Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Artikel Ulasan: Aktivitas Ekstrak Tanaman Ocimum sp. terhadap Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi Nurani, Neng Vera; Zakiyah, Neily
Indonesian Journal of Biological Pharmacy Vol 2, No 3 (2022): IJBP (Desember)
Publisher : Department of Biological Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijbp.v2i3.39911

Abstract

Karies gigi termasuk salah satu penyakit gigi dan mulut yang paling umum terjadi pada manusia. Penyebab umum dari karies gigi ini disebabkan oleh bakteri gram positif Streptococcus mutans. Karies gigi dapat dicegah dengan menyikat gigi dan pemberian antibakteri. Tanaman tradisional telah terbukti menjadi sumber yang lebih baik dalam pencarian senyawa antibakteri baru. Tanaman herbal yang mempunyai potensi antibakteri diantaranya yaitu kemangi (Ocimum sp.) yang tumbuh subur di Indonesia. Terdapat beberapa jenis tanaman Ocimum sp. diantaranya Ocimum basilicum, Ocimum americanum, dan Ocimum sanctum. Penelitian ini dilakukan dengan metode literature review. Ketiga jenis ekstrak Ocimum memiliki potensi sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Ekstrak Ocimum basilicum mempunyai aktivitas antibakteri sedang sampai kuat dengan nilai zona hambat 6,9-10,26 mm, ekstrak Ocimum americanum memiliki zona hambat kuat sebesar 17,5 mm dan ekstrak Ocimum sanctum memiki zona hambat kuat-sangat kuat sebesar 12-22 mm. Diantara 3 jenis Ocimum sp., ekstrak Ocimum sanctum pada pelarut etanol 100% yang diuji dengan metode sumuran mempunyai aktivitas dan efektivitas paling kuat untuk menghambat Streptococcus mutans dengan nilai zona hambat 22 mm.
EDUKASI KESEHATAN JIWA PADA IBU-IBU DI POSYANDU DESA KUTAMANDIRI KECAMATAN TANJUNGSARI KABUPATEN SUMEDANG Rendrayani, Farida; Zakiyah, Neily; Barliana, Melisa Intan; Puspitasari, Irma Melyani
DHARMAKARYA: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat Vol 13, No 1 (2024): Maret, 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v13i1.42700

Abstract

Kesehatan jiwa merupakan hak asasi manusia, yang tidak terpisahkan dari kesehatan dan kesejahteraan secara umum. Literasi mengenai kesehatan jiwa pada masyarakat khususnya depresi pada kaum ibu, memegang peranan penting dalam pencegahan dampak merugikan baik pada skala lokal maupun global. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PPM) ini dilakukan untuk meningkatkan literasi mengenai depresi pada kelompok kritikal yaitu, ibu-ibu yang memiliki anak balita. Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan edukasi kesehatan jiwa dan membagikan flyer kepada ibu-ibu di Posyandu Kendedes Desa Kutamandiri, Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Efektivitas kegiatan dalam meningkatkan literasi kesehatan jiwa pada ibu-ibu tersebut kemudian diukur berdasarkan perubahan skor tes pada saat sebelum dan sesudah penyuluhan menggunakan analisis statistik Wilcoxon-signed rank. Hasil pretest menunjukkan bahwa 68,75% peserta memiliki tingkat pengetahuan yang baik, yang diinterpretasikan berdasarkan nilai skor ≥ median (median = 7, rentang skor 3 – 8). Pada saat post-test terdapat peningkatan nilai skor dengan rata-rata nilai menjadi 8,19; rentang skor menjadi 6 -10. Hasil uji Wilcoxon-signed rank menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada skor pre-test dan post-test (p = 0,03). Kegiatan PPM berupa edukasi kesehatan jiwa terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan mengenai depresi pada ibu-ibu. Kegiatan edukasi merupakan langkah penting dalam mencapai kesehatan jiwa yang lebih baik di masyarakat. Dengan demikian, kegiatan PPM ini harus terus berlanjut, baik dengan kelompok target yang sama maupun berkembang pada kelompok kritikal lainnya.
Student Self-Medication Behavior in Stress Handling Risna Agustina; Ronny Lesmana; Neily Zakiyah; Siti Nuriyatus Zahrah; Ajeng Diantini
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 6 No. 2 (2022): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v6i2.467

