Claim Missing Document
Check
Articles

Tradisi Petik Laut sebagai Sumber Ide Pembuatan Motif Batik Tulis Khas Kabupaten Situbondo Nita Dian Faradila; Ponimin Ponimin; Denik Ristya Rini
JoLLA: Journal of Language, Literature, and Arts Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v3i62023p827-845

Abstract

Kabupaten Situbondo merupakan salah satu wilayah di Jawa Timur, yang memiliki pusat pemerin­tahan di Kecamatan Situbondo. Secara geografis, wilayah ini yang terletak di pesisir utara pulau Jawa. Dari hasil laut yang melimpah di Kabupaten Situbondo itu memiliki tradisi “Petik Laut”. Petik laut merupakan upacara yang dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang. Upacara tersebut bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur nelayan atau masyarakat pesisir pantai atas hasil laut yang melimpah. Pencipta mengambil budaya tersebut untuk dijadikan sebagai motif batik khas dari Kabupaten Situbondo, karena pencipta ingin mengeksplor kebudayaan tersebut dan menambah motif batik Kabupaten Situbondo agar lebih berfariatif. Proses penciptaan ini menggunakan metode kreatif, diawali dengan tahap eksplorasi dengan melakukan wawancara dan observasi, merancang karya, eksplorasi teknik, perwujudan karya dan diakhiri dengan proses analisis karya. Dari konsep tersebut, pencipta memvisualisasikan kepada 6 karya batik tulis yang berukuran 115 × 200cm. Karya batik tulis ini memiliki konsep “Ka’atora saghârâ” diambil dari Bahasa madura yang memiliki arti ‘untuk laut’, enam karya batik tulis bertema tradisi petik laut ini memiliki judul Parao Lajhâr, Sè Utama, Tèra’na Malèm, Dèri Tana, Bighi Kaodi’en, Karapo Macan. Kata kunci: batik tulis; Petik Laut; Situbondo; metode kreatif Tradition of Petik Laut as A Source of Manufacture Ideas Situbondo Regency Special Written Batik Motif Situbondo Regency is one of the areas located in East Java, which has a government center in Situbondo District. Geographically, this area is located on the north coast of the island of Java. From the abundant marine products in Situbondo Regency, it has a tradition of "Petik Laut". Petik laut is a ceremony that has been passed down from generation to generation. The ceremony aims to express the gratitude of fishermen or coastal communities for the abundant marine products. The creators took this culture to be used as a typical batik motif from Situbondo Regency, because the creators wanted to explore this culture and add Situbondo Regency batik motifs to make it more varied. The creation process uses the creativ method starting with the exploration stage by conducting interviews and observations, designing the work, exploring techniques, embodiment of the work and ending with the process of analyzing the work. From this concept, the creator visualizes 6 sized batik creations 115 × 200cm. This written batik work has the concept of "Ka'atora saghârâ" taken from Madura language which means "For the Sea", six written batik works with the theme of the petik laut tradition have the title Parao Lajhâr, Sè Utama, Tèra’na Malèm, Dèri Tana, Bighi Kaodi’en, Karapo Macan. Keyword: batik tulis; Petik Laut; Situbondo; creative method
APRESIASI DAN KREASI SENI RUPA NUSANTARA SEBAGAI PENDORONG KECINTAAN TERHADAP BUDAYA NUSANTARA BAGI SISWA SEKOLAH INDONESIA RIYADH ARAB SAUDI Ponimin Ponimin
Studi Budaya Nusantara Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecintaan terhadap budaya Nusantara harus tetap ditumbuhkan kepada setiap warga negara Indonesia. Hal ini untuk memperkuat jati diri mereka sebagai bangsa Nusantara agar tidak tercerabut dari akar budayanya. Hal tersebut juga tidak terkecuali kepada para siswa-siswi Sekolah Indonesia Riyadh (SIR) di Arab Saudi. Strategi untuk memberi dorongan rasa cinta tersebut diantaranya melalui kegiatan apresiasi seni dan kreasi seni terhadap seni budaya Nusantara kepada mereka dengan cara seperti yang dilaksanakan pada  program pengabdian masyarakat luar negeri LPPM Universitas Negeri Malang. Untuk mencapai hasil kegiatan tersebut diterapkan metode workshop dan pelatihan yang meliputi metode: (1) Presentasi ceramah dengan menanaman wawasan kepada siswa SIR (Sekolah Indonesia Riyadh, (2) Metode demonstrasi berkreasi seni rupa Nusantara, (3) Diskusi dan evaluasi terhadap hasil kegiatan dan pelaksanaan kegiatan, (4) Analisis hasil kegiatan apresiasi dan kreasi seni rupa Nusantara yang telah dilakukan siswa sebagai sasaran program. Hasil kegiatan ini diharapkan para siswa memiliki pemahaman tentang pentingnya mencintai melalui tindakan apresiasi dan kreasi seni budaya Nusantara sebagai warga Indonesia.  Pada sisi lain mereka memiliki kemampuan dan pengalaman teknis dalam berkreasi, khususnya bidang seni rupa Nusantara yang dicapai melalui kegiatan pelatihan berkreasi seni rupa.
Penciptaan Kriya Keramik Salt Pottery Fish sebagai Elemen Estetik Interior Penguat Identitas Budaya Ngemplakrejo Kota Pasuruan Tenry Latanre; Ponimin Ponimin
JoLLA: Journal of Language, Literature, and Arts Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v3i72023p983-1003

