Claim Missing Document
Check
Articles

Keragaman Jenis Tumbuhan Bawah Pada Tegakan Kelapa Sawit Dan Potensinya Sebagai Pakan Ternak Sapi Potong (Kasus Di Desa Kungkai Baru Kabupaten Seluma) Jhon Firison; wiryono wiryono; Bieng Brata
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 8 No. 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.8.1.9168

Abstract

Tumbuhan bawah adalah salah satu lapisan pada kawasan hutan yang terletak di bawah kanopi pohon yang terdiri atas tumbuhan berkayu, semak, tanaman merambat, dan herba Penelitian berjudul “Identifikasi Jenis Tumbuhan Bawah pada Tegakan Kelapa Sawit dan Potensinya sebagai Pakan Ternak Sapi Potong” telah dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan September 2018 di Desa Kungkai Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma. Tujuan penelitian yaitu: (1) mengidentifikasi keragaman jenis tumbuhan bawah pada tegakan kelapa sawit umur 2, 7, dan 15 tahun, (2) menghitung dominasi jenis tumbuhan bawah, dan (3) menentukan daya tampung ternak sapi potong pada berbagai umur tegakan kelapa sawit. Pengumpulan data dilakukan dengan cara: (1) sampling tumbuhan bawah dengan kuadran ukuran 1 x 1 meter pada 26 plot pengamatan yang dilengkapi dengan dokumentasi foto, (2) identifikasi jenis tumbuhan bawah menggunakan buku panduan identifikasi dan situs internet, (3) penghitungan biomassa berdasarkan hasil analisis laboratorium, dan (4) menentukan tingkat kesukaan ternak sapi potong (palatabilitas) terhadap tumbuhan bawah berdasarkan hasil wawancara dengan 4 orang peternak. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) ditemukan 53 jenis tumbuhan bawah pada seluruh tegakan kelapa sawit yang terdiri atas 46 genus dan 29 famili; (2) famili Poaceae merupakan tumbuhan bawah penting pada seluruh umur tegakan kelapa sawit; (3) daya tampung tumbuhan bawah pada tegakan kelapa sawit berumur 2, 7, dan 15 tahun semakin menurun dengan bertambahnya umur tegakan, berturut-turut 2,01, 1,37, dan 0,76 ST/hektar/tahun.Kata kunci : tumbuhan bawah, kelapa sawit, daya tampung, sapi potong
HUBUNGAN PARAMETER LINGKUNGAN DENGAN PREVALENSI Infectious Myonecrosis Virus DI TAMBAK INTENSIF UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) KABUPATEN KAUR Aan Fibro Widodo; Yar Johan; Bieng Brata; Dadang Suherman
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.10.1.17285

Abstract

Kabupaten Kaur merupakan wilayah terdekat dengan Provinsi Lampung memiliki kondisi perairannya masih sangat potensial untuk dilakukan pengembangan ekonomi khususnya untuk usaha budidaya tambak udang vaname. Kualitas lingkungan yang baik menjadikan Kabupaten Kaur primadona baru sentra budidaya udang vaname di Sumatera. Tercatat 37 perusahaan tambak udang semi-intensif dan intensif telah beroperasi di Kabupaten Kaur. Masalah yang dihadapi dalam budidaya udang vaname secara intensif adalah kerentanan udang tersebut terhadap penyakit seperti Infectious Myonecrosis Virus (IMNV). Mortalitas infeksi IMNV mencapai 70% dan saat ini menjadi salah satu penyakit penting yang telah memengaruhi industri budidaya udang vaname di dunia. Sampai saat ini data terkait data prevalensi serangan penyakit IMNV pada udang vaname di Propinsi Bengkulu masih sangat minim. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian terkait prevalensi IMNV dan korelasi parameter kualitas air terhadap resiko serangan penyakit IMNV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan parameter lingkungan yang berkorelasi terhadap prevalensi IMNV pada tambak udang vannmei di Kabupaten Kaur. Penelitian ini dilakukan di tambak udang intensif PT. ABC yang berlokasi di Kecamatan Maje Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Penelitian ini merupakan studi observasi dengan rancangan studi purpossive sampling menggunakan teknik sampling terhadap sampel udang untuk deteksi dan identifikasi penyakit IMNV. Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas air tambak udang vannamei selama penelitian berada dalam kisaran toleransi untuk kelangsungan hidup udang vannamei dengan tingkat prevalensi IMNV sebesar 31,94%. Parameter lingkungan tambak berkorelasi kuat dengan prevalensi serangan IMNV
ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS SEBAGAI INDIKATOR PENGELOLAAN PERAIRAN DI MUARA SUNGAI JENGGALU KOTA BENGKULU Etty Herawati; Bieng Brata; Zamdial Zamdial; Marulak Simarmata; Dede Hartono
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.10.2.20397

