Deny Yudi Fitranti
Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang 50275

Published : 70 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan status gizi dan kebiasaan minum minuman ringan dengan kejadian menarche dini Utari, Hermina Pratiwi; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 1 (2017): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.436 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i1.16900

Abstract

Latar Belakang : Menarche dini dapat menjadi faktor risiko diabetes tipe 2, fatty-liver non-alkoholik, penyakit kardiovaskular, kanker ovarium dan kanker payudara di waktu dewasa. Status gizi obesitas dan kebiasaan minum minuman ringan cenderung meningkatkan kejadian menarche dini pada anak.Tujuan : Mengetahui hubungan status gizi dan kebiasaan minum minuman ringan dengan kejadian menarche dini.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional. 25 sampel pada kelompok kasus (mengalami menarche dini) diambil menggunakan consecutive sampling, sedangkan 25 sampel pada kelompok kontrol (tidak mengalami menarche dini) diambil menggunakan matching terhadap usia pada kelompok kasus. Kriteria status gizi menggunakan indikator IMT/U sedangkan kriteria kebiasaan minum minuman ringan menggunakan indikator frekuensi konsumsi minuman ringan/hari. Data dianalisis dengan uji deskriptif analisis, bivariat menggunakan uji chi-square.Hasil : 80% subjek dengan status gizi obesitas, 59.5% subjek dengan jumlah asupan minuman ringan ≥495 ml/hari, dan 56.8% subjek yang sering minum minuman ringan mengalami menarche dini. Status gizi (RP=6.7 95%CI=1.6-28.5 p=0.005) dan jumlah asupan minuman ringan (RP=4.8 95%CI=1.1-20.7 p=0.024) merupakan faktor risiko terjadinya menarche dini. Frekuensi minum minuman ringan (RP=2.9 95%CI=0.76-11.34 p=0.107) bukan merupakan faktor risiko terjadinya menarche dini.Simpulan : 80% subjek dengan status gizi obesitas, 59.5% subjek dengan jumlah asupan minuman ringan ≥495 ml/hari, dan 56.8% subjek yang sering minum minuman ringan mengalami menarche dini. Status gizi dan jumlah asupan minuman ringan per hari merupakan faktor risiko terjadinya menarche dini.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT), PERSEN LEMAK TUBUH, ASUPAN ZAT GIZI, DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEPADATAN TULANG PADA REMAJA PUTRI Nafilah, Nafilah; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.209 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6868

Abstract

Latar Belakang : Kepadatan tulang yang rendah saat remaja dapat meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepadatan tulang diantaranya asupan zat gizi , IMT , persen lemak tubuh, dan aktivitas fisik. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko osteoporosis.Tujuan :Mengetahui hubungan IMT, persen lemak tubuh, asupan zat gizi dan aktivitas fisik dengan kepadatan tulang pada remaja putri.Metode :Penelitian dilaksanakan di SMP PL Domenico Savio Semarang pada bulan Juni 2014.Desain penelitian cross-sectional dengan subyek 101 remaja putri usia 13-15 tahun dipilih dengan metode simple random sampling. Data yang diambil adalah berat badan, persen lemak tubuh, tinggi badan, asupan protein, kalsium, fosfor, vitamin D, tingkat aktivitas fisik, dan kepadatan tulang. Analisis bivariat dengan uji rank Spearman dan analisis multivariat menggunakan uji regresi linier ganda.Hasil :Sebagian besar subyek (70,3%) mengalami osteopenia dan 29,7% memilki kepadatan tulang kategori normal. Sebanyak 63,4% subyek memilki nilai z-score IMT kategori normal, 65,3% memilki persen lemak tubuh normal, 44,6% memiliki tingkat aktivitas sedang, dan 56,4% memilki asupan protein lebih dari AKG. Asupan kalsium, fosfor, dan vitamin D kurang dari AKG masing-masing 65,3%, 44,6%, dan 66,3%. Asupan protein, kalsium, fosfor, vitamin D dan aktivitas fisik tidak terbukti terdapat hubungan dengan kepadatan tulang (p>0,05). Akan tetapi, IMT (r=0,415) dan persen lemak tubuh (r=0,402) terbukti mempunyai hubungan bermakna dengan kepadatan tulang (p<0,05). Pada analisis regresi linier ganda, hanya persen lemak tubuh yang menjadi prediktor kepadatan tulang (B=0,032).Kesimpulan :Terbukti terdapat hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dan persen lemak tubuh dengan kepadatan tulang. Akan tetapi, variabel yang menjadi prediktor terhadap kepadatan tulang hanya persen lemak tubuh.
HUBUNGAN ASUPAN FOSFOR DENGAN KALSIUM URIN PADA WANITA DEWASA AWAL Prameswari, Nisrina; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.722 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10157

