Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Aksara dan Tembang Jawa bagi Guru dan Tenaga Kependidikan di Yayasan Al Muthi'in Yogyakarta Makincoiri, Mohamad; Nurhayati, Endang; Mulyani, Siti; Hartanto, Doni Dwi; Afifah, Aminatul Nur
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 2 (2026): JAMSI - Maret 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2673

Abstract

Keragaman latar belakang budaya dari guru pada sekolah dasar berpengaruh kepada keberlangsungan pembelajaran aksara Jawa dan tembang Jawa pada tataran sekolah dasar. Kurangnya pemahaman materi dan inovasi metode pembelajaran aksara Jawa dan tembang Jawa menjadikan pembelajaran bahasa Jawa kurang optimal. Tujuan dari program pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang aksara Jawa dan tembang Jawa serta pengajarannya bagi guru dan tenaga kependidikan di lingkungan Yayasan Al Muthi’in Yogyakarta. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan moda tatap muka dan moda daring. Kegiatan dilakuka dalam tiga tahapan, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa guru dan tenaga kependidikan di Yayasan Al Muthi’in Yogyakarta memilliki peningkatan pemahaman tentang aksara Jawa dan tembang Jawa. Hal ini ditunjukkan dengan peran guru dan tenaga kependidikan yang antusias dalam mengikuti pelatihan dan meningkatnya pengetahuan tentang metode pembelajaran aksara Jawa dan tembang Jawa. Dengan adanya pelatihan ini, pembelajaran aksara Jawa dan tembang Jawa pada ranah sekolah dasar dapat berjalan dengan lebih inovatif dan menyenangkan dengan menintegrasikan konteks budaya Jawa dalam pembelajaran.
Javanese Pitutur in the Speech of Sri Sultan Hamengku Buwono X on Hardship Caused by the Corona Virus Doni Dwi Hartanto; Endang Nurhayati; Sulis Triyono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.4593

Abstract

Expressions of culture in a region can be seen as a discourse that represents the cultural activities of people, and it may show the nature and characters of the society in dealing with problems. This research aims to interpret the Javanese pitutur delivered by Sri Sultan Hamengku Buwono X as the King of Yogyakarta to people living in his realm during the coronavirus pandemic. This descriptive qualitative research used a recording of Sri Sultan Hamengku Buwono’s speech entitled “Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona”. Data were collected through a note-checking technique and were analyzed by using content analysis. The validity was maintained through expert judgment, while the reliability was through intrarrater and interrater. The results show that Javanese pitutur or advice found in Sri Sultan Hamengku Buwono X’s speech were in four Javanese quotes, namely: a) patient people earn the greatest fortune, and surrendering their life in faith shall result in more blessings; b) God gives way to anyone who wants to obey; c) Be wise and careful; and d) Do not be jealous if you get a trial, and do not feel bad if you lose something. The Javanese pituturs as the noble expressions of Javanese culture likely represent the nature and character of Javanese society in the face of various obstacles and problems, in this case facing the COVID-19 virus pandemic in the Yogyakarta region. The messages conveyed in the pitutur are expected to be a reminder to the people of Yogyakarta that in the face of all problems they should always hold fast to their cultural values and humbly surrender and submit themselves to God the Almighty. AbstrakUngkapan budaya suatu daerah merupakan suatu wacana yang merepresentasikan aktivitas budaya masyarakat, dan menunjukkan sifat dan karakter suatu masyarakat dalam menghadapi suatu permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan pitutur Jawa dalam pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Raja Yogyakarta kepada masyarakat selama masa pandemik virus corona. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan data berupa rekaman pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X berjudul “Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona”. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak-catat dan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis konten. Validitas data dilakukan dengan expert judgement, sedangkan reliabilitas yang digunakan ialah reliabilitas intra dan interrater. Berdasarkan penelitian, pitutur Jawa dalam pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X terbagi dalam empat ungkapan, yaitu: a) wong sabar rejekine jembar, ngalah urip luwih berkah; b) Gusti paring dalan kanggo sapa wae kang gelem ndalan; c) eling lan waspada; dan d) datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan. Pitutur Jawa yang terdapat dalam ungkapan-ungkapan luhur budaya Jawa tersebut merepresentasikan sifat dan karakter masyarakat Jawa dalam menghadapi berbagai macam halangan dan permasalahan, dalam hal ini ketika menghadapi pandemik virus COVID-19 di wilayah Yogyakarta. Pesan yang disampaikan dalam pitutur tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat Yogyakarta bahwa dalam menghadapi segala permasalahan hendaknya selalu berpegang teguh pada nilai-nilai budaya dan berserah pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE GURU SMK DALAM PENYUSUNAN RPP ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI Heri Franata Sitorus; Asri Widowati; Doni Dwi Hartanto; Willy Ihsan Rizkyanto; Anni Zahara Putri; Defris Hanindya Edwiyan Pradana
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9141

