Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Sosialisasi Literasi Digital Masyarakat Guna Optimalisasi E-Government di Kelurahan Hargobinangun, Sleman Elok Puri Maharani, Andina; Anom Husodo, Jadmiko; Ummul Firdaus, Sunny; Isharyanto, Isharyanto; Riwanto, Agus; Grahani Firdausy, Adriana; Madalina, Maria; Surya Nagara, Airlangga; Achmad, Achmad; Wahyuni, Sri
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 4 No 4 (2024): JPMI - Agustus 2024
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.2542

Abstract

Pelayanan Publik yang berbasis E-government mempermudah akses agar terwujudnya pelayanan publik yang baik secara merata dan menyeluruh. Namun, pemerintah menghadapi kendala yakni kurangnya pengetahuan masyarakat akan teknologi yang masih dibawah rata-rat karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat. Pemerintahan Desa atau Kelurahan menjadi dasar awal dalam menjalankan E-government untuk membangun kesejahteraan dan kualitas masyarakat desa. Pemerintah harus mempersiapkan diri untuk mengimbangi ekosistem digital yang berkembang, karena sumber daya manusia terdiri dari pegawai pemerintah dan masyarakat. E-government pada tingkat kelurahan didukung pula dengan peningkatan literasi digital masyarakat agar masyarakat memiliki informasi yang luas dan sebagai upaya pengembangan desa. Untuk optimalisasi e-government dengan meningkatkan literasi digital, maka dilakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dalam bentuk kegiatan sosialisasi. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan di Kelurahan Hargobinangun, Sleman, terdiri atas tahap meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan ini diikuti oleh tokoh masyarakat, pemuda karang taruna, dan pemerintah Kelurahan Hargobinangun, Sleman. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi ini memberikan dampak peningkatan pemahaman masyarakat Kelurahan Hargobinangun tentang literasi digital masyarakat guna optimalisasi e-government.
A Comparative Study of Gay and Lesbian Movement in Indonesia and America for the Struggle of Equality Recognition Pawestri, Aprilina; Supanto, Supanto; Isharyanto, Isharyanto
Jurnal Cita Hukum Vol. 7 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v7i2.12012

