Deny Yudi Fitranti
Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang 50275

Published : 70 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN KELELAHAN OTOT PADA ATLET SEPAK BOLA REMAJA Safitri, Iqlima; Setyarsih, Liani; Susanto, Hardhono; Suhartono, Suhartono; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 9, No 3 (2020): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i3.26925

Abstract

Latar belakang: Kelelahan otot pada atlet sepak bola dapat memperburuk performa atlet selama pertandingan di lapangan. Kelelahan otot ditandai dengan adanya hasil samping asam laktat. Kadar hemoglobin yang rendah dapat menimbulkan produksi asam laktat yang lebih tinggi.Tujuan: menganalisis hubungan kadar hemoglobin dengan kadar asam laktat atlet sepak bola remaja.Metode: Penelitian observasional dengan desain Cross-sectional di Sekolah Sepak Bola Terang Bangsa Semarang. Sampel penelitian adalah 24 atlet sepak bola berusia 15-17 tahun. Kadar hemoglobin diukur menggunakan metode cyanthemoglobin. Kadar asam laktat diukur dengan cara pengambilan sampel darah kapiler di ujung jari menggunakan alat Roche Accutrend Plus. Uji hubungan dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson dan Rank Spearman.Hasil: Lebih dari 70% subjek memiliki tingkat kecukupan asupan protein yang kurang dan 50% di antaranya juga memiliki tingkat kecukupan asupan zat besi yang kurang. Meskipun demikian, hampir seluruh subjek memiliki kadar hemoglobin yang normal. Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kadar hemoglobin dengan kadar asam laktat dengan nilai kekuatan korelasi sedang (p<0,05; r: -0,465). Artinya, jika atlet memiliki kadar Hb yang tinggi, maka dia akan memiliki kadar asam laktat yang rendah, begitupun sebaliknya.Simpulan: Adanya hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dengan kelelahan otot yang ditandai dengan kadar asam laktat pada atlet sepak bola remaja.
HUBUNGAN KONSUMSI IKAN TERHADAP RISIKO SINDROM METABOLIK PADA WANITA OBESITAS ABDOMINAL Noer, Etika Ratna; Syauqy, Ahmad; Rahardiyanti, Ayu; Fitranti, Deny Yudi; Ayustaningwarno, Fitriyono; Fajrani, alifiaA muktiM
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.29147

Abstract

Latar belakang: Obesitas abdominal dikaitkan dengan sindrom metabolic yang dikombinasikan dengan dislipidemia, intoleransi glukosa, dan hipertensi. Obesitas abdominal muncul untuk mendahului munculnya komponen sindrom metabolik lainnya, dipicu oleh kenaikan berat badan, terutama peningkatan penumpukan lemak perut. Ikan merupakan sumber protein hewani yang bergizi. Konsumsi ikan diketahui dapat menjadi pangan fungsional dengan cara melindungi terhadap beberapa jenis penyakit.Tujuan: Mengetahui hubungan antara asupan ikan dalam seminggu dengan sindrom metabolik dan komponennya pada wanita obesitas abdominal, diharapkan bahwa konsumsi ikan yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko sindrom metabolic yang lebih rendah dan profil metabolisme yang lebih baikMetode: Penelitian ini merupakan penelitian observatif dengan desain cross–sectional dan teknik pengambilan sampel purposive sampling sebanyak 88 wanita yang mengalami obesitas abdominal. Pengumpulan data dilakukan setelah melakukan puasa selama 12 jam sebelum pemeriksaan dan asupan ikan diperolah dari FFQ. Uji hubungan dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson.Hasil: Terdapat hubungan bermakna antara konsumsi ikan dalam seminggu dengan komponen sindrom metabolic seperti GDP (p < 0,001, r=-0,376), kolesterol total (p < 0,05, r=-0,270), HDL (p < 0,001, r=0,349), LDL (p < 0,001, r= -0.421) dan LBTB (p < 0,001, r=-0,856) dengan korelasi positif dan sangat kuat. Terdapat 53,4% subjek mengonsumsi ikan 1-3 kali/minggu.Simpulan: Konsumsi ikan memiliki korelasi positif dengan komponen sindrom metabolic. Penggantian sumber lemak jenuh menjadi lemak n-3 dapat menjadi efek terapeutik untuk perbaikan sindrom metabolik, namun diikuti dengan jangka waktu yang lama
Low and High Glycemic Load Diet on Immune Responses of Adolescent Football Athletes Setyarsih, Liani; Safitri, Iqlima; Susanto, Hardhono; Suhartono, Suhartono; Fitranti, Deny Yudi
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 16, No 3 (2021)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v16i3.23553

