Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : KEMBARA

Tuturan yang berdampak hukum ditinjau dari elemen dan fungsi konteks kultural di media sosial Tik-Tok Indonesia Ardhianti, Mimas; Indayani, Indayani
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v8i1.19235

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tuturan yang berdampak hukum ditinjau dari elemen dan fungsi kultural di media sosial Tik-Tok Indonesia. Sesuai dengan tujuan tersebut, penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dalam kerangka cyberpragmatic. Penelitian dilakukan di media sosial Tik-Tok Indonesia. Pengambilan data dilakukan melalui tahap-tahap atau langkah-langkah, yakni (1) mengumpulkan data berupa konten-konten di aplikasi Tik-Tok, (2) memilah teks yang terdapat bahasa yang berdampak hukum sesuai dengan data yang dibutuhkan seperti pencemaran nama baik, penghinaan, dan SARA, (3) menyeleksi data dengan berdasar pada fokus permasalahan yang sudah ditentukan, (4) melakukan penyandian terhadap konten-konten yang ada di aplikasi Tik-Tok, (5) mendeskripsikan konteks kultural pada bahasa yang berdampak hukum di Tik-Tok, dan (6) menyimpulkan konteks kultural pada bahasa yang berdampak hukum di Tik-Tok. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan teknik penganalisisan penelitian ini adalah analisis isi, dengan cara melakukan analisis konteks kultural pada teks di aplikasi Tik-Tok yang berdampak pada hukum. Temuan dari penelitian ini adalah adanya elemen konteks kultural yang muncul pergeseran apabila diterapkan untuk menganalisis tuturan dalam jaringan meliputi (1) situation, (2) partisipan, (3) ends, (4) addressee, (5) keys, (6) instruments, dan (7) genre. Sementara itu, fungsi konteks kultural yang muncul meliputi (1) fungsi konteks memberikan keterangan setting dan kondisi peserta tutur, (2) fungsi konteks memberikan keterangan atau informasi pengetahuan peserta tutur, (3) fungsi konteks memberikan keterangan atau informasi sebelum tuturan terjadi, dan (4) memiliki fungsi konteks memberikan informasi tambahan mengenai peserta tutur. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi masyarakat agar lebih memperhatikan penggunaan diksi yang digunakan dalam menulis maupun bertutur di media sosial. Bagi pendidikan bahasa Indonesia, penelitian ini dapat dijadikan sumbangsih dalam studi cyberpragmatics yang digunakan untuk mengaji permasalahan tuturan yang diduga berdampak hukum.
Indonesian Netizens' Emotive Language in Responding to YouTube Posts: Cyberpragmatics Study Pramujiono, Agung; Rohmah, Nur; Hanindita, Amelia Widya; Ardhianti, Mimas
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 9 No. 2 (2023): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v9i2.23827

Abstract

Indonesian internet users (Netizens) are considered uncivilized in using the internet. The Digital Civility Index (DCI) states that the politeness of Indonesian netizens was ranked 29th out of 32 countries and the worst in Southeast Asia. The uncivility of netizens is closely related to the use of emotive language, so it is necessary to study the use of emotive language by netizens. The emotive language of Indonesian netizens in responding to YouTube posts is very interesting to study from a cyberpragmatic perspective. Cyberpragmatic studies are the use of language and communication in a digital environment or in cyberspace. The problems studied in this study are formulated: (1) How is the lingual form of the emotive language of Indonesian netizens realized in responding to YouTube posts in a cyberpramatic perspective? And (2) How is the emotive language function of Indonesian netizens realized in responding to YouTube posts in a cyberpramatic perspective? The purpose of this study is to describe and explain the realization of the form of Indonesian netizen emotive language and the function of netizen emotive language in responding on YouTube posts. This research is a descriptive qualitative research. The research data is in the form of netizens' verbal responses to internet-mediated YouTube posts as a field for cyberpragmatic studies. Data was collected using the Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) technique. Data analysis was carried out using descriptive techniques using the interactive model Miles and Huberman (1992) with the stages of data collection, data reduction, data presentation, and verification/drawing conclusions. Based on the results of data analysis, it was concluded that the lingual form of emotive language is stated in utterances in declarative, interrogative, and directive modes, while the function of emotive language is stated in delarative speech acts with the function of stating, informing, confirming, giving advice, and praying; in expressive speech acts with functions of praising, expressing pleasure, expressing pride, thanking, apologizing, satirizing, mocking, and insulting; in imperative speech acts with functions of ordering, prohibiting, inviting, and asking. The conclusion of this study is that the lingual form of emotive language is realized in speech in declarative, interrogative, and directive modes.