Abstract

Abstract:Studies of sexual orientation or sexual behavior in homosexual groups have been carried out from various aspects, such as religion, health, psychology, philosophy, anthropology, and law. This paper aims both on conducting studies of sexual orientation in gays and lesbians, and also in its movement. This study focuses on the comparison by discussing the history of the entry of gays and lesbians in America first. United State has made policy with the granting of same-sex marriage rights through the 2015 Obergefell Supreme Court ruling; hence, the rejection of same-sex marriage was unconstitutional action. Churches also dare to facilitate the process of same-sex marriage, by reason of following state decisions. The LGBT movement especially gays as a pioneer called the Gay Liberation Movement has a strong influence in America in fighting for equality, and has a big contribution to the granting of the right to same-sex marriage. This right is also supplemented by adoption rights. If this condition is compared to Indonesia which has lots of similar movement and becomes one of the biggest movements in Southeast Asia, in contrast, the majority of people reject the status. Meanwhile, gays and lesbians demand on the basis of human rights protection. Related to this condition, Indonesia has different views on human rights values. Human rights have universal principles, yet the actualization of human rights can be particular. Indonesia could be like America, if there are no regulations and restrictions on gay and lesbian individuals with differences in their sexual orientation, including the and lesbian movements.Keywords: Movement, Gay, Lesbian, United State, Equality Recognition Abstrak:Kajian tentang orientasi seksual ataupun perilaku seksual pada kelompok homoseksual telah banyak dilakukan dari berbagai aspek, baik aspek agama, kesehatan, psikologi, filsafat, antropologi ataupun hukum. Tulisan ini selain melakukan kajian tentang orientasi seksual pada gay dan lesbian, namun juga pada gerakan gay dan lesbian yang terorganisir. Kajian tentang gerakan gay dan lesbian ini menitikberatkan pada perbandingan dengan terlebih dahulu membahas tentang sejarah masuknya gay dan lesbian di Amerika. Amerika membuat kebijakan dengan dikabulkannya hak pernikahan sesama jenis melalui putusan Mahkamah Agung Obergefell tahun 2015, sehingga tindakan penolakan atas pernikahan sesama jenis merupakan perbuatan inkonstitusional. Gereja-gereja pun berani memfasilitasi proses pernikahan sesama jenis, dengan alasan mengikuti keputusan negara. Gerakan LGBT khususnya gay sebagai pelopor yaitu Gay Liberation Movement memiliki pengaruh yang kuat di Amerika dalam memperjuangkan kesetaraan dan memiliki andil besar atas dikabulkannya hak atas pernikahan sejenis. Hak ini dilengkapi pula dengan hak adopsi. Jika kondisi ini dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki banyak gerakan serupa, bahkan menjadi salah satu gerakan terbesar di Asia Tenggara, namun mayoritas masyarakat menolaknya, sedangkan kaum gay dan lesbian menuntut atas dasar perlindungan Hak Asasi Manusia. Tentunya pada peristiwa yang sama Indonesia berbeda pandangan terhadap nilai-nilai HAM. HAM memiliki prinsip universal, namun aktulisasi HAM dapat menjadi partikular. Indonesia bisa menjadi seperti Amerika, jika tidak ada pengaturan dan pembatasan atas individu-individu gay dan lesbian dengan perbedaan orientasi seksual mereka, termasuk pada gerakan gay dan lesbian.Kata Kunci: Gerakan, Gay, Lesbian, Amerika, Pengakuan Kesetaraan Аннотация:Исследования сексуальных наклонностей или сексуального поведения в гомосексуальных группах проводились в различных аспектах, включая аспекты религии, здоровья, психологии, философии, антропологии или права. Данная статья не только проводит исследования сексуальных наклонностей геев и лесбиянок, а также их организованных движений. Данное исследование движений геев и лесбиянок фокусируется на сравнении, начиная с обсуждения истории появления геев и лесбиянок в Америке. Америка провела политику по предоставлению прав на однополые браки на основании решения Верховного суда Обергефелла 2015 года, поэтому отказ от однополых браков является неконституционным действием. Движение ЛГБТ, особенно гей-движение, как пионер Освободительного Движения Геев и Лесбиянок (GayLiberationMovement) оказывает сильное влияние в Америке на борьбу за равенство и играет большую роль в предоставлении прав на однополые браки. Если сравнивать это состояние с ситуацией в Индонезии, в которой есть много подобных движений, то большинство людей их отвергают, в то время как геи и лесбиянки требуют защиту на основе прав человека. Конечно, люди в Индонезии имеют разные идеи о ценностях прав человека. Индонезия может стать такой же страной, как США, если не будет распоряжений и ограничений перед личностям геев и лесбиянок с разными сексуальными наклонностями, включая движения геев и лесбиянок.Ключевые Слова: движения, гей, лесбиянкa, США, признание равенства
Islamic Law and the Blasphemy Debate in Contemporary Indonesia Mufidah, Mufidah; Hartiwiningsih, Hartiwiningsih; Isharyanto, Isharyanto; Wardi, Musa
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 24 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v24i2.41287

Abstract

Blasphemy is a sensitive and complex issue in Indonesia, the largest Muslim-majority country in the world. This article examines the regulation of blasphemy, which often clashes with Indonesia's social, cultural, and political dynamics. It evaluates the reconstruction of blasphemy laws through the lens of maqāṣid al-‘uqūbāt in Islamic law. The study concludes that reconstructing the blasphemy law is necessary as part of legal reform that aligns with Indonesia's constitutional principles of the rule of law and democracy. This reconstruction should integrate Islamic legal principles based on maqāṣid al-‘uqūbāt in several key areas, including defining the legal subjects of blasphemy, providing clarification as part of the resolution process by considering shubhāt and al-dan ta'wīl, and developing mechanisms for resolving blasphemy cases. The urgency for reform arises from several critical factors: the ambiguous formulation of blasphemy norms, which significantly impacts court decisions; the absence of consistent justice-based law enforcement mechanisms; disparate treatment toward certain groups; and the tendency to generalize blasphemy cases as criminal acts due to a lack of alternative measures. These issues reflect legal uncertainty and the potential misuse of blasphemy laws for political purposes.AbstrakPenistaan agama merupakan isu yang sensitif dan kompleks di Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Artikel ini mengkaji pengaturan penodaan agama yang sering kali berbenturan dengan dinamika sosial, budaya, dan politik di Indonesia. Artikel ini mengevaluasi rekonstruksi hukum penodaan agama melalui lensa maqāṣid al-'uqūbāt dalam hukum Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi undang-undang penodaan agama diperlukan sebagai bagian dari reformasi hukum yang selaras dengan prinsip-prinsip konstitusional Indonesia tentang negara hukum dan demokrasi. Rekonstruksi ini harus mengintegrasikan prinsip-prinsip hukum Islam berdasarkan maqāṣid al-'uqūbāt di beberapa bidang utama, termasuk mendefinisikan subjek hukum penodaan agama, memberikan klarifikasi sebagai bagian dari proses penyelesaian dengan mempertimbangkan syubhat dan al-ta'wīl, dan mengembangkan mekanisme penyelesaian kasus penodaan agama. Urgensi reformasi muncul dari beberapa faktor kritis: rumusan norma penodaan agama yang ambigu, yang secara signifikan berdampak pada putusan pengadilan; ketiadaan mekanisme penegakan hukum yang berbasis keadilan yang konsisten; perlakuan yang tidak adil terhadap kelompok-kelompok tertentu; dan kecenderungan untuk menggeneralisasi kasus-kasus penodaan agama sebagai tindakan kriminal karena kurangnya upaya-upaya alternatif. Isu-isu ini mencerminkan ketidakpastian hukum dan potensi penyalahgunaan undang-undang penodaan agama untuk tujuan politik.
The Legal Standing of Land Nominee Agreements from the Perspective of Lawful Cause Shulkhantika, Deyosi Faza; Hastuti, Luthfiyah Trini; Isharyanto, Isharyanto
Jurnal Ilmu Hukum Kyadiren Vol 7 No 2 (2026): Jurnal Ilmu Hukum Kyadiren
Publisher : PPPM, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Biak-Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46924/jihk.v7i2.423

