Claim Missing Document
Check
Articles

PELATIHAN PEMBUATAN AKSESORI FASHION BATIK SHIBORI MIX LIONTIN RESIN BAGI MASYARAKAT KAMPOENG HERITAGE KAJOETANGAN SEBAGAI SOUVENIR IKONIK DESA WISATA Lisa Sidyawati; Swastika Dhesti Anggriani; Abdul Rahman Prasetyo
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2021): Volume 2 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v2i2.1988

Abstract

Menurut data situs resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang tahun 2019 melonjak hingga lebih dari 100 % di bandingkan tahun 2018. Wisatawan asing dan lokal yang berkunjung selalu menyusuri bangunan Heritage yang ada di Kota Malang. Diantara bangunan Heritage tersebut, terdapat sebuah kampung yang terletak di dalam sebuah gang di Jl. Jend. Basuki Rachmat Gg. IV dan VI, Kota Malang, Jawa Timur bernama Kampoeng Heritage Kajoetangan. Tercatat wisatawan yang berkunjung disana sejumlah 4000 per tahun. Pengunjung melakukan perjalanan wisata dari rumah satu ke rumah lain yang bergaya kolonial Belanda dan masih ditempati pemiliknya. Namun wisatawan kesulitan mencari souvenir khas Kampoeng Heritage Kajoetangan, seharusnya sebuah tempat wisata selain menyediakan objek wisata juga souvenir yang dapat dibeli oleh wisatawan. Fungsi souvenir tidak hanya menyimpan kenangan tentang perjalanan yang dilakukan, melainkan juga sebagai ikon dari daerah tujuan wisata sekaligus memberi andil dalam mendukung pariwisata. Pengabdi membantu masyarakat disana untuk mengoptimalkan wilayah dengan menumbuh kembangkan kemampuan berwirausaha souvenir ikonik desa wisata. Selain menghasilkan uang, souvenir juga berfungsi sebagai sarana promosi. Untuk mendukung program tersebut maka pengabdi melakukan pelatihan pembuatan aksesori fashion batik shibori mix liontin resin. Pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) digunakan sebagai prosedur pengabdian kepada masyarakat.
PELATIHAN PEMBUATAN SOUVENIR ELEMEN INTERIOR MENGGUNAKAN TEKNIK STICKY TAPE PRINTMAKING SEBAGAI MODAL KETERAMPILAN WIRAUSAHA Lisa Sidyawati; Anggaunitakiranantika Anggaunitakiranantika; Tika Dwi Tama
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v3i2.4141

Abstract

Sebanyak 70% buruh migran Indonesia adalah perempuan yang awalnya bekerja dibidang manufaktur dan sektor domestik sebagai PRT. Dampak dari pandemi Covid 19 yang terjadi dari tahun 2019 membuat banyak buruh migran Indonesia yang dipulangkan serta tidak diperpanjang kontraknya, sehingga mereka membutuhkan lapangan pekerjaan lagi. Pengabdian ini bertujuan memberikan pelatihan keterampilan para mantan buruh migran Indonesia yang berada di Malang Raya yaitu Pelatihan Pembuatan Souvenir Elemen Interior Bergaya Shabby dengan Teknik Sticky Tape Printmaking BerOrnamen Binatang Mitology Nusantara sebagai Modal Ketrampilan Wirausaha. Metode pengabdian yang dilakukan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan (PRA) dengan tahapan Pelaksanaan program dibagi menjadi tiga tahapan yaitu: (1) Tahap identifikasi produk dan sosialisasi; (2) Tahap praktek dan pendampingan; (3) Tahap monitoring dan evaluasi. Produk yang dihasilkan dalam pengabdian ini adalah sarung bantal, gorden dan taplak meja
PELATIHAN PEMBUATAN ENAMEL KULINER BERMOTIF BATIK BELANDA (1840-1940) BAGI MASYARAKAT KAMPOENG HERITAGE KAJOETANGAN Lisa Sidyawati; Agus Purnomo; Abdul Rahman Prasetyo
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v3i2.4142