Abstract

Penciptaan karya keramik Salt Pottery Fish di Kota Pasuruan, Indonesia dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan sebuah ikon visual artistik yang merepresentasikan karakter lokal Kota Pasuruan. Proses penciptaan karya ini dipengaruhi oleh pentingnya pencitraan kawasan dan keinginan untuk mempromosikan warisan budaya daerah. Karya keramik ini menggambarkan bentuk ikan asin khas daerah Pasuruan, serta menggunakan teknik pembuatan keramik tradisional.  Karya keramik Salt Pottery Fish dapat menjadi suatu objek seni yang dapat menarik minat wisatawan serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan kekayaan budaya lokal. Untuk mencapai hasil visualisasi yang baik, diperlukan sebuah metode kreatif yang melibatkan beberapa tahapan, seperti penggalian ide dari berbagai sumber, pembuatan konsep penciptaan, proses visualisasi karya, analisis atau deskripsi karya, dan penyimpulan. Dari penelitian ini dihasilkan sepuluh karya keramik Salt Pottery Fish, lima karya dari Salt Pottery Fish sebagai ornamen di Ajap (Cita-Cita), Andon (laku), Westuwestu (Lestari), Rineh (Sabar), dan Kubu (Pertahanan). Sedangkan lima karya dari Salt Pottery Fish sebagai bentuk di antaranya adalah Kuncara (Terkenal), Reksa (Jaga), Rekadaya (Usaha), Balawan (Kokoh), dan Arcana (Rendah Hati). Hasil dari beberapa karya tersebut dilakukan pameran karya untuk mendapatkan apresiasi. Kata kunci: budaya lokal; Salt Pottery Fish; keramik Creation of Ceramic Craft Salt Pottery Fish as an Interior Aesthetic Element Cultural Identification Builder Ngemplakrejo Pasuruan City The creation of the Salt Pottery Fish ceramic artwork in Pasuruan City, Indonesia is intended to create a visual artistic icon that represents the local character of the city. The creation process of this artwork is influenced by the importance of portraying the region and the desire to promote local cultural heritage. This ceramic artwork depicts the typical salted fish shape of the Pasuruan region and utilizes traditional ceramic-making techniques. The Salt Pottery Fish ceramic artwork can be an attractive art object for tourists and increase awareness of the importance of preserving local cultural heritage. A creative method consisting of idea sources exploration, creation concept, artwork visualization process, analysis/description of artwork, and conclusion is required to achieve visual results. This research resulted in ten Salt Pottery Fish ceramic artworks, five of which are ornamental pieces including Ajap (Aspiration), Andon (Activity), Westuwestu (Sustainability), Rineh (Patience), and Kubu (Defense). While the other five Salt Pottery Fish artworks are in the form of Kuncara (Famous), Reksa (Careful), Rekadaya (endeavor), Balawan (Firm), and Arcana (Humble). An art exhibition was held to showcase the results of the artwork creation and receive appreciation. Keywords: local culture; Salt Pottery Fish; ceramic
Tantangan dalam Meningkatkan Sumber Daya Manusia Pendidik Seni Rupa di Era Digital Lindawati Lindawati; Syakir Syakir; Ponimin Ponimin; Eko Sugiarto
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era digital adalah masa di mana teknologi digital telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Era ini dimulai pada akhir abad ke-20 dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, internet, dan telepon genggam. Kemudian, perkembangan teknologi digital semakin cepat dan meluas ke berbagai sektor salah satunya pendidikan. Permanfaatan teknologi dalam pendidikan seni rupa masih sangat minim berbanding dengan bidang lainnya. Tujuan dari penelitian ini memberikan beberapa solusi dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (Guru) di bidang seni rupa dalam penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian studi literatur. Dari hasil studi literature menemukan solusi dalam meningkatkan SDM pendidik seni rupa yaitu: pengembangan keterampilan digital, integrasi teknologi dalam pembelajaran, peningkatan kualitas kurikulum, penggunaan media sosial dan platform digital, serta pelatihan dalam peningkatan kualitas guru seni rupa. Dalam menerapkan solusi tersebut perlu upaya dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, institusi pendidikan, dan industri, untuk memberikan dukungan dan sumber daya yang cukup agar SDM pendidik seni rupa dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan era digital yang semakin maju.
Lukisan Damar Kurung Khas Gresik Jawa Timur sebagai Inspirasi dalam Berkarya Seni Batik Lukis Syaadati, Arinis; Ponimin, Ponimin; Sidyawati, Lisa
Journal of Language Literature and Arts Vol. 3 No. 10 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v3i102023p1539-1558

