Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA SENSE OF COMMUNITY DENGAN HARGA DIRI PADA ANGGOTA HIJABERS COMMUNITY DI YOGYAKARTA Cholila Shinta Jatisari; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 (Agustus 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.005 KB) | DOI: 10.14710/empati.2013.7355

Abstract

Masa transisi menuju dewasa awal menjadi salah satu peristiwa penting bagi perkembangan individu, namun pada masa transisi tersebut dapat menuju pada timbulnya rasa kesepian dan kecemasan yang disebabkan oleh rendahnya harga diri yang dimiliki oleh seseorang. Salah satu faktor meningkatkan harga diri pada individu adalah dari kondisi psikologis individu yang di dalamnya terdapat sense of community. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sense of community dengan harga diri pada anggota Hijabers Community di Yogyakarta.Populasi penelitian berjumlah 149 anggota dengan sampel penelitian sebanyak 93 anggota Hijabers Community Yogyakarta. Penentuan sampel menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan Skala Sense Of Community dari 32 aitem (α = 0,903) dan Skala Harga Diri terdiri dari 26 aitem (α = 0,887).Analisis regresi sederhana menunjukan  = 0,578 dengan p= 0,000 (p<0,05), artinya ada hubungan positif yang signifikan antara sense of community dengan harga diri pada anggota Hijabers Community di Yogyakarta. Hasil tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi sense of community maka semakin tinggi harga diri, sebaliknya semakin rendah sense of community maka akan semakin rendah harga diri yang dimiliki anggota Hijabers Community. Sense of community memberikan sumbangan efektif terhadap variabel harga diri sebesar 33,4% sedangkan 66,6% berasal dari faktor-faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini.
HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DENGAN ASERTIVITAS (Studi Korelasi pada Siswa di SMA Negeri 9 Semarang) Anastasia Christie Silaen; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 (April 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.706 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.14912

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara regulasi emosi dengan asertivitas pada remaja, serta mengetahui kemampuan regulasi emosi dalam memprediksi besarnya variasi yang terjadi pada asertivitas. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian adalah ada hubungan positif antara regulasi emosi dengan asertivitas. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 362 orang, dengan menggunakan cluster random sampling didapatkan jumlah sampel sebanyak 187 orang yang terdiri dari 5 kelas. Pengumpulan data dalam penelitian menggunakan skala psikologi yang terdiri dari Skala Regulasi Emosi (28 aitem; α=0.888) dan Skala Asertivitas (26 aitem; α=0.842). Analisis data dengan menggunakan metode analisis regresi sederhana mengungkapkan bahwa ada hubungan positif antara regulasi emosi dengan asertivitas (rxy=0.385; p=0.000), maka hipotesis diterima. Artinya, semakin tinggi regulasi emosi, maka semakin tinggi asertivitas. Sebaliknya, semakin rendah regulasi emosi, maka semakin rendah asertivitas. Koefisien determinasi menunjukkan secara simultan regulasi emosi dapat menjelaskan perubahan asertivitas sebesar 14.8%, dan selebihnya 85.2% dipengaruhi oleh faktor lain.
HUBUNGAN ANTARA PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DENGAN KEPUASAN KERJA WIRANIAGA NASMOCO GRUP DI SEMARANG Adriyan Wicaksono; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 4 Tahun 2013 (Oktober 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.524 KB) | DOI: 10.14710/empati.2013.7387

Abstract

Kebutuhan yang dimiliki manusia tidak akan pernah ada habisnya, kita selalu mencari kebutuhan-kebutuhan yang kita butuhkan. Untuk itulah, seseorang bekerja demi tercapainya semua kebutuhan yang diperlukannya. Karyawan atau yang biasa disebut wiraniaga adalah profesi dimana aktivitas mereka melakukan penjualan produk perusahaan kepada konsumen. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antara psychological well-being dan kepuasan kerja wiraniaga Nasmoco Grup di Semarang.Populasi dalam penelitian ini, yaitu wiraniaga bagian marketing Nasmoco Grup sebanyak 132 wiraniaga dengan sampel penelitian 87 wiraniaga. Penentuan sampel menggunakan simple random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Skala Kepuasan Kerja terdiri dari 26 aitem (0,932) dan Skala Psychological Well-Being terdiri dari 37 aitem ( 0,939).Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy=0,723 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara psychological well-being dengan kepuasan kerja. Semakin tinggi psychological well-being maka semakin tinggi kepuasan kerja dan sebaliknya. Sumbangan efektif yang diberikan psychological well-being terhadap kepuasan kerja sebesar 52,3% dan sebesar 47,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diukur dalam penelitian ini.
PENGUNGKAPAN DIRI DITINJAU DARI DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA UNIVERSITAS DIPONEGORO Ryani Nugrahwati; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 (Oktober 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.72 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7615

