Claim Missing Document
Check
Articles

Kata Penyukat dalam Bahasa Madura dan Keparalelan-Nya Dalam Morfologi Rizal Afandi; Qurratul Aini
Jurnal Bima : Pusat Publikasi Ilmu Pendidikan bahasa dan Sastra Vol. 2 No. 3 (2024): September : Jurnal Bima : Pusat Publikasi Ilmu Pendidikan bahasa dan Sastra
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/bima.v2i3.995

Abstract

Madurese has the same words as other languages. The word suffocation in a language has different characteristics from other languages, and also has its own variations in its use. This article aims to find out what types of words in Madurese are and how to use them. This research uses a descriptive qualitative method which consists of three stages, namely the stage of providing data, analyzing data, and also presenting the results of data analysis, thus producing types of words in Madurese. The first is the word animal lover, its use is only specific to animals, such as: jhudhu, tide, etc. Secondly, there is the word plant protector, its use is specific to plant species, for example: kèjhang, tondun, kerreng, ghundung, etc. And the third is the word insulator for inanimate objects, which includes the words insulator in size, the words insulator in container, and the words insulator in action. The use of the word insulator for each type is different, depending on the object being addressed, whether animate or inanimate.
RENTAL OFFICE DI BANDA ACEH: (Tema: Arsitektur Neo vernakular) Uci Faradilla; Qurratul Aini
Rumoh Journal of Architecture Vol. 10 No. 2 (2020): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/qfk65704

Abstract

Rental Office di Banda Aceh di khususkan untuk perusahaan dalam bidang jasa konstruksi dan jasa notaris. Di Banda Aceh, bidang jasa konstruksi dan jasa notaris banyak menjadikan pertokoan dan rumah tinggal sebagai tempat usaha, sehingga menyebabkan bangunan di Banda Aceh beralih fungsi. Perencanaan Rental Office di Banda Aceh berlokasi di jalan T. Hasan Dek, Simpang Surabaya, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh. Maksud dari perencanaan ini adalah agar tidak terjadinya perubahan fungsi bangunan secara berkelanjutan di masa yang akan datang, serta tersedianya kebutuhan ruang usaha yang mampu menampung kegiatan perkantoran sesuai dengan standarisasi. Pendekatan tema pada rancangan menggunakan Arsiektur Neo-Vernacular, dengan alasan ingin menampilkan identitas lokal daerah Aceh, yang dikombinasikan dan disesuaikan dengan perkembangan pembangunan pada masa sekarang. Klasifikasi desain yang diterapkan menggunakan, modul ruang sewa yaitu Small Space, Medium dep Space dan Large Space. Berdasarkan peruntukannya, klasifikasi kantor berfungsi majemuk dan berdasarkan tipikal pencapaian menerapkan klasifikasi tipe koridor terbuka. Analisis yang dipakai dalam bangunan ini yaitu analisis fungsional, analisis tapak dan analisis bangunan. Rental Office di Banda Aceh berorientasi ke arah timur dan barat, sebagai adopsi orientasi rumah tradisional Aceh. Menerapkan bentuk panggung sebagai pilotis dan menerapkan folosofi kebiasaan sosial masyarakat Aceh pada konsep ruang. Luas Lahan 3.0291 m2. Massa bangunan merupakan masa tunggal, dengan Koefesien Dasar Bangunan 7.134 m2, dan luas keseluruhan bangunan 34.614 m2. Rental Office di Banda Aceh menampung 54 perusahaan jasa konstruksi dan jasa notaris serta memiliki fasilitas penunjang yaitu ruang seminar, coffe shop, restoran, ruang laktasi, fitness center, bank unit dan mini market.
ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN NAGAN RAYA: (Tema: Green Architecture) Heri Safriadi; Qurratul Aini
Rumoh Journal of Architecture Vol. 10 No. 1 (2020): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/6fdr3w89

Abstract

Kecamatan Suka Makmue merupakan salah satu Kecamatan yang sedang mengalami pemekaran dari 10 Kecamatan yang ada di Kabupaten Nagan Raya.Oleh karena itu sangat cocok untuk pembangunan sebuah sarana dan prasarana Islamic Center yang diharapkan bisa menampung segala jenis kegiatan yang bergerak dibidang Informatika Islam sperti; Masjid, Museum peninggalan bersejarah Islam, Perpustakaan Islam serta kegiatan pendidikan yang bersifat formal seperti; Sekolah Informatika Islam tingkat SMP dan Sekolah Informatika Islam tingkat SMA, dan pendidikan yang bersifat informal seperti; Perlombaan TPQ, MTQ serta tempat perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Konsep rancangan Islamic Center di Kabupaten Nagan Raya menerapkan konsep holism yaitu penerapan keseluruhan prinsip-prinsip green architecture yang ramah lingkungan dan sedikit menkonsumsi sumber daya alam, termasuk energi, air, dan material, serta sedikit menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sehingga mampu memberikan citra bagi masyarakat Kabupaten Nagan Raya serta karakter tersendiri bagi bangunan Islamic Center Kabupaten Nagan Raya itu sendiri. Rancangan Islamic Center di Kabupaten Nagan Raya diawali dengan pendekatan studi literatur dari studi objek sejenis, studi lapangan (survey) dan penekanan tema pada bangunan sehingga dapat menghasilkan satu desain rancangan yang sesuai dengan kondisi tapak, lingkungan dan potensi tapak serta jumlah pemakai bangunan itu sendiri. Rancangan Islamic Center di Kabupaten Nagan Raya memiliki luasan lahan 3 Ha (Hektar) dan jumlah pemakai bangunan Islamic Center 5% dari jumlah keseluruhan penduduk Kabupaten Nagan Raya yaitu 8.356 jiwa.
REDESAIN PASAR INDUK LAMBARO DI ACEH BESAR: (Tema: Arsitektur Neo Vernakular) Dhany Safandi; Qurratul Aini
Rumoh Journal of Architecture Vol. 10 No. 1 (2020): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/ewv59r69

