Claim Missing Document
Check
Articles

Interpersonal Communication Of Teacher - Deaf Students In Online Learning Lusiyana, Annisa; Ramadhana, Maulana Rezi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.904 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v8i2.11356

Abstract

In creating satisfying interactions, it requires interpersonal communication that goes both ways between teachers and deaf students in online learning. This study aims to find out how interpersonal communication occurs between deaf teachers and students in online learning which is studied using symbolic interaction theory in S Public Special Education School Bekasi Regency. This research used a qualitative research method by collecting data through interviews with twelve informants who were divided into key informants and supporting informants, namely six teachers and six deaf students of Public Special Education School Bekasi Regency with data analysis using ATLAS.ti software. The results show that there are three aspects of symbolic interaction in interpersonal communication carried out by deaf teachers and students in online learning, including 1) Mind, resulting in the theme of online learning situations, 2) Self, producing the theme of interaction with children, 3) Society, resulting in the theme of building interaction. These three aspects give rise to four categories, including technical barriers, non-technical barriers, interaction approach strategies, and providing support to children. This research can help provide information about interpersonal communication carried out by deaf teachers and students in online learning.
Analisis Komunikasi Interpersonal Ibu Dan Remaja Perempuan Pasca Yatim Di Kelurahan Manggarai Muhjah, Tuhfah Fathiyyah; Ramadhana, Maulana Rezi; Widya P, Chairunnisa Widya P
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mencari bagaimana komunikasi interpersonal khususnya kelekatanyang terjalin antara ibu dan remaja perempuan pasca yatim di Kelurahan Manggarai. Latar belakang penelitianmengidentifikasi tentang kehilangan ayah di usia remaja yang mempengaruhi kondisi emosional anak, terutamaremaja perempuan. Dalam situasi ini, ibu menjadi figur pengasuh utama yang perannya sangat penting. Kualitaskomunikasi interpersonal antara ibu dan anak serta pola kelekatan yang terbentuk menjadi faktor kunci dalam prosespenyesuaian pasca kehilangan. Teori yang digunakan adalah teori kelekatan atau attachment Theory untuk memahamikomunikasi kelekatan ibu dan remaja perempuan pasca yatim. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatifdengan menggunakan wawancara sebagai instrumen pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polakelekatan antara ibu dan remaja perempuan pasca kehilangan ayah terbagi ke dalam dua kategori, yaitu kelekatanaman dan kelekatan tidak aman. Kelekatan aman ditandai dengan komunikasi yang terbuka, dukungan emosional yangresponsif, serta rasa percaya dan kenyamanan dalam hubungan ibu dengan remaja perempuan. Sementara itu,kelekatan tidak aman terbagi menjadi kelekatan cemas yang ditandai dengan keraguan remaja perempuan untukterbuka karena takut tidak dipahami ibunya. Kelekatan tidak aman lainnya yaitu kelekatan tidak aman menghindarterlihat ketika remaja perempuan memilih untuk tidak bercerita kepada ibunya karena adanya rasa khawatir akanmembebani sang ibu.Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Ibu, Remaja, Yatim, Kelekatan.