Abstract

High-intensity physical exercise causes physical stress that will suppress immune system in athlete’s body. Decreased immune system function can cause physiological and pathological changes such as fatigue, reduce athlete performance, and increase risk of infection. Regulation diets of glycemic index (GI) and glycemic load (GL) are known to help control blood glucose during exercise so the immune system can be maintained.The purpose of this study was to determine differences effects of low and high glycemic load diets on immune responses in adolescent football athletes. This study was a quasi experimental with multiple time series design, conducted on 22 adolescent football athletes aged 15-17 years old. The subjects were divided into two groups, low GL diet group was given carbohydrate-source foods with GL 9.15, high GL diet group was given foods with GL 27.29. Diet was given once in the morning and 2 hours later subjects doing RAST (Running-based Anaerobic Sprint Test) to trigger physical stress. Immune response was measure using total leukocytes and leukocytes differential count. There were no significant differences in blood glucose levels, leukocyte counts, and leukocytes differential count between low GL and high GL groups (p>0.05). Low GL diet causes an increase in blood glucose and total leukocytes smaller than high GL diet. 
DEFISIENSI BESI PADA WANITA USIA SUBUR PRANIKAH OBESITAS Fillah Fithra Dieny; Nurmasari Widyastuti; Deny Yudi Fitranti; Choirun Nissa; A. Fahmy Arif Tsani; Firdananda Fikri Jauharany
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 10 No 2 (2019): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2019
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.735 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v10i2.599

Abstract

Latar Belakang. Wanita usia subur (WUS) terutama di Indonesia saat ini menghadapi masalah gizi ganda yang kompleks. Obesitas merupakan salah satu masalah gizi yang paling banyak dialami oleh WUS. Anemia merupakan satu sisi lain dari masalah gizi ganda yang banyak dialami di negara berkembang. Obesitas diketahui memiliki hubungan dengan anemia pada WUS. Tujuan. Menganalisis status besi pada WUS pranikah dengan status gizi obesitas dan non obesitas. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional yang dilakukan pada 50 mahasiswi Universitas Diponegoro, Semarang. Subjek berusia 18-25 tahun dan dipilih dengan metode systematic random sampling. Subjek terdiri dari 25 mahasiswi obesitas dan 25 mahasiswi non obesitas. Status besi diukur melalui serum besi, serum Transferrin Saturation (TSAT), dan Total Iron Binding Capacity (TIBC). Status obesitas dilihat melalui pengukuran antropometri persen lemak tubuh. Uji T tidak berpasangan digunakan untuk mengetahui perbedaan status besi pada WUS pranikah obesitas dan non obesitas. Hasil. Ada perbedaan kadar serum besi (p=0,027), TIBC (p=0,034), dan TSAT (p=0,004) antara kelompok obesitas dan non obesitas. Kadar serum besi kelompok obesitas lebih rendah, ditunjukkan dengan rerata sebesar 83,99±20,66 μg/dl pada kelompok obesitas, sedangkan kelompok non obesitas sebesar 99,2±26,03 μg/dl. Kadar TIBC kelompok obesitas lebih tinggi dilihat dari reratanya sebesar 420,98±47,22 μg/dl, sedangkan kelompok non obesitas 389,94±53,35 μg/dl. Pengukuran TSAT menunjukkan kelompok obesitas memiliki kadar yang lebih rendah ditunjukkan dengan reratanya 20,13±5,27%, sedangkan kelompok non obesitas memiliki rerata sebesar 25,99±7,92%. Kesimpulan. Kelompok obesitas memiliki rata-rata kadar serum besi dan TSAT lebih rendah serta rata-rata kadar TIBC lebih tinggi.
PENGARUH SUPLEMENTASI ZAT BESI DAN SENG TERHADAP FREKUENSI ISPA PADA ANAK USIA 2-5 TAHUN Dwi Astuti; Aryu Candra; Deny Yudi Fitranti
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 10 No 2 (2019): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2019
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.454 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v10i2.1365

