Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN POSYANDU DALAM PENINGKATAN STATUS GIZI BALITA DI NAGARI SARIK ALAHAN TIGO KAB SOLOK Nilda Elfemi; Yuhelna, Yuhelna; Sarbaitinil, Sarbaitinil; Isnaini, Isnaini; Yanti Sri Wahyuni; Hefni, Hefni
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 3 (2025): Volume 10 No3 September, 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i03.40460

Abstract

One of the public health service providers that directly impacts the community is the Integrated Health Post (Posyandu). Posyandu is a form of Community-Based Health Effort (UKBM) implemented by the government and the community to empower and facilitate access to health services for mothers, infants, and toddlers. Posyandu is the spearhead of health services, aiming to accelerate efforts to reduce infant and maternal mortality rates. Posyandus carry out various activities, including monitoring toddler growth and development, health services, maternal and child services, including immunizations for disease prevention, diarrhea management, family planning services, counseling, and counseling/referrals when needed.
Upaya Pemerintah Desa dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja di Desa Seleman Kecamatan Danau Kerinci Kabupaten Kerinci Suhaira, Anggun; Elfemi, Nilda; Yatim, Yenita
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol 1, No 1 (2022): March 2022
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v1i1.36

Abstract

AbstrakBanyaknya masalah kenakalan remaja yang terjadi, menyebabkan masyarakat merasa risih,dalam hal ini tentu perlu adanya upaya untuk menanggulangi segala bentuk kenakalan remaja. Salah satu lembaga yang berperan dalam menanggulangi kenakalan yang terjadi adalah pemerintah desa. Karena merupakan unit terdepan dalam pelayanan terhadam masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upaya yang dilakukan pemerintah desa seleman dalam menangulangi kenakalan remaja. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Struktural Fungsional yang dikemukakan oleh Talcot Parson. Penelitian dilakukan di Seleman, Kec. Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskripstif. Penarikan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, Metode pengumpulan data dalam penelitian ini diawali dengan observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen.analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa Upaya pemerintah desa dalam menannggulangi kenakalan remaja di Desa Seleman yaitu adanya kerjasama pemerintah desa dengan karantaruna untuk menyiapkan fasilitas remaja untuk berolahraga seperti menyeidiakan lapangan bola voly, bola kaki, gedung untuk main bulu tangkis,dan menyediakan pengajian. Sehingga kenalan remaja tidak terjadi, karena sudah ada aktifitas yang dilakukan remaja seperti main voly maupun bola kaki disore hari, untuk malam haripun ada group pengajianKata Kunci: Upaya, Pemerintah Desa, Kenakalan Remaja. AbstractThe number of juvenile delinquency problems that occur, causes people to feel uncomfortable, in this case of course it is necessary to make efforts to overcome all forms of juvenile delinquency. One of the institutions that play a role in overcoming delinquency that occurs is the village government. Because it is a leading unit in public service. The purpose of this study was to describe the efforts made by the Seleman village government in dealing with juvenile delinquency. The theory used in this research is the Structural Functional theory proposed by Talcot Parson. The research was conducted in Seleman, Kec. Kerinci Lake, Kerinci Regency. This study uses qualitative research methods with descriptive research type. The withdrawal of informants was carried out by purposive sampling technique. The data collection method in this study began with observation, in-depth interviews, and document studies. Data analysis was carried out in several stages, namely, data collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results showed that there were several village government efforts in dealing with juvenile delinquency in Seleman Village, namely the cooperation between the village government and the cadets to prepare youth facilities for sports such as providing volleyball courts, soccer balls, buildings to play badminton, and providing recitations. So that teenage acquaintances do not occur, because there are already activities carried out by teenagers such as playing volleyball or football in the afternoon, for the evening there is also a recitation groupKeywords: Efforts, Village Government, Juvenile Delinquency
Makna Tradisi Baparang Bagi Masyarakat dalam Kelahiran Anak Kembar Sepasang Laki-Laki Perempuan di Nagari Padang Panjang Dua Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan Sari, Meli Permata; Elfemi, Nilda; Wahyuni, Yanti Sri
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol 1, No 1 (2022): March 2022
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v1i1.75

