Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Pengaruh Terapi Berpikir Positif dan Cognitive Behavior Therapy (CBT) Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Mahasiswa Universitas Mulawarman Adriansyah, Muhammad Ali; Rahayu, Diah; Prastika, Netty Dyan
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 4, No 2 (2015): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v4i2.2271

Abstract

Kecemasan adalah suatu keadaan emosi yang dipakai untuk menunjukkan respon emosional yang tidak sesuai dengan keadaan yang menimbulkan rasa takut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan kecemasan pada mahasiswa Universitas Mulawarman setelah diberi terapi berfikir positif dan cognitive behavior therapy (CBT). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Penelitian eksperimen adalah penelitian yang memberikan perlakuan terhadap suatu sampel penelitian yang kemudian mengamati konsekuensi perlakuan tersebut terhadap obyek penelitian. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa yang mengalami kecemasan tingkat tinggi di Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman sejumlah 40 orang mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan ada penurunan kecemasan pada subjek setelah diberikan terapi berpikir positif dengan nilai U = 62.000 dan p = 0.000. Ada penurunan kecemasan pada subjek setelah diberikan cognitive behavioral therapy (CBT) dengan nilai U = 91.000 dan p = 0.003. Lebih lanjut cognitive behavioral therapy (CBT) mendapat mean post = 15.05 > mean post = 13.60 terapi berpikir positif. Hal ini bermakna cognitive behavioral therapy lebih efektif untuk menurukan kecemasan dibanding terapi berpikir positif
PERILAKU INSES PADA GRUP FACEBOOK “FANTASI SEDARAH”: ANALISIS DISFUNGSI KELUARGA DI INDONESIA (PENDEKATAN FENOMENOLOGIS) Apriani, Fajar; Afrianti, Pipit; Rahayu, Diah
Jurnal Keluarga Sehat Sejahtera Vol 23 No 2 (2025): JURNAL KELUARGA SEHAT SEJAHTERA
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jkss.v23i2.70131

Abstract

Incest is a serious form of sexual violence within the family because it occurs in the home, where the victim and the perpetrator live together, placing the victim in a powerless position when facing a family member. This study aims to examine the impact of incest as a sexual crime on victims and its effects on family functioning. This research uses a qualitative method with a phenomenological approach and focuses on the online phenomenon of the Facebook group ‘Fantasi Sedarah’ (Incest Fantasy). Data were collected through document analysis of secondary sources, including media reports, publications from organizations working on the protection of women and children, and academic studies on sexual violence within families. The analysis combines perspectives from feminism, family sociology, psychology, and child and family social welfare. The findings show that perpetrators view victims as sexual objects and develop distorted sexual perceptions, which damage their role and responsibilities as parents. Incest leads to the breakdown of family relationships, weakens protective functions, and has wider negative social impacts. This study highlights that Indonesia’s response to incest cases remains limited, particularly in linking legal processes with victim-centered social support. So, stronger structural and cultural actions by the government are urgently needed to restore family functioning, ensure justice, and protect women and children from sexual violence
Peran Efikasi Diri Terhadap Stres Akademik Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Sari, Dita Arsandi Mirna; Rahayu, Diah
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 4 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i4.8722

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efikasi diri terhadap stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir. metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian ini berjumlah 380 mahasiswa angkatan 2016-2017 yang dipilih dengan menggunakan teknik probability sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan skala efikasi diri (28 butir α = 0.803) dan stres akademik (28 butir α = 0.812). Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi sederhana. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh efikasi diri terhadap stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir. Artinya bahwa mahasiswa yang memiliki efikasi diri yang baik akan memiliki stres akademik yang rendah, hal ini juga ditunjukkan dari sumbangan efektif efikasi diri sebesar 67.3%.
Social Support with Multiple Role Conflicts of Women Teachers During the Pandemic Wahyu Retno ningsih, Shavira Ayu; Rahayu, Diah; Adriansyah, Muhammad Ali
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 2 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i2.10131

