through mosquito bites. Anopheles sp mosquitoes carry the spinfective Plasmodium parasite which enters the human body through the bite of female mosquitoes. The Plasmodium sp parasites found in humans consist of Plasmodium malariae, Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium ovale and the most recently discovered plasmodium is Plasmodium Knowles. This community service aims to move people to live healthy lives and actively prevent malaria through efforts to increase knowledge and socialize malaria prevention in the PKM Sri Kuncoro Working Area, Central Bengkulu Regency. Method: There are three steps in this community service, namely preparation, implementation, evaluation and monitoring. It is hoped that this activity can increase public knowledge about malaria prevention and move people to live healthy lives. Results: This community service provides insight and knowledge to the community in recognizing clinical symptoms of malaria and forming groups. Conclusion: A team has been formed that has been given knowledge about malaria, information on malaria prevention and information about laboratory examinations that support malaria examinations consisting of cadres in each village and posyandu to carry out information on malaria prevention and health awareness community movements in the Sri Kuncoro Community Health Center Working Area Pondok Kelapa District, Central Bengkulu Regency
SOSIALISASI KONSUMSI DAUN KERSEN (Muntingia Calabura L) UNTUK PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI DESA KANDANG KEC. KAMPUNG MELAYU Tedy Febriyanto; Susiwati, Susiwati; Jon Farizal; Elva Miryani
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1: Juni 2024
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v4i1.7958

Abstract

Penyakit diabetes mellitus adalah penyakit kronik yang membutuhkan penggunaan obat jangka panjang hingga seumur hidup. Sehingga tidak jarang penderita diabetes mellitus mengalami komplikasi pada ginjal dan hati, karena obat-obatan diabetes mellitus menyerap kadar gula di dalam hati dan ginjal yang berlebihan. Selain mengkonsumsi obat, pemberian suntikan insulin juga merupakan alternatif pengobatan apabila obat-obat tidak mampu lagi menurunkan kadar gula. Suntik insulin memiliki efek samping seperti hipoglikemia (penurunan kadar gula darah) hal ini disebabkan banyaknya zat buatan insulin di dalam tubuh (Roihatul & Musriana, 2016). Pengobatan dari terapi obat oral maupun suntikan yaitu harganya yang tidak murah dan memiliki efek samping. Oleh karena itu, banyak digunakan obat tradisional untuk mengobat diabetes mellitus. Obat tradisional adalah obat yang dibuat dengan bahan-bahan alami seperti tumbuhan sebagai bahan dasar obat. Biasanya obat tradisional diolah dengan cara direbus, ditumbuk, atau dicampur dengan sesama bahan tradisional dengan komposisi tertentu. Obat tradisional banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam pengobatan, contohnya yaitu air rebusan daun kersen yang digunakan untuk mengobati diabetes mellitus (Stevani et al., 2016). Rebusan daun kersen terbukti dapat menurunkan kadar gula darah dan dapat dijadikan obat tradisional untuk penderita diabetes mellitus (Stevani et al., 2016). Metode Pelaksanaan :Terdapat tiga langkah dalam pengabdian masyarakat ini yaitu persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan monitoring. Luaran dan Target Capaian : Kegiatan pengabmas ini dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang pentingnya manfaat rebusan daun kersen. Menambah pengetahuan dan informasi pada masyarakat tentang adanya obat alternatif untuk penderita diabetes mellitus tipe 2
STUDI KORELASI KREATININ SERUM DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MINUMAN BERENERGI, MASA KERJA, DAN UMUR PADA PEKERJA BANGUNAN DI KEC. SELEBAR KOTA BENGKULU: CORRELATION STUDY OF SERUM CREATININE WITH ENERGY DRINK CONSUMPTION HABITS, WORKING PERIOD, AND AGE OF CONSTRUCTION WORKERS IN SELEBAR DISTRICT, BENGKULU CITY Safitri Bevi, Rahayu; Irawan, Putra Adi; Farizal, Jon; Farizal, Dahrizal; Sahidan; Asa Dudin, Gani; Vivi Nursalam, Wa Ode
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v17i1.472