Abstract

Kampoeng Heritage Kajoetangan terletak di dalam sebuah gang di Jalan Jend. Basuki Rachmat Gg. VI dan ini dikelola oleh Pokdarwis dalam manajemen wisata maupun perawatan spot-spot heritagenya, terdapat 32 spot di dalam kampung yang bisa dikunjungi wisatawan, diantara spot-spot tersebut terdapat spot andalan kuliner lawasan yang termasuk dalam sajian perjalanan Susur Kampung, spot ini sering disinggahi wisatawan ketika melepas lelah berjalan. Terdapat 3 spot kuliner yaitu: Rumah Mbah Ndut, Omah Dawet Ireng, dan Rumah Jamu. Permasalahan yang dihadapi oleh mitra adalah spot kuliner ini belum ter-branding dengan baik untuk menjadi suasana Indische karena keterbataan kemampuan dan keterampilan warga dalam membuat branding, masyarakat masih menggunakan alat seadanya yang dimiliki, padahal dalam sebuah kuliner hal ini menjadi sangat berarti dan utama. Tujuan pengabdian ini adalah pelatihanxpembuatanxperlengkapan spot-spotxkulinerxdenganxteknikxbatikxlukisxmotifxBelanda (1840-1940) berbahan enamel sebagai penguatan identitas indische. Metode pengabdian yang dilakukan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Partisipatif Kondisi di Pedesaan (PRA) dengan tahapan Pelaksanaan program dibagi menjadi tiga bagian yaitu: (1) Tahap identifikasi produk serta sosialisasi, (2) Tahap praktek serta pendampingan; (3) Tahap monitoring serta evaluasi. Produk yang dihasilkan dalam pengabdian ini adalah cangkir, mug, teko, wakul nasi, piring dan nampan yang dibatik lukis dengan motif Batik Belanda.
PELATIHAN PENCIPTAAN POT BUNGA ARTISTIK DENGAN TEKNIK ANYAM MIX DECOUPAGE BAGI MASYARAKAT KELURAHAN TASIKMADU KOTA MALANG Lisa Sidyawati; Lilis Afifah; Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v3i2.4144

Abstract

Perajin anyaman rotan Tasikmadu adalah perajin rotan terbesar di Malang Raya dan perlu didukung perkembangannya menjadi Desa Wisata. Kekurangan Kampung Anyam Rotan ini adalah dari segi promosi dan penguatan branding yang merupakan ujung tombak untuk mendatangkan wisatawan sehingga membutuhkan penguatan yang dapat menciptakan suasana (ambience) konsep desa wisata. Tujuan pengabdian yaitu melatih ketrampilan warga membuat produk pot artistik mix decoupage yang selanjutnya akan dapat di jadikan tata fasade yang menarik perhatian pengunjung. Metode pengabdian yang dilakukan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan (PRA) dengan tahapan Pelaksanaan program dibagi menjadi tiga bagian yaitu: (1) Tahapan mengidentifikasi produk dan mensosialisasi; (2) Tahapan praktek produksi dan pendampingan; (3) Tahap monitoring dan evaluasi; (4) Tahapan evaluasi. Produk yang dihasilkan dalam pengabdian ini adalah pot bunga rotan yang dihias dengan decoupage.
PELATIHAN PEMBUATAN WIND CHIMES TERRACOTA DENGAN MEDIA GERABAH MIX MAKRAME BAGI MASYARAKAT DESA PAGELARAN Lisa Sidyawati; Iriaji Iriaji; Abdul Rahman Prasetyo
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v3i2.4145

Abstract

Desa Pagelaran sejak tahun 2019 sudah membuka diri untuk menjadi bagian dari desa wisata Kabupaten Malang yang bernama “WISATA EDUKASI GERABAH” karena memiliki aset sentra produksi kriya gerabah terbesar di Malang Raya. Pemetaan konsep oleh Kemenparekraf RI bahwa penguatan ikon desa wisata harus memenuhi 3 hal yaitu: people, product, dan publicity. People dan product Desa Wisata Edukasi Gerabah Pagelaran sudah terpenuhi lewat sumber daya perajin dan produk aneka gerabah. Tinggal masalah branding saja yang belum terpenuhi secara penuh karena termasuk ke dalam publicity bagi desa wisata. Melihat pentingnya souvenir untuk memperkenalkan ke publik, maka tujuan pelatihan ini adalah melatih keterampilan menciptakan Wind Chimes berbahan Terracota dengan memadukan gerabah dan makram untuk penduduk Desa Pagelaran. Metode pengabdian yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal dengan tahapan pelaksanaan berikut: (1) Tahap mengidentifikasi produk dan sosialisasi kegiatan; (2) Tahap pembuatan produk serta pendampingan; (3) Tahap monitoring dan evaluasi. Produk yang dihasilkan dari pelaksanaan pengabdian ini adalah lonceng atau gantungan angin media Gerabah di-mix dengan makrame
Pelatihan Pembuatan Dolanan Jadoel dan Infografis Filosofi Dolanan dengan Teknik Batik Kayu Lisa Sidyawati; Joko Sayono; Swastika Dhesti Anggriani; Mochammad Nurfahrul Lukmanul Khakim
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2021): Agustus
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v4i1.720