Abstract

Online learning during a pandemi is a recommended alternative This condition requires them to work at home not only teaching students but also carrying out the role of wife and babysitter at home. This is what creates conditions that lead to multiple role conflict. Women who experience multiple role conflicts really need social support from their surroundings, be it support from their husbands or those closest to them. This study aims to determine the relationship between social support and the dual role conflict of female teachers during a pandemi. This quantitative research was conducted on 131 female teachers through a purposive sampling technique. The measuring instrument used is the multiple role conflict scale and social support. The results of this study found that the higher the social support, the lower the dual role conflict experienced by female teachers. The implications of the results of this study indicate that dual role conflicts for female teachers who teach Online at home and are faced with other responsibilities can be overcome by providing support to women in carrying out their roles.Pembelajaran daring di masa pandemi menjadi alternatif yang direkomendasikan Kondisi ini mengharuskan mereka bekerja di rumah tidak hanya mengajar siswa tetapi juga menjalankan peran sebagai istri dan babysitter di rumah. Inilah yang menciptakan kondisi yang menyebabkan konflik peran ganda. Perempuan yang mengalami konflik peran ganda sangat membutuhkan dukungan sosial dari sekitarnya, baik itu dukungan dari suami maupun orang-orang terdekatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan konflik peran ganda guru perempuan di masa pandemi. Penelitian kuantitatif ini dilakukan terhadap 131 guru perempuan melalui teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala konflik peran ganda dan dukungan sosial. Hasil penelitian ini menemukan bahwa semakin tinggi dukungan sosial, semakin rendah konflik peran ganda yang dialami guru perempuan. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik peran ganda bagi guru perempuan yang mengajar secara daring di rumah dan dihadapkan pada tanggung jawab lain dapat diatasi dengan memberikan dukungan kepada perempuan dalam menjalankan perannya.
Konflik Peran Ganda dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Polri Kurniawan, Kurniawan; Rahayu, Diah
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 2 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i2.8111

Abstract

Academic procrastination is a phenomenon that often occurs, especially in students who have multiple roles as well as students in the National Police. This study aims to empirically examine whether or not there is a relationship between work family conflict and academic procrastination of Polri students at Mulawarman University. The method used is correlational quantitative, the number of subjects is 96 Police students who were selected by total sampling technique. Data were collected using the academic procrastination and work family conflict scale adopted from previous studies with the reliability level of the academic procrastination scale = 0.852 and the work family conflict scale = 0.900. The data analysis technique using the Pearson Product Moment correlation test resulted in a calculated r value = 0.584 and p = 0.000 <0.05. These results show a fairly strong relationship between work family conflict and academic procrastination, meaning that the higher the perceived work family conflict, the higher the academic procrastination carried out by Polri students at Mulawarman University.Prokrastinasi akademik merupakan fenomena yang sering terjadi terutama pada mahasiswa yang memiliki peran ganda seperti halnya pada mahasiswa yang juga berstatus sebagai anggota Polri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik ada atau tidaknya hubungan antara konflik peran ganda terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa Polri di Universitas Mulawarman. Metode yang digunakan kuantitatif korelasional, jumlah subjek 96 orang mahasiswa Polri yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala prokrastinasi akademik dan konflik peran ganda yang diadopsi dari penelitian sebelumnya dengan tingkat reliabilitas skala prokrastinasi akademik = 0.852 dan skala konflik peran ganda = 0.900. Teknik analisa data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment menghasilkan nilai r hitung = 0.584 dan p = 0.000 < 0.05. Hasil ini menunjukkan hubungan yang cukup kuat antara konflik peran ganda dengan prokrastinasi akademik, artinya semakin tinggi konflik peran ganda yang dirasakan maka semakin tinggi pula prokrastinasi akademik yang dilakukan oleh mahasiswa Polri di Universitas Mulawarman.  
THE INFLUENCE OF ATTITUDE, SUBJECTIVE NORM, AND PERCEIVED BEHAVIORAL CONTROL ON ADOLESCENT MENTAL HEALTH HELP-SEEKING INTENTIONS Donga, Ayu Anggreny Layang; Nurrachmawati, Annisa; Gunawan, Ike Anggraeni; Rohmah, Nur; Rahayu, Diah; Arifin, Muhammad
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 17 No. 1, Januari 2026
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v17i1.1724