Abstract

Latar Belakang. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung hingga alveoli dan berlangsung selama tidak lebih dari 14 hari. Pemberian suplementasi seng dan zat besi dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit infeksi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian suplementasi zat besi dan seng terhadap frekuensi ISPA pada balita. Metode. Penelitian ini menggunakan desain Randomized Controlled Trial (RCT). Sebanyak 40 balita berusia 2-5 tahun yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol (mendapat sirup biasa), kelompok suplementasi seng (mendapat suplemen seng 10 mg/hari), kelompok suplementasi zat besi (mendapat suplemen zat besi 7,5 mg/hari), dan kelompok suplementasi seng dan zat besi (mendapat suplemen seng 10 mg/hari dan zat besi 7,5 mg/hari) selama 6 minggu. Pengumpulan data frekuensi ISPA dilakukan setiap akhir minggu dengan anemnesis dan pemeriksaan fisik. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA dan Kruskal Wallis. Hasil. Berdasarkan skor tanda gejala, kelompok yang memiliki nilai skor tanda gejala paling rendah ada pada kelompok suplementasi seng dan zat besi. Sedangkan berdasarkan skor durasi ISPA, kelompok yang memiliki durasi ISPA terpendek terdapat pada kelompok suplementasi seng dengan skor 1,22 ± 0,50. Rerata frekuensi ISPA paling rendah terdapat pada kelompok suplementasi zat besi dengan angka 1,67 ± 0,86. Tidak terdapat perbedaan rerata frekuensi, skor tanda gejala, durasi, serta tingkat keparahan ISPA yang signifikan antar keempat kelompok (p>0,05). Kesimpulan. Pemberian suplementasi seng sebanyak 10 mg/hari dan zat besi sebanyak 7,5 mg/hari tidak berpengaruh pada frekuensi ISPA balita.
Perbedaan konsumsi makanan jajanan kemasan mengandung monosodium glutamat dan status gizi pada remaja urban dan sub urban di Kabupaten Semarang Atika Putri Widia Anggraeni; Nurmasari Widyastuti; Rachma Purwanti; Deny Yudi Fitranti
Darussalam Nutrition Journal Vol 4, No 2 (2020): Darussalam Nutrition Journal
Publisher : University of Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/dnj.v4i2.3980

Abstract

Latar belakang: Konsumsi MSG secara berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti status gizi berlebih (overweight) hingga Obesitas. Tujuan: Mengetahui perbedaan konsumsi makanan jajanan kemasan mengandung MSG dan status Gizi pada remaja SMA usia 15-17 tahun urban dan sub urban di Kabupaten Semarang. Metode: Penelitian observasional dengan rancangan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian sebanyak 47 orang remaja urban dan 47 remaja sub urban di Kabupaten Semarang. Uji statistik yang digunakan Chi Square. Hasil:Umur remaja urban dan sub urban antara 15-17 tahun yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki (53,2%) dan perempuan (46,8%). Lebih dari separuh remaja urban mempunyai uang saku > Rp. 15.000 (53,2%), sedangkan pada remaja sub urban lebih dari separuhnya (57,4%) memiliki uang saku < Rp 15.000. Terdapat perbedaan frekuensi konsumsi jajanan kemasan mengandung MSG pada remaja urban dan sub urban (p=0,004a). Persentase remaja sub urban dengan frekuensi konsumsi sering (³7x/minggu) sebesar 34,0% lebih tinggi dibandingkan dengan remaja urban yaitu sebesar 27,7%. Simpulan: Ada perbedaan konsumsi jajanan  kemasan mengandung MSG pada remaja urban dan sub urban. Frekuensi konsumsi jajanan kemasan mengandung MSG pada remaja sub urban lebih tinggi dari pada remaja urban.Background: Overconsumption of MSG can effect to increased health problems like overweight to obesity. Objectives: to determine the differences in consumption of packaged snacks containing MSG and nutritional status between 15 – 17 years old urban and suburban senior high school students at Semarang Regency. Methods: This observational study using a descriptive-analytic design and cross-sectional approach. Samples of this study were 47 urban and 47 suburban adolescents in the Semarang Regency. Statistical analysis included univariate and bivariate tests using Chi-Square. Results: Urban and suburban adolescents were between 15-17 years old which consist of Male (53.2%) and females (46.8%). More than half the percentages of the urban group had more than IDR 15,000 (53.2%) allowance while more than half the percentages of the suburban groups had less than IDR 15,000 (57.4%). There was difference in the frequency of packaging snack consumption between urban and suburban groups (p = 0.004a). Sub urban adolescent with high frequency of packaging snack consumption (³7x/week) were 34.0% more than urban adolescent (27.7%). Conclusion: There was a difference in the consumption frequency of packaged snacks between urban and suburban groups. Suburban group had higher consumption frequency of packaged snacks than urban group.
Program asuhan gizi olahraga (PAGO) atlet sepatu roda sebagai strategi memperbaiki profil status gizi, biokimia dan kualitas asupan Fillah Fithra Dieny; Firdananda Fikri Jauharany; Ayu Rahadiyanti; Deny Yudi Fitranti; A. Fahmy Arif Tsani; Dewi Marfu’ah Kurniawati
Jurnal Keolahragaan Vol 9, No 2: September 2021
Publisher : Program Studi Ilmu Keolahragaan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.838 KB) | DOI: 10.21831/jk.v9i2.34747