Abstract

Pekerja bangunan merupakan salah satu kelompok tenaga kerja yang memiliki beban fisik tinggi dan rentan terhadap gangguan kesehatan. Dalam menjalani aktivitas kerjanya, sebagian besar pekerja bangunan mengandalkan minuman berenergi sebagai penambah stamina dan daya tahan tubuh. Konsumsi minuman berenergi yang mengandung kafein, gula tinggi, dan berbagai zat aditif lainnya, dalam jangka panjang dapat memberikan dampak terhadap ginjal. Kreatinin serum merupakan salah satu indikator penting dalam menilai fungsi ginjal. Selain konsumsi minuman berenergi, faktor-faktor lain seperti masa kerja yang panjang serta pertambahan usia. Kecamatan Selebar Kota Bengkulu salah satu wilayah dengan pekerja bangunan dengan latar belakang usia dan masa kerja beragam yang bekerja rutin di lapangan. Namun, hingga saat ini belum banyak dilakukan kajian ilmiah secara spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi kadar kreatinin serum dengan kebiasaan konsumsi minuman berenergi, masa kerja, dan umur pada pekerja bangunan. Penelitian ini merupakan survei analitik pada pekerja bangunan di Kec. Selebar Kota Bengkulu menggunakan teknik sampling accidental sampling sebanyak sampel 34 responden. Pemeriksaaan kreatinin menggunakan metode Jaffe Reaction. Data selanjutnya dilakukan analisis univariat dan korelasi. Kadar rerata±SD kreatinin responden sebesar 0,84±0,56 mg/dL. Rerata±SD frekuensi konsumsi minuman energi sebesar 5±1,35 kali/ minggu. Rerata ± SD umur responden sebesar 40 ± 10 tahun, dan rerata ±SD Masa Kerja responden sebesar 4,18±0,9 tahun. Hasil analisis korelasi antara kreatini serum dan setiap variabel menunjukkan nilai koefiensi yang variatif. Kadar kreatinin responden memiliki korelasi yang cukup signifikan dengan kebiasaan masa kerja responden (α<0,05). Sedangkan frekuensi konsumsi minuman energi dan usia responden tergolong lemah (α>0,05). Kata Kunci: Kreatinin, Masa Kerja, Minuman Energi, Umur, Pekerja Bangunan   Construction workers are one of the groups with high physical burdens and are susceptible to health problems. In carrying out their work activities, most construction workers rely on energy drinks to increase stamina and endurance. In the long term, consuming energy drinks containing caffeine, high sugar, and various other additives can impact the kidneys. Serum creatinine is one of the critical indicators in assessing kidney function. In addition to energy drink consumption, other factors include long working periods and increasing age. Selebar District, Bengkulu City, is one of the areas with construction workers of various ages and working periods who work routinely in the field. However, until now, there have not been many specific scientific studies. This study aims to see the correlation between serum creatinine levels and energy drink consumption habits, working period, and age in construction workers. This study is an analytical survey of construction workers in Selebar District, Bengkulu City, using an accidental sampling technique with a sample of 34 respondents. Creatinine examination used the Jaffe Reaction method. The data was then analyzed univariately and correlationally. Respondents' mean ± SD creatinine level was 0.84 ± 0.56 mg / dL. The mean ± SD energy drink consumption frequency was 5 ± 1.35 times/week. The mean ± SD age of respondents was 40 ± 10 years, and the mean ± SD length of service of respondents was 4.18 ± 0.9 years. The results of the correlation analysis between serum creatinine and each variable showed varying coefficient values. The creatinine level of respondents had a fairly significant correlation with the habits of the respondent's work period (α <0.05). At the same time, the frequency of energy drink consumption and the age of respondents were classified as weak (α> 0.05). Keywords: Age, Creatinine, Construction Workers, Energy Drinks, Working Period
Gambaran Kadar Kreatinin Pada Petani Sayur Penyemprot Pestisida Di Desa Tangsi Duren Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang Cessa Yulindra, Khania; Halimatussa'diah, Halimatussa'diah; Farizal, Jon
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 1 (2025): Otomatisasi Laboratorium
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i1.1015

