Claim Missing Document
Check
Articles

Spatial Multi Criteria Analysis for Evaluation of Residential Land in South Jambi, Jambi City Hermawan Setiawan
BUMI: International Journal of Environmental Reviews Vol. 2 No. 01 (2024): BUMI
Publisher : UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Pusat Kajian Lingungan Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/bumi.v2i01.2387

Abstract

The land is a landscape on the earth's surface, dynamic to changes, such as converting to settlements. Settlement is driven by changes in population, the greater the population, the greater the need for land to be converted into housing. Based on data from 2018 to 2022, there has been an increasing population in the South Jambi sub-district, which is a strong indication of residential development. This research aims to evaluate the suitability of settlements in the South Jambi sub-district in 2022, using five variables namely, distance from the road, distance from the river, slope, soil type, and flood hazard index. The method of analysis uses the Spatial Multi-Criteria Analysis (SMCA) method. The research results show that the South Jambi sub-district is dominated by the suitable criteria of 568.0 hectares or 86.4%, very suitable criteria obtain 5.8 hectares or 0.9%, and somewhat suitable areas of 80.8 hectares or 12.3%. This means that the South Jambi area has a relatively high level of suitability for settlement. It is hoped that these results can provide information for various stakeholders in determining areas that are suitable for residential development, especially those that are at risk of flooding.
Mapping and Analysis of Rainfall in Purbalingga Regency for Settlement Suitability Alyudin, Dyah Rizky; Wibowo, Adi
Justek : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 7, No 3 (2024): September
Publisher : Unversitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/justek.v7i3.25497

Abstract

Abstract:  The suitability of settlements can be seen from the intensity of rainfall. The high and low intensity of rainfall can be used as a reference for whether a settlement is suitable or not. Areas with very high and very low rainfall can be categorized as areas that are not suitable for settlements, while areas with moderate rainfall can be grouped into areas that are very suitable for settlements based on indications of the possibility of disasters. This analysis was obtained through climatological analysis from SCOPIC. The results show that However, these indications are difficult to associate with the drought and wetness indexes from existing rainfall data, it is difficult to associate with indications of drought or other potential hydrometeorological disasters, considering that rainfall in Purbalingga Regency is not too affected by the SPI index system such as El Nino and La Nina, so that settlement suitability is made based on the rainfall category alone, where Karangreja, Kutasari, Padamara, Kalimanah, Purbalingga, Kemangkon and Bukateja Districts are included in the category of areas that are very suitable and suitable for settlements.Abstrak: Kesesuaian permukiman salah satunya dapat dilihat melalui intensitas curah hujan. Tinggi rendahnya intensitas curah hujan dapat dijadikan acuan layak atau tidaknya suatu pemukiman. Wilayah dengan curah hujan sangat tinggi dan sangat rendah dapat dikategorikan sebagai wilayah yang tidak layak untuk pemukiman, sedangkan wilayah dengan curah hujan sedang dapat dikelompokkan ke dalam wilayah yang sangat layak untuk pemukiman berdasarkan indikasi kemungkinan terjadinya bencana. Analisis ini didapatkan melalui analisis klimatologis dari SCOPIC. Hasil menunjukkan bahwa   indeks kekeringan dan kebasahan dari data curah hujan yang ada sulit untuk dikaitkan dengan indikasi kekeringan maupun potensi bencana hidrometeorologis lain, mengingat curah hujan di Kabupaten Purbalingga tidak terlalu terpengaruh oleh sistem indeks SPI seperti El Nino dan La Nina, sehingga kesesuaian permukiman dibuat berdasarkan pada kategori curah hujan saja, dimana Kecamatan Karangreja, Kutasari, Padamara, Kalimanah, Purbalingga, Kemangkon dan Bukateja termasuk dalam kategori wilayah yang sangat layak dan layak untuk dijadikan pemukiman.
Geoinformatics of Spring Water Quality in Small Village Saraswati, Ratna; Taqyudin, Taqyudin; Pamungkas, Fajar Dwi; Wibowo, Adi
Indonesian Journal of Geography Vol 55, No 3 (2023): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijg.81804