Abstract

Tujuan pengabdi ini adalah mengadakan pelatihan pembuatan dolanan jadoel dan infografis filosofi dolanan dengan teknik batik kayu, menggunakan metode pelatihan ceramah dan praktek dengan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan. Prosedur pengabdian ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu: (1). Tahap identifikasi produk dan Sosialisasi, (2) Praktek dan Pendampingan, (3) Monitoring dan Evaluasi. Hasil produk pelatihan ini adalah dolanan jadoel yang sering dimainkan oleh anak-anak pada masa Belanda seperti dakon, gangsing, yoyo, katapel dan bakiak tandem. Pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dipilih sebagai prosedur pengabdian kepada masyarakat ini.  
Comedy Sebagai Apersepsi Dalam Pembelajaran Abdul Rahman Prasetyo; Nila Rahmawati; Lisa Sidyawati
JKTP: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.229 KB) | DOI: 10.17977/um038v3i22020p158

Abstract

Abstrak: Hasil belajar dipengaruhi berbagai faktor. Salah satu faktor paling esensial adalah kesiapan belajar. Kesiapan belajar dapat dikelola dengan memberikan stimulus sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Stimulus dapat dimasukkan melalui pemberian apersepsi. Apersepsi yang memberikan dampak signifikan terhadap kesiapan belajar peserta didik adalah apersepsi yang dapat menggugah semangat dan motivasi belajar. Apersepsi hendaknya menarik untuk diperhatikan. Memberikan efek kejut dan membawa keceriaan di dalam kelas.  Hak untuk mengajar berada di tangan peserta didik, bukan pendidik. Apabila peserta didik rela untuk memberikan haknya kepada pendidik untuk mengajar, maka pendidik akan diterima peserta didiknya ketika proses belajar mengajar. Comedy merupakah salah satu materi yang dapat menarik perhatian setiap orang, tak terkecuali peserta didik. Pendidik yang humoris, dan mampu menyuguhkan joke akan lebih mudah diterima. Menyuguhkan humor dalam kegiatan pembelajaran dapat dipelajari melalui beberapa tahapan yang akan diuraikan dalam penelitian ini. Model pengembangan menggunakan 5 langkah: (1). Analisis, (2). Perancangan, (3). Pengembangan, (4). Implementasi, (5). Evaluasi. Pengembangan ini diharapkan akan menghasilkan sintaks penyusunan naskah apersepsi berbasis comedy yang dapat dipraktikkan dalam kegiatan pembelajaran.Abstract: Learning outcomes are influenced by various factors. One of the most essential factors is learning readiness. Learning readiness can be managed by providing stimulus before starting teaching and learning activities. Stimulus can be included through apperception. Apperception that gives a significant impact on students' learning readiness is apperception that can arouse enthusiasm and motivation to learn. Apperception should be interesting to note. Give a shock effect and bring joy in the classroom. The right to teach is in the hands of students, not teachers. If students are willing to give their rights to the teacher to teach, then the teacher will be accepted by their students during the teaching and learning process. Comedy is one material that can attract everyone's attention, including students. Humorous teachers who are able to present jokes will be more easily accepted. Presenting humor in learning activities can be learned through several stages which will be described in this study. The development model uses 5 steps: (1). Analisys, (2). Design, (3). Development, (4). Implementation, (5). Evaluation. This development is expected to produce a comedy-based apperception script syntax that can be practiced in learning activities.
Development of Diorama Learning Media for Fourth Grade Elementary School Lisa Sidyawati; Riris Masruroh; Intanta Erlianungka Siregar
JOURNAL OF TEACHING AND LEARNING IN ELEMENTARY EDUCATION (JTLEE) Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jtlee.v4i2.7897

Abstract

Learning media is a tool or intermediary that facilitates teaching and learning process and communication between teachers and students. This research is development research that aims to produce a diorama learning media about the rice field ecosystem food chain that is effective, practical and fun. The subjects of this study were 47 fourth graders from a public elementary school in Donowarih, East Java. This study concludes that the use of media in the learning process have impacts on teachers, students and the learning process in the classroom. In designing learning media, several steps must be considered, namely; media must be designed as simple as possible so that students are clear and easy to understand, media must be designed according to the subjects taught, media design is not too complicated and confuse children, the design of the media should use simple and easily available materials, but should not reduce the meaning and function of the media itself, and media can be designed in the form of models, pictures, structured charts, etc, but the materials are cheap and easy to get, so the teacher will have no trouble designing problematic media. Further researchers can use and develop this research and examine more sources and references.
Kerajinan Kayu Ornamen Cukli dengan Teknik Mozaik untuk Menambah Nilai Estetik Swastika Dhesti Anggriani; Lisa Sidyawati; Abdul Rahman Prasetyo
INVENSI Vol 6, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i1.4441