Abstract

Pedagogical Content Knowledge (PCK) is a key competence in vocational education, as it requires the integration of subject matter mastery and contextualized pedagogical strategies. In the subject of Construction Cost Estimation (CCE), the quality of Lesson Plan development is strongly determined by teachers’ PCK ability. This study aims to describe the PCK ability of CCE teachers in public vocational high schools in the Special Region of Yogyakarta in developing Lesson Plans, viewed from teacher certification status and school accreditation level. This study employed a quantitative descriptive approach involving 16 CCE teachers from A- and B-accredited public vocational schools. Data were collected using a validated and reliable PCK questionnaire (Cronbach’s Alpha = 0.82) and supported by classroom observations. Data analysis was conducted using descriptive statistics and an independent samples t-test. The results show that the PCK ability of CCE teachers is generally categorized as good (87.50%). The mean score of teachers in A-accredited schools was 73.33, while those in B-accredited schools obtained a mean score of 72.50. Certified teachers achieved a mean score of 73.63, whereas non-certified teachers scored 72.00. Statistical testing indicates no significant differences in PCK ability based on school accreditation (Sig. = 0.863) or teacher certification status (Sig. = 0.716). These findings suggest that the relatively equal distribution of PCK ability may be influenced by collaborative practices within the Subject Teacher Forum (MGMP). Strengthening teachers’ PCK should therefore focus on developing more contextual and innovative instructional strategies rather than merely standardizing lesson planning documents. ABSTRAK Pedagogical Content Knowledge (PCK) merupakan kompetensi kunci dalam pembelajaran vokasi karena menuntut integrasi antara penguasaan materi dan strategi pedagogis yang kontekstual. Pada mata pelajaran Estimasi Biaya Konstruksi (EBK), kualitas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sangat ditentukan oleh kemampuan PCK guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan PCK guru EBK di SMK Negeri Daerah Istimewa Yogyakarta dalam menyusun RPP, ditinjau dari status sertifikasi pendidik dan akreditasi sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek 16 guru EBK dari SMK Negeri berakreditasi A dan B. Data dikumpulkan melalui angket PCK yang tervalidasi dan reliabel (Cronbach’s Alpha = 0,82) serta observasi pembelajaran. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan PCK guru EBK berada pada kategori baik (87,50%), dengan rata-rata skor sekolah berakreditasi A sebesar 73,33 dan akreditasi B sebesar 72,50. Guru bersertifikasi memiliki rata-rata 73,63, sedangkan guru belum bersertifikasi 72,00. Uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan kemampuan PCK berdasarkan akreditasi sekolah (Sig. = 0,863) maupun status sertifikasi pendidik (Sig. = 0,716). Temuan ini mengindikasikan bahwa pemerataan kemampuan PCK dipengaruhi oleh kolaborasi melalui MGMP. Penguatan PCK perlu diarahkan pada pengembangan strategi pembelajaran EBK yang lebih kontekstual dan inovatif, tidak hanya pada keseragaman perangkat pembelajaran.
Cublak-Cublak Suweng: A Structural and Anthropolinguistic Analysis from the Perspective of Cultural Socialization in Early Childhood Education Yohana Rahajeng Sekarningrum; Doni Dwi Hartanto
Piwulang: Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa Vol. 14 No. 1 (2026): Piwulang: Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/piwulang.v14i1.35200

