Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki pada Pemberitaan Konflik Indonesia-West Papua di Portal Detik.com dan Asia Pacific Report.nz Fariza Anggelina; Ernanda Ernanda; Anggi Triandana
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 2 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v2i2.23182

Abstract

This study aims to determine the framing pattern of news on the Indonesia-West Papua conflict by Detik.com and Asia Pacific Report.nz through the Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki framing analysis model.  This research was conducted using a descriptive qualitative approach.  Where the data in this study are words, phrases, and sentences originating from news discourse on the December 2022 Indonesia-West Papua conflict with two sub-topics regarding the commemoration of West Papua's independence day on December 1 and the re-investigation of the 2014 Paniai case.  The results of this study are based on Pan and Kosicki's four structural framing analysis tools related to reporting on the Indonesia-West Papua conflict for the December 2021 period in the online media Detik.com and Asia Pacific Report.nz.  In the syntactic structure, Detik.com was found to only take statements from figures related to the Indonesian government without taking statements from West Papua.  While Asia Pacific Report.nz, although taking statements from various groups, statements from Indonesian figures were chosen according to the news topics that Asia Pacific Report.nz wanted to raise.  In the script structure, the two media were found to have omitted several elements from the 5W+1H elements.  In the thematic structure, in writing their own statements, the two media also included quotes from sources to strengthen their statements.  In the rhetorical structure, Detik.com only uses photos and video clips that are placed after the headlines in the news.  Meanwhile, Asia Pacific Report.nz uses a lot of words, idioms, pictures and video footage in its news.  From the research results, it was concluded that the headlines and leads from Detik.com and Asia Pacific Report.nz have been able to describe the entire contents of the news.  Both Detik.com and Asia Pacific Report.nz have their own tendencies.  Detik.com is implicitly in favor of Indonesia while the Asia Pacific Report is expressly in favor of West Papua.  Furthermore, the two media were found not to fulfill the element of completeness of the news.  Then, the two media were found to be sufficiently good at describing the news.  Finally, in using words and images Asia Pacific Report.nz is sharper than Detik.com.  Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pembingkaian berita konflik Indonesia-West Papua yang dilakukan Detik.com dan Asia Pacific Report.nz melalui model analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Dimana data dalam penelitian ini adalah kata, frasa, dan kalimat yang berasal dari wacana berita konflik Indonesia-West Papua periode Desember 2022 dengan dua sub-topik mengenai peringatan hari kemerdekaan West Papua 1 Desember dan penyelidikan kembali kasus Paniai 2014 lalu. Hasil penelitian ini berdasarkan empat perangkat struktural analisis framing Pan dan Kosicki terkait pemberitaan konflik Indonesia-west Papua periode bulan Desember 2021 di media online Detik.com dan Asia Pacific Report.nz. Pada struktur sintaksis, Detik.com ditemukan hanya mengambil pernyataan dari tokoh-tokoh terkait pemerintahan Indonesia tanpa mengambil pernyataan dari pihak west Papua. Sementara Asia Pacific Report.nz walaupun mengambil pernyataan dari berbagai golongan, pernyataan dari tokoh-tokoh Indonesia dipilih sesuai dengan topik berita yang ingin diangkat Asia Pacific Report.nz. Pada struktur skrip, kedua media tersebut ditemukan telah menghilangkan beberapa unsur dari unsur 5W+1H. Pada struktur tematik, dalam penulisan pernyataan sendiri kedua media juga mencantumkan kutipan pernyataan narasumber untuk memperkuat pernyataannya. Pada struktur retoris, Detik.com hanya menggunakan foto dan cuplikan video yang diletakkan setelah headline dalam beritanya. Sementara Asia Pacific Report.nz banyak menggunakan kata, idiom, gambar dan cuplikan video dalam beritanya. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa headline dan lead dari Detik.com dan Asia Pacific Report.nz sudah dapat menggambarkan keseluruhan isi beritanya. Baik itu Detik.com maupun Asia Pacific Report.nz memiliki kecenderungan masing-masing. Detik.com secara tersirat lebih berpihak pada Indonesia sementara Asia Pacific Report secara tersurat berpihak pada West Papua. Selanjutnya, kedua media ditemukan tidak memenuhi unsur kelengkapan berita. Kemudian, kedua media ditemukan cukup dapat mendeskripsikan dengan baik beritanya. Terakhir, dalam menggunakan kata dan gambar Asia Pacific Report.nz lebih tajam dibandingkan dengan Detik.com.
Nominalisasi pada Film Dokumenter The Bird Dancer Karya Elemental Production: Kajian Analisis Wacana Kritis Theo Van Leeuwen Putri Wahyu Illahi; Ernanda Ernanda; Anggi Triandana
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 2 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v2i2.23183