Abstract

Background: This study aimed to analyze the influence of attitude, subjective norm, and perceived behavioral control (PBC) on adolescents' mental health help-seeking intentions among high school students in North Sangatta. Methods: This study uses an observational, cross-sectional design. A sample of 551 respondents was collected via a structured questionnaire distributed via Google Forms to homeroom teachers and analyzed using multiple linear regression. Results: 43.9% of students with neutral attitude scores had high intentions to seek mental health help; 57.2% of students with high subjective norm scores had high intentions; and 43.9% of students with neutral perceived behavioral control (PBC) scores had high intentions. Parents were the source of health support for the majority of students, and the least accessed sources were online consultation services and through a boyfriend/girlfriend. The results of multiple linear regression tests showed that attitude (p-value: 0.015), subjective norm (p-value: 0.005), and PBC (p-value: 0.001) influenced the outcome, with a correlation coefficient of 7.4%. This means that the variables of attitude, subjective norm, and perceived behavioral control can explain 7.4% of the variation in mental health help-seeking. Conclusion: The findings reveal that PBC is the most influential variable in mental health help-seeking intention. Increasing mental health literacy for parents and teachers, community support, stigma reduction, and parent participation are necessary to enhance the values of attitude, subjective norm, and PBC among high school students in North Sangatta.
Pengaruh Pemberian Buah Pepaya Terhadap Kualitas Tidur Anak Prasekolah di Posyandu Bunga Sakura Bekasi Timur Adli, Rakha Raihan; Bhaktiar, Tri Agung; Trianingsih, Devi; Dinaryanti, Ratna Sari; Rahayu, Diah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.110999

Abstract

Background: The growth and development of preschool children is significantly influenced by adequate sleep quality. Sleep deprivation in children can negatively impact mental and emotional health, as well as physical and cognitive function. Sleep disorders in preschool children are still common, but treatment focuses on pharmacological approaches or behavioral interventions, while the use of natural nutritional interventions has not been widely explored. One intervention method that has the potential to improve sleep quality is the consumption of nutrient-rich natural fruits. Papaya is known to contain active substances that play a role in neurotransmitter regulation and body relaxation. This interest stems from the limited studies on the effect of papaya on sleep quality in preschool children, particularly in the context of pediatric nursing and community care. Objective: This study aimed to determine the effect of papaya on sleep quality in preschool children. Method: This study used a one-group pretest-posttest design. Twenty-two children aged 3 to 5 years with sleep disorders were selected using a purposive sampling technique. The intervention consisted of 200 grams of papaya daily for five consecutive days. Sleep quality was measured using the Children Sleep Habits Questionnaire (CSHQ). Bivariate analysis used the paired t test to examine differences in preschool children's sleep quality scores. Results: The study showed a significant improvement in sleep quality after the intervention, with pre- and post-intervention scores (83,50±8,07 and 40,18±4,03 respectively). The bivariate test yielded a p-value of <0,05. Conclusion: Papaya fruit has been shown to be effective in improving preschool children's sleep quality scores. This intervention can be used as a safe and effective natural alternative to address children's sleep disorders.INTISARILatar belakang: Permasalahan gangguan tidur pada anak prasekolah masih sering ditemukan, namun penanganan yang dilakukan masih berfokus pada pendekatan farmakologis atau intervensi perilaku, sementara pemanfaatan intervensi nutrisi alami belum banyak dieksplorasi. Salah satu metode intervensi yang berpotensi meningkatkan kualitas tidur adalah konsumsi buah-buahan alami yang kaya nutrisi seperti Pepaya yang diketahui mengandung zat aktif dalam regulasi neurotransmitter dan relaksasi tubuh. Studi tentang manfaat Pepaya dalam meningkatkan kualitas tidur masih terbatas khususnya pada konteks keperawatan anak dan komunitas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian buah Pepaya terhadap kualitas tidur anak usia prasekolah. Metode: Penelitian ini menggunakan one group pretest-posttest design. Sebanyak 22 anak berusia 3 hingga 5 tahun yang mengalami gangguan tidur dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa pemberian buah Pepaya sejumlah 200 gram setiap hari selama lima hari berturut-turut. Kualitas tidur diukur menggunakan instrumen Children Sleep Habits Questionnaire (CSHQ). Analisis bivariat menggunakan uji paired t test untuk melihat perbedaan skor kualitas tidur anak prasekolah. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kualitas tidur yang signifikan setelah intervensi dengan nilai pretest 83,50 ± 8,070 dan posttest 40,18 ± 4,03. Hasil uji bivariat didapatkan nilai p sebesar 0,000 (p-value < 0,05). Simpulan: Buah Pepaya terbukti efektif meningkatkan skor kualitas tidur anak usia prasekolah. Intervensi ini dapat digunakan sebagai alternatif alami yang aman dan efektif untuk mengatasi gangguan tidur anak.
Telaah Sistematis (SLR) Makna Merokok sebagai Mekanisme Coping Emosional pada Remaja Jusni Ananda Fitri; Nur Rohmah; Diah Rahayu
Mulawarman International Conference on Tropical Public Health Vol. 2 No. 2 (2025): The 4th MICTOPH
Publisher : Faculty of Public Health Mulawarman University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Perilaku merokok pada remaja di Indonesia masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang mendesak, dengan prevalensi perokok aktif pada kelompok usia 15–19 tahun mencapai 56,5% (Survei Kesehatan Indonesia, 2023). Kelompok usia ini rentan terhadap tekanan emosional dan pengaruh sosial, sehingga merokok kerap dimaknai sebagai bentuk emotional escape atau strategi pelarian emosional. Objective : Tinjauan literatur ini bertujuan untuk melakukan telaah sistematis (Systematic Literature Review / SLR) guna menganalisis makna merokok sebagai mekanisme coping terhadap tekanan emosional pada remaja, serta meninjau korelasinya dengan kesehatan mental. Research Methods/ Implementation Methods : Kajian dilakukan terhadap artikel-artikel ilmiah terindeks yang dipublikasikan antara tahun 2021 hingga 2025 dengan menggunakan protokol Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA), Pencarian literatur menggunakan kombinasi kata kunci seperti "merokok remaja" AND "coping stres" OR "emotional escape" AND "kesehatan mental" OR "regulasi emosi). Dari 228 artikel yang diidentifikasi, diperoleh sembilan artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi untuk dianalisis lebih lanjut. Results : Hasil tinjauan menunjukkan bahwa merokok dipersepsikan sebagai cara untuk mengatasi stres, kecemasan, dan konflik batin, terutama ketika dukungan emosional terbatas. Namun, kebiasaan ini justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis dan meningkatkan risiko ketergantungan nikotin. Pemahaman mendalam tentang makna subjektif merokok ini sangat penting dalam merancang intervensi kesehatan mental yang lebih efektif, serta dalam mempromosikan strategi coping yang lebih adaptif bagi remaja, mengatasi kekosongan kajian kualitatif pada topik ini. Conclusion/Lesson Learned : Merokok pada remaja dipahami sebagai bentuk coping terhadap tekanan emosional, namun bersifat maladaptif karena memperburuk kesehatan mental dan meningkatkan risiko ketergantungan. Diperlukan intervensi yang menekankan penguatan regulasi emosi dan strategi coping adaptif bagi remaja.
Psikoedukasi Tentang Perilaku Delikuen Sebagai Upaya Menurunkan Tingkat Kenakalan Remaja Tasya Ayuwardani Putri; Diah Rahayu
Plakat : Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2022): Plakat: Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/plakat.v4i2.8974

