Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Analisis Flaming Terhadap Pendukung Prabowo-Gibran Pasca Pilpres 2024 Pada Komunitas Marah-Marah di Platform X Fahirah, Hanifah; Andreas, Rino
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v8i1.2510

Abstract

The phenomenon of flaming on social media is becoming increasingly diverse, especially in the political context, which triggers digital polarization. The Marah-Marah community on platform X serves as a space for users to vent their frustrations and express their political views openly, including against voters of 02, who are supporters of the presidential and vice-presidential candidates number 02 in the 2024 election. This research aims to examine how flaming is manifested and categorized within the Marah-Marah community. This study employs qualitative content analysis methods on posts within this community. The research findings identify four forms of flaming in the Marah-Marah community: Direct Flaming that is frontal, Indirect Flaming that is veiled, Straightforward Flames that are blunt, and Satirical Flames that utilize humor or irony. Each has a distinct communication style but is used to convey anger, disappointment, and rejection of certain political choices, indicating that flaming has evolved into a communication culture within the community, normalizing aggressive expression and reinforcing group identity and emotional solidarity in the digital public space. Abstrak Fenomena flaming di media sosial semakin beragam terutama dalam konteks politik yang memicu polarisasi digital. Komunitas Marah-Marah di platform X menjadi wadah bagi pengguna untuk meluapkan kekesalan dan mengekspresikan pandangan politik secara terbuka termasuk terhadap voters 02, yaitu pendukung pasangan presiden dan wakil presiden nomor urut 02 pada pemilu 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana flaming dimanifestasikan dan dikategorikan dalam Komunitas Marah-Marah. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif terhadap unggahan dalam komunitas tersebut. Hasil penelitian menemukan empat bentuk flaming dalam komunitas Marah-Marah yaitu direct flaming yang bersifat frontal, indirect flaming yang terselubung, straightforward flames yang lugas dan satirical flames yang memanfaatkan humor atau ironi. Masing-masing memiliki gaya komunikasi yang berbeda namun digunakan untuk menyampaikan kemarahan dan kekecewaan serta penolakan terhadap pilihan politik tertentu, menunjukkan bahwa flaming telah berkembang menjadi budaya komunikasi di dalam komunitas, menormalkan ekspresi agresif dan memperkuat identitas serta solidaritas emosional kelompok dalam ruang publik digital.
Mahasiswa dalam Belenggu AI: Praktik Konsumsi ChatGPT dan DeepSeek Siti Umaiyah; Rino Andreas; Rony K. Pratama; Septi Anggita Kriskartika; Muhamad Reznu Firsyawardana
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 14 No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, October 2025
Publisher : Laboratory of Anthropology Department, Faculty of Humanity, Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v14i3.3054

Abstract

The rapid advancement of technology has brought significant changes to everyday life. Various activities that previously required human skills can now be gradually replaced by artificial intelligence (AI), such as text generation, language translation, and answering complex questions, which can now be done by platforms such as ChatGPT and DeepSeek. This study seeks to examine in greater depth the forms of acceptance and consumption patterns of ChatGPT and DeepSeek among university students. As an academic group, students have their own interpretations of the presence of these two technologies. This study uses a reception analysis method involving ten informants who belong to Generation Z, and refers to the decision-making theory proposed by George R. Terry and Brinckloe. The results of the study show that the audience has diverse interpretations of ChatGPT and DeepSeek consumption, which are influenced by their respective backgrounds and levels of knowledge. Most informants are in a position of negotiation, while others are in a dominant position that supports the use of AI in the field of higher education.
Rumah ramah rubella sebagai kelompok dukungan online di facebook Andreas, Rino; Kusuma, Rina Sari
Manajemen Komunikasi Vol 4, No 2 (2020): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v4i2.25128

Abstract

Situs jejaring sosial dapat membentuk interaksi sebuah komunitas atau kelompok dukungan online (KDO). KDO merupakan komunitas yang dibentuk dengan tujuan yang sama terkait topik tertentu. Kelompok ini tidak terbatas tempat, waktu, ideologi, status sosial, ekonomi maupun pendidikan. Oleh karena itu, interaksi di dalamnya jauh lebih fleksibel karena bisa berhubungan kapan saja dan dari mana saja. KDO sangat berguna untuk menghubungkan individu dengan orang-orang lain yang memiliki masalah kesehatan serupa. Salah satu bentuk KDO dalam situs jejaring sosial adalah grup Facebook Rumah Ramah Rubella. Penelitian ini bertujuan mengetahui pemanfaatan grup Facebook oleh Rumah Ramah Rubella sebagai kelompok dukungan online. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis isi kualitatif. Sumber data diambil dengan menggunakan teknik purposive, yakni 809 postingan wall dan komentar pada grup Facebook Rumah Ramah Rubella yang dihitung secara manual, selama dua bulan periode kampanye imunisasi MR di Indonesia yaitu Agustus sampai September. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis isi kualitatif menggunakan data koding dengan kategorisasi induktif. Hasil penelitian yang ada dalam grup Facebook menunjukkan bahwa fitur grup Facebook berupa status, gambar, video maupun akses file, bermanfaat dalam sarana dukungan sosial secara online berupa dukungan informasi, dukungan emosional, ruang terbuka ekspresi diri dan sarana promosi terkait dengan Campak dan Rubella, imunisasi MR, maupun penyakit secara umum.
Intergenerational Communication and The Phenomenon of Culture Shock: A Case Study of Member Integration in The Sparko Solo Community Diah Ayu Juliati; Rino Andreas
PERSPEKTIF Vol. 15 No. 2 (2026): PERSPEKTIF April
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/perspektif.v15i2.17497

