Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Al-Ab‘ād al-Ṭā’ifiyyah al-Islāmiyyah fi’l-Thaurah al- Shu‘ubiyyah al-‘Arabiyyah 2010-2011 Burdah, Ibnu
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 50, No 1 (2012)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2012.501.197-217

Abstract

Gerakan rakyat untuk perubahan di negara-negara Arab yang semula cenderung linier, personal, dan spontan pada perkembangannya menjadi amat kompleks akibat semakin banyaknya aktor dengan berbagai kepentingannya yang terlibat, isu yang berkembang, dan dimensi yang terkait. Salah satu dimensi baru dalam gerakan protes ini adalah dimensi sektarian Sunni-Syiah. Tulisan ini berupaya mengeksplorasi dan memberikan ekplanasi terhadap dimensi itu dengan memanfaatkan cara pandang realisme internasional dan tindakan kolektif terutama social movement. Artikel ini menemukan bahwa, pertama, kontestasi, ketegangan, dan konflik pengikut Suni-Syiah dalam konteks revolusi Arab tercermin pada kontestasi wacana, relasi diplomasi, hingga militer. Dimensi itu menurut hasil penelitian ini amat signifikan melampaui persoalan pluralisme kabilah yang pernah diramalkan al-Jabiry akan menjadi penghalang terbesar proyek masa depan Arab. Kedua, penjelasan terhadap realitas itu tidak bisa hanya mengacu kepada perbedaan ideologis antara dua sekte yang memang telah ada sejak lama, namun lebih merupakan konflik untuk mampu bertahan di tengah-tengah perubahan, kepentingan, pengaruh, dan dominasi kelompok di tengah panggung baru bernama ‘Revolusi Arab.’]
New Trends in Islamic Political Parties in the Arab Spring Countries Burdah, Ibnu
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 52, No 2 (2014)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2014.522.459-485

Abstract

The recent developments of Islamic political parties in the Arab spring countries show new orientation and agendas, i.e. reconfirmation of their commitment to democratic values, strengthening civil society, and adopting human rights principles. In the same time, they indicate not to be interested in the old Islamic agendas relating to jihad for Islamic states (dawlah Islāmiyah) and “global Islamic government” under one centralized caliphate (al-khilāfah al-Islāmiyyah). It is the case of Justice and Development Party (Ḥizb al-‘Adālah wa’l-Tanmiyah) in Morocco, Freedom and Justice Party (Ḥizb al-Ḥurriyyah wa’l-‘Adālah) in Egypt, and Awakening Party (Ḥizb al-Nahḍah) in Tunis. This paper seeks to explore and explain this new fact. Based on literary research and interviews with the leaders of the Justice and Development Party (Ḥizb al-‘Adālah wa’l-Tanmiyah) in Morocco, the paper concludes that the new orientation and agendas of Islamic political parties in the Arab spring states are related to democratization in the world, strong waves of Arab spring in many Arab states, and the dynamics of the internal parties.[Perkembangan mutakhir partai-partai politik Islam di sejumlah negara Arab “Musim Semi” menunjukkan adanya perubahan orientasi dan agenda baru, berupa penegasan kembali komitmen mereka terhadap nilai-nilai demokrasi, penguatan masyarakat sipil, dan adopsi prinsip-prinsip hak asasi manusia. Pada saat yang sama, mereka tampak kurang tertarik kepada agenda-agenda politik Islam lama seperti jihad bagi pendirian negara Islam dan pendirian pemerintahan Islam global di bawah satu khalifah yang tersentralisasi. Hal ini relevan terhadap kasus Partai Keadilan dan Pembangunan (Ḥizb al-‘Adālah wa’l-Tanmiyah) di Maroko, Partai Kebebasan dan Keadilan (Ḥizb al-Ḥurriyyah wa’l-‘Adālah) di Mesir, dan Partai Kebangkitan (Ḥizb al-Nahḍah) di Tunisia. Artikel ini berupaya mengeksplorasi dan menjelaskan fakta baru ini. Berdasarkan kajian pustaka dan wawancara dengan sejumlah petinggi Partai Keadilan dan Pembangunan di Maroko, penulis berkesimpulan bahwa orientasi baru ini terjadi akibat dari gelombang demokratisasi dunia, “angin kencang musim semi” Arab yang begitu kuat, dan dinamika internal partai.]
PEMBANGUNAN SENJATA NUKLIR ISRAEL Burdah, Ibnu
ALQALAM Vol 25 No 3 (2008): September - December 2008
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.122 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v25i3.1694