Abstract

This study aims to describe the process of nominalization in the film The Bird Dancer. The data used in this research is the dialog text of the documentary film The Bird Dancer by Elemental Production obtained from the transcription results. The method used is descriptive qualitative. By using Theo Van Leeuwen's Critical Discourse Analysis approach. The results of the study found that Elemental uses a nominalization process to eliminate social actors in the dialogue text of The Bird Dancer film with the form of nominalization changing 6 data namely: suffering, improvement, treatment, treatment, care, and feelings. From the omission of social actors in the film, the audience who watches cannot know which actor is responsible for the events in the text. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses nominalisasi dalam film The Bird Dancer. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks dialog film dokumenter The Bird Dancer karya Elemental Production yang diperoleh dari hasil transkripsi. Metode yang digunakan adalah deksriptif kualitatif. Dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Theo Van Leeuwen. Hasil penelitian ditemukan bahwa Elemental menggunakan proses nominalisasi dalam menghilangkan aktor sosial di teks dialog film The Bird Dancer dengan bentuk nominalisasi beruba 6 data yakni: penderitaan, perbaikan, penghinaan, pengobatan, perawatan dan perasaan. Dari penghilangan aktor sosial dalam film, khalayak yang menonton tidak dapat mengetahui siapa aktor yang bertanggung jawab terhadap peristiwa-peristiwa dalam teks pembicaraan.
Analisis Wacana Kritis Theo van Leeuwen dalam Pemberitaan Mengenai Isu Rasisme Terhadap Boyband Korea BTS (Beyond The Scene) pada Media Pemberitaan Daring Kompas, Kumparan dan Republika Olivia Virginia; Ernanda Ernanda; Anggi Triandana
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 2 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v2i2.23271

Abstract

This study aims to describe the forms of exclusion from the issue of racism in reporting on the Korean boyband BTS (Beyond The Scene) in Kompas, Kumparan, and Republika Indonesian online news media using Theo van Leeuwen's Critical Discourse Analysis approach. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. The data sources in this study were obtained directly from several news stories in Kompas, Kumparan, and Republika Indonesian online news media. The results of this study indicate that there are 10 exclusion data in the passivation form, and there are no forms of nominalization and substitution of clauses. Through an exclusion analysis of the three online news media, a common view was found on the issue of racism experienced by BTS. The three media do not support the acts of racism experienced by BTS, this is shown by how the three media report on individuals or social groups outside of BTS, by framing and marginalizing, even though these social actors are not shown.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk eksklusi terhadap isu rasisme pemberitaan boyband Korea BTS (Beyond The Scene) pada media pemberitaan daring Indonesia Kompas, Kumparan, dan Republika menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis milik Theo van Leeuwen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data yang ada di dalam penelitian ini penulis peroleh langsung dari beberapa berita dalam media-media pemberitaan daring Indonesia Kompas, Kumparan, dan Republika. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat sebanyak 10 data eksklusi dalam bentuk pasivasi, serta tidak ada bentuk nominalisasi dan bentuk penggantian anak kalimat. Melalui analisis eksklusi terhadap ketiga media pemberitaan daring tersebut, ditemukanlah pandangan yang sama terhadap isu rasisme yang dialami oleh BTS. Ketiga media tersebut tidak mendukung tindakan rasisme yang dialami oleh BTS, hal tersebut ditunjukkan melalui bagaimana ketiga media tersebut dalam memberitakan individu atau kelompok sosial di luar BTS, dengan cara memberikan framing dan melakukan pemarginalan, meski aktor sosial tersebut tidak ditampilkan.
Register pada Jual Beli Thrift Shop di Instagram dan Tiktok: Kajian Sosiolinguistik Wahyu Fitria Lestari; Ernanda Ernanda; Anggi Triandana
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 2 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v2i2.23697