Abstract

Background: Kalsium urin dapat digunakan sebagai diagnosis awal berkurangnya kepadatan tulang. Asupan fosfor yang berlebihan merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan meningkatnya jumlah kalsium dalam urin. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan asupan fosfor dengan kalsium urin pada wanita dewasa awal.Method: Jenis penelitian adalah penelitian cross-sectional. Subjek penelitin adalah 46 mahasiswi berusia 18-24 tahun di Jurusan Peternakan Universitas Diponegoro. Asupan fosfor didapatkan melalui wawancara dengan metode food recall 24 jam yang dilakukan selama 4 hari berturut-turut. Kalsium urin diambil pada hari kelima. Jumlah kalsium urin dianalisa dengan menggunakan metode o-cresophatelin complexone. Uji statistik yang digunakan adalah uji Rank Spearman, dan Pearson. Result: Hasil penelitian menunjukan sebanyak 8,7% subjek memiliki asupan fosfor tinggi. Tidak ada subjek yang memiliki jumlah kalsium urin yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan asupan fosfor tidak berhubungan dengan jumlah kalsium urin (r = 0,107, p = 0,477).Conclusion: Tidak ada hubungan antara asupan fosfor dengan jumlah kalsium urin pada wanita dewasa awal (p>0,05)
HUBUNGAN ASUPAN KAFEIN DENGAN KALSIUM URIN PADA LAKI-LAKI DEWASA AWAL Safitri, Eva Yulia; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.817 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10147

Abstract

Latar Belakang: Hiperkalsiuria merupakan salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis. Gaya hidup konsumsi tinggi kafein dapat menjadi faktor pemicu tingginya pengeluran kalsium dalam urin. Kafein dapat meningkatkan kadar kalsium dalam urin melalui penurunan reabsorbsi kalsium di ginjal.Tujuan: Mengetahui hubungan asupan kafein dengan kalsium urin pada laki-laki dewasa awalMetode: Penelitian ini termasuk penelitian observasional dengan desain crossesctional. Sebanyak 46 laki-laki dewasa menjadi subjek dalam penelitian ini dan diperoleh melalui  consecutive sampling. Data riwayat asupan makanan diperoleh melalui wawancara menggunakan food recall 24 jam selama 4 hari yang meliputi asupan kafein, asupan protein, asupan fosfor, asupan kalsium dan asupan natrium. Kadar kalsium urin diukur dengan metode ortho-cresolphtalein complexone (OCPC) pada hari ke-5 setelah dilakukan wawancara food recall 24 jam. Analisis bivariat menggunakan uji Pearson Product Moment atau uji Rank Spearman. Hasil: Sebanyak 2,2% subjek memiliki kadar kalsium urin tinggi. Rata-rata asupan kafein subjek 95,74 ± 101,67. Menurut hasil analisis, asupan kafein tidak memiliki hubungan dengan kadar kalsium urin (p>0,05). Namun, asupan protein (r= 0,420) dan asupan fosfor (r=0,356) memiliki hubungan bermakna dengan kadar kalsium urin (p<0,05).Kesimpulan: Asupan kafein tidak berhubungan dengan kadar kalsium urin pada laki-laki dewasa awal
HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN SENG DAN ZAT BESI DENGAN JUMLAH LEUKOSIT ATLET SEPAK BOLA REMAJA Setyarsih, Liani; Safitri, Iqlima; Susanto, Hardhono; Suhartono, Suhartono; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 9, No 1 (2020): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i1.26926