Abstract

The practice of borrowed-name agreements in land transactions in Indonesia raises significant concerns regarding contractual validity and legal certainty, particularly when such arrangements are employed to circumvent statutory prohibitions on land ownership. The core issue lies in the discrepancy between the formal structure of the agreement and its substantive purpose, which contravenes agrarian law. This study examines the legal implications of failing to satisfy the requirement of a lawful cause in borrowed-name agreements, formulates a juridical–conceptual framework for assessing their validity through an integration of the doctrine of lawful cause and mandatory principles of agrarian law, and delineates the limits of contractual freedom in land ownership. Employing normative legal research methods, including conceptual analysis, statutory interpretation, and case law review, the study finds that borrowed-name agreements are legally invalid when their purpose is to evade agrarian restrictions, notwithstanding their formal compliance with contractual requirements. The study concludes that the doctrine of lawful cause remains a crucial evaluative instrument for safeguarding the balance between freedom of contract, legal certainty, justice, and public order within the national legal system.
Kedudukan Rekomendasi Majelis Disiplin Profesi Sebagai Quasi-Penyelidikan Dalam Penyelesaian Sengketa Medik di Indonesia Fitira, Annisa; Subekti, Rahayu; Isharyanto, Isharyanto
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 32 No. 3: SEPTEMBER 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol32.iss3.art6

Abstract

This paper examines the legal stance of the Professional Disciplinary Council in the medical dispute resolution system based on Law Number 17 of 2023 on Healthcare and its derivative regulations. This study employs a normative juridical research method with a critical analysis of the provisions of Article 308 paragraphs (5) and (6) of the Healthcare Law, and compares them with the concept of quasi-judicial bodies in the legal literature. The main focus of this study is to understand in depth the role, authority, and legal implications of the existence of the Professional Disciplinary Council as part of the medical dispute resolution mechanism, especially in the context of the relationship between health worker professionalism and the criminal justice system. The results of the study indicate that the Professional Disciplinary Council has an important role as a quasi-investigative institution, namely conducting ethical and professional assessments of alleged disciplinary violations by health workers, and providing recommendations before the criminal investigation process is carried out. However, these recommendations is yet to have any legally binding force, thus creating legal ambiguity and potentially triggering tensions between professional institutions and law enforcement officials. To address these problems, this study offers an ideal model for medical dispute resolution that upholds professional justice and legal justice in a balanced manner. The need for normative recognition of the Council's role in the Bill of Criminal Procedure Code (RUU KUHAP) is emphasised, as well as improvements to the institutional design to ensure clarity in mechanisms, boundaries of authority, and synergy between institutions. This is expected to ensure the resolution of medical disputes is fair and accountable, guarantees the protection of the dignity of healthcare workers, and provides legal certainty for patients.
Analisis Yuridis-Normatif Penerapan Legislative Follow-Up terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Terkait Threshold Pemilihan Kepala Daerah Deva Mahendra Caesar Bimantya; Isharyanto Isharyanto
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Hukum Vol. 2 No. 2 (2025): Desember : Prosiding Seminar Nasional Ilmu Hukum,
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/prosemnashuk.v2i2.73