Abstract

Multigenerational communication in local communities forces individuals to adapt to differences in habits, values, and ways of interacting between generations. This study focuses on the phenomenon of culture shock in the multigenerational integration process in local sports communities, taking the Sparko Solo Community as a case study and the factors that influence the success of social integration within the community. This study uses a descriptive qualitative approach with a case study method. Informants were selected through purposive sampling based on their involvement and experience in the community. Data were obtained through interviews, participant observation, and documentation. Data analysis was carried out through data collection, reduction, presentation, and verification. The results of the study show that culture shock stems from differences in culture, values, communication styles, and participation patterns between generations. Culture shock has four stages: honeymoon, crisis, adjustment, and adaptation. The communication adaptation process, characterized by openness, empathy, and interaction intensity, can strengthen social integration.
AKTIVISME DIGITAL DALAM KONFLIK GAZA: ANALISIS BUDAYA JAMMING PADA GERAKAN BOIKOT PRODUK PRO-ISRAEL Andreas, Rino
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 1 (2026): jurnal ilmu budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v14i1.49334

Abstract

Artikel ini menganalisis fenomena aktivisme digital melalui pendekatan culture jamming dalam gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) terhadap produk-produk yang berafiliasi dengan Israel di tengah konflik Gaza . Studi ini mengadopsi metode deskriptif kualitatif, yang dibingkai melalui lensa teoretis culture jamming seperti yang dipopulerkan oleh Guy Debord. Temuan ini mengungkapkan bahwa para aktivis memproduksi dan memodifikasi gambar dengan merujuk pada identitas merek produk yang diduga berafiliasi dengan atau mendukung Israel dan sekutunya, seperti jaringan makanan cepat saji McDonald’s, perusahaan minuman Pepsi dan Coca-Cola, merek kopi Starbucks, produsen pakaian olahraga Puma, dan waralaba makanan Pizza Hut dan Burger King. Pesan media dibangun melalui wacana satir terhadap produk-produk ini dengan "menambahkan" teks dan elemen visual, menambahkan, memilih, dan memodifikasi tanda dan simbol dengan citra yang mengganggu, seperti darah, bagian tubuh bayi, roket, dan ledakan. Aktivisme digital memungkinkan para "pengganggu" untuk membangun solidaritas kolektif di sekitar tujuan bersama.
Analisis pengungkapan diri pengguna second account instagram: studi etnografi virtual Pamungkas, Galuh Setyaji; Andreas, Rino
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43516

Abstract

Abstract The development of social media encourages individuals to seek alternative spaces for more flexible and private self-expression to overcome the limitations of self-presentation on their primary account. This study aims to analyze the phenomenon of self-disclosure among Instagram second account users through a virtual ethnographic study. This study uses a qualitative approach with a virtual ethnographic method within the constructivism paradigm, which views reality as a result of social construction through online interactions. The research subjects consisted of five informants aged 21– 23 years who actively use their second account. Data were collected through in-depth interviews, observation of communication activities on the second account, and documentation in the form of screenshots of posts and interactions that occur. The results show that self-disclosure practices on the second account encompass five main dimensions, namely the intention for personal documentation and emotional release; honesty in presenting oneself as it is and in real-time; depth of information that touches on personal aspects such as self-identity and family; emotional valence, both positive and negative; and a breadth of topics ranging from hobbies and friendships to romantic issues and academic pressure. Through Erving Goffman's dramaturgical perspective, the primary account is understood as a front stage to maintain self-image, while the second account functions as a back stage that provides a sense of security, closeness, and freedom in displaying an authentic identity without the pressure of digital social norms.. Keywords: Instagram second account; dramaturgy; virtual ethnography; self-disclosure.   Abstrak Perkembangan media sosial mendorong individu mencari ruang alternatif untuk mengekspresikan diri secara lebih fleksibel dan privat guna mengatasi keterbatasan presentasi diri pada akun utama (first account). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena pengungkapan diri (self-disclosure) pengguna second account Instagram melalui studi etnografi virtual.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi virtual dalam paradigma konstruktivisme, yang memandang realitas sebagai hasil konstruksi sosial melalui interaksi daring. Subjek penelitian terdiri atas lima informan berusia 21–23 tahun yang aktif menggunakan akun kedua. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi aktivitas komunikasi pada second account, serta dokumentasi berupa tangkapan layar unggahan dan interaksi yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik self-disclosure pada second account mencakup lima dimensi utama, yaitu intensi untuk dokumentasi pribadi dan pelepasan emosi; kejujuran dalam menampilkan diri secara apa adanya dan real-time; kedalaman informasi yang menyentuh aspek personal seperti identitas diri dan keluarga; valensi emosional baik positif maupun negatif; serta keluasan topik yang beragam mulai dari hobi, pertemanan, hingga persoalan asmara dan tekanan akademik. Melalui perspektif dramaturgi Erving Goffman, akun utama dipahami sebagai front stage untuk menjaga citra diri, sedangkan second account berfungsi sebagai back stage yang menghadirkan rasa aman, kedekatan, dan kebebasan dalam menampilkan identitas autentik tanpa tekanan norma sosial digital. Kata-kata kunci: Akun kedua instagram; dramaturgi; etnografi virtual; pengungkapan diri.
Representasi kecantikan pada musik video Mantra Jennie: studi semiotika Barthesian Piliang, Angelia Ulfimudana; Andreas, Rino
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43597