Abstract

This study aims to describe the form of registration for buying and selling thrift shops on Instagram and TikTok using Halliday's theory. The main data sources in this study are 10 thrift shop accounts on Instagram during the 2021-2022 period and 1 TikTok account that is broadcasting live with a duration of ± 1 hour. The research data was obtained from screenshots of uploads on Instagram containing captions and comments. In addition, data is obtained through the transcription of recordings of live buying and selling activities or live broadcasts on TikTok. The conclusions from this study indicate that the dominant use of registers in buying and selling thrift shops on Instagram and Tiktok is found to be open envelope registers. Furthermore, it was found data on the use of registers that underwent word formation processes in the form of clipping or shortening of words, acronyms, abbreviations, code mixing, greetings, compounding or combining words, inflections, and derivations. And the process of forming abbreviations or abbreviations and compounding or combining words is the data most used by users as sellers or buyers.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk register pada jual beli thrift shop di instagram dan tiktok menggunakan teori Halliday. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah 10 akun thrift shop di Instagram selama periode tahun 2021-2022 dan 1 akun tiktok yang sedang melakukan siaran langsung dengan durasi ±1jam. Data penelitian diperoleh dari hasil tangkap layar unggahan di instagram berisi caption dan komentar. Selain itu data didapatkan melalui hasil transkripsi rekaman aktivitas jual beli secara live atau siaran langsung di tiktok. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan register pada jual beli thrift shop di instagram dan tiktok yang dominan ditemukan adalah register selingkung terbuka. Selanjutnya ditemukan data penggunaan register yang mengalami proses pembentukan kata berupa clipping atau pemendekatan kata, akronim, abbrevation atau singkatan, campur kode, sapaan, compounding atau penggabungan kata, infleksi, dan derivasi. Dan proses pembentukan kata abbrevation atau singkatan dan compounding atau penggabungan kata merupakan data yang paling banyak digunakan oleh pengguna sebagai penjual ataupun pembeli.
Analisis Pergerakan Wacana Kasus Agni Aprilia Kartika Putri; Anggi Triandana; Siti Fitriah; Ulil Amri; Yoga Mestika Putra
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 2 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v2i2.24690

Abstract

The news about Agni (not her real name) in 2018, a student at a major university in Indonesia who was sexually assaulted by a colleague, raised pros and cons in public. These pros and cons were caused not only by the case of sexual harassment, but also by the remarks from the university and non-governmental organizations that assisted the victim. The author is interested in examining the pros and cons of this case. This paper explores the discourse movement from the pros and cons of this case seen from various statements from the university and Agni's supporters in online mass media headlines. The discourse movement is analyzed using Sawirman's BREAK theory.  Abstrak Pemberitaan mengenai Agni (bukan nama sebenarnya) pada 2018 lalu, seorang mahasiswi salah satu universitas besar di Indonesia, yang mengalami tindakan pelecehan seksual oleh rekannya, menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Pro kontra ini selain disebabkan oleh kasus pelecehan seksual tersebut, juga disebabkan oleh pernyataan pihak universitas dan pihak lembaga swadaya yang membantu korban. Penulis pun tertarik untuk menelaah pro kontra kasus ini. Tulisan ini mengupas pergerakan wacana dari pro dan kontra kasus ini dilihat dari berbagai pernyataan pihak universitas dan pendukung Agni yang termuat di judul-judul media massa daring. Pergerakan wacana itu dianalisis menggunakan teori BREAK dari Sawirman.
Pelatihan Pembuatan E-Book Modul Ajar Untuk Meningkatkan Kualitas Guru dan Siswa di SMPN 11 Kota Jambi Irma Suryani; Warni W; Julisah Izar; Anggi Triandana
Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia Vol 2, No 4 (2023): July
Publisher : Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.8161382