Analisis Tahapan Penetrasi Sosial Penyandang Difabel di PPSGHD Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat Rafiandi, Dhafin Hafizh; Ramadhana, Maulana Rezi
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Difabel memiliki hak yang sama dalam membangun hubungan sosial dengan manusia lainnya. Keterbatasan yangdimilikinya membuat banyak orang merasa sulit untuk membangun hubungan sosial dengan difabel. Terdapat PusatPelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD), di dalamnya terdapat berbagai macam jenis difabel yangdipisahkan dari keluarganya sehingga perlu membangun hubungan sosial dengan individu lainnya. Denganmenggunakan teori penetrasi sosial yang dikemukakan oleh Altman & Taylor (1973), tujuan dari penelitian ini untukmencari tahu bagaimana tahapan penetrasi yang dilalui difabel untuk membangun hubungan kedekatan antar individuselama menjalankan program pelatihan. Metode penelitian yang di gunakan adalah kualitatif dengan pendekatanfenomenologi. Teknik pengambilan data berupa wawancara serta observasi kepada 10 informan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa seluruh difabel telah melalui keempat tahapan dalam teori penetrasi sosial yang dibuktikan padatahap orientasi, keleluasaan serta keterbukaan masih sangat rendah dilihat dari topik pembahasan hanya sekedarperkenalan. Tahap pertukaran afektif eksploratif keleluasaan topik pada difabel sudah terlihat, namun terdapathambatan dalam penggunaan bahasa isyarat yang membuat kesulitan dalam membangun hubungan dengan difabeltunaruwi. Tahap pertukaran afektif ditunjukkan dengan keterbukaan mengenai topik tentang diri pribadi yang lebihmendalam. Tahap pertukaran stabil, tingkat kepercayaan antar difabel sudah sangat tinggi yang dibuktikan dengankeleluasaan topik sudah sangat beragam. Penelitian ini dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu komunikasiinterpersonal serta dijadikan sumber pengetahuan dan pemahaman bagi masyarakat mengenai bagaimanapengembangan hubungan kedekatan yang dilakukan difabel, sehingga dapat diterapkan oleh masyarakat untukmemiliki hubungan yang lebih dekat dengan empat jenis difabel dalam penelitian ini.Kata Kunci: Hubungan Sosial, Difabel, Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel, Teori Penetrasi Sosial
Harapan Dan Nilai-Nilai Pramujiwa Di Uptd Pusyansos Griya Harapan Difabel Satuan Pelayanan Bina Laras Sakurjaya Sani, Tiara Elkia; Ramadhana, Maulana Rezi
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengenai harapan dan nilai-nilai pramujiwa yang mendampingi Orang dengan Gangguan Jiwa(ODGJ) secara sukarela di Panti Bina Laras Sakurjaya. Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting di JawaBarat, dengan jumlah kasus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang cukup tinggi sehingga dibutuhkannya peranpramujiwa dalam membantu rehabilitasi ODGJ. Panti Bina Laras Sakurjaya hadir sebagai pusat rehabilitasi danpemberdayaan ODGJ, dengan peran vital dari para pramujiwa sebagai tenaga relawan yang menangani kebutuhandasar pasien. Penelitian ini bertujuan memahami ekspektasi awal dan nilai nilai yang dimiliki pramujiwa sertabagaimana pengalaman mereka mengubah harapan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatiffenomenologis dengan paradigma konstruktivisme, didukung oleh Expectancy Value Theory (EVT) oleh Eccles(1983) yang menekankan dua aspek utama yaitu ekspektasi keberhasilan dan nilai subjektif. Data dikumpulkanmelalui wawancara terstruktur terhadap lima pramujiwa serta observasi partisipatif di lapangan. Hasil menunjukkanbahwa meskipun para pramujiwa memiliki ekspektasi idealis pada awalnya, pengalaman langsung menghadapitantangan fisik dan emosional membuat mereka merefleksi ulang makna kerja mereka. Nilai pencapaian, nilaiintrinsik, dan nilai kegunaan muncul sebagai motivator utama, meskipun diiringi dengan pengorbanan besar.Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan sistemik untuk mempertahankan motivasi dan kepuasan kerjapramujiwa.Kata Kunci : Pramujiwa, ODGJ, Ekspektasi Keberhasilan, Nilai Subjektif, Expectancy Value Theory (EVT)
Komunikasi Interpersonal Dalam Proses Keterbukaan Diri Mahasiswa Telkom Univerisity Korban Kekerasan Seksual Putri, Jessica; Ramadhana, Maulana Rezi
