Claim Missing Document
Check
Articles

Nursing Intervention With Combined Psychoreligious Therapy In Patients With Auditory And Visual Hallucinations A Case Report Setiani, Haniifah Setiani; Hidayati, Nur Oktavia; Hernawaty, Taty
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Citra Keperawatan Edisi : Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jck.v13i2.398

Abstract

Hallucinations are a common symptom often experienced by people with schizophrenia. Treatment can be carried out through psychiatric nursing care combined with psychoreligious therapy. This study aims to describe the application of a combination of nursing care and psychoreligious therapy in patients diagnosed with sensory perception disorders: auditory and visual hallucinations. The method used was a clinical case report with five stages of the nursing process, from assessment to evaluation. The intervention was conducted over seven days, and psychoreligious therapy was administered twice daily for 10–20 minutes per session. The study subject was a patient, Mr. I, diagnosed with schizophrenia and experiencing auditory and visual hallucinations. The patient had a history of repeated hospitalizations at the psychiatric hospital with the same symptoms since 2019. Mr. I presented with complaints of laughing and talking to himself. The patient’s speech was incoherent, his affect was labile, he had difficulty focusing, and he exhibited a flight of ideas. The results showed that this intervention was effective for Mr. I, as the patient was able to recognize, dismiss, and redirect hallucinations independently, showed improved adherence to treatment, was able to maintain focus during conversations, was calmer, could open up emotionally, and experienced a reduction in the frequency of hallucinations. The conclusion of this study is that the combination of nursing care and psychoreligious therapy can be proven effective in enhancing the ability of schizophrenia patients to manage auditory and visual hallucinations independently.
Gratitude Therapy in Chronic Low Self-Esteem in Schizophrenia Patients: Case Study Aflahatinufus, Azka; Hidayati, Nur Oktavia; Hendrawati, Hendrawati
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia Vol 9, No 1 (2023): Volume 9, Nomor 1, Juni 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v9i1.56071

Abstract

Schizophrenia can cause negative symptoms such as delusions, hallucinations, disorganized speech or behavior, and impaired cognitive abilities. So that many people with schizophrenia get stigma from their families and society. This makes people with schizophrenia experience chronic low self-esteem, that is, they feel they are worthless and do not have any talents or abilities. One of the non-pharmacological therapies to reduce chronic low self-esteem is gratitude therapy. The purpose of writing this case study is to illustrate the giving of gratitude therapy to chronic low self-esteem in schizophrenic patients. This research uses a sample of patients who are being treated at a mental rehabilitation house. The patient in this case study was diagnosed with paranoid schizophrenia and experienced chronic low self-esteem, characterized by patients who are difficult to communicate with and say they are worthless. This study used a case study descriptive method in patients with schizophrenia with chronic low self-esteem. After being given the gratitude therapy intervention for 5 days and interspersed with several interventions, namely yoga and butterfly hugs, the patient seemed to be more cheerful and active. This is evidenced by the patient looking willing and inviting other people to communicate, and starting to be confident to appear in front of others. Gratitude therapy can reduce chronic low self-esteem in schizophrenic patients. Therefore, giving gratitude therapy interventions is recommended for health workers, especially the psychiatric nursing team as a non-pharmacological intervention in reducing chronic low self-esteem in schizophrenic patients. Suggestions for further research, so that you can apply gratitude therapy interventions with more samples and carry out follow-ups in sufficient time. So it is hoped that in the future more and more nurses will use gratitude therapy interventions as evidence-based practice to overcome chronic low self-esteem in patients with mental health problems.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU BUNUH DIRI NARAPIDANA Hidayati, Nur Oktavia; Diana, Dissy Lizara; Lisdiawati, Lisdiawati; Astuti, Indriyanni Sri; Nurasiah, Iis Kania; Triana, Marlynda Maya; Herviyanti, Mega Mey; Kamila, Syifa Ratna; Nurdiansari, Vina
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 12 No 3 (2021): JURNAL KESEHATAN
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v12i3.532