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menambah nilai fungsi (multifungsi) pada produk kerajinan kayu dengan menambahkan ornamen kerang cukli. Produk kerajinan yang digunakan adalah nampan dan sendok-garpu dari material kayu. Ornamen ditambahkan pada permukaan kayu dengan mengaplikasikan material kerang cukli. Pemilihan produk nampan dan sendok-garpu kayu didasari dari melimpahnya material kayu di Indonesia dan produk kayu dinilai relatif mudah untuk dikombinasikan dengan material lain dengan menggunakan teknik mozaik. Metode yang digunakan adalah metode perancangan yang meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Hasil yang diproleh adalah karya kerajinan kayu nampan dan sendok-garpu yang telah diberi ornamen dari kerang cukli. Hasil karya kerajinan memiliki banyak fungsi/multifungsi setelah diberi ornamen dari kerang cukli. Cukli Ornament Wood Craft with Mosaic Techniques to Add Value to the Function ABSTRACTThis article aims to add value to the function (multifunction) of wooden handicraft products by adding ornament from cukli shells material. Craft products used are wooden trays and cutlery. Ornaments are added to the surface of the wood by applying cukli shell material. The selection of wooden trays and cutlery is based on the abundance of wood materials in Indonesia and wood products are considered relatively easy to combine with other materials using mosaic techniques. The method used is the design method which includes the exploration, design, and embodiment stages. The results obtained are the work of woodcraft trays and cutlery that have been given ornaments from cukli shells material. The handicraft works have many functions (multifunction) after being given ornamentation from cukli shells material.
Cerita pada ornamen medalion di relief candi Penataran sebagai ide penciptaan batik lukis Ahmad Suhadak; Anak Agung Gde Rai Arimbawa; Lisa Sidyawati
Imaji Vol 20, No 2 (2022): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v20i2.51492

Abstract

Ornamen medalion pada bangunan Candi Penataran memiliki cerita dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Secara historis keberadaan ornamen medalion pada bangunan Candi Penataran terjadinya proses akulturasi antara kebudayaan India dan Indonesia. Namun sayangnya banyak wisatawan tidak mengerti sejarah dan makna simbolisasi yang terkandung didalamnya. Berdasarkan permasalahan tersebut penciptaan batik lukis ini memiliki tujuan untuk memaparkan pencarian sumber ide yang berasal dari ornamen medalion sebagai karya batik lukis, memberikan gambaran proses penciptaan batik lukis dari cerita ornamen medalion, dan menghasilkan karya batik lukis yang bersumber dari cerita pada ornamen medalion di relief Candi Penataran. Metode penciptaan yang digunakan terdiri atas tiga tahapan yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Hasil penciptaan batik lukis menghasilkan tiga buah karya. Tiga karya tersebut bercerita tentang Tinarunge Wisnu lan Hiranyaksa, Sabung Ayam Raja, dan Airawata Mabur Kayangan. Keseluruhan karya batik lukis ini dapat memberikan wawasan mengenai nilai kepahlawanan, cinta kasih dan pengorbanan yang perlu untuk ditanamkan dalam kehidupan masyarakat. Kata Kunci: Ornamen Medalion, Relief, Candi Penataran, Batik Lukis The story of the medalion ornament in the relief of Penataran temple as an idea for painting batik Abstract         The medallion ornament on the Penataran Temple building has a story and philosophical value contained in it. Historically, the existence of medallion ornaments on the Penataran Temple building occurred an acculturation process between Indian and Indonesian cultures. But unfortunately many tourists do not understand the history and meaning of the symbols contained therein. Based on these problems, the creation of painted batik has the aim of explaining the search for ideas originating from the medallion ornament as a painted batik work, providing an overview of the process of creating painted batik from the story of the medallion ornament, and producing painted batik works that are sourced from the story on the medallion ornament in the temple reliefs. Upgrading. The creation method used consists of three stages, namely exploration, design, and embodiment. The results of the creation of batik painting resulted in three works. The three works tell the story of Tinarunge Wisnu and Hiranyaksa, the King's Cockfighting, and Airawata Mabur Kayangan. All of these painted batik works can provide insight into the values of heroism, love and sacrifice that need to be instilled in people's lives. Keywords: Ornament, Medallion, Relief, Penataran Temple, Batik Painting