Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Tapak Suci as a Medium of Muhammadiyah Da’wah: A Qualitative Study of Branch 01 Limau Kebayoran Baru Mohammad Haiqal An-Nur; Rika Sa'diyah
MISYKAT AL-ANWAR JURNAL KAJIAN ISLAM DAN MASYARAKAT Vol 9 No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Islamic Studies, University of Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/ma.9.2.261-272

Abstract

This study aims to analyze the role of Tapak Suci Branch 01 Limau Kebayoran Baru as a medium of Muhammadiyah da’wah, the forms of da’wah implementation carried out within the organization, and the Islamic values embedded in its activities. This research employed a qualitative approach with a descriptive research design. Data were collected through interviews, observations, and documentation involving administrators, trainers, and members of Tapak Suci. The data were analyzed using descriptive qualitative techniques through the processes of data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that Tapak Suci Branch 01 Limau Kebayoran Baru functions not only as a martial arts organization but also as an effective medium of da’wah in fostering the younger generation through educational, character-building, and socio-religious activities. The implementation of da’wah is carried out through the Limau Ceria Mengaji Fastabiqulkhairat (LCMF) program and Amaliah Ramadhan activities, which contribute to improving religious understanding, strengthening Islamic character, and enhancing the involvement of members in Muhammadiyah da’wah activities. Furthermore, the activities of Tapak Suci embody various Islamic values, including faith and piety, noble character (akhlakul karimah), Islamic brotherhood (ukhuwah Islamiyah), discipline and responsibility, amar ma’ruf nahi munkar, leadership, and community service. These values are internalized through continuous training, exemplary leadership, habituation, and active participation in organizational activities. The study concludes that Tapak Suci successfully integrates physical, mental, social, and spiritual development, thereby contributing to the formation of cadres who are faithful, morally upright, socially responsible, and committed to supporting Muhammadiyah’s mission of da’wah and the development of a progressive Islamic society
Analisis Konseptual Sistematika dalam Merancang Masalah Penelitian : Identifikasi, Batasan, dan Pertanyaan Penelitian Muhammad Husein; Bagus Kuntjorodjati; Rika Sa'diyah
Jurnal Konatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Labschool Cibubur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62203/jkjip.v4i1.175

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengekplorasi sistematika dalam merancang masalah penelitian, dimulai dari identifikasi, menentukan batasan, dan pertanyaan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan melalui metode analisis konseptual yang merupakan bagian dari pendekatan kualitatif.  Pendekatan penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data dari sumber-sumber tertulis seperti buku, jurnal, dan artikel untuk mendeskripsikan topik yang diteliti. Perumusan masalah merupakan langkah yang sangat menentukan dalam keseluruhan proses penelitian ilmiah. Kemampuan merumuskan masalah penelitian mencerminkan tingkat kematangan akademik seorang peneliti. Peneliti dituntut memiliki kemampuan hermeneutik, yakni kemampuan menafsirkan teks dan konteks secara seimbang agar penelitian tidak hanya valid secara akademik, tetapi juga bermakna secara religius. Rumusan masalah merupakan salah satu unsur yang sangat fundamental dalam penelitian ilmiah, baik dalam ilmu sosial, humaniora, maupun studi Islam.  Identifikasi masalah merupakan langkah awal dan krusial dalam proses penelitian ilmiah sebagai hasil dari pengamatan terhadap adanya kesenjangan antara teori dan kenyataan yang terjadi di lapangan. Proses identifikasi masalah tidak dapat dilakukan secara instan dan diperlukan observasi awal yang mendalam serta telaah pustaka yang komprehensif.  Sumber yang dapat melahirkan identifikasi masalah diantaranya adalah fenomena sosial keagamaan. identifikasi masalah juga mencerminkan kepekaan sosial dan intelektual peneliti terhadap isu-isu keagamaan yang berkembang. Pembatasan masalah membantu peneliti dalam menentukan variabel, subjek, lokasi, serta waktu penelitian secara lebih spesifik.  Batasan masalah adalah upaya peneliti untuk menentukan ruang lingkup kajian agar penelitian dapat dilakukan secara sistematis, mendalam, dan terarah.
SEKOLAH JUJUR, SEKOLAH SAYA MEMBANGUN BUDAYA ANTIKORUPSI DI LINGKUNGAN SEKOLAH Rika Sa'diyah; Kurniawan MA; Nurfadilah .; Moh Khoirul Anam; Iswan .; Ilmi Zajuli Ichsan
Jurnal Pengabdian ADPIKS Vol 3 No 2 (2026): Volume 3 No 2 Tahun 2026
Publisher : Asosiasi Dosen Peneliti Ilmu Keislaman dan Sosial (ADPIKS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korupsi merupakan persoalan multidimensional yang perlu dicegah sejak usia dini melalui pendidikan karakter. Sekolah dasar memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kejujuran sebagai fondasi budaya antikorupsi. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 10 Januari 2026, bertujuan menumbuhkan budaya antikorupsi melalui penguatan nilai kejujuran di SDN Menteng 03 Pagi Jakarta Pusat. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi nilai antikorupsi, permainan edukatif “Sekolah Jujur”, pendampingan pembuatan poster bertema “Jujur Itu Hebat”, serta sosialisasi kepada 20 orang tua dan beberapa guru. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, ditunjukkan melalui partisipasi aktif, refleksi perilaku jujur, dan karya poster yang dihasilkan. Guru dan orang tua menunjukkan peningkatan kesadaran akan peran keteladanan dan pembiasaan nilai kejujuran di lingkungan sekolah dan keluarga. Program ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif-partisipatif efektif dalam membangun budaya antikorupsi di tingkat sekolah dasar.
Rekonstruksi Manajemen Pendidikan Islam Berbasis Sustainable Development Goals (SDGS): Integrasi Nilai Maqāṣid Al-Syarīah dan Tata Kelola Pendidikan Berkelanjutan Fadhli Arsil; Rika Sa’diyah
Jurnal Dirosah Islamiyah Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Dirosah Islamiyah 
Publisher : Pascasarjana IAI Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to reconstruct Islamic educational management based on the Sustainable Development Goals (SDGs) by integrating maqāṣid al-sharī‘ah values with sustainable educational governance. The study is motivated by the persistence of administrative, procedural, and fragmented management practices in Islamic educational institutions, which remain insufficiently responsive to demands for quality, inclusivity, justice, social responsibility, and ecological sustainability. It employs a qualitative approach using library research and critical-conceptual analysis. Data were drawn from official documents, journal articles, scholarly books, and relevant literature published between 2020 and 2026 and were examined through qualitative content and thematic analysis. The findings indicate that reconstructing Islamic educational management requires comprehensive reform of institutional vision, leadership, curriculum, quality culture, governance, human resource development, risk management, and evaluation systems. Maqāṣid al-sharī‘ah serves as a normative foundation directing educational management toward the protection of religion, life, intellect, progeny, and wealth while strengthening public benefit and intergenerational sustainability. The article proposes a sustainable educational governance model from an Islamic perspective consisting of four layers: value foundations, governance architecture, institutional processes, and outcomes and impacts. This model is expected to support the development of Islamic educational institutions that are excellent, inclusive, civilized, adaptive, and sustainable.