Abstract

Lukisan Damar Kurung merupakan salah satu kesenian khas Gresik dengan struktur bentuk dasar kubus. Pada setiap permukaan sisi-sisi bentuk tersebut berupa cerita bergambar yang divisualkan dengan gaya naif figurativ. Akan tetapi eksistensi lukisan tersebut mulai tidak dikenal khususnya pada generasi muda, untuk itu pada penelitian ini pencipta mencoba merevitalisasi melalui penciptaan seni sebagai ide kreasi. Oleh karena itu pentingnya dilakukan suatu penelitian kreatif dengan media lain dalam bentuk penciptaan seni Batik Lukis, sehingga kehadiran hasil kreatif ini selain untuk mengenalkan seni damar kurung yang selama ini menggunakan media kertas dapat diperkaya dengan media batik. Dalam proses penciptaannya pencipta mengambil tema tentang Kebudayaan Gresik, dengan konsep ‘Kebudayaan Gresik yang Mulai Dilupakan’ pada proses kreatifnya metode yang digunakan merujuk pada teori Alma Hawkins dengan tiga tahapan: eksplorasi, improvisasi, dan perwujudan. Hasil dari penciptaan ini berupa enam karya Batik Lukis yang berjudul, Kesenian Dikker, Tradisi Sedekah Bumi, Tari Pencak Macan, Pasar Bandeng, Festival Damar Kurung, dan Kirab HUT Gresik. Penciptaan karya batik lukis ini diharapkan dapat sebagai pengembangan sarana edukasi khususnya kalangan generasi muda supaya lebih menghargai potensi seni rupa yang ada dikawasannya yakni dari hasil proses kreasi ini. Kata kunci: Batik Lukis; Damar Kurung; Gresik Damar Kurung Painting Specially Gresik East Java as Inpiration in The Art of Batik Painting Damar Kurung painting is one of Gresik's special arts with a basic cubic structure. On each surface the sides of the form are illustrated stories visualized in a figurative naive style. However, the existence of the painting is starting to be unknown, especially to the younger generation, for that in this study the creator tries to revitalize it through the creation of art as a creative idea. Therefore, it is important to do creative research with other media in the form of the creation of Batik Painting, so that the presence of this creative result in addition to introducing the art of damar brackets which has been using paper media can be enriched with batik media. In the process of creation, the creator took the theme of Gresik Culture, with the concept of 'Gresik Culture Begins to be Forgotten'. In the creative process the method used refers to Alma Hawkins' theory with three stages: exploration, improvisation, and embodiment. The results of this creation are six works of Batik Painting entitled, Dikker Art, Earth Alms Tradition, Pencak Macan Dance, Milkfish Market, Damar Kurung Festival, and Gresik Anniversary Carnival. It is hoped that the creation of this Batik Painting can be used as a means of developing educational facilities, especially among the younger generation, so that they can better appreciate the potential of fine arts in their area, namely the results of this creation process. Keywords: Painted Batik; Damar Kurung; Gresik
Kisah Raden Gatotkaca sebagai Ide Ornamentasi Cipta Kriya Keramik Guci Lampu Hias Makmun, Moh; Ponimin, Ponimin; Anggriani, Swastika Dhesti
Journal of Language Literature and Arts Vol. 3 No. 11 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v3i112023p1585-1605

