Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

ANALYSIS OF FOOD COST CONTROL AT THE ONE LEGIAN HOTEL I Wayan Arya Pradiptha; Lien Darlina; Ida Ayu Elistyawati
Journal of Applied Sciences in Travel and Hospitality Vol 1 No 2 (2018): June 2018
Publisher : Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.732 KB)

Abstract

This study focuses on food costs controlling with special reference to the hospitality industry. The purpose of this research is to know the control of food cost at The ONE Legian Hotel in May, June, July 2017, and to identify the cause of food cost percentage’s variance between actual food cost and standard food cost. This research uses two methods of data analysis : 1) Quantitative method is use to determining the variance between the standard with actual food cost reconciliation, and calculating variance by using the one way methods analysis which refers to Mulyadi (1995 : 425) to know the profit or loss that caused by the variance, 2) Qualitative descriptive method by giving interpretation about data of standard and actual food cost reconciliation. Data collection method in this research are interview, observation, documentation review, literature review. The results of this research indicate that: (1) food cost controlling at The ONE Legian Hotel in May and June has been run well, but in July the implementation did not run well, this is indicated from the happening of the adverse variance between actual food cost with standard food cost, (2) an increase of the food cost reconciliation’s percentage between the actual from standard budgeted in May, June and July due to an increase in total incoming stocks, gross consumption and net consumption, beside that, the increase in food cost percentage also caused by the decrease of total opening inventory, total inventory available, total closing inventory, or decrease of elements of food adjustment, and net food sales.
Kepuasan Peserta Pelatihan Terhadap Pelaksanaan Pelatihan Bahasa Jepang di Desa Wisata Mas Ubud, Kabupaten Gianyar I Nyoman Meirejeki; I Wayan Nurjaya; Lien Darlina; Luh Mei Wahyuni
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 6 No 2 (2020): November 2020
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/bp.v6i2.2080

Abstract

Dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di bidang pariwisata, Desa Mas Ubud bekerjasama dengan Politeknik Negeri Bali, melakukan pelatihan Bahasa Jepang. Jumlah peserta pelatihan ditentukan oleh kepala desa, sebanyak 30 orang, diutamakan para pemilik homestay, sekaligus menjadi responden dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, observasi dan wawancara. Dalam menilai keberhasilan pelatihan ini akan dilihat dari 4 kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Dari hasil analisis dengan metode Importance-Performance Analysis diperoleh nilai rata-rata sebesar 100,92%, artinya secara keseluruhan peserta pelatihan sudah puas terhadap kinerja pelatih, meskipun demikian ada satu kompetensi yang masih dianggap kurang yaitu kompetensi pedagogik dengan tingkat kesesuaian sebesar 99,72%. Untuk meningkatkan kualitas pelatihan, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian yaitu: Keteraturan dan ketertiban penyelenggaraan pelatihan, pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran, pemberian umpan balik terhadap tugas dan kemampuan memberi contoh relevan.
KONSTRUKSI PASIF BAHASA JEPANG (Kajian Gramatika Relasional) Rita Maria Sahara; Lien Darlina
Soshum: Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 3 No 2 (2013): July 2013
Publisher : Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.93 KB)

Abstract

This article examines of Japanese passive construction viewed from a study of relational grammar. Passive construction in Japanese are divided into three types, namely chokusetsu ukemi 'direct passive', mochinushi no ukemi 'possession passive', and daisansha no ukemi 'third party passive'. By applying Relational Grammar Theory (RG), the result of analysis indicates that the changes of grammatical relation has the same revaluation in ukemi chokusetsu, that is the direct object of active construction becomes the subject of passive and active construction subject becomes chomeur. In Japanese, mochinushi no ukemi, and daisansha no ukemi can be operated by RG with its own constraints.
PREDIKASI VERBA DERIVATIF BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA (Kajian Tipologi Linguistik) Lien Darlina; I Made Budiasa
Soshum: Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3 (2015): November 2015
Publisher : Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.27 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui predikasi derivatif Bahasa Jepang (BJp) dan Bahasa Indonesia (BI). Metode yang digunakan adalah analisis teks secara kualitatif dengan menggunakan program komputer Korpus. Hasil analisis menunjukkan bahwa dilihat dari perspektif linguistik tipologi, bentuk dasar verba derivatif BJp bisa dari Adjektiva (keiyoushi) dan Verba Nomina, sedangkan untuk BI bisa dari Adjektiva, Nomina dan Prekatagorial. Afiks derivatif BJp yang bisa bergabung dengan Adjektiva (keiyoushi), yakni: -める, -まる, -がる, -む, dan untuk BI mem-, ber-, ter-, ke-an, ber-an, ber-kan, per-, -kan, per-i, dan –i. Afiks BJp yang bisa bergabung dengan Nomina -する, sedangkan untuk BI yaitu mem-, ber-, ter-, ke-an, ber-an, ber-kan, per-, -i, per-i, per-kan. Afiks BI yang bisa bergabung dengan bentuk dasar prekatagorial yaitu mem-, ter-, ber-, ber-an, -i,-kan. Dalam BJp Afiks –める, -む,-するmembentuk Verba Derivatif Transitif, sedangkan afiks : -まる, -がる,-するmembentuk Verba Derivatif Intransitif, untuk BI afiks per-, -i, per-i, per-kan membentuk verba derivatif Transitif, dan mem-, ber-, ter-, ke-an, ber-an, dan ber-kan membentuk verba derivatif Intransitif.
Peningkatan Kapasitas Bahasa Jepang Dasar dan Etika Pelayanan Pelaku Pariwisata Di Banjar Panca Bhineka, Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung Lien Darlina; Solihin Solihin
WIDYABHAKTI Jurnal Ilmiah Populer Vol. 2 No. 1 (2019): Nopember
Publisher : STIKOM Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.478 KB)

