Claim Missing Document
Check
Articles

Development of an Experience-Based Interpersonal Communication Model: A Qualitative Study of Non-Professional Caregivers in Indonesian Mental Health Rehabilitation Tita Azzahra Putri; Maulana Rezi Ramadhana
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v11i1.6299

Abstract

Interpersonal communication in non-clinical mental health rehabilitation is largely shaped by non-professional caregivers, yet existing therapeutic communication models emphasize clinical expertise and structured protocols. This study explores how experience-based relational practices emerge among Pramujiwa non-professional caregivers at Satpel Bina Laras Sakurjaya, Indonesia, through daily interactions with clients with mental disorders (ODGJ). Employing an intrinsic single-case qualitative design grounded in interpretivist and experiential learning perspectives, data were collected via unstructured interviews, participant observation, and document analysis with 10 key Pramujiwa informants, supporting staff, and an expert informant. Inductive thematic analysis identified four recurring interaction patterns: Initial Familiarization, Trust Negotiation, Daily Engagement, and Informal Continuity, which were synthesized into a three-phase conceptual model: Affectional, Adaptive, and Relationship Consolidation phases. Findings indicate that relational effectiveness is maintained through emotional attunement, situational adaptation, and continuity across everyday activities rather than formal clinical procedures. The Pramujiwa Interpersonal Relationship Model demonstrates that meaningful therapeutic-like communication can develop from sustained, context-sensitive experiential practice. The study highlights the significance of non-professional, experience-based caregiving for psychosocial stabilization and relational continuity in resource-limited rehabilitation contexts, offering theoretical and practical insights for enhancing interpersonal communication frameworks in non-clinical mental health care.
PENDAMPINGAN PENYANDANG DISABILITAS DALAM MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI DI PUSAT PELAYANAN SOSIAL GRIYA HARAPAN DIFABEL (PPSGHD) DINAS SOSIAL PROVINSI JAWA BARAT Maulana Rezi Ramadhana; Mutia Qana'a; Haris Annisari Indah Nur Rochimah
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 12 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i12.5384-5398

Abstract

Proyek pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri para penyandang disabilitas melalui program terstruktur yang berkaitan dengan Pendidikan Berkualitas dan berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Modul kepercayaan diri terdiri dari lima sesi: kesadaran diri, konseling kelompok, kelas kepercayaan diri (termasuk menggambar, bernyanyi, dan menari), komunikasi, serta pameran dan pertunjukan seni. Setiap sesi meningkatkan kepercayaan diri, harga diri, keterampilan sosial, dan komunikasi. Data dikumpulkan melalui observasi langsung selama sesi dan wawancara dengan peserta, fasilitator, dan instruktur. Temuan menunjukkan peningkatan yang nyata dalam tingkat kepercayaan diri pasca intervensi. Sesi Kesadaran Diri dan Konseling Kelompok membantu peserta dalam memahami dan mengelola emosi mereka, sementara Kelas Kepercayaan Diri mempromosikan ekspresi kreatif, yang berdampak positif pada kesejahteraan emosional. Sesi Komunikasi meningkatkan keterampilan sosial, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan pendengaran, dan Pameran dan Pertunjukan Seni memberikan pengakuan sosial, meningkatkan kebanggaan dan rasa memiliki dalam komunitas. Modul pengembangan diri ini mendukung program pengembangan psikososial di Graha Harapan Difabel dengan menciptakan lingkungan yang inklusif dan memberdayakan melalui seni, komunikasi, dan konseling, sehingga menjadi model yang direkomendasikan untuk program-program selanjutnya.