Claim Missing Document
Check
Articles

PENDAMPINGAN DIGITALISASI SERTIFIKASI HALAL SEBAGAI UPAYA PENGUAT DAYA SAING KOMUNITAS UMKM PREMAN SUPER KOTA MALANG Dhika Maha Putri; Shabrina Alifya Fakhirah Alwan; Lisa Sidyawati; Agus Purnomo
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 8: Januari 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v2i8.4494

Abstract

Pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia termasuk pada UMKM. Hal tersebut dirasakan oleh anggota Komunitas Preman Super bahwa mereka mengalami penurunan pendapatan dan daya beli atas produk mereka sehingga anggota Komunitas Preman Super membutuhkan suatu nilai tambah untuk dapat meningkatkan daya saing produk mereka. Sertifikasi halal memiliki peran dalam memberi jaminan rasa aman kepada konsumen terkait kehalalan dan mutu produk sehingga dinilai dapat menjadi suatu nilai tambah bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing usaha pasca pandemi Covid 19. Namun para anggota Komunitas Preman Super mengalami kesulitan dalam memahami proses pendaftaran sertifikasi halal sehingga diperlukan kegiatan pendampingan sertifikasi halal bagi anggota Komunitas Preman Super. Metode penyelesaian masalah dalam kegiatan ini adalah metode pendekatan partisipatif dan edukatif yang terbagi menjadi dua tahap yakni pelatihan dan pendampingan. Kegiatan pengabdian ini terlaksana dengan baik dan lancar, anggota Komunitas Preman Super mengikuti runtutan acara mulai dari awal hingga akhir. Tim pengabdian juga selanjutnya membantu anggota Komunitas Preman Super untuk memperoleh sertifikat halal. Hasil kegiatan yaitu adanya peningkatan wawasan terkait proses sertifikasi halal serta peningkatan jumlah produk anggota Komunitas Preman Super yang tersertifikasi halal.
Estetika Motif Batik Mok-Ramok Kabupaten Pamekasan Cindy Pramesti Melyana Ar; AAG Rai Arimbawa; Lisa Sidyawati
JoLLA: Journal of Language, Literature, and Arts Vol. 1 No. 8 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.572 KB) | DOI: 10.17977/um064v1i82021p1095-1109

Abstract

Abstract: Batik is an Indonesian cultural heritage in the form of various decorative patterns on a garment in a traditional way, passing the imprinting technique using batik wax to produce a motif. One of the motifs that is particularly interesting to be studied is the mok-ramok motif, which is derived from the word ramok that means ‘root’. This motif is unique because the root motif is actually not root-shaped, and it tends to have tiny and detailed root sizes. This is what underlies this research with the aim of analyzing the aesthetics of the mok-ramok batik motif, because essentially batik do not only have economic value but also beauty value. The aesthetic value contained in this motif is divided into two, namely extrinsic and intrinsic. Mok-ramok motifs have a lot of varieties, however, this study only focused on analyzing the three of them. They are the mok-ramok kembhang motif, the mok-ramok engser motif, and the mok-ramok kates motif. The data collection methods in this research were observation, interviews, and documentation. The results discover the aesthetic value of the mok-ramok kembhang motif, the mok-ramok engser motif, and the mok-ramok kates motif in terms of extrinsic and intrinsic values. Keywords: batik, batik motifs, mok-ramok, aesthetics Abstrak: Batik merupakan warisan budaya Indonesia dengan corak ragam hias yang dituangkan pada satu kain dengan cara tradisional, dengan melewati teknik percantingan menggunakan lilin batik sehingga menghasilkan suatu motif. Salah satu motif yang menarik perhatian untuk diteliti adalah motif mok-ramok yang memiliki arti ‘akar’ dari kata ramok. Motif ini memiliki banyak peminat dan memiliki keunikan yaitu motif akar yang tidak berbentuk akar dan cenderung memiliki ukuran akar yang sangat kecil dan detail. Hal tersebutlah yang melandasi penelitian ini dengan tujuan menganalisis estetika motif batik mok-ramok karena pada dasarnya karya batik tidak hanya memiliki nilai ekonomis tetapi juga memiliki nilai keindahan. Nilai estetika yang terkandung dalam motif mok-ramok terbagi menjadi dua yaitu nilai ekstrinsik dan nilai intrinsik. Motif mok-ramok memiliki jenis yang cukup banyak, akan tetapi dalam penelitian ini hanya menganalisis tiga motif yaitu motif mok-ramok kembhang, motif mok-ramok engser, dan motif mok-ramok kates. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini dapat diketahui nilai estetika pada motif mok-ramok kembhang, motif mok-ramok engser, dan motif mok-ramok kates yang ditinjau dari nilai ekstrinsik dan nilai intrinsik. Kata kunci: batik, motif batik, mok-ramok, estetika
Kesenian Jaran Bodhag Probolinggo sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Motif Batik Tulis pada Outwear Semi-Formal Akbar Naufal Aziz; Ike Ratnawati; Lisa Sidyawati
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 40, No 1 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v40i1.7906