Abstract

Self-disclosure is the individual ability for sharing personal information, including thought, feeling, experience, opinion, and respond to others. This study aims to know about relationship between peer social support with self-disclosure on the first-year college student of Diponegoro University. Subjects of this study were first-year college students of Diponegoro University, in amount 7838. Sampling technique was two stages cluster sampling, so that the samples were 336 people. Collecting data used two scales, namely Self-Disclosure and Peer Social Support Scale. Analyzing data used a simple regression analysis. The results showed that there is a positive relationship between peer social support with self-disclosure. It means that higher score of peer social support influences higher score of self-disclosure. Conversely, the lower score of peer social support makes the lower score of self-disclosure. Peer social support contributes effectively 32% of the self-disclosure.
HIDUP TERUS BERLANJUT: PERGULATAN EMOSI PADA WANITA KARIR YANG DITINGGAL MATI SUAMI Dinda Putri Perdana; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 (April 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.544 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.14883

Abstract

Setiap kehidupan keluarga berlangsung berdasarkan struktur, salah satu contohnya yaitu adanya pola-pola interaksi di dalam keluarga. Hilangnya pasangan hidup karena kematian akan mengakibatkan perubahan struktur keluarga sehingga muncul istilah orangtua tunggal atau single parent. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman dan perasaan pada wanita karir yang menjalani kehidupannya sebagai seorang single parent karena kematian pasangan. Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis - Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dipilih untuk menggali informasi lebih dalam untuk memperoleh makna dari pengalaman yang dilalui oleh subjek. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur. Subjek penelitian ini ialah tiga orang wanita single parent yang memiliki jabatan di perusahaan tempatnya bekerja yang diperoleh melalui snowball sampling technique. Transkrip wawancara dianalisis untuk mendapatkan tema-tema induk yang terdiri dari, (1) dinamika emosi single parent, (2) proses merespon perubahan, dan (3) fokus menjadi single parent. Hasil penelitian ini mengungkapkan kekhasan yang terjadi pada seorang wanita karir yang single parent bahwa mereka mengalami adanya pergulatan emosi yang menjadi masalah terbesar bagi penyesuaian dirinya. Perasaan yang muncul tidak hanya perasaan sedih, terkejut dan tidak percaya, tetapi juga muncul perasaan bersalah pada suami, perasaan iri melihat keharmonisan pasangan suami istri dan keluarga yang utuh serta perasaan kecewa akan sikap suami. Dengan menghadapi tantangan dalam pergulatan emosi yang terjadi, wanita single parent mampu memaknai pengalamannya sebagai peralihan tanggung jawab suami sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Makna single parent juga dimaknai sebagai peran orangtua yang lebih fokus dalam pengasuhan anak.
TERBUNUHNYA SUAMI OLEH ISTRI YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA: IPA (Interpretative Phenomenological Analysis) Annisa Mei Verticilla; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 (Agustus 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2015.13008