Abstract

Changing learning patterns from senior high school student to college student status is difficult, and each individual's response varies, some of which cause stress. Factors that cause stress are internal and external, and external factors consist of physical, conflict, emotional, and behavioral conditions. In comparison, the external factors consist of the physical environment, work environment, community environment, family environment, economic and legal problems. The burden of life stress is heavy and impacts the physical, such as feeling dizzy, nauseous, ulcers, and difficulty sleeping. Sometimes causes a person to take self-medication to overcome these uncomfortable symptoms. This study aims to determine the characteristics of early-level students and the stress level of early-level students at one of the State Universities of East Kalimantan Province. This study used a qualitative descriptive design on 121 students. Using a questionnaire through a cross-sectional approach with a purposive sampling technique. The results showed that the stress level of students showed mild stress as much as 30.58%, moderate stress at 56.20%, and severe stress as much as 13.22%. The number of students who did self-medication was more than those who did not provide treatment for the symptoms, 79.34%.
Economic Evaluations of Artificial Intelligence Implementation in Diabetic Retinopathy Screening Ahmad, Ahmad; Zakiyah, Neily; Suwantika, Auliya A.
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 9, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/pcpr.v9i3.60068

Abstract

Diabetic retinopathy (DR) is a common complication of diabetes that damages retinal blood vessels and can lead to vision impairment. The application of Artificial Intelligence (AI) in DR screening offers a promising alternative to conventional methods. However, further research is crucial to determine the cost-effectiveness of this intervention.This study systematically reviewed economic evaluations of AI interventions in DR screening using data from PubMed and ScienceDirect (2014–2023). Studies in various healthcare settings assessing cost-effectiveness outcomes, such as incremental cost-effectiveness ratio (ICER) and net monetary benefit, were included. The CHEERS (Consolidated Health Economic Evaluation Reporting Standards) checklist was used to assess the reporting quality of included studies.AI intervention can potentially provide accurate diagnoses by performing complex data analysis quickly and consistently. Despite initial higher costs, AI screening often led to higher quality-adjusted life years (QALYs) and improved healthcare resource allocation, particularly in underserved areas. From several perspectives, AI screening is cost-effective compared to manual screening, which has a lower ICER. Seven out of eight articles concluded that using AI for screening is cost-effective. However, challenges in generalizing AI models across diverse populations suggest a need for further validation to prevent diagnostic bias and ensure healthcare equity. Specifically, the hybrid use of manual screening with AI assistance is more cost-effective than the other comparison methods.AI can improve diagnoses like DR through quick data analysis and accuracy, but human guidance is still needed for algorithm development and decision-making. Combining AI with human involvement can lead to more cost-effective interventions.
Evaluasi Kuantitatif dan Total Biaya Penggunaan Antibiotik pada Periode Sebelum dan Selama Pandemi COVID-19 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Silanas, Ilman; Alfian, Sofa Dewi; Parwati, Ida; Zakiyah, Neily
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.4.294