Abstract

Latar belakang: Latihan fisik intensitas tinggi dapat menyebabkan timbulnya stres fisik yang akan menekan sistem imun pada tubuh atlet. Penurunan fungsi sistem imun tersebut akan meningkatkan risiko infeksi dan menurunkan performa atlet. Leukosit adalah komponen yang berperan dalam homeostasis sistem imun. Salah satu faktor yang mempengaruhi sistem imun adalah asupan zat gizi termasuk seng dan zat besi.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat asupan seng dan zat besi dengan jumlah leukosit pada atlet sepak bola remaja.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan Cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Sepak Bola (SSB) Terang Bangsa Semarang. Jumlah subjek sebanyak 24 atlet remaja dengan metode pengambilan sampel Simple Random Sampling. Data asupan makan diperoleh melalui food recall 24 jam, data aktivitas fisik, kualitas tidur dan kondisi stres psikologis diambil menggunakan kuesioner, dan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena. Data dianalisis menggunakan uji korelasi pearson dan rang spearman.Hasil: Sebanyak 91,7% jumlah leukosit subjek dalam kategori normal. Rerata tingkat asupan seng subjek yaitu 56,22% sedangkan zat besi sebesar 57,7%.Tidak terdapat hubungan signifikan antara  tingkat asupan seng dan zat besi dengan jumlah leukosit.Simpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara  tingkat asupan seng dan zat besi dengan jumlah leukosit.
ASUPAN VITAMIN A DAN TINGKAT KECEMASAN MERUPAKAN FAKTOR RISIKO KECUKUPAN PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI BAYI USIA 0-5 BULAN Rahmadani, Prita Ady; Widyastuti, Nurmasari; Fitranti, Deny Yudi; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 9, No 1 (2020): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.921 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v9i1.26689

Abstract

Latar Belakang: Produksi ASI dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya tingkat kecemasan dan asupan zat gizi ibu. Salah satu asupan zat gizi yang dapat mempengaruhi produksi ASI yaitu asupan vitamin A.Tujuan: Penelitian bertujuan untuk melihat hubungan asupan vitamin A dan tingkat kecemasan dengan kecukupan produksi ASI.Metode: Desain penelitian cross sectional, dengan jumlah subjek 62 ibu yang menyusui bayi usia 0-5 bulan di wilayah puskesmas Halmahera Kota Semarang menggunakan metode consecutive sampling. Data yang diteliti yaitu asupan vitamin A menggunakan formulir semi quantitative food frequency questionnaire (SQ FFQ), tingkat kecemasan menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), kecukupan produksi ASI menggunakan perubahan berat badan bayi dengan alat BabyScale dan data sekunder yaitu Kartu Menuju Sehat (KMS). Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square. Analisis multivariat menggunakan uji Regresi Logistik.Hasil: Terdapat 51,6% subyek tidak mengalami kecemasan, 56,5% asupan vitamin A subyek cukup, dan 53,2% subyek memiliki kecukupan produksi ASI yang baik. Sebanyak 63% subyek dengan asupan vitamin A yang kurang memiliki kecukupan produksi ASI yang kurang, dan sebanyak 66,7% subyek yang mengalami kecemasan memiliki kecukupan produksi ASI yang kurang. Subyek yang memiliki asupan vitamin A yang kurang berpeluang 1,8 kali memiliki kecukupan produksi ASI yang kurang, dan subyek yang mengalami kecemasan berpeluang 2,1 kali memiliki kecukupan produksi ASI yang kurang.Kesimpulan: Asupan vitamin A dan tingkat kecemasan merupakan faktor risiko kecukupan produksi ASI.
Microbiology quality and shelf life analysis of enteral formulas based on tempeh flour and yam flour Annisa, Wahyu Ilmi; Ardiaria, Martha; Rahadiayanti, Ayu; Fitranti, Deny Yudi; Dieny, Fillah Fithra; Afifah, Diana Nur; Nissa, Choirun
Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.681 KB) | DOI: 10.14710/jgi.8.2.85-91