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh pemberian intervensi gizi berupa edukasi dan konseling gizi pada atlet sepatu roda remaja terhadap status gizi, status hidrasi, status biokimia, dan asupan gizi. Penelitian one group pre and post test design yang melibatkan 11 atlet di Klub Sepatu Roda Kairos Semarang. Variabel terikat adalah profil antropometri (berat badan, tinggi badan, fat mass, massa otot, body water), status hidrasi, status biokimia (kadar gula darah puasa, asam urat, kolesterol, hemoglobin), dan asupan makan. Uji Wilcoxon digunakan untuk menganalisis perbedaan profi antropometri, status hidrasi, status biokimia, dan asupan makan subjek antara sebelum dan sesudah intervensi. Terdapat perbedaan yang signifikan pada berat badan (p=0,029), fat mass (p=0,003), status hidrasi subjek sebelum latihan (p=0,026), kadar gula darah (p=0,005), kadar hemoglobin (p=0,007), asupan karbohidrat (p=0,029) dan asupan seng (p=0,049) sebelum dan setelah intervensi. Program Asuhan Gizi Olahraga (PAGO) pada atlet sepatu roda terbukti berdampak pada perbaikan beberapa profil antropometri, status biokimia, dan asupan makan. Program for inline skating athletes as strategies to improve the profile of nutritional status, biochemistry and quality of food intakeAbstract: This study aims to determine the effect of nutrition intervention in the form of nutrition education and counseling for adolescent inline skating athletes on nutritional status, hydration status, biochemical status, and nutritional intake. Methods: One group pre and post test design research on 11 athletes at the Kairos Wheeled Shoes Club Semarang. The dependent variables were anthropometric profiles (body weight, height, fat mass, muscle mass, body water), hydration status, biochemical status (fasting blood sugar levels, uric acid, cholesterol, hemoglobin), and food intake. The Wilcoxon test was used to analyze differences in anthropometric profile, hydration status, biochemical status, and food intake of subjects between before and after the intervention, Results: There was a significant difference in body weight (p = 0.029), fat mass (p = 0.003), hydration status subjects before exercise (p = 0.026), blood sugar levels (p = 0.005), hemoglobin levels (p = 0.007), carbohydrate intake (p = 0.029) and zinc intake (p = 0.049) before and after the intervention. Sports Nutrition Care Programme to inline skates athletes is proven to have an impact on anthropometric profile, biochemical status, and intake.
Asupan lemak jenuh dan serat pada remaja obesitas kaitannya dengan sindrom metabolik Nurmasari Widyastuti; Fillah Fithra Dieny; Deny Yudi Fitranti
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 12, No 4 (2016): April
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.22756