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses perubahan istri sebagai korban KDRT kemudian melakukan pembunuhan terhadap suaminya. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode fenomenologis dengan pendekatan khusus yakni Interpretative Phenomenological Analysis atau IPA. Subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini berjumlah tiga subjek dengan kriteria sebagai narapidana kasus pembunuhan terhadap suami dan merupakan korban KDRT suaminya. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur. Transkrip wawancara diperlukan untuk dianalisis agar mendapatkan 10 tema sub-ordinat yang kemudian dikelompokkan menjadi lima tema induk, yaitu (1) Kekerasan pasangan, yakni tentang perlakuan kasar baik secara fisik maupun nonfisik yang didapatkan subjek, (2) konsekuensi psikologi, yakni konsekuensi psikologis yang didapat oleh subjek sebagai korban KDRT, (3) kegagalan respons, yakni kegagalan usaha dalan penyelesaian masalah dan harapan subjek mengenai pernikahannya, (4) final judgement, yakni keputusan korban untuk mengakhiri nyawa suami, kemudian (5) kondisi pasca-pembunuhan, yakni tentang kondisi psikologis subjek setelah melakukan pembunuhan dan harapan ketika keluar penjara. Tetapi ditemukan tema lain dari subjek ketiga yaitu adanya “teman pria”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek memiliki proses perubahan yang sama dari korban kemudian melakukan pembunuhan, namun ketiga subjek memiliki eksekusi yang berbeda-beda dalam membunuh suami.
PERILAKU SEHAT PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II YANG TELAH MENGALAMI RETINOPATI DIABETIKA Afindaningtryas Warapsari; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 4 Tahun 2013 (Oktober 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.942 KB) | DOI: 10.14710/empati.2013.7388

Abstract

Salah satu komplikasi yang menyerang pada penderita Diabetes Melitus tipe II yaitu Retinopati Diabetika. Perilaku sehat penting dilakukan penderita untuk menjaga agar kadar gula darah tetap terkontrol sehingga kondisi tubuhnya tidak semakin parah.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus intrinsic single case, dengan subyek tunggal yang diangkat secara khusus dan mendalam, dengan subyek berdasarkan kriteria antara lain penderita mengalami Diabetes Melitus tipe II yang telah menderita >10 tahun dan mengalami penurunan berat badan >10 kg, menderita komplikasi Retinopati Diabetika dengan low vision, dan responden yaitu perawat, anggota keluarga, dan dokter. Metode pengumpulan data didapatkan dari hasil wawancara, observasi, dan catatan harian subyek oleh perawat. Analisis data dilakukan secara IPA (Interpretative Phenomenological Analysis).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku sehat penderita Diabetes Melitus yang telah mengalami Retinopati Diabetika dilakukan dengan cara melakukan pengaturan pola makan berdasarkan 3J (jumlah, jenis, dan jadwal); berolahraga sesuai anjuran dokter dengan memperhatikan jenis, ritme dan durasi; minum obat secara teratur dan rajin menetesi mata; pemeriksaan ke dokter DM dan dokter RD sesuai jadwal; pengelolaan stres dengan strategi koping secara spiritual; pembatasan aktivitas fisik yang berlebihan serta memperhatikan pola tidur. Perubahan perilaku sehat subyek dipengaruhi oleh semakin parah penyakitnya, pengalaman subyek dalam menghadapi penyakitnya termasuk dari motivasi diri dan strategi koping, pengaruh pengetahuan dari dokter maupun media, motivasi dari orang terdekat, serta adanya manfaat yang dirasakan setelah menjalani perilaku sehat selama 5 tahun. Manfaat yang dirasakan subyek menjadi motivasi dirinya untuk selalu melakukan perilaku sehat walaupun terkadang terdapat hambatan yaitu stres pemicu kekambuhan dan ketidaktaatan akibat kebosanan dalam menjalani perilaku sehat.
MAKNA INTERNET BAGI INDIVIDU DENGAN PROBLEMATIC INTERNET USE Fithria Wardanie; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 4 Tahun 2013 (Oktober 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.781 KB) | DOI: 10.14710/empati.2013.7404