Abstract

Abstract This research is driven by the complex and multi-dimensional nature of beauty, which is frequently confirmed to rigid, patriarchal physical standards, particularly within the K-pop industry’s “Korean Beauty Standard.” Media, specifically music videos, serve as pivotal instruments in disseminating these values, yet they also function as arenas for deconstructing stereotypes. Jennie’s Mantra was selected as the study object because it represent a shift in the meaning of beauty, moving from mere visual aesthetics to a form of self-empowerment and inner strength aligned with global feminist movements. The objective of study is analyze the representation of beauty in the Mantra music video through Roland Barthes’ perspective to understand how beauty is constructed within the context of contemporary popular culture. The methodology employed is qualitative, utilizing Roland Barthes’ semiotic approach to dissect signs through three layers of meaning denotation, connotation, and myth. data were collected through in dept observation of the lyrics and visual elements within the music video. The findings reveal that beauty in Mantra is not singular but is constructed into four primary categories. Empowering beauty, emphasizing control and strength, Inclusive beauty, celebrating ethnic diversity, prestige beauty, linking beauty to social status and global success, and beauty as a medium for freedom of expression. In conclusion, the study assert that Jennie successfully shifts the myth of beauty from a passive object judged by society into an autonomous, empowered subject. This representation demonstrates that beauty now function as a means of articulating female identity and agency within a highly competitive entertainment industry Keyword: Beauty representation; semiotics; Roland Barthes, music video, popular culture.   Abstrak Studi ini muncul dari masalah standar kecantikan yang kerap terpaku pada bentuk fisik kaku dan berbau patriarki, terutama pada dunia K-Pop yang begitu melekat dengan Korean Beauty Standard. media seperti video musik punya andil besar dalam menyebarkan nilai-nilai tersebut, tetapi sekaligus dapat menjadi ruang untuk membongkar stereotip-stereotip tersebut. Lagu Mantra milik Jennie menjadi fokus studi karena lagu ini menandai perubahan arti kecantikan dari sekadar tampilan luar menuju pemberdayaan diri dan kekuatan inner yang selaras dengan gelombang feminisme global. Penelitian ini bertujuan untuk mengurai representasi kecantikan di musik video Mantra melalui kacamata Roland Barthes, sehingga bagaimana konsep kecantikan direkonstruksi di tengah budaya populer dapat dipahami. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan semiotika milik Barthes, yang mengupas tanda-tanda lewat tiga tingkatan makna denotasi, konotasi, dan mitos. datanya diambil dari pengamatan teliti terhadap lirik lagu dan visual-visual di video musiknya. Hasil studi ini mengungkapkan bahwa kecantikan dalam Mantra tidak bersifat tunggal, tetapi terbagi menjadi 4 kategori. Empowering beauty menyoroti kendali dan kekuatan pribadi, Inclusive beauty menyoroti keberagaman ras dan etnis, prestige beauty yang menghubungkan cantik dengan status sosial serta kesuksesan global, dan kecantikan sebagai kebebasan dan ekspresi diri. Jennie mengubah mitos kecantikan dari pasif yang dinilai menjadi subjek mandiri yang berkuasa. Hal tersebut menjadi bukti kalau kecantikan sekarang menjadi alat untuk mengungkapkan identitas dan kekuatan perempuan di industri hiburan. Kata-kata Kunci: Representasi kecantikan; semiotika; Roland Barthes; musik video; budaya populer.