Abstract

Background: Critically ill patients have an increased risk of developing infection. Enteral formula that given to patients must meet food safety which includes microbiology quality. In powder form, powder formula is a solution to suppress microbial growth, although it is still susceptible to oxidation. Shelf life is useful to determine the oxidation status. Objectives: This study aimed to analyze the value of TPC, Salmonella, E. coli and shelf life of enteral formula.Methods: This study was a completely randomized experimental design of one factor, namely the length of storage for values of TPC, Salmonella and E. coli with variations in storage for 0, 1, 2, and 3 hours at room temperature. Data on the TPC test was analyzed using Kruskal-Wallis. The temperature used for shelf life with TBA based-Arrhenius equation is 250C, 350C, and 450C for 28 days.Results: There was a difference in the length of storage of 0, 1, 2, and 3 hours on the value of TPC. The TPC value at 0 and 1 hour did not exceed the normal limit. The value of Salmonella was negative/25 g and < 3/g for E. coli. The shelf life of enteral formulas was respectively 250C, 350C and 450C for 44.89, 28.26 and 18.32 days.Conclusion: The longer the length of storage, the higher the TPC value. In accordance with the Indonesian standard (SNI), there is no contamination of Salmonella and E. coli in the enteral formula. The longest shelf life is at 250C.
EFEK PEMBERIAN SUSU KEDELAI-JAHE TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PUASA WANITA PRE-MENOPOUSE PREDIABETES Pramono, Adriyan; Fitranti, Deny Yudi; Rahmawati, Eka Rina; Ayustaningwarno, Fitriyono
Journal of Nutrition College Vol 9, No 2 (2020): April
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.824 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v9i2.26970

Abstract

Latar Belakang: Susu kedelai-jahe dapat mengandung antioksidan yang bermanfaat untuk mengendalikan kadar glukosa darah puasa. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas antioksian dari susu kedelai-jahe dan untuk menganalisis pengaruh susu kedelai-jahe terhadap kadar glukosa darah puasa (GDP) wanita non-menopause prediabetes di kota Semarang, Indonesia. Metode: Penelitian ini diawali dengan pengembangan produk susu kedelai jahe sebagai intervensi. Aktivitas antioksidan dari susu kedelai jahe dianalisis menggunakan metode DPPH. Desain penelitian ini adalah randomized control trial (RCT) yang melibatkan 22 wanita non-menopause prediabetes (usia 42 ± 7, kadar GDP > 100 mg/dl). Subjek dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok yang diberi minuman susu kedelai (T1), susu kedelai-jahe (T2) dan kontrol (C) selama 14 hari. Hasil: Tidak terdapat perbedaan rerata kadar glukosa darah puasa (GDP) sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok kontrol, kelompok T1 dan T2 (p=0.589). Setelah intervensi, kadar GDP berbeda signifikan antar kelompok kontrol, T1 dan T2 (p=0.026). Analisis selanjutnya menunjukkan, kadar GDP kelompok T2 (bukan T1) berbeda signifikan terhadap kontrol (p=0.047) setelah dikendalikan factor kadar GDP sebelum intervensi, usia, dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Simpulan: Penambahan jahe pada minuman susu kedelai memiliki potensi dalam mengendalikan kadar GDP wanita non-menopouse yang prediabetes.
Profil antropometri, ketersediaan energi dan kepadatan tulang pada atlet remaja putri berbagai cabang olahraga Setyawati, Novi; Dieny, Fillah Fithra; Rahadiyanti, Ayu; Fitranti, Deny Yudi; Tsani, A. Fahmy Arif
Jurnal Keolahragaan Vol 8, No 1: April 2020
Publisher : Program Studi Ilmu Keolahragaan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.609 KB) | DOI: 10.21831/jk.v8i1.30367

