Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Prosesi Tiwah dan Pemberian Hewan Kurban (Pantan) pada Masyarakat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah Dersa Yeni; Agustina Agustina; Agustina Efi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Dayak Ngaju melaksanakan Tiwah sebagai upacara sakral untuk mengantarkan roh orang meninggal menuju alam kedamaian abadi. Pemberian hewan kurban menjadi bagian utama yang tidak terpisahkan dari rangkaian ritual ini. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan Tiwah, jenis hewan yang dikorbankan, tata cara pemberiannya, serta makna yang terkandung di dalamnya. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan data melalui studi pustaka dan wawancara mendalam bersama tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hewan kurban bukan sekadar sesajen, melainkan memiliki fungsi ganda: sebagai bekal perjalanan roh, sarana penyucian, simbol ketulusan, dan pengikat persatuan sosial. Nilai ekonomi dan etika juga melekat dalam praktik ini, sehingga masyarakat menyesuaikan pelaksanaannya agar tetap relevan dengan kondisi zaman tanpa menghilangkan esensi sakralnya.
Bahasa Pasambahan dalam Budaya Melayu Kampar, Riau Upik Kurniawati; Agustina Agustina; Agustina Efi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasambahan merupakan salah satu tradisi lisan yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Kampar sebagai bagian dari budaya Melayu Riau. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pengertian, fungsi, struktur, serta nilai-nilai yang terkandung dalam pasambahan, sekaligus menyoroti tantangan pelestariannya di era modern. Pasambahan tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi adat dalam berbagai kegiatan seperti pernikahan, penyambutan tamu, dan musyawarah, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai kesopanan, penghormatan, dan norma sosial. Secara struktural, pasambahan terdiri dari pembukaan, isi, dan penutup, dengan ciri khas penggunaan bahasa kiasan, pantun, serta ungkapan simbolik yang memiliki nilai estetika tinggi. Selain itu, pasambahan mengandung nilai-nilai penting seperti nilai religius, pendidikan, kebersamaan, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, di tengah arus globalisasi, tradisi ini menghadapi tantangan berupa menurunnya minat generasi muda. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian melalui pendidikan, pelatihan, serta dokumentasi agar pasambahan tetap lestari sebagai identitas budaya masyarakat Kampar.
ROCKY GERUNG POLITICS OBSERVER IN CRITICIZING THE GOVERNMENT ON THE YOUTUBE CHANNEL Khairur Rizki; Agustina Agustina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.7196

Abstract

This research was motivated by the delivery of criticism towards the government which is considered less polite by some circles. The purpose of this study is to explain the politeness in the language of RG political observers when criticizing the government. This type of research is qualitative research. The method used in this research is descriptive method. The main instrument is the researcher himself. The data of this research is in the form of speeches by political observers of the RG which contain criticism of the government. The data source for this research is the RG YouTube channel. The data collection technique used is the observation and note taking technique. The data validation technique used in this study is triangulation. Technical data analysis is carried out by analyzing data according to the theoretical studies used to answer research questions that have been formulated. The research results show that. First, GM political observers in criticizing the government tend to use speech acts of direct criticism, although they sometimes use indirect criticism. Second, in criticizing RG, the dominant uses the maxim of praise, then agreement, and wisdom. However, RG tends to violate the politeness principles, especially the maxims of praise. This is because the criticism given tends to be direct without paying attention to the face of the speech partner or being criticized by RG.
Cultural Continuity or Change: Pedagogical Implications of Layered Transformation in Malay Offering Dance Silvia Gea; Agustina Agustina
Journal of Education Research Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/jer.v7i2.3539