Abstract

Pandemi COVID-19 menuntut pengendalian pengunaan antibiotik yang lebih ketat. Temuan di beberapa negara menunjukkan adanya peningkatan terapi antibiotik empirik untuk  mengatasi koinfeksi bakterial pasien COVID-19 yang dapat mendorong semakin tingginya tingkat resistensi dan biaya penggunaan. Salah satu upaya pengendalian penggunaan antibiotik adalah melakukan evaluasi kuantitas dan besaran biaya penggunaan antibiotik pada periode waktu tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kuantitas dan biaya penggunaan  antibiotik sebelum dan selama pandemi. Penelitian ini merupakan penelitian repeated cross sectional, dengan pengambilan data secara retrospektif pada periode sebelum COVID 19 (Maret 2018-Februari 2020) dan periode selama pandemi COVID-19 (Maret 2020-Februari 2022) di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Data yang digunakan adalah antibiotik injeksi yang digunakan pasien dewasa pada bangsal rawat inap dan bangsal rawat intensif (ICU). Kuantitas penggunaan antibiotik ditampilkan dalam bentuk defined daily doses  per 100 hari rawat inap (DDD/100) dan drugs utilization 90% (DU90%). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan nilai DDD/100 pada periode sebelum dan selama pandemi COVID-19 di seluruh bangsal (28,79-42,23; p-value = 0,001), bangsal rawat inap (22,27-30,22 ; p-value = 0,001), dan bangsal rawat intensif (6,52-11,91 ; p-value = 0,001). Seftriakson, levofloksasin, seftazidime, meropenem dan metronidazol adalah antibiotik yang selalu masuk pada kategori DU90% di setiap periode dan di setiap bangsal. Biaya penggunaan antibiotik mengalami peningkatan selama masa pandemi (Rp. 6.058.750.700 - Rp. 9.117.439.600). Dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan penggunaan dan total biaya antibiotik saat pandemi COVID-19. Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah antibiotik dengan spektrum luas.
Analisis Efektivitas Biaya Terapi Penunjang Ivabradine untuk Gagal Jantung di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung Diliwiyani, Soraya; Zakiyah, Neily; Suwantika, Auliya A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.2.119

Abstract

Penyakit kardiovaskular menjadi penyakit tidak menular nomor satu dengan angka kematian tertinggi. Terapi standar (standard of care/SOC) untuk gagal jantung saat ini berupa pemberian obat golongan beta bloker dan obat golongan angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACEI) ataupun angiotensin receptor blocker (ARB). Biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat besar karena pasien gagal jantung dengan penurunan fraksi ejeksi (HFrEF) membutuhkan perawatan di rumah sakit yang lebih lama. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui analisis efektivitas biaya dari SOC+ivabradine dibandingkan dengan SOC pada terapi HFrEF di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, serta untuk mengetahui faktor-faktor yang memiliki pengaruh pada nilai ICER pada pengobatan HFrEF. Penelitian dirancang observasionnal dengan desain studi cross-sectional. Perspektif yang digunakan pada penelitian ini adalah perspektif rumah sakit dan perspektif BPJS. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan dari rekam medis yang terdapat di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Periode pengambilan sampel, yaitu pasien HFrEF tahun 2017–2021. Data biaya meliputi total biaya medik (perspektif rumah sakit) dan tarif INA-CBG (perspektif BPJS). Efektivitas klinis yang diukur adalah penurunan nadi. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, didapatkan total biaya kelompok SOC+ivabradine sebesar Rp34.540.643 (perspektif rumah sakit) dan Rp16.211.023 (perspektif BPJS). Total biaya kelompok SOC sebesar Rp31.188.699 (perspektif rumah sakit) dan Rp14.683.897 (perspektif BPJS). Efektivitas berupa penurunan nadi pada kelompok SOC+ivabradine dan SOC secara berturut-turut adalah 18,09 dan 16,50. Nilai ICER didapatkan Rp2.106.936 (perspektif rumah sakit) dan Rp959.908 (perspektif BPJS). Faktor yang paling berpengaruh pada nilai ICER adalah penurunan nadi diikuti oleh biaya rawat inap dan biaya tindakan. Terapi SOC+ivabradine membutuhkan biaya tambahan untuk mendapatkan efektivitas yang lebih baik.
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Sacubitril/Valsartan Dibandingkan Ramipril pada Pasien Gagal Jantung dengan Hipertensi di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung Marulin, Dita; Puspitasari, Irma Melyani; Rahayu, Cherry; Zakiyah, Neily
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.2.86