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan profil antropometri, ketersediaan energi, dan kepadatan tulang pada atlet remaja putri berbagai cabang olahraga. Desain penelitian cross-sectional metode consecutive sampling dengan jumlah 54 atlet usia 13-21 tahun dilaksanakan di BPPLOP Jawa Tengah, Klub Atletik Salatiga, Klub Atletik dan Renang Universitas Negeri Semarang. Persen lemak tubuh, IMT, fat free mass diukur dengan Total Body Composition Analyzer. Form 24 hour-food recall, 24-hour physical activity record dan fat free mass untuk mengukur ketersedian energi. Bone densitometer Osteosys SONOST 3000 untuk mengukur kepadatan tulang. Analisis menggunakan uji One-way ANOVA dan uji Kruskal Wallis. Persen lemak tubuh dan IMT cabang olahraga endurance lebih rendah dibandingkan cabang olahraga kekuatan dan beregu. Terdapat perbedaan ketersediaan energi antara cabang olahraga endurance dan kekuatan (p<0.05). T-score kepadatan tulang cabang olahraga kekuatan lebih rendah dibandingkan cabang olahraga endurance dan beregu. Mayoritas atlet memiliki persen lemak tubuh, IMT, kepadatan tulang tergolong normal, dan ketersediaan energi tergolong rendah. Anthropometric profile, energy availability and bone density in adolescent female athletes in various sports AbstractThis study analyzed the differences anthropometric profile, energy availability and bone density of adolescent female athletes in various sports. A cross-sectional study design consecutive sampling method with 54 athletes aged 13 -21 years conducted in the BPPLOP Central Java, Salatiga Athletics Club, Athletics and Swimming Club Semarang State University. Per cent body fat, BMI, fat-free mass was measured by Total Body Composition Analyzer. The 24 hour-food recall form, 24-hour physical activity record, and fat-free mass were used for measuring energy availability. Bone densitometer Osteosys SONOST 3000 was used to measure bone density. Data were analyzed by One-way ANOVA and Kruskal Wallis test. Percent body fat and BMI of endurance sports were lower than strength and team sports. There were differences in the energy availability between endurance and strength sports (p < 0.05). Bone density t-score of strength sports was lower than endurance and team sports. The most of athletes classified normal on percent body fat, BMI and bone density, while energy availability was classified low.
The Effect of Low and High Glycemic Load Diet on Muscle Fatigue of Young Soccer Athletes Safitri, Iqlima; Setyarsih, Liani; Susanto, Hardhono; Suhartono, Suhartono; Fitranti, Deny Yudi
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v16i1.23508