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh komunikasi interpersonal dalam proses keterbukaan dirimahasiswa Telkom University yang menjadi korban kekerasan seksual. Menggunakan pendekatan kualitatif denganmetode fenomenologi, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima narasumber yang terdiri dari empatmahasiswi informan kunci dan satu informan ahli dari kalangan akademisi dan psikolog. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang empatik, tidak menghakimi, dan memberikan rasa aman berperanpenting dalam mendorong keterbukaan diri korban. Faktor-faktor yang memengaruhi proses ini meliputi tingkatkepercayaan, respons lingkungan sosial, serta kemampuan korban dalam menghadapi ketidakpastian sosial yangkompleks. Di sisi lain, hambatan utama meliputi trauma psikologis, ketakutan terhadap stigma sosial, dan kurangnyadukungan institusi kampus dalam memberikan pendampingan yang memadai. Temuan ini menekankan pentingnyamenciptakan lingkungan kampus yang suportif serta penggunaan pendekatan komunikasi yang sensitif dan berpihakpada korban untuk mendukung proses pemulihan, penguatan mental, serta pemberdayaan korban kekerasan seksualdalam jangka panjang dan berkelanjutan di lingkungan pendidikan tinggi.Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Kekerasan Seksual, Keterbukaan Diri, Mahasiswa, Trauma, Fenomenologi
Komunikasi Interpersonal Pembina Dan Client Dalam Proses Rehabilitasi Remaja Bermasalah Di Bina Griya Remaja Jawa Barat Gusrian, Anaqi; Ramadhana, Maulana Rezi; Widya P, Chairunnisa
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenakalan remaja merupakan permasalahan sosial yang kompleks dan berdampak luas, baik bagi individu maupunmasyarakat. Salah satu upaya untuk menanganinya adalah melalui proses rehabilitasi sosial di lembaga seperti GriyaBina Remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi interpersonal antara pembina dan remajadalam mendukung proses rehabilitasi. Fokus utama adalah pada kompetensi pembina sebagai komunikator dalamkomunikasi instruksional yang mencakup elemen-elemen seperti feedback, Feedforward, Noise Management,Communication Choice, channel, dan Code Switching. Dengan beberapa tema seperti support,tekad,emosional,strategidan masih banyak lagi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus, di mana datadikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan pembina dan remaja sebagai informan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa hubungan interpersonal yang hangat dan komunikatif antara pembina dan remaja sangatmempengaruhi efektivitas rehabilitasi. Kompetensi komunikasi pembina berperan penting dalam membangunkepercayaan, menciptakan suasana belajar yang kondusif, serta memfasilitasi perubahan perilaku positif pada remaja.Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi komunikasi dalam lembagarehabilitasi sosial.Kata Kunci: komunikasi interpersonal, pembina, remaja bermasalah, rehabilitasi sosial, Griya Bina Remaja
KOMUNIKASI KELUARGA PEDAGANG ASONGAN DALAM MEMBENTUK KETAHANAN EMOSIONAL ANAK Hafidz, Ayasha Rachmafaiza; Ramadhana, Maulana Rezi
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana komunikasi keluarga berperan dalam membentuk ketahanankeluarga pada pedagang asongan, khususnya di Kecamatan Bandung Kulon. Fenomena anak yang melakukan aktivitasjualan sering kali dipicu oleh kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil, sehingga anak-anak terpaksa turun ke jalanuntuk membantu mencari nafkah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metodefenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif anak di jalanan dalam menjalani perannya sebagai pendukungekonomi keluarga. Penelitian ini juga mengkaji pola komunikasi keluarga berdasarkan teori Family CommunicationPatterns (FCP) dan model ketahanan keluarga dari Walsh (2016), yang mencakup sistem kepercayaan keluarga, polaorganisasi, dan proses komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun hidup dalam keterbatasan,keluarga pedagang asongan yang memiliki pola komunikasi terbuka dan dukungan emosional dari orang tuamenunjukkan kemampuan ketahanan keluarga yang cukup kuat sehingga anak memiliki inisiatif yang tinggi untukikut serta dalam kontribusi ekonomi keluarga sejak kecil. Komunikasi yang terjalin di antara anggota keluargamenjadi kunci dalam menghadapi krisis ekonomi dan sosial.Kata Kunci: Anak pedagang asongan, Komunikasi Keluarga, Ketahanan Keluarga.