Abstract

Wayang bertema Gatotkaca memiliki nilai edukasi dan aspek estetik yang sangat menarik ketika di angkat sebagi ide penciptaan suatu karya seni, hal tersebut karena mengandung nilai-nilai edukatif tentang kepahlawanan serta dan nilai-nilai pendidikan moral. Tujuan dari penciptaan ini adalah dapat merumuskan konsep kreatif penciptaan karya kriya keramik guci lampu hias bertema kisah Raden Gatotkaca, dapat melakukan proses kreatif penciptaan karya kriya keramik guci lampu hias bertema kisah Raden Gatotkaca, dan dapat menghasilkan serta menganalisis hasil visualisasi penciptaan karya kriya keramik guci lampu hias kisah Raden Gatotkaca. Adapun metode penciptaan yang digunakan pada penelitian ini meliputi beberapa proses yaitu eksplorasi gagasan, menggali sumber ide, merumuskan konsep penciptaan, eksplorasi bentuk dan eksplorasi teknik, mewujudkan karya, menganalisis hasil karya guci lampu yang bertema kisah Raden Gatotkaca. Adapun hasil kreasi desain produk keramik ini meliputi 6 karya berjudul; Anugerah, Pengorbanan, Keberuntungan, Taktik, Balas Budi, dan Wasiat. Hasil proses kreasi ini telah memenuhi aspek interior seperti aspek fungsi, ergonomi, dan estetika. Kata Kunci: wayang; Raden Gatotkaca; kriya keramik; guci lampu. The Story of Raden Gatotkaca as Creation's Ornamentation Ideas Ceramic Urns Decorative Lights The Gatotkaca-themed puppet has educational values ​​and very interesting aesthetic aspects when it is adopted as the idea of ​​creating a work of art, this is because it contains educational values ​​about heroism and moral education values. The purpose of this creation is to be able to formulate a creative concept of creating ceramic craft works of decorative lamps with the theme of the story of Raden Gatotkaca, to be able to carry out the creative process of creating ceramic works of decorative lamps with the theme of the story of Raden Gatotkacha, and to be able to produce and analyze the results of visualization of the creation of ceramic works of lamp jars. Decorate the story of Raden Gatotkaca. The creation method used in this study includes several processes, namely exploration of ideas, exploring sources of ideas, formulating the concept of creation, exploration of forms and exploration of techniques, realizing works, analyzing the work of lamp jars with the theme of the story of Raden Gatotkaca. The creations of this ceramic product design include 6 works entitled; Grace, Sacrifice, Luck, Tactics, Rewards, and Wills. The results of this creation process have fulfilled the interior aspects such as aspects of function, ergonomics, and aesthetics. Keywords: puppet; Raden Gatotkaca; ceramic crafts; lamp jar
Ritual Tari Seblang Banyuwangi sebagai Sumber Inspirasi Karya Batik Lukis Naisca, Naisca Aufa Olivia; Ponimin, Ponimin; Rini , Denik Ristya
Journal of Language Literature and Arts Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v4i42024p365-383