Abstract

Destruksi yang ditimbulkan senjata nuklir sudah tidak acceptable lagi baik bagi nilai maupun survival manusia dan peradaban. Pertanyaannya, mengapa Negara Israel mengambil opsi senjata nuklir bukan persenjataan konvensional terutama untuk menghadapi negara-negara sekitarnya yang mayoritas Arab Muslim. Lebih dari itu, berbagai tantangan yang harus dihadapi dalam proses pembangunan nuklir sangat besar. Artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan terhadap opsi pembangunan persenjataan dengan destrnksi massif itu.Pengumpulan data tulisan ini dilakukan melalui penelusuran terhadap sumber-sumber tertulis baik buku, dokumen, artikel, dan sebagainya. Data yang terkumpul untuk membangun jakta sesungguhnya terbatas mengingat keterbatasan studi itu di tanah air, akan tetapi data tersebut dipandang relatif memadai untuk memberikan penjelasan sebagai tugas utama tulisan ini. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif melalui tiga proses yang dilakukan secara terus menerus dan bersamaan sejak awal pengumpulan data hingga pengambilan kesimpulan. Tiga proses itu adalah penyusunan (arrangement), pengambilan kesimpulan (conclusion), dan verifikasi (verification).Hasil penelitian ini adalah: 1. Kondisi obyektif dan dinamis Israel yang berada di tengah-tengah negara ''musuh" dan berbagai tujuan strategis Negara itu menjadifaktor penjelas dari opsi nuklir. Tujuan strategis yang dimaksud adalah militer, ekonomi, politik, dan citra negara Israel. 2. Israel berhasil melakukan pembangunan senjata nuklir dengan strategi gradual mulai "rahasia" hingga deklarasi implisit atas statusnya sebagai negara berkapasitas nuklir.Kata Kunci: senjata nuklir, Israel, Timur Tengah
Urgensi Zoologi Sastra Alquran: Studi Kasus Pada Seni Kisah Zoomorfik Al-Farasy Surat Al-Qari’ah Muhamad Agus Mushodiq; Ibnu Burdah; Suja'i Suja'i; Mispani Mispani; Habib Shulton Asnawi
AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.692 KB) | DOI: 10.29240/alquds.v5i1.2291

Abstract

The Urgency of Qur’anic Literary Zoology: A Case Study on the Art of the Zoomorphic Story of Al-Farasy in Surah Al-Qari'ahThe criminalization of animals can be manifested in concrete actions and disproportionate interpretation of religious texts. This paper aims to describe the urgency of a literary zoological perspective on animal studies in the Quran and provide examples of its application in analyzing one of the cases of animal criminalization al-Farasy in Surat Al-Qari'ah. The author uses qualitative research methods with descriptive-interpretive analysis. The author uses the theory of Tasybih and Roland Barthes’s Semiotics theory with a literary zoological approach. The results of this paper are: First, literary zoology is essential for animal research in the Quran for several reasons. They are  (1) animals in the Quran are included in the literary category, so that an important literary approach is presented to find the meaning behind the existential of animals in the Quran, (2) ) Literary zoology is interdisciplinary, multidisciplinary, and transdisciplinary. Based on these characteristics, the zoosembiology between literature and animals can be expressed comprehensively and holistically, (3) literary zoological opposes anthropocentric philosophy, which is alleged to have produced many actions that destroy nature. Nature conservation, especially related to the future of animals, needs to be encouraged in the current era. Second, the discrimination against al-Farasy by the ulama resulted in monodisciplinary studies. Al-Farsy as an example of humans when the Day of Judgment comes is not meant for taqbih halihi (humiliating the human condition when the Day of Judgment comes), but rather for bayanu halihi and taqriru halihi (reporting the situation)
Morocco protest movements in the post-constitutional reform Ibnu Burdah
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 2 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v7i2.201-219