Abstract

Guru SMPN 11 Kota Jambi perlu mendapat pelatihan atau pembinaan dalam menulis E-book modul ajar. Modul ajar sekurang-kurangnya memuat tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, media pembelajaran, Instrumen penilaian atau asesmen, serta bentuk informasi lainnya yang dapat dimanfaatkan guru sewaktu mengajar. Guru diajak untuk melakukan analisis kondisi dan kebutuhan peserta didik dalam satuan pendidikan, guru diajak membuat identitas dan menentukan dimensi profil pelajar pancasila, guru diajak menentukan alur tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi bahan ajar dan selanjutnya  guru diajak membuat E-book agar materi dapat dipahami dan dikuasai di manapun guru dan siswa berada. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru SMPN 11 Kota Jambi untuk membuat E-Book modul ajar. Adapun tahapan yang dilaksanakan pada kegiatan pelatihan ini adalah tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan. Dari kedua tahapan tersebut didapat hasil berupa E-book modul ajar karya guru-guru SMPN 11 Kota Jambi yang berjumlah 15 orang. E-book ini dapat digunakan sebagai perangkat pembelajaran oleh guru SMPN 11 Kota Jambi.
Sosialisasi Manfaat Read Aloud Bagi Kemampuan Berbahasa Anak di Perkumpulan Dharma Wanita Lpka Muara Bulian Liza Septa Wilyanti; Julisah Izar; Helty H; Anggi Triandana
Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia Vol 2, No 4 (2023): July
Publisher : Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281//zenodo.8195811

Abstract

Kegiatan sosialisasi manfaat read aloud bagi kemampuan berbahasa anak di perkumpulan dharma wanita LPKA Muara Bulian penting dilaksanakan, mengingat kemampuan berbahasa merupakan kecerdasan majemuk yang terdapat dalam diri setiap individu. Kecerdasan berbahasa merupakan salah satu bentuk kecerdasan terpenting yang akan membantu individu dalam proses kehidupannya. Oleh sebab itu, kemampuan berbahasa harus dioptimalkan sedini mungkin. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan melalui 3 tahapan metode, yaitu: tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dari hasil kegiatan sosialisasi maka didapatkan 3 hal penting yang dipahami oleh anggota dharma wanita LPKA Muara Bulian, yaitu pemahaman mengenai manfaat read aloud, pentingnya kemampuan berbahasa anak dan pemilihan bacaan yang baik sesuai usia perkembangan anak.
Leksikon Perikanan di Kecamatan Mersam: Kajian Semantik Rahadatul Aisy; Ernanda Ernanda; Anggi Triandana
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 2 No. 3 (2023): September 2023
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v2i3.24312