Abstract

Muscle fatigue in adolescent soccer athletes can degrade performance during a match. A low Glycemic Load (GL) diet before exercise is believed to improve soccer athlete performance because it can decrease carbohydrate oxidation during exercise and has a lower increase in lactic acid levels than a high GL diet. The study aimed to identify the effect of low and high glycemic load diets on muscle fatigue in adolescent soccer athletes. A quasi experimental with multiple series group design was conducted in November 2019 on 22 adolescent soccer athletes aged 15-17 at the Terang Bangsa Soccer School Semarang. The low GL group was given food with GL 9.15; while the high GL group contained GL 27.29. Diets given once in 2 hours before exercise. Each group was triggered by RAST (Running based Anaerobic Sprint Test) to cause anaerobic muscle fatigue. Muscle fatigue is measured using blood lactic acid, BUN (Blood Urea Nitrogen), and fatigue index. There were no significant differences in blood glucose, lactic acid, and BUN levels between the low GL and high GL groups (p>0.05). Nonetheless, a low GL diet had a smaller increase in blood glucose levels (1.91 mg/dL vs 4.09 mg/dL) and lactic acid (4.5 mg/dL vs 4.7 mg/dL) after exercise than high BG diet. A low GL diet also has a lower fatigue index than a high GL. Keyword: glycemic load diet, muscle fatigue, lactic acid, blood urea nitrogen.
Co-Authors 'Aisy, Amalia Rihadatul A Fahmy Arif Tsani Adriyan Pramono Ahmad Syauqy Ahmad Thohir Hidayat Anak Agung Gede Sugianthara Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Ani Margawati Annisa, Wahyu Ilmi Anwar, Rylandnia Sucha Aryu Candra Atika Putri Widia Anggraeni Aulia, Salma Shafrina Ayu Rahadiyanti Betsi Kusumaningnastiti Binar Panunggal Bonita, Ika Amalina Choirun Nissa Choirun Nissa Destikasari, Widya Dewi Kurnia Sandi Dewi Marfu’ah Kurniawati Diana Nur Afifah, Diana Nur Dwi Astuti Enny Probosari Erni Rukmana Etika Ratna Noer Etika Ratna Noer Etisa Adi Murbawani Eva Yulia Safitri, Eva Yulia Fajrani, alifiaA muktiM Fala, Etika Nurul Famimah, Famimah Fathin, Annisa Nur Febriyanti, Monica Sofchah Fillah Fithra Dieny Fitriyono Ayustaningwarno Gabrielle Nindya Kirana Pradipta, Gabrielle Nindya Kirana Guruh Sarjana Haamiim A.F, Valendra Habibaturochmah Habibaturochmah Hardhono Susanto Hartanti Sandi Wijayanti Haznawati, Nur Dian Hermawan, Febriyanti Iqbal Kameswara P.S., Iqbal Kameswara Iqlima Safitri, Iqlima Jauharany, Firdananda Fikri Kinanthi Mestuti H Kusnadi, Gita Kusumaningnastiti, Betsi Lailla Nurrin Faizah, Lailla Nurrin Lani, April Lestari, Rahma Wati Dwi Marfu'ah Kurniawati, Dewi MARTHA ARDIARIA Marthandaru, Diassafons Mubarok, Agus Abul Fadli Mulyani, Ira Mursid Tri Susilo Nafilah Nafilah Naning Septiyani Rahayu, Naning Septiyani Ningsih, Diajeng Dian Rahana Ninik Rustanti Nisa, Fitria Zahrotun Nisrina Prameswari, Nisrina Nissa, Choirun Nugrahani, Gardinia Nur Ahmad Habibi Nur Indah Kurniawati Nurbaity, Annisa Dinah Nurmasari Widyastuti Nuryanto Nuryanto Pramono, Adryan Puspadani, Nurlina Putri, Wieda Devita Qoniatu Zulfa Rachma Purwanti Rachmawati, Rizki Khoirur Rahadiayanti, Ayu Rahardiyanti, Ayu Rahma Wati Dwi Lestari Rahmadani, Prita Ady Rahmawati, Eka Rina Ramayani, Gita Ria Stella Septriani Safitri, Nurul Riau Dwi Sandi, Dewi Kurnia Setyarsih, Liani Setyawati, Novi Sidhin, Syaharani Siwi, Tabita Prawita Solly Aryza Sukmasari, Vintantiana Sulistyaningnagari, Putri Gayatri Tamimi, Adesta Aulia Tri Damayanti, Tri Tsani, A Fahmy Arif Tsani, A. Fahmy Arif Ulayya, Talitha Utari, Hermina Pratiwi Vito Andygian Widya Destikasari