Abstract

Background: There is an emerging global increase of metabolic syndrome prevalence due to increasing of obesity. Obesity and metabolic syndrome beginning in childhood progressing into adulthood.  Dietary saturated fat and fiber intake play a role in etiology in obesity.Objective: This study was to examine the associations between dietary saturated fat intake, fiber intake and components of metabolic syndrome among obese adolescents.Method: A cross-sectional study was conducted to 57 obese students aged 13-15 years old of SMP Nasima and SMP Kesatrian 2 Semarang, based on body mass index for ages. Subjects of this study were collected consecutively. Data were collected through waist circumference and blood pressure measurements, fasting biochemical serum analysis and dietary intake assessment.  Rank Spearman and Pearson correlation test was used to examine the associations between of dietary saturated fat and fiber intake to components of metabolic syndrome.Results: There were 46 subjects (80,7 %) had metabolic syndrome and 11 subjects (19,3 %) had the pre-metabolic syndrome. There was no association between dietary saturated fat intake and waist circumference, HDL cholesterol, triglyceride, fasting blood glucose levels and blood pressure. Fiber intake was negatively associated with blood triglyceride levels (r = -0.340; p = 0.01).Conclusion: There was no association between dietary saturated fat intake and components of metabolic syndrome. There was an association between dietary fiber intake with blood triglyceride levels. Dietary fiber intake has an important role in lipid metabolism.
Sindrom metabolik pada remaja obes: prevalensi dan hubungannya dengan kualitas diet Fillah Fithra Dieny; Nurmasari Widyastuti; Deny Yudi Fitranti
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 12, No 1 (2015): Juli
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.22830

Abstract

Background: The increasing prevalence of adolescents obesity in the last decade have an impact on the increased prevalence of adolescents metabolic syndrome (MetS). Diet quality is one of the determining factors in the incidence of adolescents obesity, so it can also be a factor for MetS.Objective: To analyze the relationship between diet quality and MetS risk factors in obese adolescents.Method: A cross-sectional study was conducted on the 57 obese students in 7th and 8th grades of Nasima and Kesatrian Junior High School in Semarang. Blood pressure (BP) and waist circumference (WC) measurements, as well as blood samples for measurement of fasting blood glucose (FBG), triglyceride (TG) and HDL cholesterol (HDL-C), were conducted to determine the number of risk factors experienced by the subject. Diet quality was measured through assessment of food consumption using a food frequency questionnaire (FFQ). Pearson and Spearman's test was used to determine the correlation between diet quality and MetS risk factors.Results: The majority of obese adolescents (96.5%) had a low-quality of diet. There were 31.6% subjects experienced pre-metabolic syndrome and 68.4% had MetS, with the prevalence of MetS, was higher in male subjects. The diet quality, variety, adequacy scores and fiber intake of the pre-metabolic syndrome group were higher than MetS group. Variety and adequacy scores had significant negative correlation with TG (r = -0.374, p=0.004; r = -0.357, p=0.006, respectively). There was no significant relationship between diet quality score and the number of MetS risk factors (p=0.538), although they had a negative correlation (r = -0.083).Conclusion: Prevalence of pre-metabolic syndrome and MetS was 31.6% and 68.4%. Though there was no significant relationship, diet quality had a negative correlation with the number of MetS risk factors. Variety and adequacy scores had a significant relationship with triglyceride levels.
Faktor risiko osteoporosis pada wanita usia 40-80 tahun: status menopause dan obesitas Fillah Fithra Dieny; Deny Yudi Fitranti
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 14, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.926 KB) | DOI: 10.22146/ijcn.24872