Abstract

Constitutional Court (MK) “Decision Number 60/PUU-XXII/2024 marks an important shift in the practice of judicial review, whereby the Constitutional Court not only invalidates legal norms, but also establishes new substantive norms in cases involving open legal policy. This action reflects the tendency of positive legislature, which theoretically expands the scope of judicial authority beyond the limits of negative legislature. This study aims to analyse the implications of this ruling on the legislative function of Indonesia Parliament (DPR), particularly in the context of its constitutional responsibility to respond to and accommodate new norms established through court rulings. Using normative legal research methods and a conceptual approach, this study finds that the DPR's suboptimal institutional response to the substance of the ruling indicates serious challenges in harmonising the constitutional system that guarantees the effectiveness of norms, legal certainty, and the principle of checks and balances. This study contributes to proposing a model of inter-institutional coordination or parameters for the judicialisation of norms to ensure the balance of power, as well as criticising and clarifying the boundaries of the roles of each state institution in the context of corrective legislation based on judicial decisions.
PEMBATASAN KONSTITUSIONAL TERHADAP HAK PREROGATIF PRESIDEN DALAM PENYUSUNAN KABINET DI INDONESIA Nurizki, Nawang Ika; Achmad, Achmad; Isharyanto, Isharyanto
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.22144

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pembatasan Konstitusional terhadap Hak Prerogatif Presiden dalam Penyusunan kabinet di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian hukum normatif melalui pendekatan perudang-undangan dan konseptual dengan menggunakan teknik analisis deskriptif untuk menganalisis bahan hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewenangan Presiden untuk membentuk memilih menteri dan menentukan jumlah kementerian tidak mutlak. Presiden harus tetap tunduk pada batasan konstitusional, mekanisme checks and balances dan ketentuan undang-undang, seperti UU No. 39 Tahun 2008 dan UU No. 61 Tahun 2024. Adanya pembatasan ini untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan serta menjaga efisiensi birokrasi pemerintahan. Penelitian ini menegaskan bahwa pelaksanaan hak prerogatif Presiden harus tetap dalam koridor hukum tata negara sehingga tidak menjadi kekuasaan yang absolut. Penelitian ini memberikan pemahaman mengenai keseimbangan antara diskresi eksekutif dan pembatasan hukum dan implikasinya dalam penyelenggaraan negara. Dengan demikian, Pembatasan Konstitusional terhadap hak prerogatif dalam penyusunan kabinet di Indonesia sangat diperlukan untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang akuntabel dan berorientasi pada kepentingan publik.
PEMBATASAN KONSTITUSIONAL TERHADAP HAK PREROGATIF PRESIDEN DALAM PENYUSUNAN KABINET DI INDONESIA Nurizki, Nawang Ika; Achmad, Achmad; Isharyanto, Isharyanto
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.22144

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pembatasan Konstitusional terhadap Hak Prerogatif Presiden dalam Penyusunan kabinet di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian hukum normatif melalui pendekatan perudang-undangan dan konseptual dengan menggunakan teknik analisis deskriptif untuk menganalisis bahan hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewenangan Presiden untuk membentuk memilih menteri dan menentukan jumlah kementerian tidak mutlak. Presiden harus tetap tunduk pada batasan konstitusional, mekanisme checks and balances dan ketentuan undang-undang, seperti UU No. 39 Tahun 2008 dan UU No. 61 Tahun 2024. Adanya pembatasan ini untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan serta menjaga efisiensi birokrasi pemerintahan. Penelitian ini menegaskan bahwa pelaksanaan hak prerogatif Presiden harus tetap dalam koridor hukum tata negara sehingga tidak menjadi kekuasaan yang absolut. Penelitian ini memberikan pemahaman mengenai keseimbangan antara diskresi eksekutif dan pembatasan hukum dan implikasinya dalam penyelenggaraan negara. Dengan demikian, Pembatasan Konstitusional terhadap hak prerogatif dalam penyusunan kabinet di Indonesia sangat diperlukan untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang akuntabel dan berorientasi pada kepentingan publik.
INTERAKSI POLITIK DAN HUKUM DALAM PEMBENTUKAN LEGISLASI DAERAH (STUDI TERHADAP PROSES PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH DI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SURAKARTA) Isharyanto, Isharyanto; Firdausy, Adriana Grahani
Yustisia Vol 2, No 3: December 2013
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v2i3.10154