Abstract

Urbanization and the growth of the creative industry have shifted the Riau Malay Offering Dance (Tari Persembahan) from sacred ceremonial contexts to commercial performance stages. While this transformation is often framed as a loss of tradition, limited attention has been given to its pedagogical implications—particularly how teachers transmit core values such as rasa (sensibility) and adab (politeness) in increasingly fast-paced and spectacular performances. This study employs a qualitative case study at Sanggar Wan Dance, Pekanbaru, and analyzes the transformation through the lens of deterritorialization. The findings reveal a layered transformation: the outer layer (costume and music) undergoes significant modification, the middle layer (movement structure) is simplified and accelerated, while the inner core (sembah gesture and ethical values) remains relatively stable. These results suggest that cultural preservation in contemporary contexts depends on intentional pedagogical design, where teachers actively implement explicit strategies to sustain and transmit core cultural values.
TRANSFORMASI TARI ZAPIN DALAM DANCE CHALLENGE TIKTOK DI ERA POST-REALITAS Ratih Riau Khasanah; Agustina Agustina; Fuji Astuti; Indrayuda Indrayuda; Elida Elida
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 12 (2025): Desember 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan media digital telah menghadirkan ruang baru bagi praktik seni pertunjukan, termasuk seni tari tradisional. TikTok sebagai platform berbasis video pendek menjadi medium yang memungkinkan tarian tradisional direpresentasikan ulang dalam format dance challenge yang bersifat visual, cepat, dan viral. Salah satu fenomena yang menonjol adalah transformasi Tari Zapin, tarian tradisional Melayu yang sarat nilai religius, kesantunan, dan spiritualitas, ke dalam bentuk konten digital di TikTok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk transformasi Tari Zapin dalam dance challenge TikTok di era post-realitas serta mengkaji perubahan makna dan nilai budaya yang menyertainya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui observasi digital (digital ethnography), wawancara, dan studi literatur. Analisis data dilakukan dengan pendekatan semiotika dan fenomenologi budaya, menggunakan teori tari, post-realitas Jean Baudrillard, representasi budaya, serta teori transformasi seni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Zapin mengalami pergeseran bentuk dari ekspresi ritual dan sosial menjadi representasi visual yang tunduk pada logika algoritma dan estetika digital. Transformasi ini menyebabkan terjadinya pergeseran makna dan nilai budaya Zapin dari substansi spiritual menuju citra performatif. Namun demikian, Zapin digital juga menunjukkan kemampuan budaya lokal untuk beradaptasi dan bertahan melalui reinterpretasi di ruang digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi Tari Zapin di TikTok merupakan wujud negosiasi antara tradisi dan teknologi dalam konteks budaya post-realitas
Adat Istiadat Masyarakat Melayu di Kota Dumai Ratih Riau Khasanah; Agustina Agustina; Agusti Efi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Melayu dikenal sebagai salah satu kelompok etnis di Indonesia yang memiliki sistem adat yang kuat dan masih terjaga hingga saat ini. Adat Melayu memiliki ciri khas yang erat kaitannya dengan ajaran Islam, sebagaimana tercermin dalam prinsip “adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.” Kota Dumai sebagai salah satu wilayah di Provinsi Riau merupakan daerah yang mayoritas penduduknya berbudaya Melayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji adat istiadat masyarakat melayu di kota Dumai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode ini digunakan untuk menggambarkan dan menjelaskan secara mendalam tentang adat istiadat masyarakat melayu di kota Dumai. Dalam konteks masyarakat Melayu Dumai, adat istiadat memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi dasar dalam membentuk kepribadian individu maupun struktur sosial masyarakat. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, keberadaan adat istiadat menjadi semakin penting sebagai penyeimbang dalam kehidupan masyarakat. Adat memberikan nilai-nilai yang dapat menjaga keharmonisan sosial, memperkuat solidaritas, serta membentuk karakter individu yang berakhlak baik
IDEOLOGI BUDAYA MASYARAKAT TUNGKAL ILIR DALAM MOTIF BATIK TANJUNG JABUNG BARAT Yenni Rahmah; Agustina Agustina; Fuji Astuti; Indrayuda Indrayuda; Elida Elida
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung makna ideologis yang merepresentasikan pandangan hidup masyarakat pendukungnya. Batik Tanjung Jabung Barat, khususnya yang berkembang di wilayah Tungkal Ilir, menampilkan motif-motif yang berakar pada nilai religius, adat istiadat Melayu, serta relasi harmonis antara manusia dan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk motif Batik Tanjung Jabung Barat serta menganalisis nilai-nilai ideologi budaya masyarakat Tungkal Ilir yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dengan perajin batik dan tokoh budaya, serta studi dokumentasi dan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif-motif seperti Rehal dan Tunjuk Ngaji, Hutan Mangrove, dan Biota Laut merupakan representasi ideologi budaya Melayu yang menekankan religiusitas, kearifan ekologis, kerja keras, dan harmoni sosial. Batik Tanjung Jabung Barat berfungsi tidak hanya sebagai produk seni dan ekonomi kreatif, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai ideologis dan identitas budaya masyarakat Tungkal Ilir di tengah arus modernisasi.
First Language Acquisition in a Three-Year-Old Child: A Phonological, Morphological, and Syntactic Analysis Atika Zikri; Siti Ainim Liusti; Agustina Agustina
Srawung: Journal of Social Sciences and Humanities Vol. 5 Issue 2 (2026)
Publisher : jfpublisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56943/jssh.v5i2.978

Abstract

This study investigates the first language acquisition of a three-year-old Indonesian-speaking child at the phonological, morphological, and syntactic levels of linguistic analysis. Despite the considerable body of research on early childhood language development, naturalistic acquisition studies focusing on Indonesian as a first language remain underrepresented in the cross-linguistic literature, leaving a gap in understanding of how developmental patterns documented in widely studied languages manifest in typologically distinct ones. This study employed a qualitative descriptive design, with data collected over three weeks through participatory naturalistic observation within the subject's habitual domestic environment. The research subject was selected through purposive sampling on the basis of age, monolingual Indonesian language background, and absence of documented developmental disorder. Data were analysed following the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, comprising the stages of data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings reveal three principal outcomes. At the phonological level, the subject consistently substituted the trill consonant /r/ with the lateral approximant /l/ and the alveolar fricative /s/ with the palatal affricate /c/, patterns that are developmentally normative and consistent with universal consonant acquisition hierarchies. At the morphological level, the subject demonstrated productive use of base lexical forms across multiple word classes, alongside emerging but grammatically incomplete use of verbal prefixes. At the syntactic level, the subject produced all four major sentence types, with declarative sentences occurring most frequently, followed by interrogative, imperative, and exclamatory forms. These findings extend the cross-linguistic evidence base for universalist accounts of early language development and offer practical implications for parents and early childhood educators in supporting children's linguistic growth during this critical developmental period.