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan makna internet dari individu dengan Problematic Internet Use (PIU), melalui pemahaman atas latar belakang, proses, serta dampak psikologis yang dialami.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis, dengan wawancara mendalam bersama dua orang mahasiswa yang mengalami PIU. Adapun data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode Analisis Fenomenologis Interpretatif (Smith, dkk, 2010).Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kedua subjek menunjukkan beberapa tendensi impulsivitas semenjak belum mengalami PIU, seperti adanya upaya berlebih untuk memenuhi keinginan, kurang mampu menstabilkan emosi, dan tidak akan berhenti melakukan sesuatu sebelum mencapai kepuasan yang tertentu diinginkan. Ketika para subjek menemui situasi pemicu PIU, timbul tendensi impulsivitas terkait penggunaan internet. Tendensi impulsivitas terkait internet tersebut antara lain adalah adanya penundaan kegiatan lain ketika menggunakan internet, kegagalan upaya mengurangi penggunaan internet, kemunculan disforia mood ketika kehilangan akses internet, penarikan diri dari dunia nyata, serta dorongan untuk terus menggunakan internet secara intens. Adapun makna internet bagi kedua subjek adalah internet sebagai bagian terpenting dari kehidupan individu dengan PIU. Salah seorang subjek menganggap internet sebagai penolong kehidupan sosial yang dimiliki, sementara subjek lain menganggap internet sebagi media utama penghilang stress atas permasalahan hidup sehari-hari.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH REMAJA DI SMA NEGERI 2 UNGARAN Dwi Hersinta Putri; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 (Agustus 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2015.12971

Abstract

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah adalah pengetahuan, meningkatnya libido seksual, media informasi, norma agama, orangtua, dan pergaulan semakin bebas (Sarwono, 2003). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa faktor religiusitas, faktor hubungan orangtua-remaja, dan faktor tekanan teman sebaya mempengaruhi perilaku seksual pranikah, serta mendapatkan faktor dominan dari ketiganya. Populasi dalam penelitian ini sejumlah 384 siswa kelas 10 SMA Negeri 2 Ungaran yang berusia 14-18 tahun. Sampel penelitian berjumlah 134 siswa (dengan jumlah siswa laki-laki sebesar 44.7%) yang ditentukan menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan empat buah Skala Psikologi, yaitu Skala Religiusitas (30 aitem valid, α = 0,862), Skala Hubungan Orangtua-remaja (20 aitem valid, α = 0,873), Skala Tekanan Teman Sebaya (17 aitem valid, α = 0,841), dan Skala Perilaku Seksual Pranikah (18 aitem valid, α = 0,862). Hasil yang diperoleh berdasarkan hasil analisis faktor konfirmatori menunjukkan bahwa ketiga faktor mempengaruhi perilaku seksual pranikah, dengan rincian faktor religiusitas (72,4%), faktor hubungan orangtua-remaja (61,4%) dan faktor tekanan teman sebaya (65,3%). Faktor religiusitas menjadi faktor yang dominan diantara ketiga faktor dalam mempengaruhi perilaku seksual pranikah remaja di SMA Negeri 2 Ungaran.
INTENSITAS DISTRES PENYUSUNAN SKRIPSI DITINJAU DARI TIPE – TIPE DUKUNGAN SOSIAL PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG Hafni Hilda Nafeesa; Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.465 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7512

Abstract

Intensitas distres penyusunan skripsi adalah tinggi rendahnya suatu keadaan penderitaan emosional mahasiswa yang ditandai dengan gejala depresi dan gejala kecemasan ketika sedang menyusun karya ilmiah yang menjadi persyaratan akhir pendidikan akademisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tipe dukungan sosial yang paling memberikan pengaruh pada intesitas distres penyusunan skripsi pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung Semarang.Penelitian menggunakan purposive sampling, sebanyak 35 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung Semarang menjadi sampel penelitian. Pengumpulan data menggunakan dua buah skala psikologi, yaitu skala intensitas distres penyusunan skripsi (42 aitem, valid α = 0,941) dan skala tipe – tipe dukungan sosial yang terbagi menjadi tiga subskala, yaitu subskala dukungan informasional (31 aitem, valid α = 0,914), subskala dukungan emosional (29 aitem, valid α = 0,917), dan subskala dukungan instrumental (29 aitem, valid α = 0,917).Hasil penelitian menunjukkan koefisien determinasi dukungan informasional terhadap intensitas distres penyusunan skripsi sebesar 0,244 (R2 = 24,4%), dukungan emosional terhadap intensitas distres penyusunan skripsi sebesar 0,187 (R2 = 18,7%), dan dukungan instrumental terhadap intensitas distres penyusunan skripsi sebesar 0,165 (R2 = 16,5%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu dukungan informasional merupakan dukungan yang paling berpengaruh untuk mengurangi intensitas distress penyusunan skripsi pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung Semarang diterima.