Abstract

Berdasarkan hasil uji klinis, penggunaan sacubitril/valsartan mempunyai efektivitas yang lebih baik pada pengobatan pasien gagal jantung kronis dengan pengurangan fraksi ejeksi (HFrEF) bila dibandingkan dengan terapi standar. Namun, efektivitas biaya dengan terapi sacubitril/valsartan pada rawat inap untuk gagal jantung di Indonesia belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas biaya terapi sacubitril/valsartan bila dibandingkan dengan terapi standar ACE inhibitor (ramipril) pada pasien gagal jantung dengan hipertensi yang dirawat inap di RSUP dr.Hasan Sadikin Bandung. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan desain studi cross sectional dari rekam medis dan rincian biaya pengobatan pasien gagal jantung periode Januari sampai dengan Desember 2022. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas penurunan MAP (Mean Arterial Pressure) pada terapi sacubitril/valsartan dan ramipril berturut-turut 14 mmHg dan 13 mmHg. Sedangkan lama rawat untuk terapi dengan sacubitril/valsartan selama 5 hari dan ramipril selama 6 hari. Total biaya berdasarkan perspektif rumah sakit untuk biaya rawat inap, biaya dokter, biaya pelayanan dan tindakan, biaya obat, biaya alkes, dan biaya laboratorium sebesar Rp 22.823.450 pada terapi sacubitril/valsartan dan Rp 18.121.600 pada terapi ramipril. Nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) per penurunan 1 mmHg MAP dan per pengurangan 1 hari rawat yaitu Rp 4.701.800. Hasil analisis sensitivitas menunjukan efektivitas penurunan MAP, pengurangan hari rawat, biaya pelayanan dan tindakan, serta biaya alkes merupakan parameter yang berpengaruh terhadap ICER.  Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sacubitril/valsartan memiliki efektivitas terapi dan biaya yang lebih tinggi dibandingkan ramipril, dimana efektivitas obat merupakan faktor yang paling mempengaruhi nilai ICER.
Analisis Utilitas Biaya Annual Population-Based Screening Dibandingkan dengan Opportunistic Screening Diabetes Melitus di Indonesia Menggunakan Markov Model Budiawan, Erick; Suwantika, Auliya Abdurrohim; Zakiyah, Neily
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.4.320

Abstract

Prevelensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun dan berdampak pada tingginya biaya perawatan. Salah satu upaya pencegahan DM yang dapat dilakukan adalah melalui deteksi dini atau skrining. Saat ini di Indonesia menerapakan oportunistic screening dan tidak menerapkan population-based screening. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan efektivitas biaya oportunistic screening dan population-based screening DM di Indonesia serta menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai incremental cost-effectiveness ratio (ICER). Penelitian ini dilakukan di Universitas Padjadjaran pada november 2020 hingga maret 2021. Nilai efektivitas biaya dihitung berdasarkan Markov model dengan siklus 1 tahun dalam time horizon 19 tahun.  Data yang digunakan sebagai input parameter adalah data epidemiologi, biaya (payer perspective) dan utilitas (QALYs). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan mempertimbangkan probabilitas transisi antar health states. Hasil ICER akan dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) perkapita sebagai cost-effectiveness threshold. Population-based screening memiliki estimasi total biaya Rp8.530.479 per 13,768 QALYs dan oportunistic screening memiliki estimasi total biaya Rp7.115.974 per 13,743 QALYs. Nilai ICER adalah Rp79.502.211 dan nilai PDB perkapita adalah Rp56.938.723. Dapat disimpulkan bahwa population-based screening DM di Indonesia masih cost-effective apabila menggunakan cost-effectiveness treshold 1-3 PDB perkapita. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa biaya skrining, kualitas hidup pasien DM komplikasi dengan early maupun late treatment merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai ICER.
Perbandingan Pemilihan Obat Antihipertensi pada Pasien Penyakit Ginjal Tahap Akhir yang Melakukan Hemodialisis dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis Wulandari, Wening; Suwantika, Auliya Abdurrohim; Zakiyah, Neily; Rahayu, Cherry; Ramadhani, Sitha Fitri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.1.12