Abstract

Kesenian Jaran Bodhag Probolinggo mengalami pasang surut dalam modernitas, masih belum cukup dikenal oleh masyarakat luar maupun dalam Probolinggo. Kesenian pertunjukkan yang berakar sejarah dari Jaran Kencak tercipta sebuah kesenian masyarakat dengan modifikasi bentuk imitasi kepala kuda dan Bodhag dalam bahasa Madura yang berarti “wadah/tudung nasi”, dihiasi sedemikian rupa dan tercipta sebuah artifisial jaranan. Penulis memiliki ketertarikan pada bentuk Jaran Bodhag untuk dituangkan pada batik tulis dalam outerwear semi-formal untuk meningkatkan daya tarik gaya berbusana batik yang cenderung monoton pada kalangan usia remaja-dewasa. Penciptaan ini bertujuan untuk menggaungkan kesenian Jaran Bodhag Probolinggo juga mendeskripsikan ide konsep, proses visualisasi, dan hasil motif batik tulis pada bentuk outerwear semi-formal. Penelitian ini menggunakan metode penciptaan yang dikemukakan oleh SP. Gustami yang terdiri dari tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Hasil penciptaan karya ini terdapat tiga jenis outer antara lain: Beden Sokmah Jaran Bodhag (Vest), Demslendeman (Jacket), Gal Megol (Crop Top Bolero). Hasil penciptaan karya tersebut menjadi salah satu upaya bentuk inventarisasi motif baru dan pelestarian kesenian lokal dalam wujud karya batik.
Pelatihan Ecoprint Teknik Steam Bagi Masyarakat Non Pengrajin Tempe di Sanan Malang Lisa Sidyawati; sumarwahyudi; E. Wara Suprihatin Dyah Pratamawati; Ike Ratnawati
Pelita Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2023): Pelita Masyarakat, September
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/pelitamasyarakat.v5i1.9746

Abstract

Kampung Sanan Malang has a population of 481 households, 262 of which have opened a business to produce tempeh and tempeh chips. RW15 Sanan's Profile Book states that the turnover of money from the industry reaches nearly forty billion rupiahs per month. However, there are still around a hundred families whose welfare still needs to be improved. Welfare distribution efforts include skills training to open up new business opportunities. One of the work programs of RW 15 Sanan is conducting coaching by involving outside parties to assist, and skills training to reduce unemployment and improve the standard of living of non-tempe craftsmen. One of the travel awareness group (Pokdawis) businesses that has been running well is the educational tourism business based in the Sanan thematic village. This business led to the idea to open a new business, namely the production of eco-print-based souvenirs. Based on these problems, eco-print training was carried out using the steam technique.
Legenda Desa Jatikerto sebagai Inspirasi Kreasi Penciptaan Motif Batik Tulis untuk Busana Wanita Novira Wahyu Ningtyas; Lisa Sidyawati
JoLLA: Journal of Language, Literature, and Arts Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v3i72023p1061-1080