Abstract

Kabupaten Banyuwangi memiliki salah satu ritual terkenal yang disebut Tari Seblang. Ritual ini merupakan ekspresi rasa syukur masyarakat atas keberhasilan masa panen dan telah menjadi bagian integral dari budaya Banyuwangi. Tari Seblang terdiri dari dua jenis ritual, yaitu Olehsari dan Bakungan, masing-masing dengan karakteristik dan keunikan tersendiri. Dalam pelaksanaan ritual Tari Seblang, seni menjadi medium utama yang berfungsi sebagai perantara spiritual dan budaya. Salah satu bentuk ekspresi seni ini adalah melalui karya batik lukis. Pada penelitian penciptaan ini, peneliti bertujuan untuk menciptakan sebuah karya Batik Lukis yang terinspirasi dari Tari Seblang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kreativitas dan memperkenalkan kepada masyarakat tentang keunikan dan nilai budaya dari Ritual Tari Seblang melalui media batik lukis. Metode penciptaan yang diguna­kan dalam penelitian ini mengikuti teori penciptaan yang digagas oleh Gustami, yang terdiri dari tiga tahapan utama: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi melibatkan pengumpulan data dan inspirasi dari berbagai aspek Tari Seblang, termasuk gerakan, kostum, dan makna simbolis yang terkandung di dalamnya. Tahap perancangan mencakup proses meran­cang motif dan desain batik yang akan dibuat, sementara tahap perwujudan adalah proses finalisasi karya batik lukis tersebut. Hasil dari penelitian ini menghasilkan enam karya batik lukis yang diberi judul Ison Seblang 1-6. Setiap karya batik ini merepresentasikan gerakan tari dari penari Seblang dengan menggunakan teknik pewarnaan Colet dan jenis pewarna Remazol. Karya-karya ini tidak hanya menampilkan keindahan visual tetapi juga men­ceritakan kisah dan filosofi di balik Tari Seblang. Hasil akhir dari pembuatan batik ini telah dipamerkan di Universitas Negeri Malang sebagai pengenalan dan memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk lebih akrab dan menghargai warisan budaya Banyuwangi melalui seni batik lukis.
Kesenian Jaran Dor Malang sebagai Ide Penciptaan Motif Batik Tulis Sandang Wahyuningtyas, Dinda Nastiti; Ponimin, Ponimin; Sidyawati, Lisa
Journal of Language Literature and Arts Vol. 4 No. 6 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v4i62024p549-566

Abstract

Kesenian Jaran Dor Malang merupakan seni pertunjukan etnik yang tumbuh subur dikalangan masyarakat Kota Malang. Seni pertunjukan ini memiliki keunikan tersendiri pada bentuk visual artefak dan gerak tariannya, namun banyak anak muda jaman sekarang tidak mengetahui akan keunikan pertunjukan tersebut karena sudah jarang dipertontonkan. Kegelisahan tersebut menjadikan latar bekalang penulis dalam menciptakan karya batik tulis sandang. Tujuan penciptaan ini adalah mendeskripsikan ide dan konsep batik tulis yang terinspirasi dari Kesenian Jaran Dor Malang, mendeskripsikan proses kratif batik tulis, dan mendeskripsikan hasil karya penciptaan. Penciptaan batik tulis tersebut menggunakan metode penciptaan seni kriya SP Gustami yang terdiri dari tahapan eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Ketiga tahapan ini kemudian dikembangkan penulis untuk melakukan penciptaan motif batik tulis pada bahan sandang. Hasil kreatif ini terdiri dari enam karya batik tulis dengan teknik colet yang diharapkan dapat diproduksi secara masal, kemudian dapat digunakan sebagai sandang sesuai dengan aspek ergonomis. Hasil karya tersebut berjudul: Pinasthi, Adigang Adigung Adiguna, Keseimbangan, Prasaja, Solah, dan Kapanjingan. Hasil penciptaan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana pengenalan budaya lokal dan juga sebagai pelestarian budaya nasional.
Kreasi Guci Keramik Terakota dari Inspirasi Budaya Lokal Jombang sebagai Elemen Estetik Interior Rochmah, Dinta Wisnu Nur; Ponimin, Ponimin
Journal of Language Literature and Arts Vol. 3 No. 11 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v3i112023p1698-1718

