Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Hubungan Kontrol Glikemik dengan Aktifitas Fisik Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Kota Padangsidimpuan : The Relationship between Glycemic Control and Physical Activity of Type 2 Diabetes Mellitus Patients in Padangsidimpuan City Adi Antoni; Natar Fitri Napitupulu; Ririn Ariska Nasution; Hotma Royani Siregar; Anto J. Hadi; Haslina Ahmad
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.51 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v5i1.1889

Abstract

Latar Belakang: Kontrol glikemik merupakan suatu pengendalian glukosa pasien Diabetes Melitus (DM). Kontrol ini dilakukan setiap 3 bulan sekali yang meliputi pemeriksaan kontrol kadar gula darah puasa, kadar gula postprandial, serta kadar HbA1c. Apabila tidak diakukan secara teratur, dapat menyebabkan komplikasi sehingga penting dilakukan. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan kontrol glikemik dengan aktifitas fisik pasien diabetes melitus tipe 2 di Kota Padangsidimpuan. Metode: Desain penelitian ini adalah non eksperimen dengan rancangan cross sectional. Lokasi penelitian ini di kota Padangsidimpuan dengan waktu Bulan April hingga Juli 2021. Kriteria sampel berupa pasien diabetes mellitus minimal menderita DM selama 5 tahun, dapat membaca dan menulis, tidak memiliki komplikasi penyakit berat. Jumlah sampel sebanyak 95 pasien. Teknik sampel menggunakan simple random sampling. Analisis dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square. Hasil: Mayoritas pasien tidak teratur melakukan kontrol kadar gula darah puasa (75,8%). Pasien yang tidak melakukan aktifitas fisik sebesar 70,5%. Terdapat hubungan yang signifikan antara kontrol glikemik dengan aktifitas fisik pasien diabetes melitis tipe 2 di Kota Padangsidimpuan (p<0.001). Kesimpulan: hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kontrol glikemik berhubungan terhadap aktifitas fisik pasien diabetes melitis tipe 2 di Kota Padangsidimpuan.
Pengembangan Pangan Lokal Dali Horbo sebagai Makanan Pendamping untuk Mengatasi Balita Stunting di Kabupaten Tapanuli Utara: Improving Dali Horbo as a Complementary Food to Reduce Stunting in North Tapanuli Regency Yusnina Maisyaroh; Mastiur Napitupulu; Anto J. Hadi; Adi Antoni
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 10 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i10.4210

Abstract

Latar Belakang: Pangan lokal Dali Horbo memiliki potensi besar sebagai makanan pendamping yang bermanfaat bagi balita yang mengalami stunting. Dali Horbo kaya akan nutrisi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti protein, zat besi, kalsium, dan vitamin A. Namun, saat ini pemanfaatan Dali Horbo sebagai sumber pangan belum dimaksimalkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak dari pemberian Dali Horbo sebagai makanan pendamping bagi balita yang mengalami stunting. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dilakukan di Kecamatan Siborong-Borong terhadap populasi balita stunting sejumlah 194 anak. Teknik pemilihan sampel menggunakan purpossive sampling dengan kriteria inklusi yang telah ditetapkan oleh peneliti, sehingga jumlah sampel yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah 12 balita yang mengalami stunting. Data dikumpulkan melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan balita secara berkala, dan analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam berat badan balita sebelum dan sesudah intervensi pada bulan pertama, kedua, serta ketiga, dengan tingkat signifikansi masing-masing 0.016, 0.003, dan 0.002 (<0.05). Demikian pula, terdapat perbedaan signifikan dalam tinggi badan balita sebelum dan sesudah intervensi pada bulan pertama, kedua, dan ketiga, dengan tingkat signifikansi masing-masing 0.017, 0.002, dan 0.034 (<0.05). Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian Dali Horbo sebagai makanan pendamping memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan berat dan tinggi badan balita yang mengalami stunting. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk melakukan kegiatan sosialisasi atau penyuluhan kepada masyarakat tentang manfaat Dali Horbo sebagai makanan pendamping bagi balita yang mengalami stunting.
Analysis of parental communication and sexual risk behavior among adolescents based on gender Yanna Wari Harahap; Nurlaila Nurlaila; Irawati Harahap; Adi Antoni; Ahmad Safii Hasibuan; Suryati Suryati
Science Midwifery Vol 13 No 5 (2025): December: Health Sciences and related fields
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v13i5.2121