Abstract

Desa Jatikerto awalnya diberi nama Bedali. Akan tetapi, karena banyaknya penduduk baru yang berdatangan, maka diadakan musyawarah kembali dengan warga setempat yang menghasilkan keputusan mengganti nama Bedali menjadi Jatikerto. Pada masa sekarang masih banyak generasi muda belum mengetahui bagaimana sejarah terbentuknya desanya sendiri. Melihat kondisi tersebut, menjadi landasan penciptaan karya batik tulis ini untuk mengenalkan kepada masyarakat khususnya generasi muda Desa Jatikerto untuk terus menjaga dan mengingat sejarah. Tujuan penciptaan ini mendeskripsikan ide konsep dari legenda Desa Jatikerto, proses berkarya, dan hasil serta penyajian karya. Penciptaan ini menggunakan metode S.P Gustami dengan melalui tiga tahap yakni eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Karya yang diciptakan berupa enam karya batik tulis yaitu: Jatisakur, Jatisawan, Jatisandung, Jatisala, Jatisaban, Jatisaladan yang disajikan dalam bentuk busana wanita. Karena busana merupakan bahan yang tidak terlepas dari kebutuhan manusia khususnya wanita. Kata kunci: legenda; Desa Jatikerto; batik tulis; busana; wanita Jarikerto Village Legend as Creation Inspiration Written Batik Motif for Women’s Clothes Jatikerto village was originally named Bedali. However, due to the large number of new residents arriving, another consultation was held with the local residents which resulted in the decision to change the name Bedali to Jatikerto. At this time there are still many young people who do not know the history of the formation of their own village. Seeing these conditions, it became the basis for the creation of this written batik work to introduce to the community, especially the younger generation of Jatikerto Village to continue to maintain and remember the history of the village. This creation describes the concept ideas from the legend of Jatikerto Village, the process of creating, and the results and presentation of the work. This creation uses the S.P Gustami method using three stages, namely exploration, design, and embodiment. The works created are in the form of six written batik works, namely: Jatisakur, Jatisawan, Jatisandung, Jatisala, Jatisaban, Jatisala and presented in the form of women's clothing. Because clothing is a material that cannot be separated from human needs, especially women. Keywords: legend; Jatikerto Village, batik tulis; clothing, women
Digital preservation of Rumah Tukang Kahar for cultural heritage tourism Aiman Mohd Rashid; Lisa Sidyawati; Nor Izura Tukiman; Norhaida Mohd Suaib; Mohd Farid Mohd Ariff
ARSNET Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Department of Architecture Faculty of Engineering Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/arsnet.v3i2.71

Abstract

The paper focuses on exploring the virtual collaboration process in the digital preservation project of Rumah Tukang Kahar, a traditional Malay house in Negeri Sembilan, Malaysia, as a form of cultural heritage tourism. The purpose of the project is to develop an augmented reality interface through mobile app, website, and pamphlets with AR markers, to virtually and physically boost Malaysia heritage tourism economy. This paper describes a year-long virtual collaboration process between multidisciplinary and transnational researchers with various expertise between Malaysia and Indonesia under the Indonesia-Malaysia Research Consortium (I'MRC) initiatives. The paper reflects on the design and product development process and challenges within the virtual collaboration between two universities. The researchers’ involvement in the virtual collaboration process suggests that effective asynchronous and synchronous communication using online textual and visual communication tools and platforms leads to more effective, productive, and meaningful outcomes in research, collaboration, and product development.
Permainan Tradisional Anak dalam Penciptaan Desain Motif Batik Tulis sebagai Busana Outer Kekinian Puspamurti, Diennora Yossi; Ratnawati, Ike; Sidyawati, Lisa
Journal of Language Literature and Arts Vol. 3 No. 12 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v3i122023p1828-1847