Abstract

Aliran Sungai Jenggalu di Kota Bengkulu melalui Kecamatan Kampung Melayu, meliputi Kelurahan Kandang Mas, Kelurahan Muara Dua, Kelurahan Padang Serai, Kelurahan Sumber Jaya, Kelurahan Teluk Sepang dan Kelurahan Kandang. Kecamatan Kampung Melayu mempunyai luas wilayah ± 23,14 km2 dengan jumlah penduduk 39.523 jiwa.Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis kualitas berbagai parameter perairan di Muara Sungai Jenggalu, dan menganalisis struktur komunitas makrozoobenthos yang hidup di Muara Sungai Jenggalu sebagai bioindikator kualitas perairan.Penelitian ini memerlukan dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Analisis Data : Kepadatan Makrozoobenthos,Indeks Keanekaragaman Jenis, Indeks Keseragaman Jenis, Indeks Dominansi, pengelolaan perairan secara diskriftif. Hasil identifikasi makrozoobenthos yang didapatkan pada saat penelitian di perairan Muara Sungai Jenggalu adalah sebanyak 4 (empat) Kelas, yaitu : kelas Pelecypoda, kelas Gastropoda, kelas Polychaeta, kelas adalah Artropda. Kisaran indeks keseragaman jenis (E) pada setiap stasiun adalah : Stasiun 1 (0,89-0,94) rata-rata 0,92 ; stasiun 2 (0,73-0,88) rata-rata 0,84, dan stasiun 3 (0,56-0,61) rata-rata 0,58. Kisaran indeks Dominansi (D) pada setiap stasiun adalah : Stasiun 1 (0,19-0,21) rata-rata 0,20; stasiun 2 (0,24-0,34) rata-rata 0,26 dan stasiun 3 (0,51-0,57) rata-rata 0,54.
ANALISA KUALITAS LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU DAN STRATEGI PENGELOLAAN PENANGANAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU WILAYAH KABUPATEN REJANG LEBONG Dessy Masitho; Mustopa R; Bieng Brata; Dadang Suherman
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.10.2.20403

Abstract

Penelitian mengenai analisa kualitas limbah cair industri tahu dan strategi pengelolaan penanganan limbah cair industri tahu wilayah kabupaten rejang Lebong. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur mutu limbah cair serta menjelaskan apakah sesuai dengan standar baku mutu limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan dan untuk menyusun strategi pengelolaan dan penanganan limbah cair apakah sudah baik sesuai dengan ketentuannya. Hasil penelitian bahwa berdasarkan pengukuran mutu limbah cair bagi usaha dan atau Kegiatan Pengolahan Kedelai ada parameter lingkungan yang Tidak Memenuhi Syarat (TMS) sesuai dengan Peraturan Menteri LH RI No. 5 tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pengolahan Kedelai. Teknik analisis yang digunakan meliputi metode pengumpulan sampel berdasarkan SNI 19-3964-1995 serta menggunakan analisa metode SWOT untuk menentukan strategi Pengelolaan dan Penanganan Limbah Cair Industri Tahu Wilayah Kabupaten Rejang Lebong adalah strategi Hold and Maintain yang berarti memiliki dua strategi yaitu strategi penetrasi limbah cair industri tahu dan penanganan limbah cair industri tahu di Wilayah Kabupaten Rejang Lebong. Strategi ini meningkatkan cara pengelolaan dan penanganan limbah cair. Strategi penetrasi pengelolaan dan penanganan limbah cair industri tahu di Wilayah Kabupaten Rejang Lebong meliputi meningkatkan pengelolaan sistem ragam teknologi IPAL. Dan alternatif Strategi S-O dimana strategi ini menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang. Artinya pelaku industri tahu wilayah Kabupaten Rejang Lebong harus menggunakan kekuatan yang ada untuk memanfaatkan peluang dengan sebaik mungkin. Berdasarkan hasil alternatif strategi S-O maka didapat strategi yaitu strategi melalui pengelolaan limbah cair dengan menggunakan ragam teknologi Instalasi Pengelolaan Limbah cair (IPAL).
Pemanfaatan Kotoran Sapi untuk Budidaya Cacing Tanah dan Produksi Vermikompos di Wonoharjo Girimulyo Kabupaten Bengkulu Utara Urip Santoso; Jarmuji Jarmuji; Bieng Brata
DHARMA RAFLESIA Vol 18, No 2 (2020): DESEMBER (ACCREDITED SINTA 5)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/dr.v18i2.12951