Abstract

Kebutuhan kompetensi bahasa Jepang bagi warga Banjar Panca Bhineka, Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung bagi pelaku pariwisata mutlak diperlukan. Aspek ini penting untuk mendukung industri wisata bahari yang merupakan ikon pariwisata di daerah tersebut. Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali sebagai lembaga pendidikan vokasi mengamati perkembangan pariwisata bahari di Tanjung Benoa berkembang pesat terutama dengan kedatangan turis manca negara dalam berbagai aktivitasnya. Sementara para pelaku pariwisata belum siap menghadapi kondisi ini karena kemampuan komunikasi berbahasa asing belum memadai, salah satu sebabnya adalah, pekerjaan yang dahulu sebagai nelayan, sekarang bergeser menjadi pelaku pariwisata. Kondisi ini perlu disikapi dengan memberikan pelatihan bahasa asing khususnya bahasa Jepang yang menekankan pada komunikasi sehari-hari. Metode pembelajaran yang digunakan berbasis paradigma student centered dengan pendekatan communicative language teaching. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi komunikasi bahasa Jepang dengan cara mengenalkan suatu konteks yang relevan. Peserta setelah diberikan pelatihan sudah mampu mengucapkan bunyi ‘hatsuon’, greetings, asking thanking and saying apologies, serta bercakap-cakap: memperkenalkan diri, menyatakan kepunyaan, menyatakan skejul juga harga.
PENINGKATAN KAPASITAS KOMPETENSI BAHASA JEPANG LANJUTAN DAN PROMOSI PARIWISATA PELAKU PARIWISATA DESA MAS, KECAMATAN UBUD, KABUPATEN GIANYAR, BALI Lien Darlina; Wayan Nurjaya; Solihin; Ni Made Rai Sukmawati
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 4: September 2021
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v1i4.246

Abstract

Peningkatan kapasitas kompetensi Bahasa Jepang lanjutan dan promosi wisata Desa Mas bagi para pelaku pariwisata di Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar mutlak diperlukan. Kedua aspek ini sangat penting untuk mendukung industri wisata alam, seni dan budaya, khususnya promosi produk kerajinan patung sebagai penunjang pariwisata yang salah satunya sebagai ikon pariwisata di daerah tersebut. Dari pengamatan yang dilakukan masih adanya hambatan-hambatan dalam pengelolaan berbagai potensi wisata, terutama tentang promosi wisata alam, seni budaya dan kebahasan yang dihadapi oleh pelaku pariwisata Desa Mas pada saat berkomunikasi verbal dengan wisatawan asing. Oleh karena itu kemampuan promosi dan komunikasi masyarakat yang masih dasar harus diimbangi dengan kemampuan promosi dan kemampuan bahasa asing, yang lebih mendalam untuk melayani para wisatawan asing tersebut. Dengan meningkatnya kompetensi Bahasa Jepang serta metode promosi pariwisata yang tepat, diharapkan akan meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat Desa Mas tersebut dalam meningkatkan kualitas layanan kepada pengunjung (customer service) khususnya wisatawan asing dapat mencapai kepuasan pengunjung (customer satisfaction) yang pada gilirannya wisatawan asing akan lebih banyak datang berkunjung sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat
MODEL PERANCANGAN TUGAS MENULIS BERBASIS SEMIOTIK UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA DI POLITEKNIK NEGERI BALI Ida Bagus Artha Adnyana; Lien Darlina; I Made Sumartana
MEDAN MAKNA: Jurnal Ilmu Kebahasaan dan Kesastraan Vol 18, No 2 (2020): Medan Makna Desember
Publisher : Balai Bahasa Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/mm.v18i2.2751