Abstract

Remaja merupakan masa seorang anak berada pada fase pencarian jati dirinya yang ingin mengenal siapa dirinya. Pada fase ini biasanya seorang anak mengalami masa pubertas yang memunculkan berbagai gejolak emosi dan menimbulkan masalah baik dalam keluarga maupun lingkungan sosialnya. Salah satu permasalahan remaja pada fase tersebut adalah kecenderungan untuk berperilaku nakal (delinguen) yang meliputi semua perilaku menyimpang dari norma-norma hukum pindana. Maka dibutuhkan pemahaman melalui sosialisasi psikoedukasi di SMP Nasional 3 Bahasa Kalimantan Timur dengan 40 siswa yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman remaja terhadap bahaya kenakalan dan dampaknya pada diri sendiri dengan metode ceramah. Berdasarkan hasil yang didapatkan terdapat peningkatan sebesar 6.70 pada softskill siswa dalam kegiatan sosialisasi psikoedukasi di SMP Nasional 3 Bahasa Kalimantan Timur. Adolescence is a time when a child is in the phase of searching for his identity who wants to know who he is. In this phase, a child usually goes through puberty which causes various emotional upheavals and causes problems both in the family and in the social environment. One of the problems of adolescents in this phase is the tendency to misbehave (delinquent) which includes all behaviors that deviate from the norms of criminal law. Therefore, understanding is needed through psychoeducational socialization at SMP Nasional 3 Bahasa East Kalimantan with 40 students which aims to increase adolescents' understanding of the dangers of delinquency and its impact on themselves with the lecture method. Based on the results obtained, there was an increase of as much as 6.70 in the soft skills of students in psychoeducational socialization activities at SMP Nasional 3 Bahasa East Kalimantan.