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit penyerta yang sering terjadi pada pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) yang sedang melakukan hemodialisis (HD) dan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD). Penggunaan obat antihipertensi yang tepat pada pasien PGTA dengan komorbid hipertensi dapat meningkatkan pengelolaan hipertensi, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, dan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pola penggunaan obat antihipertensi pada pasien PGTA yang menjalani HD dan CAPD, serta menganalisis pengaruhnya terhadap kontrol tekanan darah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan observasional, dengan pengumpulan data secara retrospektif melalui rekam medis di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sebanyak 93 pasien yang terbagi dalam dua kelompok (HD=58 pasien; CAPD=35 pasien) berpartisipasi dalam penelitian ini. Masing-masing kelompok dilihat profil penggunaan obat antihipertensi dan efeknya terhadap tekanan darah. Analis statistik yang digunakan yaitu chi-square atau uji Fisher’s exact untuk mengetahui perbedaan antar kelompok HD dan CAPD. Hasil penelitian tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada karakteristik pasien yang meliputi jenis kelamin, durasi dialisis, dan etiologi. Pada penelitian ini ditemukan sebanyak 34% pasien CAPD menggunakan tiga kombinasi antihipertensi, sedangkan 47% pasien HD menggunakan kombinasi dua obat. Amlodipin (46%) dan kandesartan (31%) merupakan obat antihipertensi yang paling sering diresepkan. Rata-rata tekanan darah setelah mengonsumsi antihipertensi yaitu 140/90 mmHg. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pola penggunaan obat antihipertensi berbeda antara pasien HD dan CAPD, keduanya belum mencapai target kontrol tekanan darah yang optimal, menandakan perlunya pendekatan yang lebih tepat dalam pengelolaan hipertensi pada masing-masing kelompok.
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antipsikotik Tipikal (Haloperidol) dan Atipikal (Risperidon) pada Pasien Skizofrenia di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Syahrina, Nadira Alvi; Barliana, Melisa Intan; Zakiyah, Neily; Iskandar, Shelly
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.2.61455

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang membutuhkan terapi jangka panjang serta melibatkan biaya perawatan kesehatan yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya antara penggunaan risperidon dibandingkan dengan haloperidol pada terapi skizofrenia, serta menganalisis faktor utama yang memengaruhi nilai efektivitas biaya pada rawat inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) pada 2017–2018. Data dikumpulkan secara retrospektif dari perspektif penyedia layanan kesehatan, mencakup total biaya medis langsung baik yang ditanggung rumah sakit maupun oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Nilai efektivitas diukur dalam penurunan penurunan skor PANSS. Hasil menunjukkan bahwa nilai average cost-effectiveness ratio (ACER) risperidon adalah Rp527.002 per satuan penurunan PANSS, sedangkan haloperidol Rp357.374. Berdasarkan perhitungan incremental cost-effectiveness ratio (ICER), haloperidol menunjukkan nilai Rp486.809 per satuan penurunan PANSS dibandingkan risperidon. Meskipun ICER haloperidol lebih tinggi dari risperidon, hasil tersebut masih berada dalam ambang batas willingness to pay yang ditetapkan di Indonesia (berdasarkan 1–3 kali PDB per kapita), sehingga terapi haloperidol dapat dikategorikan sebagai cost-effective. Dari sisi efisiensi biaya, haloperidol menghasilkan penghematan sekitar Rp378.737 dibandingkan risperidon. Dengan demikian, terapi haloperidol lebih dominan secara ekonomi dan layak dipertimbangkan sebagai pilihan pengobatan yang lebih efisien bagi pasien skizofrenia rawat inap di RSHS Bandung.