Abstract

Abstract This study aims to determine the lexicon form of fishing gear, catch, and means of transportation, and find out the lexical meaning of fisheries in Mersam District. This research uses a qualitative descriptive research method. The data collection techniques in this study were observation, interview, recording, and write, the data that gets in the form of words. Furthermore, the data that has been obtained will be analyzed using analytical techniques, namely by transcribing data, identifying, classifying, interpreting, and drawing conclusions. "Based on the results of the analysis it can be concluded that the form of the lexicon and the lexical meaning in fisheries in the Mersam District, there are two forms of lingual units in the form of words and phrases. (1) the form of lingual units in the form of words, namely: (a) monomorphemic words in the noun category which include fishing gear as many as 22 fishing gear, such as kutik, suo, luka, serkap, pangilar, tengalak, jalo, trawl, paril, longline, kaluntang tagang, comb, tangkul, ceraah, kapucung, kelong, lapun, ranan. The lexicon consists of 41 catches such as tilan, lais, tin, sting, lalida, tatali, tapah, joro, fruit, catfish, baung, dakso, balido, dalung, sitam, semuruk, pari, saluan, etc. The lexicon consists of 3 means of transportation such as boat, boat, and raft. (2) the form of lingual units in the form of phrases, namely: (a) endocentric phrases in the noun category as many as 5 endocentric phrases in the noun category, namely, eggplant sepat, white head, green fish, durian look, and sengirik boyo." Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk leksikon alat tangkap, hasil tangkapan, dan alat angkut, serta mengetahui makna leksikal perikanan di Kecamatan Mersam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, pencatatan, dan tulis, data yang diperoleh berupa kata-kata. Selanjutnya data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis yaitu dengan mentranskrip data, mengidentifikasi, mengklasifikasikan, menafsirkan, dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa bentuk leksikon dan makna leksikal dalam perikanan di Kecamatan Mersam terdapat dua bentuk satuan lingual berupa kata dan frasa. satuan lingual yang berupa kata, yaitu: (a) kata monomorfemik kategori nomina yang meliputi alat tangkap ikan sebanyak 22 alat tangkap, seperti kutik, suo, luka, serkap, pangilar, tengalak, jalo, pukat, paril, rawai, kaluntang tagang, sisir, tangkul, cerah, kapucung, kelong, lapun, ranan.Leksikon terdiri dari 41 tangkapan seperti tilan, lais, timah, sengat, lalida, tatali, tapah, joro, buah, lele, baung, dakso , balido, dalung, sitam, semuruk, pari, saluan, dan lain-lain.Leksikonnya terdiri dari 3 alat transportasi seperti perahu, perahu, dan rakit.(2) bentuk satuan lingual berupa frasa, yaitu: (a ) frase endosentris kategori nomina sebanyak 5 frase endosentris kategori nomina yaitu terong sepat, kepala putih, ikan hijau, durian tampang, dan sengirik boyo.”
Bentuk Kosakata Arkais dalam Bahasa Banjar di Desa Pembengis Kabupaten Tanjung Jabung Barat Netti Hardiyanti; Anggi Triandana
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 2 No. 3 (2023): September 2023
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v2i3.27058