Abstract

Jombang merupakan kota yang terletak di provinsi Jawa Timur yang memiliki banyak budaya. Salah satunya Wayang Topeng Jatiduwur dan Ringin Contong yang merupakan icon budaya yang kuat terhadap citra kota Jombang dan paling menonjol di kawasan tersebut. Wayang Topeng Jatiduwur memiliki keunikan dari aspek bentuk visual topeng, nilai karakter, nilai kearifan lokal dan pertunjukannya. Namun masih belum banyak pengrajin yang mengkreasikan kesenian tersebut kedalam seni kriya keramik, selama ini hanya dikreasi dalam bentuk seni batik dan lukisan saja. Penciptaan ini bertujuan untuk memperkaya ragam kreasi guci terakota yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Jombang sebagai home accessories interior. Pada sisi lain dapat dikembangkan sebagai sumber belajar dari budaya lokal Jombang pada mata pelajaran seni budaya di sekolah. Sehingga dapat membangun para siswa untuk lebih menghargai dan melestarikan budaya lokal. Mengingat saat ini Topeng Jatiduwur sudah mulai redup sebab tergerus oleh zaman. Untuk mencapai hasil visualisasi tersebut diperlukan metode kreatif yang meliputi beberapa tahapan, diantaranya eksplorasi konsep penciptaan, eksplorasi bentuk dan teknik, eksplorasi ornamen, Visualisasi hasil eksplorasi, analisis dan gelar karya. Penciptaan ini meng­hasilkan delapan karya, yang berjudul Sang Panji, Dewi Sekartaji, Pertemuan, Patah Kuda Narawangsah, Perjuangan, Kesetiaan, Hampa, dan Menyatu. Hasil karya tersebut mengandung aspek nilai fungsional, nilai estetika dan nilai kebudayaan. Kata kunci: wayang topeng Jatiduwur; Jombang; keramik Creation of Terracotta Ceramic Guns from Local Culture Inspiration of Jombang as Interior Aesthetic Elements Jombang is a city located in East Java province that has many cultures. One of them is Wayang Topeng Jatiduwur and Ringin Contong, which is a strong cultural icon for the image of Jombang city and the most prominent in the area. Wayang Topeng Jatiduwur is unique in terms of its visual form, character value, local wisdom value and performance. However, there are still not many craftsmen who create this art into ceramic crafts, so far only created in the form of batik art and paintings. This creation aims to enrich the variety of terracotta jar creations that can be utilized by the people of Jombang as interior home accessories. On the other hand, it can be developed as a source of learning from the local culture of Jombang in cultural arts subjects at school. So that it can build students to appreciate and preserve local culture. Given the current Jatiduwur Mask has begun to fade because it is eroded by the times. To achieve the visualization results, a creative method is needed which includes several stages, including exploration of the concept of creation, exploration of forms and techniques, exploration of ornaments, visualization of exploration results, analysis and work title. This creation produced eight works, entitled Sang Panji, Dewi Sekartaji, Pertemuan, Patah Kuda Narawangsah, Perjuangan, Kesetiaan, Hampa, and Menyatu. The works contain aspects of functional value, aesthetic value and cultural value. Keywords: Jatiduwur mask puppet; Jombang; ceramic
Tari Barapan Kebo Sumbawa Barat sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni Grafis Cetak Tinggi Sangrani, Eet; Ponimin, Ponimin; Wisesa, Agnisa Maulani
Journal of Language Literature and Arts Vol. 4 No. 7 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um064v4i72024p734-756

Abstract

Tari Barapan Kebo adalah jenis tari kreasi berbentuk permainan rakyat dari Sumbawa Barat yaitu permainan Barapan Kebo (karapan kerbau). Permainan tersebut dijadikan sebuah tari kereasi oleh Surdianah yang diambil gerakan-gerakan dalam permainan Barapan Kebo. Gerakan yang digunakan dalam Tari Barapan Kebo adalah gerakan khas Sumbawa Barat seperti gerak Ngomek Ngompeng, Merenjang dan Begerik yang telah dikembangkan dan disempurnahkan. Pada penelitian ini penulis menggunakan kesenian Barapan Kebo sebagai objek penciptaan dengan alasan ingin melestarikan kesenian ini melalui karya cetak tinggi, Tujuan penciptaan ini adalah  Mendepenelitiankan konsep dan proses karya seni grafis cetak tinggi Tari Berapan Kebo Sumbawa Barat sebagai objek ide penciptaan dan merepresentasikan visual Tari Berapan Kebo Sumbawa Barat menggunakan teknik grafis cetak tinggi. Penciptaan seni grafis cetak tinggi ini menggunakan metode penciptaan milik Gustami yang meliputi tahapan eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Kemu­dian tiga tahapan ini dikembangakan oleh penulis agar menyesuaikan proses penciptaan penulis. Hasil karya terdiri dari enam karya yang merupakan grafis cetak tinggi. Hasil karya tersebut berjudul: Ngumang, Ngomek Ngompeng, Barue’, Bagerik, Ngijik, Bakeja. Penulis berharap enam hasil karya tersebut dapat menjadi salah satu sarana dalam pengenalan kesenian lokal dan juga sebagai bentuk pelestarian.