Abstract

AbstrakKebudayaan keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaannya karena hanya sedikit tindakan manusia dalam kehidupan masyarakat yang tidak perlu di biasakan dengan belajar. Persiapan acara induk sudah dimusyawarakan oleh induak bako sebelum induak bako dbako atang kerumah keluarga anak kembar dan telah disepakati oleh keluarga sianak. Setelah disepakati hari acaranya, induak bako mulai mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan perlengkapan yang akan deperlukan untuk acara baparang tersebut dan anak kembar yang akan diparangkan berkisar berusia 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahunnya. Persiapan dari pihak keluarga si anak hanya mempersiapkan makanan untuk para pihak induak bako. Proses acara baparang dilakukan dengan bentuk pelemparan, bahan yang digunakan bserupa: telur, buah-buahan, pisang yang sudah direbus, dan lainnya. Sambil dalam pelemparan bahan makanan tersebut beriringan dengan melontarkan berupa kata-kata yang mengandung arti atau makna tersendiri bagi dirinya. Dilihat dari masa dulu dengan masa sekarang tradisi baparang telah mengalami perubahan yang sangat jauh, karena masyarakat menyadari dari tindakan yang dilakukan selama ini kurang baik, seperti mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak sepantasnya didengar oleh masyarakat, tetapi sekarang tidak lagi. Dengan adanya perubahan dalam tradisi baparang ini yang semulanya tindakan atau sikap yang ditunjukkan oleh induak bako dari sang anak kurang diterima oleh masyarakat tetapi sekarang sudah dapat dinikmati oleh semua masyarakat 1) Deskripsi Tradisi Baparang, 2) Persiapan Acara Tradisi Baparang 3) Sejarah Tradisi Baparang Tradisi merupakan kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun masih ada hingga kini dan belum di hancurkan atau dirusak. Tradisi dapat diartikan sebagai warisan yang benar atau warisan masa laluKata kunci: Makna, Tradisi, Baparang AbstractCulture is the whole system of ideas, actions and human works in the life of society that are made into human beings by learning. This means that almost all human actions are cultural because only a few human actions in people's lives do not need to be accustomed to learning. Preparations for the main event have been discussed by the bako parent before the bako master dbako atang is at the house of the twins' family and has been agreed upon by the sianak's family. After the agreed date for the event, the bako mother begins to prepare everything related to the equipment that will be needed for the baparang event and the twins who will be paraded are around 1 (one) year old or 2 (two) years old. Preparations from the child's family only prepare food for the parents of bako. The process of the baparang event is carried out in the form of throwing, the materials used are similar: eggs, fruits, boiled bananas, and others. While throwing the food ingredients in tandem with throwing in the form of words that contain its own meaning or meaning for him. Judging from the past to the present, the baparang tradition has undergone very far changes, because people are aware of the actions taken so far that are not good, such as issuing dirty words that are not appropriate for the public to hear, but not anymore. With this change in the baparang tradition, initially the actions or attitudes shown by the mother of the bako from the child were not accepted by the community but now it can be enjoyed by all people 1) Description of the Ayahrang Tradition, 2) Preparation of the Papang-Bako Tradition 3) History of the Ayahrang Tradition Tradition is the similarity of material objects and ideas that originate from the past but still exist today and have not been destroyed or damaged. Tradition can be interpreted as true inheritance or legacy of the past.Keywords: Meaning, Tradition, Parang
Social Media Communication and Cultural Adaptation among University Students in Padang City Elfemi, Nilda; Dikchanio, Farren Tri; Azizah, Nurul; Ramadhan, Satria; Pratama, Sultan Dika; Andria, Vibra Munzilla
Journal of Humanity Studies Vol 4, No 2 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jhs.2025.v4i2.10973

Abstract

This study examines the role of social media in intercultural communication and cultural adaptation among university students in Padang City. The increasing diversity of student backgrounds has intensified interactions across cultural and linguistic boundaries, particularly within digital communication spaces. Using a qualitative approach with a descriptive case study design, this research explores how migrant and local students communicate, adapt, and manage cultural differences through social media platforms. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and analysis of online interactions involving university students from various academic institutions in Padang.