Abstract

This study aims to describe archaic word forms and archaic meanings in the Banjar language in Pembengis Village, West Tanjung Jabung regency. Archaic are words or terms that are no longer used by a group of people in communicating interactions. Qualitative analysis was taken from the interpretation of data in the form of archaic words obtained from informants speaking Banjar language in Pembengis village, Tanjung Barat regency and collected using interview, listening and note-taking techniques. The source of the data in this study was the Pembengis village community of Tanjung Jabung Barat regency with the number of informants in this study as many as 6 people consisting of 4 men aged 26 years, 27 years, 47 years, 55 years, 2 women aged 25 years and 59 years old who is a native speaker or resident of the village of Pembengis, West Tanjung Jabung regency. Data collection techniques were used in this study, namely making transcriptions, removing inappropriate data, classifying data into noun, verb, and adjective word classes, and continuing to describe the meaning and examples of archaic words in the form of Banjar language sentences in Pembengis village,  Tanjung Jabung Barat regency, Jambi province. From the results of the analysis, it was found that there were 67 archaic words, namely: 27 nouns, 20 adjectives and 20 verbs. It can be concluded that the most common archaic word forms in Pembengis village, Tanjung Jabung Barat regency, are in the noun class. In terms of meaning, archaic words in the Banjar language in Pembengis village, West Tanjung Jabung regency have lexical meanings, while in terms of usage they are constructed according to the context. The implications of this study are changes in archaic words that tend to lead to changes similar to Indonesian which are caused by the influence of language contact, including: Indonesian language, the language at school, the national language, and Malay language, so that the Banjar language in Pembengis village, West Tanjung Jabung regency, Jambi province experienced a language shift. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kata arkais dan makna arkais yang tedapat dalam bahasa Banjar di Desa Pembengis Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Arkais merupakan kata atau istilah yang sudah tidak lagi digunakan lagi oleh sekelompok masyarakat dalam berkomunikasi interaksi. Analisis kualitatif diambil dari interpretasi data yang berupa kata-kata arkais yang diperoleh dari informan penutur Bahasa Banjar di desa Pembengis Kabupaten Tanjung Barat dan dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, simak dan teknik catat. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat desa Pembengis Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang yang terdiri dari 4 orang laki-laki berusia 26 tahun, 27 tahun, 47 tahun, 55 tahun, 2 orang perempuan berusia 25 tahun dan 59 tahun yang merupakan penutur atau penduduk asli desa Pembengis Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Teknik Pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini yaitu membuat transkipsi, membuang data yang tidak sesuai, mengklasifikasikan data pada kelas kata nomina, verba, dan adjektiva, dan dilanjutkan mendeskripsikan makna serta contoh kata arkais dalam bentuk kalimat bahasa Banjar desa Pembengis Kab. Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Dari hasil pembahasan, ditemukan kata-kata arkais sebanyak 67 kata arkais yaitu:  27 kata benda, 20 kata sifat dan 20 kata kerja. Dapat disimpulkan, bentuk kata arkais yang paling banyak ditemukan di desa Pembengis kabupaten Tanjung Jabung Barat terdapat pada kelas kata benda. Dari segi makna, kata arkais dalam Bahasa Banjar di desa Pembengis kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki makna leksikal, sedangkan dari segi pemakaiannya dikontruksikan sesuai dengan konteksnya. Implikasi pada penelitian ini terjadinya perubahan kata arkais yang cenderung mengarah pada perubahan yang mirip dengan Bahasa Indonesia yang di sebabkan karena adanya pengaruh kontak bahasa antara lain: Bahasa Indonesia, bahasa di sekolah, bahasa nasional, dan bahasa melayu sehingga Bahasa banjar yang ada di desa Pembengis Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi mengalami pergeseran suatu bahasa.
Pelatihan Pembuatan E-Book Modul Ajar Untuk Meningkatkan Kualitas Guru dan Siswa di SMPN 11 Kota Jambi Irma Suryani; Warni W; Julisah Izar; Anggi Triandana
Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia Vol 2, No 4 (2023): July
Publisher : Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.8161382

Abstract

Guru SMPN 11 Kota Jambi perlu mendapat pelatihan atau pembinaan dalam menulis E-book modul ajar. Modul ajar sekurang-kurangnya memuat tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, media pembelajaran, Instrumen penilaian atau asesmen, serta bentuk informasi lainnya yang dapat dimanfaatkan guru sewaktu mengajar. Guru diajak untuk melakukan analisis kondisi dan kebutuhan peserta didik dalam satuan pendidikan, guru diajak membuat identitas dan menentukan dimensi profil pelajar pancasila, guru diajak menentukan alur tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi bahan ajar dan selanjutnya  guru diajak membuat E-book agar materi dapat dipahami dan dikuasai di manapun guru dan siswa berada. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru SMPN 11 Kota Jambi untuk membuat E-Book modul ajar. Adapun tahapan yang dilaksanakan pada kegiatan pelatihan ini adalah tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan. Dari kedua tahapan tersebut didapat hasil berupa E-book modul ajar karya guru-guru SMPN 11 Kota Jambi yang berjumlah 15 orang. E-book ini dapat digunakan sebagai perangkat pembelajaran oleh guru SMPN 11 Kota Jambi.