Abstract

Masalah petani di Desa Wonoharjo, Kecamatan Girimulya adalah tingginya pencemaran akibat penumpukan kotoran sapi. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah mengenalkan konversi kotoran sapi menjadi vermikompos. Tahapan kegiatannya adalah sosialisasi, pelatihan, demplot, uji coba lapangan dan evaluasi. Pada tahap sosialisasi diperkenalkan pemanfaatan kotoran sapi untuk pembuatan vermikompos. Pada tahap pelatihan dilakukan demplot vermikompos. Uji lapang vermikompos yang dihasilkan dilakukan dengan menguji 30 bibit kelapa sawit yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok 1 vermikompos, kelompok 2 pupuk kandang dan kelompok 3 NPK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani tertarik untuk membuat vermikompos. Vermikompos dapat digunakan sebagai pupuk untuk bibit kelapa sawit pengganti NPK. Bisnis vermikompos memberikan penghasilan tambahan bagi petani. Jadi, pengabdian pada masyarakat memotivasi petani untuk menggunakan vermikompos.
Penggantian Sebagian Ransum Komersil oleh Jagung dan Pengaruhnya terhadap Kualitas Fisik Daging Broiler Olfa Mega; Bieng Brata; Johan Setianto
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol. 19 No. 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.732 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v19i1.3105

Abstract

The study aimed to evaluate the physical quality of broiler meat that give commercial ration partially substituted by corn. The study used 80 broiler chickens aged 21 days. Chicken is divided into 4 (four) groups of body weight as replicates, each group consisted of 5 replicates chickens. The treatments were given in this study consisted of substitution of 0%, 10, 20% and 30% by commercial ration of corn. The results showed that the use of corn as a substitute for commercial ration significantly (P <0.05) to the water holding capacity, cooking loss and meatbone ratio, but not significant (P> 0.05) on the pH value of the meat. Water holding capacity on the use of corn 30% (34.40%) is significantly higher than the use of maize 0% (15.7%), 10% (22.33%) and 20% (23.78%). Water holding capacity on the use of corn 10% and 20% in commercial diet showed no significant difference. Cooking loss meat on the use of corn 30% (26.32%) is lower than the use of maize 0% (39.47%), 10% (34.21%) and 20% (36.11%), while the meatbone ratio treatment 10% corn (3.83) is higher than the treatment 20% and 30% corn. The range of pH values ​​in this study was 6.5 to 6.8 with the average of 6.63. Substitution of commercial rations by as much as 30% corn gives the value of the high water holding capacity and low cooking loss, while meatbone ratio highest found in 10% of substitution treatment. Keywords: physical quality, broiler meat, corn
Deskripsi Manajemen Budidaya Burung Cinta (Love Bird) Sebagai Ternak Potensial Putranto, Heri Dwi; Brata, Bieng; Hakim, Nurmeilisari; Sutriyono, Sutriyono; Kurniati, Novitri; Yumiati, Yossie
Buletin Peternakan Tropis Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.4.2.127-134