Abstract

Geoinformatics is spatial information based on characteristics and analysis regarding spatial data. Water is the main component of human life with clean water, especially drinking water found from various sources, including spring water. Water quality is a global standard as a chemical, physical, and biological parameter. The study aims to determine the potential spring water based on spatial analysis of water quality standards for potential use. The method used to determine the potential utilization of springs using geographic information system analysis. Data is based on the difference in height, slope, and distance from springs to settlements and discharge. Water quality samples are analyzed using mobile and laboratory tests. The result found that physical parameters from five locations, Sirah Citanggulun, Cikerebek, Cijati, Cijati 2, and Galumpit, have good quality to meet the utilization requirements, especially for water designation class. Chemically parameters, water quality, is relatively good based on several parameters such as pH, Nitrite, dissolved iron, and zinc, which do not exceed the required quality standard threshold. The biological parameters, five samples are contaminated by bacteria Escherichia coli and total coliform. Regarding the literature review, this research found that biological contaminants are unsuitable for drinking water, but it is still good to become another used. The research concluded that the spring water in a small village could become potential uses for drinking water based on the parameter of water quality for daily use, especially for drinking water, regarding biological parameters that spring water must be boiled to drink.
Intensitas Perluasan Lahan Terbangun Pada Perubahan Tutupan Lahan Kota Depok Tahun 1999 – 2022: Dari Awal Terbentuknya Kota Depok Sampai Tahun 2022 Pradana, Mohammad Raditia; Wibowo, Adi; Ekaputri, Diah Megakesuman Muhidin
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 8 No. 2 (2024): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jgel.v8i2.13123

Abstract

Meningkatnya jumlah penduduk akan menyebabkan konversi suatu lahan menjadi lahan terbangun demi memenuhi kebutuhannya. Hal ini menyebabkan terjadi pergeseran sifat pedesaan menjadi sifat perkotaan di suatu wilayah. Kota Depok yang juga terkena efek Jakarta Metropolitan Region mengalami fenomena tersebut mulai dari terbentuknya sampai tahun 2022. Oleh karena itu, tujuan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi perubahan tutupan lahan dan intensitas perluasannya dengan fokus lahan terbangun berbasis citra satelit Landsat 7 ETM + dan 8 OLI/TIRS dengan Google Earth Engine dari tahun 1999 dan 2022. Metode yang digunakan untuk melakukan klasifikasi adalah klasifikasi unsupervised dan untuk mengidentifikas intensitas perluasan dilakukan perhitungan Urban Expansion Intensity Index (UEII). Akurasi hasil klasifikasi unsupervised sebesar 0,65 dan 0,625 dari uji Kappa dapat digunakan untuk proses selanjutnya atau termasuk dalam kategori “good aggrement”. Hasil menunjukkan bahwa tutupan vegetasi menjadi tutupan lahan yang secara luas paling banyak menurun sebesar 5.918,9 Ha sedangkan lahan terbangun meningkat sekitar 8.807,4 Ha. Intensitas perluasan lahan terbangun di Kota Depok tahun 1999-2022 termasuk dalam kategori cepat. Selama 23 tahun, Kota Depok mengalami konversi lahan menjadi lahan terbangun secara drastis dengan intensitas yang cepat. Kesimpulan penelitian ini selama 23 tahun, Kota Depok mengalami perubahan tutupan lahan menjadi lahan terbangun terluas dan intensitas lahan terbangun dari perhitungan UEII adalah 1,91 yang tergolong cepat.
Analisis Pengaruh Jenis Batuan dan Sesar Aktif Terhadap Potensi Pergerakan Tanah (Studi Kasus: Cianjur) Ainiyah, Rofiatul; Wibowo, Adi
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 12 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v12i01.67230

