Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Produktivitas Tenaga Kerja pada Proyek Konstruksi Gedung: Studi Kasus Pembangunan Gedung Staf Kodim 0104, Aceh Timur Fadillah, Arif; Firdasari, Firdasari; Masthura, Lely
Jurnal Ilmiah Telsinas Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38043/telsinas.v7i1.5110

Abstract

Pekerjaan dalam suatu proyek kontruksi memerlukan perencanaan yang sangat matang, pada dasarnya dalam merencanakan suatu pekerjaan dilakukan dengan berpedoman kepada SNI. Namun dalam pelaksanaannya terkadang apa yang sudah dihitung berdasarkan SNI hasilnya akan berbeda dengan yang dilaksanakan di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui nilai angka produktivitas yang didapatkan pada pekerjaan pemasangan bata dan plasteran dinding, membandingkan hasil analisis Produktivitas tenaga kerja pemasangan bata dan plasteran dinding antara hasil analisis di lapangan dengan hasil analisis berdasarkan koefisien Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022 dan Membandingkan hasil analisis biaya upah tenaga kerja pemasangan bata dan plasteran dinding antara hasil analisis di lapangan dengan hasil analisis menurut Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022. Metode yang digunakan adalah metode work study yang berguna untuk menghitung rata – rata produktivitas pada pekerjaan pasangan bata dan plasteran dinding. Hasil penelitian ini adalah analisis di lapangan dengan rata-rata produktivitas pekerjaan pasangan bata sebesar 9,94 m2/hari dengan total harga satuan upah tenaga kerja sebesar Rp. 39.979, sedangkan menurut Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022 sebesar 8,33 m2/hari dengan total harga satuan upah tenaga kerja sebesar Rp. 46.015. Perbandingan antara keduanya adalah 1,19 : 1 untuk produktivitas dan 1 : 1,15 untuk biaya upah tenaga kerja. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis di lapangan didapatkan rata-rata produktivitas pekerjaan plasteran dinding sebesar 13,54 m2/hari dengan total harga satuan upah tenaga kerja sebesar Rp. 29.350, sedangkan menurut Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022 sebesar 6,67 m2/hari dengan total harga satuan upah tenaga kerja sebesar Rp. 53.160. Perbandingan antara keduanya adalah 2,03 : 1 untuk produktivitas dan 1 : 1,81 untuk biaya upah tenaga kerja. Adapun manfaat dari penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi, antara lain dapat memberikan gambaran umum dan masukan terhadap pihak-pihak yang berkecimpung dalam bidang industri kontruksi dalam usaha memilih tenaga kerja yang lebih baik dalam jasa kontruksi.
Praktik Ekonomi Sirkular dan Manfaatnya bagi Kehidupan Sosial Ekonomi Petani: Studi Kasus pada Komditas Tebu, Jagung, dan Karet di Kabupaten Lampung Tengah Seta, Amanda Putra; Endaryanto, Teguh; Firdasari, Firdasari; Sari, I Rani Melya
Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 21 No 3 (2025): Oktober, 2025
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The sustainable development in Indonesia encourages the development of a green economy and a circular economy as an effort to integrate economic growth with environmental sustainability. This study aims to identify the pattern of circular economy practices along with their socio-economic benefits in Gunung Agung Village and Tanjung Anom Village, Central Lampung Regency, with a focus on sugarcane, corn, and rubber commodities. The data were collected through a purposive sampling method with 30 farmers as respondents. Furthermore, the data were analyzed descriptively using the 9R framework. The results show that agricultural wastes are beneficial as animal feed, organic fertilizers, fuels, and materials for making simple furniture. Socially, this practice has increased labour absorption and farmer knowledge, and economically has given additional income to farmers of about IDR 1.16 million (from sugarcane), IDR 1.52 million (corn), and IDR 1.59 million (rubber) per year. These findings indicate that the implementation of a circular economy has the potential to improve farmer welfare while supporting environmental sustainability.
Coffee-goat integrated system for assessing livelihood vulnerability (LVI-IPCC) and household food security in Lampung Province, Indonesia MURNIATI, KTUT; ABIDIN, ZAINAL; FIRDASARI, FIRDASARI; MARLINA, LINA; SETA, AMANDA PUTRA; ARIFATUZZAKIYAH, MAULA; SARI, LAVITA WIRDA
Asian Journal of Agriculture Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Smujo International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/asianjagric/g100151

Abstract

Abstract. Murniati K, Abidin Z, Firdasari, Marlina L, Seta AP, Arifatuzzakiyah M, Sari LW. 2026. Coffee-goat integrated system for assessing livelihood vulnerability (LVI-IPCC) and household food security in Lampung Province, Indonesia. Asian J Agric 10 (1): g100151. https://doi.org/10.13057/asianjagric/g100151. This study analyzes the livelihood vulnerability and food security of farming households who implemented integrated coffee-goat farming system in Air Naningan Sub-district, Tanggamus District, Lampung Province, Indonesia. Primary data were collected through a structured survey of 88 farming households that selected purposively. Livelihood vulnerability was measured using the Livelihood Vulnerability Index-IPCC (LVI-IPCC) framework, which included three main components, namely exposure, sensitivity, and adaptive capacity. Household food security was classified based on a combination of the proportion of food expenditure and the level of energy consumption adequacy. The results showed an LVI-IPCC value was -0.00171, indicated as moderate vulnerability, with adaptive capacity relatively higher than the level of exposure. In terms of food security, 26% of households were classified food secure households, food vulnerable households (24%), food less secure households (39%), and food insecure households (11%). These findings confirmed that although coffee-goat integrated system strengthened the adaptive capacity of farming households, food security challenges remained a major issue that required more targeted policy interventions. The implications of these findings suggested that moderate vulnerability and unequal distribution of food security demand rural development policies that not only encourage agricultural integration but also strengthen household food diversification, income stabilization, and community-based nutrition interventions.