Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Profile Of Antihypertensive Drug Use In Patients With Coronary Artery Disease At Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah General Hospital (RSUP) In 2023 Arifin, Jeanan Aulia; Widhiartini, Ida Ayu Alit; Jawi , I Made
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 10 (2025): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i10.51895

Abstract

Background: Coronary heart disease (CHD) is often triggered by atherosclerosis, with hypertension as a major risk factor. Managing hypertension through lifestyle modification and pharmacological therapy, such as ACE inhibitors, ARBs, beta-blockers, CCBs, and diuretics, is important to prevent further complications. Objective: To determine the profile of antihypertensive drug use in CHD patients at RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar in 2023. Methods: This was a descriptive study using a cross-sectional design. Data were collected retrospectively from medical records of CHD patients in 2023 after obtaining approval from relevant authorities. Data analysis was performed using IBM SPSS version 26. Results: The majority of patients were male (88%) and aged 56-65 years. Most resided in Denpasar with normal blood pressure and had comorbidities such as hypertension, type 2 diabetes mellitus, and chronic kidney disease. Beta-blockers were the most commonly used antihypertensive agents (32.3%), followed by diuretics (24.4%) and ACE inhibitors (19.6%). Triple-drug combination therapy was the most frequently used regimen, particularly the ACEi + BB combination, commonly administered once daily (OD). Conclusion: Most CHD patients were older males with multiple comorbidities. Beta-blockers were the most frequently prescribed antihypertensive drugs, followed by diuretics and ACE inhibitors. The prevalent use of combination therapy and once-daily regimens indicates an individualized treatment approach based on clinical conditions.
PENGELOLAAN PENGADAAN LOGISTIK FARMASI PADA EMPAT APOTEK JARINGAN DI WILAYAH DENPASAR DAN BADUNG : KAJIAN ETIK DAN REGULASI Widhiartini, Ida Ayu Alit; Sakaningrum, Ni Putu Mirah; Dewi, Putu Diva Candra; Medinna, Balqish Fathoum
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v8i1.16020

Abstract

Apotek jaringan merupakan retail farmasi yang dikelola sebagai suatu kewirausahaan dengan aturan perundangan dan etik yang ketat. Orientasi kewirausahaan di tengah tingginya persaingan retail farmasi menuntut efisiensi dalam berbagai hal termasuk dalam pengadaan logistik kefarmasian obat. Efisiensi pengadaan obat berisiko pada pengabaian etik dan aturan pengelolaan obat di fasilitas pelayanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengelolaan pengadaan logistik kefarmasian pada apotek jaringan dan merangkum berbagai kendala dan solusi yang dilakukan ditinjau dari sudut pandang etik dan peraturan mengenai pengadaan logistik kefarmasian di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan selama bulan Juni 2024 melalui wawancara terstruktur menggunakan aplikasi telepon whatsapp terhadap informan tenaga kefarmasian praktek yang bertanggungjawab terhadap proses pengadaan obat pada empat apotek cabang dari tiga (3) apotek jaringan milik swasta dan satu (1) BUMN dan yang ada di wilayah Denpasar dan Badung. Data karakteristik informan dideskripsikan dan data proses pengadaan dikelompokkan menurut: praktek pengadaan, sistem/metode, ketersediaan dokumen mutu (standar operasional prosedur/SOP), informasi kendala dan solusi pengadaan, dan dilakukan kajian etik dan aturan terhadap implementasi pengadaan menggunakan Permenkes No 73 Tahun 2016, Permenkes No 9 Tahun 2017, dan PerBPOM No 24 Tahun 2021. Hasil penelitian menyatakan bahwa praktek pengadaan logistik pada semua apotek jaringan diatur dengan dokumen mutu standar operasional prosedur (SOP) namun hal bertentangan dinyatakan satu (1) apotek yang menyatakan pengadaan dilakukan tanpa menggunakan dokumen surat pesanan yang merupakan aturan pengadaan. Tiga (3) apotek menerapkan metode pengadaan obat mandiri ke distributor, satu (1) menyatakan pengadaan mandiri ke distributor dan pengajuan melalui cabang lain, dan satu (1) apotek menerapkan pengadaan melalui manajemen pusat dengan frekuensi waktu yang bervariasi dari harian, tiga hari per minggu, per minggu, dan per bulan. Semua apotek jaringan menerapkan sistem pengadaan pareto dan ABC dan metode konsumtif, epidemiologi, maupun kombinasinya. Kendala pada apotek jaringan swasta mandiri antara lain kekosongan stok pada distributor sedangkan apotek BUMN terkendala panjangnya alokasi waktu pengadaan akibat waktu tunggu persetujuan manajemen pusat. Solusi yang dilakukan dengan penelusuran distributor lain yang menyediakan obat serupa. Kajian ini menemukan adanya pengabaian etik dan peraturan perundangan terkait pengadaan yang dilakukan tanpa dokumen mutu SOP, SP, dan dilakukan tidak melalui distributor/PBF secara langsung. Permasalahan pengadaan di apotek jaringan memerlukan pertimbangan etik dan kepatuhan tenaga kefarmasian sehingga pengadaan obat bisa berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku sehingga adil terhadap penyelenggaraan retail apotek lain.