Abstract

dth: 0px; " The research describes and explains the wave of protest movement in theKingdom of Morocco, one of the Muslim countries in the Western Arab, in the post-2011 constitutional referendum. The constitutional reform was carried out as a response to the large and massive people protest. Unlike the cases in other neighboring states where “Arab Spring” took place, the Moroccan movement receded without neither the fall of the regime nor massive casualties. However, intense protest kept taking place, especially in Muhammad V Street leading to the Parliament Building. Some interesting questions arise, including what the nature of the current protest is and why people still protest after the vast popular agreement toward the constitutional referendum. Based on library research and intense observation for forty days, and interviews, this study found that, to some extent, the Morocco protest has the same nature as that of the Arab Spring. The protest has “hidden agendas” although there are evidences that they dissembled in “smaller and partial issues because of some reasons”. The author holds that Morocco is an important lesson for political reform in the current turbulent Arab world and, to abroader context, in the Muslim world. 0px; " Penelitian ini mendeskripsikan dan menjelaskan gerakan protest di KerajaanMaroko, salah satu negara Muslim di Arab Barat, paska referendum konstitusitahun 2011. Reformasi konstitusional di Maroko telah dilaksanakan sebagai respon terhadap protes rakyat dalam skala luas dan massif. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara “Musim Semi Arab” yang lain, gerakan protes itu surut tanpa disertai jatuhnya rezim dan jatuhnya korban dalam jumlah yang besar. Namun, Maroko masih diwarnai gerakan protes yang cukup intensif hampir setiap hari (kendati skalanya lebih kecil) khususnya di Jalan Muhammad V sampai depan gedung parlemen. Pertanyaannya adalah apa sesungguhnya karakter dari protes-protes yang masih berlangsung bahkan hingga saat ini? Mengapa mereka masih melakukan protes pasca persetujuan secara luas rakyat Maroko terhadap reformasi konstitusi? Penelitian yang dilakukan dengan cara studi kepustakaan yang didukung oleh observasi di lapangan sekitar 40 hari, berkesimpulan bahwa karakter protes itu adalah “Arab Springs” (mengarah pada penjatuhan rezim) kendati itu tak dinyatakan secara terbuka. Mereka memiliki agenda terselubung itu dan tidak mengemukakannya dengan berbagai alasan. Penulis berpendapat, Maroko adalah pelajaran penting bagi reformasi politik di dunia Arab yang sedang bergolak saat ini, bahkan mungkin pula untuk dunia Islam.
Al-Ab‘ād al-Ṭā’ifiyyah al-Islāmiyyah fi’l-Thaurah al- Shu‘ubiyyah al-‘Arabiyyah 2010-2011 Ibnu Burdah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 50, No 1 (2012)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2012.501.197-217