Abstract

Cublak-Cublak Suweng is one of the Javanese traditional children's songs that reflects cultural values. The current study aims to study the function of nursery songs, also known as tembang dolanan. This study employed a qualitative ethnographic approach, drawing on anthropological and linguistic analysis. The data in the study were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation of song lyrics and game recordings. The analysis focused on linguistic aspects, symbols, cultural values, and game practices that involved children's multisensory experiences. The results of the study shown: (1) The perspective of linguistic, the repetitive and rhythmic diction structure in CCS song strengthens the language acquisition enriches the vocabulary; (2) The perspective of anthropology, symbols of movement and lyrics reflect the values of mutual cooperation, compliance with governing norms, and the intergenerational transmission of traditions; and (3) The perspective of learning relevance, practice of singing and playing CCS can be integrated into early childhood education. The latest finding aims to develop cognitive, socio-emotional, and spiritual domains aligned with local culture. The tembang dolanan can be used as a relevant culture-based learning medium in early childhood education. At the same time, tembang dolanan can also help preserve local traditions amid globalization.
Etnolinguistik Dhukun Pijet di Kabupaten Semarang: Menggali Makna dan Kearifan Lokal Febri Magit Setyoko; Suwardi Endraswara; Doni Dwi Hartanto
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 14, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v14i2.137847

Abstract

This study examines linguistic unitsi dhukun pijet activities performed by traditional healers in Candirejo Village, Semarang Regency Semarang. This study aims to reveal the lexical and cultural meanings, as well as the local wisdom contained in the linguistic units of traditional massage therapy. This study uses a qualitative descriptive approach, with data collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, then validated using triangulation of techniques and sources. The results of the study identified 51 linguistic units classified into categories of words and discourse. Word linguistic units were categorised based on the names of diseases (20), massage tools (11), massage techniques (9), and body parts (8). Discourse linguistic units were based on massage healers' incantations (3). Analysis showed there was a referential function, with linguistic units containing cultural meaning. The local wisdom that emerged was classified into three categories: knowledge, taboos, and mystical spirituality. This study concludes that the linguistic units that emerge in the traditional massage practitioner's healing process are not only technical communication tools but also linguistic scientific documentation within Javanese culture, thereby serving as a learning reference for futuregenerations. Key words: dhukun pijet; Lingual Unit; Meaning; local Wisdom; Eethnolinguistic 
Dominasi atau Persetujuan? Hegemoni Keluarga dalam Praktik Perjodohan pada Cerita Romansa Jodho Pilihan Bapak Hafit Yudya Kristalianto; Suwardi Endraswara; Doni Dwi Hartanto
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 14, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v14i2.137840

Abstract

Javanese romance stories often portray socio-cultural issues within society, including the practice of arranged marriage. In Javanese culture, family involvement in determining a child’s spouse remains significant, particularly for women, as considerations of social status, family reputation, and economic stability frequently shape marital decisions. This phenomenon reflects the operation of family hegemony through the internalization of cultural values and social consent. This study examines the forms of family hegemony and the female character’s responses to arranged marriage in the romance story Jodho Pilihan Bapak. Using a qualitative approach, this research applies content analysis within the frameworks of sociology of literature and Gramsci’s theory of hegemony. The data consist of narrative passages and dialogues that represent family power relations and the female character’s responses. The findings reveal that family hegemony operates through moral pressure, the legitimization of social and economic values, and parental authority in determining a life partner. Although the female character initially experiences inner conflict, she gradually negotiates and eventually accepts the arranged marriage. These findings suggest that arranged marriage in Javanese romance literature functions not only as a cultural representation but also as a mechanism through which family hegemony shapes individual consent. Furthermore, the study highlights the relevance of literary texts as critical material for Javanese literature learning.