Abstract

Kemajuan dan penggunaan teknologi secara masif pada masa kini membuat budaya permainan tradisional anak tergantikan oleh bentuk permainan modern berbasis digital. Permainan tradisional yang sarat akan budaya, nilai-nilai pendidikan yang berguna bagi perkembangan anak menjadi terabaikan, sehingga perlu untuk dilestarikan. Batik telah dikenal hingga ke mancanegara, namun dengan citra batik yang tinggi minat akan batik pada generasi muda masih rendah. Mereka menilai dengan harga yang mahal, produk batik identik dengan suatu hal yang kuno dan tidak sesuai dengan style mereka. Berawal dari hal tersebut penulis memiliki ketertarikan mengangkat permainan tradisional anak sebagai inspirasi motif baru dalam seni batik tulis yang diterapkan dalam produk outer kekinian sebagai busana casual remaja. Adapun tujuan penelitian ini yaitu mengkaji mengenai konsep kreatif, proses kreatif, dan hasil visualisasi penciptaan desain motif batik tulis permainan tradisional anak dalam produk outer kekinian. Metode penciptaan ini mengacu pada model SP. Gustami yang terdiri dari tiga tahap, yakni eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Hasil pen­cip­taan karya batik yang diwujudkan memvisualisasikan permainan layang-layang dan dakon sebagai motif utamanya, terdiri dari enam karya berjudul: 1) Life Balance, 2) Closer to God, 3) Dream, 4) A History, 5) Harmony, dan 6) Peaceful. Penciptaan ini dilakukan sebagai respon terkikisnya salah satu kebudayaan Indonesia yaitu permainan tradisional anak dalam konteks kekinian. Kata kunci: permainan tradisional; anak; batik tulis; busana Outer: kekinian Traditional Children's Games in Creating Written Batik Motif Designs as Modern Outerwear Progress and the massive use of technology today have replaced traditional children's game culture with modern digital-based forms of play. Traditional games that are full of culture, education values that are useful for children's development are best preserved, so they need to be preserved. Batik has been known to foreign countries, but with a high image of batik, interest in batik among the younger generation is still low. They judged that with an expensive price, batik products were identical to something ancient and did not match their style. Starting from this, the author has an interest in raising children's traditional games as inspiration for new motifs in the art of written batik which is applied to contemporary outer products as casual youth clothing. The purpose of this study is to examine the creative concept, creative process, and the results of visualization of the creation of traditional children's game batik motif designs in contemporary outer products. The creation refers to the SP. Gustami model method with three stages of six steps: The first is the exploration stage, the second is the design stage, and the third is the embodiment stage. The results of the creation of batik works that visualize the game of kites and dakon as the main motifs, consist of six works entitled: 1) Life Balance, 2) Closer to God, 3) Dream, 4) A History, 5) Harmony, and 6) Peaceful. This creation was carried out as a response to the erosion of one of Indonesian culture, namely traditional children's games in the present context. Keywords: traditional game; children; batik tulis; outerwear: modern
Lukisan Damar Kurung Khas Gresik Jawa Timur sebagai Inspirasi dalam Berkarya Seni Batik Lukis Syaadati, Arinis; Ponimin, Ponimin; Sidyawati, Lisa
Journal of Language Literature and Arts Vol. 3 No. 10 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v3i102023p1539-1558

Abstract

Lukisan Damar Kurung merupakan salah satu kesenian khas Gresik dengan struktur bentuk dasar kubus. Pada setiap permukaan sisi-sisi bentuk tersebut berupa cerita bergambar yang divisualkan dengan gaya naif figurativ. Akan tetapi eksistensi lukisan tersebut mulai tidak dikenal khususnya pada generasi muda, untuk itu pada penelitian ini pencipta mencoba merevitalisasi melalui penciptaan seni sebagai ide kreasi. Oleh karena itu pentingnya dilakukan suatu penelitian kreatif dengan media lain dalam bentuk penciptaan seni Batik Lukis, sehingga kehadiran hasil kreatif ini selain untuk mengenalkan seni damar kurung yang selama ini menggunakan media kertas dapat diperkaya dengan media batik. Dalam proses penciptaannya pencipta mengambil tema tentang Kebudayaan Gresik, dengan konsep ‘Kebudayaan Gresik yang Mulai Dilupakan’ pada proses kreatifnya metode yang digunakan merujuk pada teori Alma Hawkins dengan tiga tahapan: eksplorasi, improvisasi, dan perwujudan. Hasil dari penciptaan ini berupa enam karya Batik Lukis yang berjudul, Kesenian Dikker, Tradisi Sedekah Bumi, Tari Pencak Macan, Pasar Bandeng, Festival Damar Kurung, dan Kirab HUT Gresik. Penciptaan karya batik lukis ini diharapkan dapat sebagai pengembangan sarana edukasi khususnya kalangan generasi muda supaya lebih menghargai potensi seni rupa yang ada dikawasannya yakni dari hasil proses kreasi ini. Kata kunci: Batik Lukis; Damar Kurung; Gresik Damar Kurung Painting Specially Gresik East Java as Inpiration in The Art of Batik Painting Damar Kurung painting is one of Gresik's special arts with a basic cubic structure. On each surface the sides of the form are illustrated stories visualized in a figurative naive style. However, the existence of the painting is starting to be unknown, especially to the younger generation, for that in this study the creator tries to revitalize it through the creation of art as a creative idea. Therefore, it is important to do creative research with other media in the form of the creation of Batik Painting, so that the presence of this creative result in addition to introducing the art of damar brackets which has been using paper media can be enriched with batik media. In the process of creation, the creator took the theme of Gresik Culture, with the concept of 'Gresik Culture Begins to be Forgotten'. In the creative process the method used refers to Alma Hawkins' theory with three stages: exploration, improvisation, and embodiment. The results of this creation are six works of Batik Painting entitled, Dikker Art, Earth Alms Tradition, Pencak Macan Dance, Milkfish Market, Damar Kurung Festival, and Gresik Anniversary Carnival. It is hoped that the creation of this Batik Painting can be used as a means of developing educational facilities, especially among the younger generation, so that they can better appreciate the potential of fine arts in their area, namely the results of this creation process. Keywords: Painted Batik; Damar Kurung; Gresik
Karakter Tokoh Wayang Kulit Semar sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Batik Lukis Oktama, Triyoga; Arimbawa, Anak Agung Gde Rai; Sidyawati, Lisa
Journal of Language Literature and Arts Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v4i22024p163-180