Abstract

Paparan terhadap pestisida termasuk dalam faktor risiko yang berpotensi menimbulkan gangguan pada fungsi ginjal, khususnya pada populasi pekerja pertanian. Petani yang terpapar pestisida secara berulang dan jangka panjang berpotensi mengalami peningkatan kadar kreatinin darah yang dapat menjadi indikator dalam menilai fungsi ginjal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kadar kreatinin pada petani sayur penyemprot pestisida di Desa Tangsi Duren Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan design penelitian cross sectional. Sebanyak 32 sampel diteliti menggunakan teknik convenience sampling. Hasil menunjukkan bahwa petani sayur penyemprot pestisida di Desa Tangsi Duren Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang Tahun 2025 memiliki rata-rata kadar kreatinin petani laki-laki sebesar 1,06 mg/dL dan perempuan sebesar 0,83 mg/dL. Sebanyak 21,9% petani menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, sedangkan 78,1% tidak menggunakan APD lengkap. Sebanyak 84,4% melakukan penyemprotan selama ≤3 jam dan >3 jam sebanyak 15,6%. Sebanyak 78,1% menyemprot ≤2 kali seminggu dan >2 kali seminggu sebanyak 21,9%. Petani berjenis kelamin laki-laki 56,2% dan perempuan 43,8%. Rata-rata usia petani yaitu 49 tahun.Rata-rata kadar kreatinin petani sayur penyemprot pestisida di Desa Tangsi Duren Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang Tahun 2025 masih dalam batas normal pada laki-laki dan rata-rata kreatinin di atas nilai normal pada perempuan. Mayoritas petani tidak menggunakan APD lengkap, memiliki lama dan frekuensi penyemprotan yang baik, serta rata-rata berusia 49 tahun. Diperlukan edukasi dan kesadaran lebih lanjut mengenai pentingnya APD serta pengendalian paparan pestisida untuk mencegah gangguan fungsi ginjal.
Uji Efektifivitas Ekstrak Etanol Daun Rambutan (Nephelium lappaceum) Sebagai Hemostasis Terhadap Luka Potong Pada Mencit Jantan Galur Swiss-Webster Septiani Putri, Tria; Rais Khasanah, Heti; Irnameria, Dira; Farizal, Jon; Pudiarifanti, Nadia
Jurnal Pharmacopoeia Vol 1 No 2 (2022): September 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.392 KB) | DOI: 10.33088/jp.v1i2.264

Abstract

Salah satu tanaman yang dapat digunakan dalam pengobatan tradisional adalah daun rambutan (Nephelium lappaceum). Hasil uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa daun rambutan memiliki senyawa berupa alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin, dimana flavonoid dan tanin merupakan senyawa utama yang berperan dalam proses hemostasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Rambutan (Nephelium lappaceum). Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperiment laboratorium dengan desain penelitian yaitu Posttest Only Control Group Design. Hasil pengujian menunjukkan adanya perbedaan efek yang bermakna pada ekstrak daun rambutan. Dalam hal ini ekstrak daun bandotan memiliki efek yang paling efektif sebagai hemostatis dan berbeda nyata dengan pemberian povidon iodin sebagai pembanding.  Ekstrak daun rambutan dengan konsentrasi 10% , 20% , dan 40% dapat memberikan efek hemostatis pada mencit. Pemberian ekstrak daun rambutan dengan konsentrasi 40 % memberikan efek hemostatis yang efektif dengan waktu perdarahan yang lebih singkat yaitu 154,92 detik, tetapi efeknya belum seoptimal dengan pemberian povidon iodin sebagai pembanding.