Abstract

Redesain Pasar Induk Lambaro di Aceh Besar dilatar belakangi oleh kondisi pasar yang kumuh dan tidak teratur, terbatasnya ruang untuk berjualan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam proses jual beli. Maksud dari perencanaan ini adalah menciptakan sebuah pasar yang bersih, nyaman dan aman bagi pejual dan pembeli dengan tujuan menghilangkan kesan pasar tradisional yang kumuh lewat penataan pembangunan yang lebih baik. Rumusan masalah merencanakan kembali Pasar Induk Lambaro yang sesuai dengan standar dan menerapkan tema Arsitektur Neo Vernakular. Pasar Induk Lambaro terletak di Desa Lambaro Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Tema Arsitektur Neo Vernakular dipilih berkeinginan untuk menciptakan bangunan yang berangkat dari adat istiadat dan budaya setempat, guna mempertahankan kebiasaan/tradisi masyarakat Aceh yang secara turun temurun dan penguatan identitas lokal. Klasifikasi perancangan tergolong kedalam jenis Pasar Induk dengan lingkup pelayanan Pasar Regional, dan kepemilikan pasar adalah Pemerintah. Analisis – analisis yang dilakukan ialah seperti analisis lingkungan, analisis fungsional dan analisis bangunan. Penerapan rancangan di angkat dari unsur budaya dengan mempertahankan gaya Arsitektural Rumoh Aceh serta mengatur pola ruang bangunan yang sesuai, guna menghindari kebiasaan masyarakat Aceh dari segi ketidak teraturannya. Pasar Induk Lambaro memiliki luas lahan ±37.353 m² (3.7 Ha). Massa bangunan merupakan massa tunggal yang teridiri dari 2 lantai, dengan luas lantai dasar 13.086 m² dan luas lantai keseluruhan 25.124 m². Fasilitas yang akan direncanakan pada Pasar Induk Lambaro yaitu Kegiatan Utama (Pasar Basah dan Kering), Kegiatan Penunjang (Kafetaria, Ruang Laktasi, Musholla, Atm Center, dan Klinik), Kegiatan Pengelola (Kantor Pengelola) dan Kegiatan Servis (Pos Keamanan, Cleaning Servis, Gudang Barang, dan Cassier Of Parking).
IDENTIFIKASI PENERAPAN KONSEP NEW NORMAL PADA KAFE DI ACEH: Identification of Application of the New Normal Concept at Cafes in Aceh Qurratul Aini; Henny Marlina; Febria Ningsih; Irval Huzairi
Rumoh Journal of Architecture Vol. 12 No. 1 (2022): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/rumoh.v12i1.193

Abstract

Jumlah kafe di Aceh semakin hari semakin bertambah, sehingga menambah wadah berkumpul bagi masyarakat dalam bersosialisasi secara langsung. Saat kondisi pandemic Covid-19, kafe menjadi salah satu area publik yang dihimbau untuk mengatur pembatasan sosial. Berbagai kebijakan untuk menekan penularan virus dilakukan, yaitu; pembatasan waktu, pembatasan jarak dan pembatasan kuantitas pengunjung. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan konsep new normal pada beberapa kafe di Aceh. Jumlah sampel adalah 21 kafe, yang berada di beberapa wilayah Aceh. Hasil yang diperoleh bahwa sebagian besar kafe yang berada di Aceh belum menerapkan konsep new normal secara signifikan, di mana 43% dari 21 kafe belum menerapkan konsep new normal. Penerapan konsep new normal yang paling banyak diterapkan adalah dengan memberi jarak lebih jauh antar set furniture yaitu mencapai 57%. Konsep lain yang juga diterapkan adalah mewajibkan memakai masker, sistem layanan take away dan mempertimbangkan penghawaan dan pencahayaan yang baik.
IDENTIFIKASI SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH PADA PASAR IKAN DI KECAMATAN BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH: Identification of Fish Market Waste Management System in Baiturrahman, Banda Aceh Henny Marlina; Qurratul Aini; Hazanul Fuady; Riskan Fauzy; Hijrah
Rumoh Journal of Architecture Vol. 11 No. 2 (2021): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/rumoh.v11i2.171