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dan berada diantara tiga lempeng yaitu lempeng Eurasia, lempeng pasifik, dan lempeng Indo-Australia, Indonesia juga memiliki banyak gunung api yang masih aktif. Dengan kondisi tersebut,Indonesia memiliki ancaman bahaya yang beragam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, letusan gunung api, dan gerakan tanah salah satunya yaitu longsor. Faktor yang mendorong terjadinya gerakan tanah adalah faktor alami dan manajemen. Salah satu faktor alami yaitu jenis batuan. Batuan vulkanik merupakan batuan yang mudah lapuk sehingga mudah terlepas dan menyebabkan terjadinya gerakan tanah. Kabupaten Cianjur terdiri dari batuan vulkanik dengan besaran 70,74% dari luasan wilayah. Kabupaten Cianjur juga dilewati dua buah sesar, yaitu sesar Cimandiri dan Cugenang. Aktifitas sesar dapat menyebabkan gempa bumi yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah. Oleh karena itu dengan dua kombinasi faktor alam yang mendiring terjadinya bencana gerakan tanah maka mayoritas wilayah di Kabupaten Cianjur memiliki potensi yang tinggi terjadinya gerakan tanah. Dalam radius 500 meter dari sesar, wilayah tersebut masuk ke dalam zona rawan gerakan tanah dengan kelas tinggi.
The Spasial Temporal Penggunaan Lahan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Menggunakan Google Earth Data Gusrianda, Ilham; Wibowo, Adi
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 12 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v12i01.69660

Abstract

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin bukan hanya mengakomodasi penerbangan domestik, melainkan juga penerbangan internasional, menjadikannya akses utama bagi penumpang dari dan ke destinasi internasional. Situasi ini membuka potensi peningkatan signifikan dalam pergerakan penumpang dan aktivitas wisatawan internasional di bandara ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik perubahan penggunaan lahan secara spasial temporal di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Deteksi perubahan penggunaan lahan dilakukan dengan menganalisis tiga peta penggunaan lahan dari tahun 2003, 2010, dan 2023 menggunakan data citra dari Google Earth Imagery. Pendekatan spasial-temporal ini memungkinkan untuk memahami evolusi dan transformasi lahan di sekitar Bandara Sultan Hasanuddin selama periode waktu yang diteliti. Pendekatan Digitizing High-Resolution in Google Earth menggunakan metode digitasi on screen dilakukan untuk mendapatkan 6 kelas penggunaan lahan yaitu bangunan, lahan terbuka, lintasan pacu (runway), parkir pesawat (apron), vegetasi, dan badan air. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat peningkatan luas bangunan (+5,81 Ha), landasan pacu (runway) seluas +17,42 Ha, parkir pesawat (apron) seluas +28,90 Ha, dan vegetasi (+33,11 Ha), sementara lahan terbuka (-80,65 Ha) dan badan air (-4,58 Ha) mengalami penurunan luasan.
Identifikasi Kesesuaian Lahan untuk Kawasan Industri di Kecamatan Sukawangi Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dengan Spatial Multi Criteria Analysis (SMCA) Rumondor, Brigitta Maria; Wibowo, Adi
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 12 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v12i01.69936

Abstract

Kabupaten Bekasi ialah wilayah yang sangat penting bagi terselenggaranya pertumbuhan industri berkelanjutan di Indonesia. Sesuai Instruksi Presiden No. 13 Tahun 1974 terkait Pembangunan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), Kabupaten Bekasi mempunyai peranan penting sebagai kawasan pelindung ibu kota negara dalam hal pertumbuhan industri. Kecamatan Sukawangi ialah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Bekasi yang terkenal dengan kawasan industrinya. Tujuan dari penelitian ini ialah guna mengetahui keadaan keseimbangan kawasan industri di Kabupaten Sukawangi. Penelitian ini memakai metodologi deskriptif dengan penerapan teknik analisis overlay memakai software ArcGIS 10.8. Analisis keselarasan dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa karakteristik medan, antara lain lereng, jaringan jalan, dan jaringan sungai. Hasil temuan memperlihatkan klasifikasi kesesuaian lahan layak untuk keperluan industri, yakni seluas 2.738,02 hektar. Lahan dengan kategori Cukup Sesuai seluas 197,74 Ha, sedangkan Lahan Kurang sesuai seluas 3.819,26 Ha dan untuk kategori tidak sesuai  seluas 37,97 Ha. Hasil evaluasi KPI berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi disimpulkan bahwa, wilayah yang tidak sesuai KPI di Kecamatan Sukawangi lebih besar dibanding wilayah yang sesuai dengan KPI. Dengan hasil pada penelitian ini, diharapkan bagi Pemerintah maupun pihak terkait dalam pengembangan Kawasan Industri dapat lebih memperhatikan Kesesuaian wilayah untuk peruntukan industri melalui kebijakan yang tepat, agar tidak memberikan dampak negatif bagi keberlanjutan lingkungan sekitar.
Identifikasi Perubahan Tutupan Lahan Dengan Metode Klasifikasi Terbimbing Menggunakan Data Google Earth Noer, Marwah; Wibowo, Adi
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 12 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v12i01.69945