Abstract

Love birds are a species of bird which is endemic to the African continent. This study aimed to find out and analyze love bird management methods which are generally carried out by love bird keepers and breeders. The study site was determined purposively in Kepahiang Regency, Bengkulu Province. Field research in the form of interviews using questionnaires were conducted among 15 respondents. Data collection from respondents was carried out using the snowball sampling method. Data were recapitulated  and analyzed descriptively. Data shows that all breeders fed white millet (grains) combined with finely chopped vegetables ad libitum with a frequency of once aday (n = 14) and a frequency of 2 times/day (n = 1). As the main feed, millet is given an average of 72.5 g/bird/day. There were 31 cages used for cultivation based on 3 main functions, namely daily maintenance cages, holding cages and matchmaking cages. Based on the type or shape, there were capsule cages (23 units) and plot-shaped cages (8 units). Cage sanitation recorded in the form of cleaning the cage were carried out once aday by 12 breeders (80%) in the morning (07.00 - 08.00 WIB). A total of 2 breeders (13.33%) during the day (11.00-12.00 WIB) and 1 breeder (6.67%) in the afternoon (17.00-18.00 WIB).  Researchers noted that there was 1 management activity that is similar as the management activity for birds in general, namely the match making activity. Furthermore, no mastering, sun bathing or shower  activities were found. It can be concluded that the main food for lovebirds was grain which is given ad libitum and the birds were kept in cages that are adapted to their function and rearing activities.   Keywords: Management, Love Bird, Potential Animal   ABSTRAK Burung cinta merupakan spesies burung yang berhabitat asli di benua Afrika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menganalisis metode budidaya burung cinta yang secara umum dilakukan oleh peternak dan penangkar burung cinta. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Penelitian lapangan berupa wawancara mempergunakan kuisioner dilakukan pada 15 orang responden. Koleksi data dari responden dilakukan dengan metode snowball sampling. Data direkapitulasi dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Data menunjukkan bahwa seluruh peternak memberikan pakan milet putih (biji-bijian) dikombinasikan dengan sayuran yang dicacah kecil ad libitum dengan frekuensi pemberian sebanyak 1 kali/hari (n = 14) dan frekuensi 2 kali/hari (n = 1). Sebagai pakan utama, milet diberikan rerata sebanyak 72,5 gr/ekor/hari. Terdapat 31 buah kandang yang dipergunakan untuk budidaya berdasarkan atas 3 fungsi utama yaitu kandang pemeliharaan harian, kandang umbaran dan kandang penjodohan. Berdasarkan jenis atau bentuknya terdapat  kandang kapsul (23 buah), dan kandang berbentuk petak (8 buah). Tindakan sanitasi kandang berupa membersihkan kandang dilakukan 1 kali/hari oleh 12 peternak (80%) pada pagi hari (jam 07.00 - 08.00 WIB).  Sebanyak 2 peternak (13,33%) pada siang hari (11.00-12.00 WIB) dan 1 peternak (6,67%) pada sore hari ( 17.00-18.00 WIB). Jenis penyakit yang menyerang burung cinta budidaya antara lain penyakit mata (13,33%) dan gangguan pernapasan (6,67%) yang diatasi mempergunakan herbal berupa daun sirih (80%) dan obat Super N (20 %). Peneliti mencatat terdapat 1 aktifitas budidaya yang sama dengan aktifitas budidaya burung peliharaan secara umum yaitu aktifitas penjodohan (match making). Selanjutnya, tidak ditemukan aktifitas budidaya mastering, sun bathing atau shower. Dapat disimpulkan bahwa pakan utama burung cinta adalah biji-bijian yang diberikan ad libitum dan burung dipelihara dalam kandang yang disesuaikan dengan fungsi dan aktifitas pemeliharaannya.   Kata kunci: Budidaya, Burung Cinta, Manajemen, Ternak Potensial
Analisis Pola Sebaran Populasi Serta Alasan Pembudidayaan Burung Jenis Kelamin Betina: Stusi Kasus Burung Murai Batu Piaraan Di Kota Bengkulu. Putranto, Heri Dwi; Brata, Bieng; Sutriyono, Sutriyono; Nurmeilisari, Nurmeilisari; Indriani, Dinda
Buletin Peternakan Tropis Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.5.1.31-39