Abstract

Background: Osteoporosis is a disease of the musculoskeletal system which are common in women. Menopausal status which affects the production of oestrogen and obesity status that describes mass and distribution of body fat have the potential to affect bone density, which in turn may have an impact on the incidence of osteoporosis.Objective: To analyze the menopausal and obesity status as risk factors for osteoporosis in women aged 40-80 years.Method: Cross-sectional study was conducted on 224 women aged 40-80 years in Ngemplak Simongan, Semarang. Status of obesity was determined by percent of body fat, body mass index (BMI), waist circumference, and waist-hip ratio (WHR). Menopausal status was determined based on the occurrence of menstruation in the past one year, and the age was calculated from the difference between date of birth and date of measurement. Bone density was assessed frombone mineral density measurement. Chi-square test and logistic regression were used to determine the relationship and the most influential factors. The risk was expressed in ratio prevalence (RP).Results: The prevalence of low bone density and obesity in each age range, were 43.8% and 57.9% for ages 40-50 years, 67.7% and 58.6% for ages 51-60 years, 84.9% and 49.1% for ages 61-70 year, 86.7% and 66.7% for ages 71-80 years. There were significant relationships between age, menopausal status, BMI, WHR and bone density (p=0.000, p=0.032, p=0.043, p=0.017, respectively). Osteoporosis (13.3%) and osteopenia (58.7%) were most widely experienced by subjects with high WHR and menopause. Percentage of osteopenia in high WHR and non-menopause subjects (60%) was higher than normal WHR and menopause subjects (52.9%). Age 61-80 years, high WHR, and non-obese BMI were the most influenced risk factorsfor the incidence of low bone density (p=0.001, p=0.038, p=0.043). Ratio prevalence of elderly, high WHR and non-obese BMI were 1.448, 1.326, 1.208.Conclusion: High WHR explains the role of android obesity and visceral fat as risk factors for low bone density. Premenopausal women will be more at risk of having low bone density if they have high WHR.
Co-Authors 'Aisy, Amalia Rihadatul A Fahmy Arif Tsani Adriyan Pramono Ahmad Syauqy Ahmad Thohir Hidayat Anak Agung Gede Sugianthara Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Ani Margawati Annisa, Wahyu Ilmi Anwar, Rylandnia Sucha Aryu Candra Atika Putri Widia Anggraeni Aulia, Salma Shafrina Ayu Rahadiyanti Betsi Kusumaningnastiti Binar Panunggal Bonita, Ika Amalina Choirun Nissa Choirun Nissa Destikasari, Widya Dewi Kurnia Sandi Dewi Marfu’ah Kurniawati Diana Nur Afifah, Diana Nur Dwi Astuti Enny Probosari Erni Rukmana Etika Ratna Noer Etika Ratna Noer Etisa Adi Murbawani Eva Yulia Safitri, Eva Yulia Fajrani, alifiaA muktiM Fala, Etika Nurul Famimah, Famimah Fathin, Annisa Nur Febriyanti, Monica Sofchah Fillah Fithra Dieny Fitriyono Ayustaningwarno Gabrielle Nindya Kirana Pradipta, Gabrielle Nindya Kirana Guruh Sarjana Haamiim A.F, Valendra Habibaturochmah Habibaturochmah Hardhono Susanto Hartanti Sandi Wijayanti Haznawati, Nur Dian Hermawan, Febriyanti Iqbal Kameswara P.S., Iqbal Kameswara Iqlima Safitri, Iqlima Jauharany, Firdananda Fikri Kinanthi Mestuti H Kusnadi, Gita Kusumaningnastiti, Betsi Lailla Nurrin Faizah, Lailla Nurrin Lani, April Lestari, Rahma Wati Dwi Marfu'ah Kurniawati, Dewi MARTHA ARDIARIA Marthandaru, Diassafons Mubarok, Agus Abul Fadli Mulyani, Ira Mursid Tri Susilo Nafilah Nafilah Naning Septiyani Rahayu, Naning Septiyani Ningsih, Diajeng Dian Rahana Ninik Rustanti Nisa, Fitria Zahrotun Nisrina Prameswari, Nisrina Nissa, Choirun Nugrahani, Gardinia Nur Ahmad Habibi Nur Indah Kurniawati Nurbaity, Annisa Dinah Nurmasari Widyastuti Nuryanto Nuryanto Pramono, Adryan Puspadani, Nurlina Putri, Wieda Devita Qoniatu Zulfa Rachma Purwanti Rachmawati, Rizki Khoirur Rahadiayanti, Ayu Rahardiyanti, Ayu Rahma Wati Dwi Lestari Rahmadani, Prita Ady Rahmawati, Eka Rina Ramayani, Gita Ria Stella Septriani Safitri, Nurul Riau Dwi Sandi, Dewi Kurnia Setyarsih, Liani Setyawati, Novi Sidhin, Syaharani Siwi, Tabita Prawita Solly Aryza Sukmasari, Vintantiana Sulistyaningnagari, Putri Gayatri Tamimi, Adesta Aulia Tri Damayanti, Tri Tsani, A Fahmy Arif Tsani, A. Fahmy Arif Ulayya, Talitha Utari, Hermina Pratiwi Vito Andygian Widya Destikasari