Abstract

Identifikasi perubahan tutupan lahan merupakan hal yang penting dilakukan  sebagai salah satu bahan analisa maupun evaluasi dalam perencanaan pembangunan di berbagai sektor. Seiring dengan berkembangnya teknologi penginderaan jauh, perubahan tutupan lahan dari tahun ke tahun dapat diidentifikasi dengan lebih mudah dan cepat namun juga cukup akurat. Google Earth merupakan salah satu sumber citra satelit yang mudah didapatkan oleh semua kalangan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi data Google Earth dalam mengidentifikasi perubahan tutupan lahan dan memberikan informasi terkait perubahan tutupan lahan tahun 2011, 2017 dan 2022 di sekitar Waduk Brigif Jakarta Selatan. Tutupan lahan pada setiap tahun dianalisa menggunakan metode klasifikasi terbimbing dan diverifikasi dengan koofisien kappa. Hasilnya dapat terlihat bahwa Data Google Earth merupakan data yang memiliki potensi dan berguna untuk mengidentifikasi tutupan lahan multi-temporal, hal ini dibuktikan dengan nilai indeks kappa yang baik. Terjadi perubahan tutupan lahan didaerah penelitian dan dapat diidentifikasi dengan jelas.
Pembuatan Peta Kemiringan Lereng untuk Analisis Kesesuaian Kawasan Permukiman di Kabupaten Purbalingga Prabandari, Amanah Anggun; Wibowo , Adi
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v12i02.70078

Abstract

Permukiman merupakan jenis penggunaan lahan yang paling dominan dan dinamis karena didalamnya memuat segala bentuk aktivitas manusia. Untuk membatasi perkembangan kawasan permukiman agar sesuai dengan peruntukannya dapat digunakan analisis kesesuaian lahan seperti metode Spatial Multi Criteria Analysis (SMCA). Salah satu variabel yang digunakan dalam metode SMCA adalah peta kemiringan lereng. Peta kemiringan lereng dapat diperoleh melalui pengolahan data DEM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian kawasan permukiman di Kabupaten Purbalingga berdasarkan variabel kemiringan lereng yang selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi peruntukan kawasan permukiman pada RTRW Kabupaten Purbalingga. Kemiringan lereng di Kabupaten Purbalingga dibagi dalam 5 kelas lereng yaitu 0-8% (datar), 8-15% (landai), 15-25% (agak curam), 25-45 % (curam) dan >45% (sangat curam) dengan persentase luas lereng  masing-masing kelas berturut-turut 26,37%, 24,84%, 20,68%, 16,61% dan 11,51%. Total luas wilayah yang dapat dikembangkan sebagai kawasan permukiman di Kabupaten Purbalingga sebesar 57.826,25 Ha atau 71,89% dari total luas wilayah. Hasil evaluasi RTRW Kabupaten Purbalingga berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan kawasan permukiman menunjukkan bahwa hampir seluruh alokasi pola ruang kawasan permukiman berada pada kategori dapat dikembangkan sebagai kawasan permukiman meskipun terdapat sebagian kecil yang berada pada kelas sangat tidak sesuai terutama dibagian utara wilayah Kabupaten Purbalingga.
SPATIAL PATTERN OF URBAN HEAT SIGNATURE AND ITS IMPACT ON PAMOYANAN VILLAGE, CIANJUR DISTRICT Sunukanto, V S; Semedi, Jarot Mulyo; Ash Shidiq, Iqbal Putut; Kamarudin, Norizah; Wibowo, Adi
Jurnal Geografi Lingkungan Tropik (Journal of Geography of Tropical Environments) Vol. 6, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