Abstract

Gerakan rakyat untuk perubahan di negara-negara Arab yang semula cenderung linier, personal, dan spontan pada perkembangannya menjadi amat kompleks akibat semakin banyaknya aktor dengan berbagai kepentingannya yang terlibat, isu yang berkembang, dan dimensi yang terkait. Salah satu dimensi baru dalam gerakan protes ini adalah dimensi sektarian Sunni-Syiah. Tulisan ini berupaya mengeksplorasi dan memberikan ekplanasi terhadap dimensi itu dengan memanfaatkan cara pandang realisme internasional dan tindakan kolektif terutama social movement. Artikel ini menemukan bahwa, pertama, kontestasi, ketegangan, dan konflik pengikut Suni-Syiah dalam konteks revolusi Arab tercermin pada kontestasi wacana, relasi diplomasi, hingga militer. Dimensi itu menurut hasil penelitian ini amat signifikan melampaui persoalan pluralisme kabilah yang pernah diramalkan al-Jabiry akan menjadi penghalang terbesar proyek masa depan Arab. Kedua, penjelasan terhadap realitas itu tidak bisa hanya mengacu kepada perbedaan ideologis antara dua sekte yang memang telah ada sejak lama, namun lebih merupakan konflik untuk mampu bertahan di tengah-tengah perubahan, kepentingan, pengaruh, dan dominasi kelompok di tengah panggung baru bernama ‘Revolusi Arab.’]
New Trends in Islamic Political Parties in the Arab Spring Countries Ibnu Burdah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 52, No 2 (2014)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2014.522.459-485

Abstract

The recent developments of Islamic political parties in the Arab spring countries show new orientation and agendas, i.e. reconfirmation of their commitment to democratic values, strengthening civil society, and adopting human rights principles. In the same time, they indicate not to be interested in the old Islamic agendas relating to jihad for Islamic states (dawlah Islāmiyah) and “global Islamic government” under one centralized caliphate (al-khilāfah al-Islāmiyyah). It is the case of Justice and Development Party (Ḥizb al-‘Adālah wa’l-Tanmiyah) in Morocco, Freedom and Justice Party (Ḥizb al-Ḥurriyyah wa’l-‘Adālah) in Egypt, and Awakening Party (Ḥizb al-Nahḍah) in Tunis. This paper seeks to explore and explain this new fact. Based on literary research and interviews with the leaders of the Justice and Development Party (Ḥizb al-‘Adālah wa’l-Tanmiyah) in Morocco, the paper concludes that the new orientation and agendas of Islamic political parties in the Arab spring states are related to democratization in the world, strong waves of Arab spring in many Arab states, and the dynamics of the internal parties.[Perkembangan mutakhir partai-partai politik Islam di sejumlah negara Arab “Musim Semi” menunjukkan adanya perubahan orientasi dan agenda baru, berupa penegasan kembali komitmen mereka terhadap nilai-nilai demokrasi, penguatan masyarakat sipil, dan adopsi prinsip-prinsip hak asasi manusia. Pada saat yang sama, mereka tampak kurang tertarik kepada agenda-agenda politik Islam lama seperti jihad bagi pendirian negara Islam dan pendirian pemerintahan Islam global di bawah satu khalifah yang tersentralisasi. Hal ini relevan terhadap kasus Partai Keadilan dan Pembangunan (Ḥizb al-‘Adālah wa’l-Tanmiyah) di Maroko, Partai Kebebasan dan Keadilan (Ḥizb al-Ḥurriyyah wa’l-‘Adālah) di Mesir, dan Partai Kebangkitan (Ḥizb al-Nahḍah) di Tunisia. Artikel ini berupaya mengeksplorasi dan menjelaskan fakta baru ini. Berdasarkan kajian pustaka dan wawancara dengan sejumlah petinggi Partai Keadilan dan Pembangunan di Maroko, penulis berkesimpulan bahwa orientasi baru ini terjadi akibat dari gelombang demokratisasi dunia, “angin kencang musim semi” Arab yang begitu kuat, dan dinamika internal partai.]
FENOMENA PERKEMBANGAN MUSIK KONTEMPORER DI ARAB Rahma Salbiah; Ibnu Burdah
An-Nahdah Al-'Arabiyah Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : An-Nahdah Al-'Arabiyah is published by Department of Arabic Language and Literature in cooperation with The Center for Research and Community Service (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/nahdah.v2i2.1789