Abstract

Latar Belakang: Kejadian bunuh diri di penjara lebih tinggi terjadi pada populasi narapidana dibandingkan dengan populasi umum. Kompleksitas masalah yang ada pada diri sendiri dan lingkungna penjara dapat memicu narapidana melakukan tindakan bunuh diri. Perilaku bunuh diri pada narapidana tentunya berhubungan dengan berbagai faktor yang memengaruhinya..Tujuan: Tujuan dari kajian literatur ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku bunuh diri pada narapidana.Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi literatur. Pencarian artikel menggunakan 3 database dan search engine yaitu PubMed, EBSCO, Springer, Google Scholar, dengan menggunakan kata kunci dalam Bahasa Inggris factors, suicidal behavior, prisoner.Hasil: 8 artikel diadapatkan. Faktor yang mempengaruhi perilaku bunuh diri pada narapidana. Faktor gangguan kejiwaan (depresi, PTSD, keputusasaan, gangguan kecemasan dan skizofrenia), faktor kekerasan (kekerasan pada masa kecil, kekerasan seksual, kekerasan fisik), ketergantungan alkohol dan obat-obatan terlarang, faktor demografi (usia, gender, tingkat pendidikan), dan lama kurungan merupakan faktor yang secara ilmiah terbukti memiliki pengaruh terhadap perilaku bunuh diri pada narapidana.Kesimpulan: Dari berbagai faktor yang memengaruhi, perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang intervensi yang tepat untuk narapidana dengan perilaku bunuh diri.
Hubungan Kualitas Tidur dan Burnout Akademik pada Mahasiswa Keperawatan Muta'aliyah, Hikmah; Hidayati, Nur Oktavia; Eriyani, Theresia
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.24981

Abstract

ABSTRACT Nursing students face high academic and clinical demands, making them vulnerable to poor sleep quality and academic burnout. Poor sleep quality is assumed to contribute to higher burnout levels. This study aimed to determine the relationship between sleep quality and academic burnout among nursing students at Universitas Padjadjaran. A quantitative correlational non-experimental design was applied. The population consisted of 923 active undergraduate nursing students at Universitas Padjadjaran (Jatinangor Campus and Pangandaran Campus). A total of 279 respondents were selected using proportionate stratified random sampling. Sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), while academic burnout was assessed using the Maslach BurnoutInventory–Student Survey (MBI-SS). Data were analyzed using Spearman Rank correlation. Most respondents reported poor sleep quality (81%). Academic burnout was predominantly at a moderate level (52.3%). Statistical analysis showed a significant relationship between sleep quality and academic burnout (p = 0.002), with a very weak positive correlation (r = 0.186). There is a significant association between sleep quality and academic burnout among nursing students at Universitas Padjadjaran. Poorer sleep quality tends to be followed by higher burnout levels, although the correlation strength is very low. Keywords: Sleep Quality, Academic Burnout, Nursing Students.  ABSTRAK Mahasiswa keperawatan menghadapi tuntutan akademik dan praktik klinik yang tinggi sehingga rentan mengalami gangguan kualitas tidur serta burnout akademik. Kualitas tidur yang buruk diduga berkontribusi terhadap meningkatnya burnout akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian burnout akademik pada mahasiswa keperawatan Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan non-eksperimental. Populasi penelitian adalah mahasiswa aktif Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran di Kampus Jatinangor dan PSDKU Pangandaran sebanyak 923 mahasiswa. Sampel berjumlah 279 responden yang dipilih menggunakan proportionate stratified random sampling. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan burnout akademik menggunakan Maslach Burnout Inventory–Student Survey (MBI-SS). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Rank Spearman. Sebagian besar responden memiliki kualitas tidur buruk (81%). Tingkat burnout akademik responden didominasi kategori sedang (52,3%). Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan burnout akademik (p = 0,002) dengan kekuatan hubungan sangat rendah dan arah positif (r = 0,186). Terdapat hubungan signifikan antara kualitas tidur dan burnout akademik pada mahasiswa keperawatan Universitas Padjadjaran. Mahasiswa dengan kualitas tidur yang lebih buruk cenderung mengalami burnout akademik lebih tinggi, meskipun kekuatan hubungan sangat rendah. Kata Kunci: Kualitas Tidur, Burnout Akademik, Mahasiswa Keperawatan.
Gambaran Tingkat Stres Kerja Pada Petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Garut Herliawati, Della; Purnama, Dadang; Hidayati, Nur Oktavia
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25042