According to the World Bank's Climate Change Knowledge Portal in 2020, the increase in annual temperature in Indonesia, which tends to rise by 0.3°C, is consistent with the Urban Heat phenomenon. Population growth and shifting land cover contribute to annual temperature fluctuations by reducing the amount of vegetated land. The increase in temperature in the urban environment has particular impacts on the community in terms of environmental changes. The term "Urban Heat Signature" refers to land cover in a localized urban environment with natural consequences due to solar radiation and high-low temperature values. This study was conducted in Pamoyanan Village, Cianjur District, by analyzing Land Surface Temperature images derived from Landsat OLI TIRS images, collecting air temperature measurements, and spreading field surveys about human perceptions. According to the processing results, the maximum temperature is greater than 30°C. The air temperature ranges from a maximum of 34.8°C in open land to a minimum of 27.4°C in medium vegetation. If this is the case, then the perception of human temperature significantly impacts comfort and the growing tendency for people to sweat in society.
Co-Authors Adi Wibowo Adi, Luwi Wahyu Aditya Ramadhan Alya Nisrina Zain Alya, Haura Hazema Alyudin, Dyah Rizky Anggara, Rifnaldi Bergas Arista, Faza Ash Shidiq, Iqbal Putut Asri, Riyadul Ayu Handayani Ayu Handayani Ayu Mardalena Bambang Wahyu Sudarmadji, Bambang Wahyu Brenda Arham Brigita Maria R Brigitta Maria Damar Fauzan Bayuhasta Dedy Swandry Dedy Swandry Banurea Demi Stevany Demi Stevany Ekaputri, Diah Megakesuman Muhidin Eko Kusratmoko Evi Frimawaty Fani Setyawan Fathiyya Ulfa Gafuraningtyas, Dewi Glendy Somae Gusrianda, Ilham Handayani, Ayu Hanidya, Farah Satira Haura Zahro Heri Setiawan Hermawan Setiawan Hermawan Setiawan I Wayan Gede Krisna Arimjaya Imam, Mahmoud Zubair Indira, Indira Iqbal Putut Ash Shidiq Jarot M Semedi, Jarot M Junaid, Muhammad Kamarudin, Norizah Kentjana, Nabila Hasna Khairulmaini Osman Salleh Kuncoro Adi Pradono Marwah Noer MASITA DWI MANDINI MANESSA, MASITA DWI MANDINI Muafiroh, Salsa Muhamad Khairul Rosyidy Musrah, Nur Auliya Nastiti, Afifa Ayu Niken Anissa Putri Noer, Marwah Nur Hikmah Nur, Agus Salim Nurlukman, Candra Perkasa Pamungkas, Fajar Dwi Parluhutan Manurung Pin, Tjiong Giok Prabandari, Amanah Anggun Pradana, Mohammad Raditia Pradono, Kuncoro Adi Prasetya, Ferdian Adhy Purwaningsih, Yuli Putra, I Kadek Yoga Dwi Putri, Nadya Paramitha Rakyan Paksi Nagara Ratna Saraswati Ratna Saraswati, Ratna Renita Purwanti, Renita Rizqi, Bayu Rofiatul Ainiyah Rofiatul Ainiyah, Rofiatul Rumondor, Brigitta Maria Safira Nur Aisyah Sani, Inuwa Sani Semedi, Jarot Mulyo Septianto Aldiansyah Setyanto, Yogyrema Sobirin Sobirin Sobirin Sobirin Suko Prayitno Adi Sunukanto, V S Supriatna Supriatna Supriatna Supriatna Supriatna, Supriatna, Department of Geography, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Indonesia Tampubolon, Stefanus Binoto Taqyudin, Taqyudin Tia Pramudyasari Triarko Nurlambang Yoga Dwi Putra, I Kadek Yulia Indri Astuty Yulia Indri Astuty Yuningsih Yuningsih Yuny Fikriyah Shofy Zahro, Haura