Abstract

Adolescents are a group that is highly vulnerable to risky sexual behaviors. One of the factors influencing such behaviors is communication between parents and children. Good communication can serve as a protective factor against unhealthy sexual behavior. This study aims to analyze the influence of parent–child communication on risky sexual behavior among adolescents, as well as its differences based on gender. The study employed an analytical quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 120 male and female adolescents selected through proportional random sampling. Data were collected using standardized questionnaires that had been tested for validity and reliability. Analysis was conducted using Pearson correlation and Independent t-test with a significance level of 0.05. The results showed a significant negative correlation between parental communication and risky sexual behavior (r = –0.65; p < 0.001). The better the communication between parents and adolescents, the lower the level of risky sexual behavior. Gender differences were also observed, where female adolescents demonstrated higher communication scores and lower risky sexual behavior compared to males (p < 0.001). Effective communication between parents and children plays a crucial role in preventing risky sexual behaviors among adolescents. Strengthening family communication through reproductive health education programs involving active parental participation is essential.
Menjaga Gula Darah di Tengah Bencana: Edukasi Pengelolaan Diabetes bagi Masyarakat Desa Tandihat adi antoni; Abdullah AA; Juni Andriani Rangkuti; Nefonafratilova Ritonga; Haslinah; Alprida harahap; Anto J. Hadi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Aufa (JPMA) Vol. 8 No. 2 (2026): Vol 8 No. 2 Agustus 2026
Publisher : Universitas Aufa Royhan Di Kota Padangsidipuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/jpma.v8i2.2973

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan secara berkelanjutan melalui pemantauan kadar gula darah, pengaturan pola makan, kepatuhan terhadap pengobatan, aktivitas fisik, dan perawatan diri. Dalam situasi bencana, pengelolaan diabetes dapat menjadi lebih sulit akibat terganggunya rutinitas sehari-hari, keterbatasan akses terhadap obat-obatan dan alat pemeriksaan kadar gula darah, perubahan pola makan, serta terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pengendalian kadar gula darah dan komplikasi diabetes. Edukasi mengenai pengelolaan diabetes dalam situasi bencana menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Tandihat mengenai pentingnya menjaga kadar gula darah dan melakukan pengelolaan diabetes dalam situasi bencana. Kegiatan dilaksanakan pada 28 Desember 2025 di Desa Tandihat melalui edukasi kesehatan yang meliputi pentingnya pemantauan kadar gula darah, keteraturan konsumsi obat, pengaturan pola makan, pemenuhan kebutuhan cairan, pengenalan tanda dan gejala hipoglikemia serta hiperglikemia, dan kesiapan menyediakan kebutuhan diabetes dalam kondisi darurat. Edukasi dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, dan penguatan kemampuan masyarakat dalam melakukan pengelolaan diabetes secara mandiri. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengukuran pengetahuan peserta sebelum dan sesudah pemberian edukasi. Kegiatan edukasi mengenai pengelolaan diabetes dalam situasi bencana diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya mempertahankan pengendalian kadar gula darah meskipun berada dalam kondisi darurat. Peningkatan pengetahuan juga diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan akses terhadap obat, alat pemeriksaan glukosa, makanan yang sesuai, dan pelayanan kesehatan selama bencana. Edukasi kesiapsiagaan diabetes juga direkomendasikan sebagai bagian dari pendidikan pengelolaan diabetes untuk membantu individu mempersiapkan kebutuhan obat, alat pemeriksaan, informasi medis, dan kebutuhan darurat lainnya. Kata kunci: diabetes melitus, kadar gula darah, bencana, edukasi kesehatan, kesiapsiagaan