Konsep Diri Difabel Terlantar (Studi Pada Difabel di Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat) Pratama, Fajrian Noor; Ramadhana, Maulana Rezi
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stigma terhadap difabel di Indonesia masih menjadi masalah yang cukup besar, terutama dalam hal pemenuhankebutuhan dasar mereka, seperti perhatian dan dukungan dari keluarga. Hal ini seringkali menjadi hambatan bagimereka dalam menerima kondisi diri mereka sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsepdiri yang dimiliki oleh difabel terlantar di Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD) Dinas SosialProvinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa lingkungan sosial dan pengalaman hidup memiliki peran penting dalam konsep diri difabelterlantar di PPSGHD. Difabel terlantar memiliki konsep diri yang terbagi antara negatif dan positif, meskipun sebagianbesar cenderung negatif. Konsep diri negatif ini tercermin dari perasaan pesimis, merasa tidak disenangi orang lain,peka terhadap kritik, dan responsif terhadap pujian. Namun, sebagian difabel terlantar juga menunjukkan konsep diripositif, seperti mampu menerima kekurangan diri, mengatasi masalah, dan menerima pujian tanpa rasa malu.Pemahaman tentang konsep diri difabel terlantar ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan programrehabilitasi sosial yang lebih efektif, serta mendorong peningkatan kualitas hidup mereka melalui dukungan sosialyang lebih personal dan holistik.Kata Kunci: konsep diri, difabel terlantar, rehabilitasi sosial, interaksi sosial
PENERAPAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PRAMUJIWA DI SATUAN PELAYANAN BINA LARAS SUKURJAYA DINAS SOSIAL PROVINSI JAWA BARAT Nofitasari, Rere Putri Dwi; Ramadhana, Maulana Rezi
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan komunikasi terapeutik oleh pramujiwa dalam mendampingiOrang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Satuan Pelayanan Bina Laras Sukurjaya, yang berada di bawah naunganDinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana pramujiwa,yang merupakan tenaga pendamping non-profesional, menjalankan praktik komunikasi terapeutik guna mendukungproses pemulihan dan fungsi kehidupan sehari-hari ODGJ, khususnya mereka yang mengalami penelantaran atau tidakmemiliki dukungan keluarga. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatifdengan desain fenomenologis, yang memungkinkan peneliti untuk menggali secara mendalam pengalaman hidup danperspektif subjektif dari para pramujiwa. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam denganpramujiwa terpilih, observasi non-partisipan terhadap interaksi sehari-hari, serta telaah dokumen relevan sepertiprotokol perawatan dan laporan rehabilitasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara tematik untukmengidentifikasi pola-pola berulang, makna, dan interpretasi yang berkaitan dengan praktik komunikasi terapeutik.Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pramujiwa menerapkan komunikasi terapeutik melalui empat fase yangberbeda namun saling berhubungan, yaitu: fase pra-interaksi, fase orientasi, fase kerja, dan fase terminasi,sebagaimana dikemukakan dalam model komunikasi terapeutik oleh Stuart (2013). Dalam setiap fase tersebut,pramujiwa menunjukkan kompetensi komunikasi praktis yang menekankan pada rasa aman secara psikologis,penerimaan tanpa penghakiman, serta validasi emosional. Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan formaldi bidang kesehatan jiwa, para pramujiwa mampu membangun kedekatan emosional dan menciptakan hubungan yangmendukung proses pemulihan psikososial klien.Kata Kunci: komunikasi terapeutik, pramujiwa, ODGJ, rehabilitasi sosial, empati
PENGALAMAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DALAM PERILAKU KENAKALAN REMAJA DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK (LPKA) KELAS II BANDUNG Khansa, Vidda Aura; Ramadhana, Maulana Rezi; Priastuty, Chairunnisa Widya
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman remaja dalam berinteraksi dengan teman sebaya yang berkaitandengan perilaku kenakalan, serta bagaimana proses pembinaan di LPKA Kelas II Bandung membentuk ulang caramereka menjalin hubungan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi.Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima anak binaan dan empat informan pendukung. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa keterlibatan remaja dalam kenakalan erat kaitannya dengan dinamika hubunganpertemanan seperti ajakan, tekanan kelompok, candaan, dan kebutuhan untuk diterima. Lima dari sebelas keterampilankomunikasi interpersonal menurut DeVito yang paling menonjol adalah packaging, feedforward, content andrelationship, mindfulness, dan noise management. Keterampilan ini tercermin dalam cara mereka merespons situasisosial, menyampaikan ajakan, hingga mengambil keputusan dalam tekanan. Setelah menjalani pembinaan, para remajamenunjukkan perubahan dalam mengelola emosi, mempertimbangkan tindakan, dan membangun ulang hubungansosial secara lebih sehat. LPKA menjadi ruang pembelajaran interpersonal yang mendorong proses pertumbuhan danrefleksi melalui pengalaman nyata.Kata kunci: komunikasi interpersonal, teman sebaya, kenakalan remaja, LPKA, anak binaan