Abstract

AbstractThis study aims to analyze and review law and politic interactions in drafting legislation in the area of     the Regional Representatives Council of the City of Surakarta. Will be tested conceptualization commonly accepted that there is an interaction between law and politics in the process of legislation, so that the perspective used is a law which is not simply a normative sense, but influenced by the layout of the resultant interaction with other factors. This study is an empirical legal research. How to obtain the data held with the literature study and interviews. As an object of observation, then conducted the study and analysis of regional regulation Surakarta generated for the period 2005-2010 and this research, performed sorting into 3 clumps of Local regulations relating to the collection and Licensing, Government Activities, and Social Community. Based on research results that local regulation in the clump of government activity have a similar pattern of interaction of political and legal issues than local regulation and licensing in the family collection. The similarity is apparent in At a working meeting with the regional political system this interaction is actually happening. In such interactions will occur bargaining process and argument in order to obtain a common perception among the Special committee with the regional to the substance of the draft regulation. Meanwhile, local regulation in clumps social activity that particularly made an object of this study showed variation facts. Whenever it is deemed to include the substance of the rules of public interest and can be used as a reason for the interests of certain social groups such as the Local regulation of Education, will take some time for discussion indicates attraction between politics and law in the process of discussion. Then, in the case of the Regional Equality Regulations disabilities, in addition to the widely recognized and important problem, but because it targets only certain elite discussion, in this case the regional, then it does not show interactions that complicate the process of discussion.Keywords: law and politic, legislation, local interest.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkaji interaksi politik dan hukum dalam penyusunan legislasi daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Surakarta. Akan diuji konseptualisasi yang lazim diterima bahwa ada interaksi antara hukum dan politik dalam proses legislasi, sehingga perspektif yang digunakan adalah hukum tidaklah sekedar pengertian normatif, akan tetapi merupakan resultan yang dipengaruhi oleh tata interaksi dengan faktor-faktor lain. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris yang bersifat deskriptif. Cara memperoleh data dilaksanakan dengan studi pustaka dan wawancara. Sebagai obyek pengamatan, maka dilakukan kajian dan analisis terhadap Peraturan Daerah Kota Surakarta yang dihasilkan kurun 2005-2010 dan untuk riset ini, dilakukan pemilahan ke dalam 3 rumpun yaitu Peraturan Daerah yang terkait dengan Pemungutan dan Perizinan, Aktivitas Pemerintahan, dan Sosial Kemasyarakatan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa Peraturan Daerah dalam rumpun aktivitas pemerintahan mempunyai pola yang sama terhadap masalah interaksi politik dan hukumnya dibandingkan Peraturan Daerah dalam rumpun pemungutan dan perizinan. Kesamaan itu nampak dalam Pada saat rapat kerja dengan Perangkat Daerah inilah interaksi sistem politik yang sebenarnya terjadi. Dalam interaksi tersebut akan terjadi proses tawar-menawar dan adu argumentasi dalam rangka memperoleh kesamaan persepsi antara Panitia Khusus dengan Perangkat Daerah terhadap substansi Rancangan Peraturan Daerah. Sementara itu, Peraturan Daerah dalam rumpun aktivitas sosial kemasyarakatan yang khususnya dijadikan obyek studi ini menunjukkan variasi fakta. Bilamana substansi aturan itu dianggap mencakup kepentingan masyarakat luas dan dapat dijadikan alasan untuk memperjuangkan kepentingan kelompok-kelompok masyarakat tertentu maka seperti Peraturan Daerah Pendidikan, akan memakan waktu untuk pembahasan yang menunjukkan adanya tarik menarik antara politik dan hukum dalam proses pembahasannya. Kemudian, dalam kasus Peraturan Daerah Kesetaraan Difabel, di samping masalahnya diakui luas dan penting, namun karena sasaran pembahasannya hanya elit tertentu, dalam hal ini Perangkat Daerah, maka tidak menunjukkan interaksi yang mempersulit proses pembahasannya.Kata Kunci: hukum dan politik, legislasi, kepentingan lokal.
The Existence of Customary Law Communities and Citizenship Rights: Implementation of Sociological Laws and Customs in Aceh in the era of Globalization Sasono, Satryo; Isharyanto, Isharyanto
HUKUM PEMBANGUNAN EKONOMI Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Hukum dan Pembangunan Ekonomi
Publisher : Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hpe.v11i2.68362

Abstract

Aceh is a province located at the western tip of Indonesia, namely Sumatra Island. Aceh was given special autonomy authority in running the government and self-regulating the local community’s interests by the laws and regulations in the system and the Unitary State of the Republic of Indonesia based on the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. The existence of geographical differences and patterns of interaction caused the tribes in Aceh different. This privilege is related to regulations concerning the fields of religion, custom, education, and clergy as stipulated in Law no. 44 of 1999. This research discusses one of Aceh's customary laws, namely qonun and jinayat, and how Aceh's history was formed up to the challenges that will be faced by the people of Aceh in the era of globalization. The purpose of this research is to explore and find out more about the diversity of tribes in Aceh and find out how the tribes in Aceh maintain their customary law from the shocks of social change in the development of the globalization era.