Abstract

ABSTRACT Mental health in the workplace is an important aspect in maintaining the well-being and productivity of officers, especially for those working in high-pressure environments such as correctional institutions. Correctional officers often face tight time pressures, high workloads, and high risks that can trigger anxiety and increase work stress. This study to determine the level of work stress among officers at the Class II A Garut Correctional Institution. Using quantitative descriptive design. The study population was all officers of Class II A Garut Correctional Institution, totaling 84 respondents, using total sampling technique. Data were collected through Job Stress Scale questionnaires that had been translated into Indonesian, then analyzed descriptively using frequency distribution and percentage.The majority of respondents were in the mild work stress category, as many as 46 people (54.8%), then the moderate work stress category as many as 34 people (40.5%), and the high work stress category as many as 4 people (4.8%). Most officers of Class II A Garut Correctional Institution experienced mild work stress based on the dimensions of time pressure and anxiety. However, there were still officers with moderate to high levels of stress, indicating the need for attention to the mental health of Correctional Institution officers. Keywords: Work Stress, Time Pressure, Anxiety, Correctional Officers.  ABSTRAK Kesehatan mental di tempat kerja merupakan aspek penting dalam menjaga kesejahteraan dan produktivitas petugas, khususnya bagi mereka yang bekerja dalam lingkungan dengan tekanan tinggi seperti Lembaga Pemasyarakatan. Petugas Lembaga Pemasyarakatan sering menghadapi tekanan waktu yang ketat, beban kerja yang tinggi, serta tingginya risiko yang dapat memicu kecemasan dan meningkatkan stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat stres kerja pada petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Garut. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 84 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner stres kerja yang dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Mayoritas responden berada pada kategori stres kerja ringan sebanyak 46 orang (54,8%), kemudian kategori stres kerja sedang sebanyak 34 orang (40,5%), dan kategori stres kerja tinggi sebanyak 4 orang (4,8%). Sebagian besar petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Garut mengalami stres kerja kategori ringan berdasarkan dimensi tekanan waktu dan kecemasan. Namun, masih terdapat petugas dengan tingkat akhir stres sedang hingga tinggi yang menunjukkan perlunya perhatian terhadap kesehatan mental petugas Lembaga Pemasyarakatan. Kata Kunci: Stres Kerja, Tekanan Waktu, Kecemasan, Petugas Lembaga Pemasyarakatan.
Co-Authors Aan Nuraeni Aat Sriati Achir Yani S. Hamid Achir Yani S. Hamid Adistie, Fanny Aflahatinufus, Azka Agustien, Mia Amalia Agustin, Yulian Mutiara Agustina, Habsyah Safaridah AI MARDHIYAH, AI Ajeng Andini Sutisnu Akmal Sybromillsy Alam, Ismailah Alawiyah, Siti Haiva Amilia Rosada Andini, Wilda Angga Rizkiawan Anjelina, Dina Aprilia, Nike Ardianti, Aprilia Aulia Arunita, Yulpiana Astuti, Indriyanni Sri Ayu K.W, Fauziah Dyan Cahyani, Eka Maulidya Dadang Purnama Dani Ramdani, Dani Destia Khairunnisa, Destia Dewi, Nadya Puspita Dewi, Syafira Diana, Dissy Lizara Dina Agustina Suwito Dinda Sari Agustina Efri Widianti Ermiati Ermiati Etika Emaliyawati Fadilah, Tria Nurhayyu Fatimah, Sari Fauzania, Syifa Nurul Feni Agustina Hamidah Nurhalimah Harris, Marissa Mouthia Haryati, Evi Annisa Hendrawati Hendrawati Herliawati, Della Herviyanti, Mega Mey Iceu Amira D.A Ikeu Nurhidayah Imas Rafiyah Iwan Shalahuddin Iwan Suhendar Iyus Yosep Kamila, Syifa Ratna Kharisma, Puji Adi Kusumah, Indra Lia Sari Lisdiawati, Lisdiawati Lukman Haqim M. Randi Gentamandika Putra, M. Randi Gentamandika Mamat Lukman Maria komariah Mela Yulianti Melliany Safitrie Mentari, Vanessa Zian Mufaj, Elda Nurfadila Muspratiwi, Dea Muta'aliyah, Hikmah Nabila Salsabila Nenden Nur Asriyani Maryam Neng Della Monika Senja Nisa Humaerotul Jannah Nita Fitria Nofadina, Hanifah Nurasiah, Iis Kania Nurdiansari, Vina Nurhalimah, Hamidah Nurjanah, Lilis Siti Nurul Damarwulan Poddar, Sandeep Prawesti, Sabrina Junieta Qurhadzam, Muhammad Galiem Rabbani, Hasna Ramadhanti, Intan Febryani Ramdhona, Dinyatul Arba Ratih Kusuma Dewi Regita, Yasmina Dwi Rery Yuliani Pratiwi Restuning Widiasih Rhamelani, Putri Rivalda, Neneng Serenity, Kinar Setiani, Haniifah Setiani Setiawan Setiawan Shafira Rizki Amalia Siti Nur Fatimah Sujana, Elva Sukma Senjaya Sumarna, Umar Suryani S Suryani Suryani Taty Hernawaty Tetti Solehati Theresia Eriyani Titin Sutini Toharudin Toharudin Triana, Marlynda Maya Tutik Sri Hariyati Utami, Syafiah Ihsan Yani, Pebri