Abstract

Fenomena yang terjadi sekarang sangat menyita perhatian banyak orang salah satunya di dunia seni musik, ada banyak perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis beberapa musik varian baru atau pembaharuan musik lama yang hadir di kalangan masyarakat Timur Tengah. Ada banyak faktor yang mempengaruhi masuknya musik varian baru ini, salah satunya adanya sistem modernisasi dari pihak pemerintah. Ada banyak tujuan yang dihadirkan akan pengadaan datangnya musik baru yang berbentuk konser, banyak spekulasi berdatangan baik positif maupun negatif karena munculnya budaya baru yang sebelumnya belum pernah hadir di kalangan masyarakat Timur Tengah. Dalam fenomena modernisasi di Timur Tengah ini terdapat suatu hal yang menarik, yaitu adanya faktor internal dan eksternal munculnya varian musik terbaru ini. Banyak konflik batin yang dirasakan oleh kaum muda akan kebijakan pemerintah, sehingga mereka menggunakan media sosial untuk ajang komunikasi membahas tatanan baru mengenai musik varian baru tersebut.
Al-Khurūj ‘alā al-Ḥākim fī al-Fiqh al-Siyāsī al-Islāmī: Dirāsah ‘alā Ma’nā al-Thawrah Taufiqul Hadi; Mohammad Yunus Masrukhin; Siswanto Masruri; Ibnu Burdah
Al-Ahkam Vol 33, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ahkam.2023.33.1.14948

Abstract

The Arab Spring emerged due to a political crisis in most Arab countries that wanted a change from dictatorial regimes to democratic systems in their countries. One of the most prominent issues that caused controversy during the revolution was the issue of al-khurūj 'alā al-ḥākim. This article aims to analyze the meaning of revolution from an Islamic political perspective by discussing the concept of al-khurūj 'alā al-ḥākim, especially towards the three terms: al-bāghī, al-khawārij and al-ḥirābah. This article clarifies the relationship between these three terms with the phenomenon of revolution in the contemporary Islamic world. This article uses a jurisprudential approach with an inductive method by extrapolating jurisprudential sources and references related to the research subject. This article concludes that the notion of revolution is not the same as the concept of al-khurūj 'alā al-ḥākim in Islamic jurisprudence. The reason is that revolution aims to change the political, social and economic reality. In contrast, khurūj is a form of resistance to the leader and does not carry out all the rights demanded of the ruler. In the present context, the redefinition of the concept of al-khurūj 'alā al-ḥākim in Islamic jurisprudence is necessary to suit the modern era.
FENOMENA PERKEMBANGAN MUSIK KONTEMPORER DI ARAB Rahma Salbiah; Ibnu Burdah
An-Nahdah Al-'Arabiyah Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : An-Nahdah Al-'Arabiyah is published by Department of Arabic Language and Literature in cooperation with The Center for Research and Community Service (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/nahdah.v2i2.1789

Abstract

Fenomena yang terjadi sekarang sangat menyita perhatian banyak orang salah satunya di dunia seni musik, ada banyak perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis beberapa musik varian baru atau pembaharuan musik lama yang hadir di kalangan masyarakat Timur Tengah. Ada banyak faktor yang mempengaruhi masuknya musik varian baru ini, salah satunya adanya sistem modernisasi dari pihak pemerintah. Ada banyak tujuan yang dihadirkan akan pengadaan datangnya musik baru yang berbentuk konser, banyak spekulasi berdatangan baik positif maupun negatif karena munculnya budaya baru yang sebelumnya belum pernah hadir di kalangan masyarakat Timur Tengah. Dalam fenomena modernisasi di Timur Tengah ini terdapat suatu hal yang menarik, yaitu adanya faktor internal dan eksternal munculnya varian musik terbaru ini. Banyak konflik batin yang dirasakan oleh kaum muda akan kebijakan pemerintah, sehingga mereka menggunakan media sosial untuk ajang komunikasi membahas tatanan baru mengenai musik varian baru tersebut.