Abstract

Tokoh wayang kulit Semar adalah salah satu Panakawan yang memiliki karakter protagonis dan jenaka. Meskipun berperan sebagai abdi para satria, karakternya dapat dijadikan teladan bagi masyarakat, terutama generasi muda. Selain menjadi abdi, Semar juga menjadi pengasuh dan pembimbing bagi para satria yang berkarakter baik. Banyak yang meyakini bahwa Semar adalah pamomong masyarakat Tanah Jawa. Namun, kurangnya pengenalan budaya sejak dini dan minat melestarikan budaya menyebabkan banyak pemuda, termasuk pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang, tidak mengenal detail karakter Semar dan nilai-nilai teladan yang dimilikinya. Padahal, karakter Semar dapat diterapkan dalam kegiatan berorganisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter Semar secara mendalam dan menampilkannya dalam bentuk karya seni batik lukis. Proses penciptaan karya seni dimulai dengan eksplorasi data dari artikel, jurnal, dan wawancara, dilanjutkan dengan tahap perancangan atau pembuatan sketsa, dan diakhiri dengan tahap perwujudan karya seni. Hasilnya adalah tujuh karya batik lukis yang menggambarkan karakter tokoh wayang kulit Semar. Melalui karya seni ini, diharapkan dapat memperkenalkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dan karakter teladan Semar kepada generasi muda serta meningkatkan minat mereka dalam melestarikan budaya tradisional.
Batik Gringsing Teratai Karya Soendari Batik and Art Gallery Kota Malang Damayanti, Rizky Eka; Sumarwahyudi, Sumarwahyudi; Sidyawati, Lisa
Journal of Language Literature and Arts Vol. 3 No. 11 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v3i112023p1632-1650

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan visualisasi motif dan visualisasi warna batik motif Gringsing Teratai karya Soendari Batik and Art Gallery di Kota Malang. Metode yang digunakan merujuk pada teori Milles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tiga karya batik dengan motif Gringsing Teratai yaitu motif Gringsing Teratai kombinasi sulur, motif Gringsing Teratai kombinasi Topeng, dan motif Gringsing Teratai kombinasi bunga Andong. Visualisasi motif batik tersebut merupakan perpaduan corak non-geometris dan geometris. Ketiga motif batik tersebut sama – sama menggunakan pewarna sintetis dan alat cap batik. Pada akhir penelitian, diperoleh hasil bahwa batik Gringsing Teratai memiliki perbedaan dengan motif batik Gringsing klasik dan motif batik Malangan pada umumnya. Hal tersebut dibuktikan dengan ciri khas pada tiap lembar kain yang memiliki motif Grinsing, bunga Teratai, serta kombinasi motif adaptasi dari ikon Kota Malang lainnya. Kata kunci: batik; Gringsing Teratai; Soendari Gringsing Teratai Batik by Soendari Batik and Art Gallery Malang City The purpose of this study is to describe the visualization of motifs and color visualization of the Gringsing Teratai batik motif by Soendari Batik and Art Gallery in Malang City. The method used refers to the theory of Milles and Huberman, namely data reduction, data presentation and drawing conclusions and verification. The results of this study show three batik works with the Gringsing Lotus motif, namely the Gringsing Lotus motif with a combination of tendrils, the Gringsing Lotus motif with a mask combination, and the Gringsing Lotus motif with a combination of Andong flowers. The visualization of the batik motif is a combination of non-geometric and geometric patterns. The three batik motifs use synthetic dyes and batik stamping tools. At the end of the study, it was found that Gringsing Teratai batik had differences with classical Gringsing batik motifs and Malangan batik motifs in general. This is evidenced by the characteristics of each sheet of cloth that has the motif of Gringsing, Lotus flower, and a combination of adaptation motifs from other Malang City icons. Keywords: batik; Gringsing Teratai; Soendari