Abstract

Until recently, keeping white-rumped shama bird as a pet is still a favorite option for Indonesia bird lovers. Study results showed that most bird breeders keep male birds, and the female population remains unknown. However, bird keeping and breeding efforts still require the existence of female birds as important parental factor. This research aims to analyze population distribution patterns and determine the reasons of breeder and bird lovers for cultivating female white-rumped shama. The location was determined purposively in Bengkulu City. Data was collected by snowball sampling method using questionnaire with respondent interview system in the field. Distribution pattern data was analyzed using the Variance Mean Ratio formula, while research data on reasons for cultivation were tabulated and analyzed descriptively. The results showed that the VMR value for the distribution pattern of the female white-rumped shama population was 7.55 and was classified as group distribution pattern. The reason for cultivating female white-rumped shama in Bengkulu city were economic value/profit (64% of respondents), followed by the reason for pleasure (36% of respondents). It can be concluded that most breeders' reason to keep white-rumped shama was for economic profit.
Edukasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dalam Upaya Menjaga Lingkungan Yurike, Yurike; Santoso, Urip; Brata, Bieng; Lestari, Aisah
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): Januari 2024 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v4i1.512

Abstract

Permasalahan sampah masih menjadi persoalan utama hampir di seluruh tempat, salah satunya di Perumahan Qoryah Thoyyibah Kota Bengkulu. Salah satu solusi dalam menjaga lingkungan hidup adalah di mulai dari rumah tangga dengan melakukan pengelolaan sampah rumah tangga. Untuk itu, edukasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga dalam upaya menjaga lingkungan perlu dilakukan. Materi pertama yang disosialisasikan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga secara umum, antara lain: memilah sampah berdasarkan jenisnya dan mengelola sampah dengan konsep reduce, reuse, recyle, rot. Setelah itu dilanjutkan dengan materi pengelolaan sampah organik menjadi ecoenzim. Hal ini juga diikuti dengan praktek cara pembuatan sampah organik menjadi ecoenzim. Para peserta sangat aktif mengikuti kegiatan tersebut, baik pada kegiatan dalam bentuk ceramah / penyuluhan maupun pada saat praktek. Dialog interaktif antara tim pengabdian dan peserta cukup baik sehingga memotivasi para peserta untuk mengelola sampah rumah tangga yang mereka hasilkan.
Kotoran Sapi Untuk Pembuatan Pupuk Organik Melalui Vermikompos Yurike, Yurike; Brata, Bieng
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2024): Juli 2024 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v4i4.556

Abstract

Pengelolaan kotoran temak menjadi hal yang perlu diperhatikan untuk mengurangi biaya pengeluaran terhadap perawatan tanaman. Sebagian besar masyarakat di Desa Barat Wetan Kecamatan Rembang, Kabupaten Kepahiyang masih menggunaan pupuk organik secara tradisional yaitu dengan cara membiarkan kotoran temak begitu saja (proses dekomposisi berjalan alarm) sampai terbentuk pupuk. Proses ini memakan waktu cukup lama dan banyak unsur hara yang hilang tercuci oleh air hujan maupun udara. Penggunaan pupuk organik melalui sistem tersebut tidak efektif, karena pengeluaran biaya tenaga kerja tidak sebanding dengan hasil yang diharapkan. Permasalahan prioritas pertama yang harus segera diatasi adalah bagaimana menyediakan pupuk organik vermikompos yang memiliki unsur hara tinggi, biaya murah, ramah lingkungan dan dapat disediakan oleh petani temak itu sendiri. Untuk itu, sosialisasi pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi melalui vermikompos ini diperlu dilakukan. Materi yang disampaikan mencakup cara menyiapkan media berupa kotoran ternak dan serasah, cara memilih bibit yang baik, cara penebaran bibit ke dalam media, cara pemeliharaan, cara pemanenan dan penanganan pasca panen dan aplikasi pemberian pupuk organik cacing pada tanaman. Para peserta sangat antusias dan aktif mengikuti kegiatan tersebut, terlihat dari tanya jawab yang dilakukan antara tim dan peserta. Peserta cukup termotivasi untuk mengaplikan sendiri pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi melalui vermikompos.