Abstract

Keterampilan menulis aktivitas bisnissangat diperlukansebagaibagian darikemahiranberbahasaIndonesia.  Saat ini kemampuan menulis mahasiswa di Politeknik Negeri Bali masihkurangmemadai. Untukmeningkatkankemampuanmenulis tersebut diperlukankreativitas dosen dalam merancang pengajaran yangtepat.Model perancangan pengajaran menulis berbasis semiotik jarang mendapat sentuhan dari pengajar. Oleh karena itu, pada kajian ini dirancang model perancangan tugas menulis berbasis semiotik yang khusus diperuntukkan bagi mahasiswa di program studi bisnis. Artikelinimembahasbagaimanapenerapan model perancangan tugas menulisberbasis semiotik untuk meningkatkan pengetahuan kewirausahaan mahasiswa, khususnya dalam hal menulis aktivitas bisnis.  Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak, wawancara,dankuesioner kepada147mahasiswa di Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Bali, tahun 2019/2020. Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengacu pada profil kemampuan menulis (ESL composition profile). Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwa94,6% responden mengatakanbahwamodel perancangan tugas menulis berbasis semiotik  ini mampu mendukung  pengetahuan kewirausahaan.  Dari  hasil analisis  juga dapat  disimpulkan  bahwa   rata-rata kemampuan menulis mahasiswa dengan menggunakan model perancangan tugas menulis berbasis semiotik sebesar 77,5 yang berarti sudah tergolong dalam kategori baik dengan kisaran tingkat keterbacaan (fog index) antara 10-14.
Recreational Activities Program as a Complimentary to Hotel Guests Ni Luh Putu Sri Sartika Wati; Lien Darlina; I Gusti Agung Mas Krisna Komala Sari; Ni Made Ernawati; Ni Made Rai Sukmawati; Ni Wayan Wahyu Astuti
International Journal of Travel, Hospitality and Events Vol. 1 No. 2 (2022): International Journal of Travel, Hospitality and Events
Publisher : The Postgraduate School of Tourism Sahid Polytechnic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.643 KB) | DOI: 10.56743/ijothe.v1i2.13

Abstract

ABSTRACT Purpose: The purpose of this study was to determine the interest of guests in the recreation activities program as a complimentary to guests staying at a 5-star hotel in Ungasan, Bali, Indonesia, and to find out which recreation activities were most in demand by guests at the hotel. Research methods: Data collection methods used are observation, interviews, and documentation. The data analysis technique used is descriptive qualitative analysis technique and descriptive statistics. Results and discussion: The study shows that the TTH (The Tree House) Activities that were most attractive to guests in 2019 were art & craft (5.48%), painting (5.40%), nature painting (4.68%), learning Balinese (4.46%), Balinese dance (4, 46%). The year 2020 is a temple tour (4.77%), hotel tour (4.72%), clay making (4.31%), painting and gardening (4.19% each), and music class (3.91 %). Implication: The guests’ interest in the recreation activities program is very good, which can be seen in the percentage of guests participating in the recreation activities program of 35.8% of the total number of guests at the hotel in 2019 and 2020. Keywords: recreation activities, interested activities, spa & recreation department.
Implementation of Green Practices on Room Attendant at Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort I Komang Triartha Pramana; Ni Nyoman Sri Astuti; Lien Darlina; I Ketut Astawa
International Journal of Glocal Tourism Vol. 4 No. 2 (2023): International Journal of Glocal Tourism - June 2023
Publisher : Yayasan Sinergi Widya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Purpose: The purpose of this study was to analyze whether the room attendant at Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort had implemented green practices and to find out which indicators need to be improved and maintained in implementing green practices. Research methods: This study uses descriptive statistical analysis techniques with data collection methods by means of observation, interviews, questionnaires, and documentation. The method of determining the informants using purposive sampling method with the number of informants 33 people from room attendant employees. Findings: The room attendant has implemented green practices very appropriately In the implementation of green practices, there are 3 green practices variables with 9 indicators, where in implementing this program there are 2 indicators that need to be improved, namely the first use of reused bed linen in hotel rooms and secondly the use of reused towels in bathrooms. In an effort to improve the 2 indicators of green practices, the author suggests using or multiplying decorative ornaments containing words or writings that ask guests to reuse bed linen and towels in the hotel room. Implication: With the implementation of green practices in room attendants, it is expected to reduce the impact of environmental damage that can be caused by the hotel industry.
DINAMIKA LEKSIKON KE-PARE-AN SAWAH DALAM GUYUB TUTUR SUNDA: KAJIAN EKOLINGUISTIK Lien Darlina; Wahyuning Dyah
Jurnal Ilmiah Global Education Vol. 4 No. 2 (2023): JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION, Volume 4 Nomor 2, Juni 2023
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/jige.v4i2.939

Abstract

This paper examines the dynamics of lexicons ‘bitter gourd fields’ in Sundanese speech focusing on two problems; (1) How is the language form of lexicon ‘bitter gourd fields’ in Sundanese speech? and (2) How is the dynamics of lexicon ‘bitter gourd fields’ in Sundanese speech? This study applies ecolinguistic theory, and is a descriptive study with qualitative and quantitative approaches. There are two types of data: primary and secondary data. The primary data source is Sundanese speakers who live in Sumedang regency, and as a sample of study, key informants are those above 55 years old and teenagers among 15- 18 years old, and the secondary data are documents related to this study. Data were collected through observation, interview, questionnaire and documentation. The result shows that lexicon ‘bitter gourd fields’ in Sundanese speech of Sumedang regency is grouped based on entities reality of keparean sawah (bitter gourd fields). There are 149 lexicon which are classified into 74 nouns, 74 verbs, and 1 adjective. The dynamics of bitter gourd fields in Sundanese speech, there are 78 lexicons still surviving, while 71 others are less known. It happens due to the influence of many factors and shifts in people’ knowledge and beliefs.