Abstract

Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat dan kampung, diperlukan sarana perekonomian melalui pasar kampong sebagai pusat interaksi sosial masyarakat perkampungan. bentuk interaksi sosial di Kecamatan Baiturahman juga hadir pasar kampong, baik yang yang direncanakan secara permanen maupun pasar dadakan. Kecamatan Baiturahman memiliki beberapa pasar yang bersifat permanen yaitu; pasar pagi Setui, Pasar Mini Kampong Baro dan pasar pagi Peniti. Ketiga pasar inilah yang menjadi objek pengamatan. Objek pengamatan difokuskan pada pasar ikan dengan mengamati sistem pengolahan air limbah pada ketiga pasar ikan tersebut. Metode yang dilakukan melalui pengamatan dan wawancara terhadap pelaku pasar baik pengelola, pedagang dan pembeli. Berdasarkan Identifikasi Sistem Pengolahan Limbah pada ketiga Pasar Ikan di Kecamatan Baiturrahman ini, dapat disimpulkan bahwa: Terdapat dua jenis limbah di pasar ikan, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berupa bagian ikan yang tidak dipakai seperti: tulang, kepala, ingsang, kulit, usus, perut dan sisik. Limbah cair berupa darah ikan serta air dari hasil penyiraman dan pembersihan ikan. Sistem pengolahan limbah pada masing-masing pasar berbeda-beda. Sistem pengolahan limbah pada Pasar setui dilakukan dengan memisahkan limbah padat dan limbah cair. Limbah padat diolah menjadi kompos dan limbah cair dialirkan melalui bak kontrol ke bak penguraian kemudian ke bak pengolah dan terakhir dibuang ke drainase. Pada Pasar Gemilang Kampung Baru dan Pasar Pagi Peniti, pengaliran limbah cair langsung dialirkan ke saluran yang ada di lingkungan tanpa pengontrolan jenis limbah, sedangkan limbah padat langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah. Proses pembuangan limbah cair pada pasar pagi peniti dilakukan melalui proses penyaringan namun tidak melalui proses pengolahan dengan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Kondisi ketiga pasar tersebut sudah tersedia drainase khusus untuk mengalirkan limbah cair ke luar bangunan pasar. Namun proses pengolahan limbah baik padat maupun cair hanya dilakukan oleh Pasar Pagi Setui.
Legal Certainty of Ownership and Transfer of Rights to Alternate Rice Field Land in Kerinci Regency Qurratul Aini; M.Hasbi; Syofiarti
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 5 No. 4 (2025): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jlph.v5i4.1653

Abstract

The Kerinci indigenous people apply a system of land tenure of alternate rice fields that are inherited matrilineally. However, this system faces obstacles in legal certainty, especially related to the transfer of rights and land registration. This study aims to analyze the pattern of control, legal certainty, and dispute resolution mechanism in the system. The method used is empirical juridical with an analytical descriptive approach. The results show that although the rotational rice field system is still in effect, the absence of ownership certificates hinders legal certainty, while dispute resolution still relies on customary institutions. Harmonization of customary law and agrarian law is needed to improve legal protection for the Kerinci indigenous people.
KEABSAHAN SAKSI DALAM PERNIKAHAN MENURUT HUKUM ISLAM Hafidhul Umami; Qurratul Aini
JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah Vol. 2 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : ADIDAS: Asosiasi Dosen Syari'ah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A marriage witness is a person who sees, hears, or knows about an event/occurrence of a marriage contract between the marriage guardian/representative and the prospective husband/representative with the aim that they will be able to provide the necessary information in the interest of the marriage case that they know about. The presence of witnesses in a marriage contract is a determinant of whether or not the marriage contract is valid. The legal basis for witnesses in marriage consists of the Al-Qur'an and Hadith. Certain conditions that can be appointed as a witness in the marriage contract are a Muslim man, fair, aqil, mature, not impaired memory and not deaf or deaf (Article 25 KHI).
Perbandingan Peramalan Jumlah Produksi Air Bersih PT. Air Minum Giri Menang dengan Metode Double Exponential Smoothing dari Holt dan Brown menggunakan Optimasi Algoritma Kuadratik Zulhan Widya Baskara; Era Pazira; Zulhan Widya Baskara; Qurratul Aini
Indonesian Journal of Applied Statistics and Data Science Vol. 1 No. 1 (2024): November
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/ijasds.v1i1.5793

Abstract

Regional Water Supply Companies (PDAM) play a crucial role in ensuring the availability of clean and consumable water. This study aims to compare the Double Exponential Smoothing (DES) methods—Brown’s one-parameter and Holt’s two-parameter—for forecasting the clean water production of PT. Air Minum Giri Menang (Perseroda), emphasizing parameter optimization using a quadratic algorithm. The algorithm efficiently determines the optimal smoothing parameters to minimize forecasting errors measured by the Mean Absolute Percentage Error (MAPE). The results indicate that Brown’s DES method, with a MAPE of 3.29%, outperforms Holt’s DES method, which has a MAPE of 3.96%. While both methods are highly accurate for forecasting (MAPE ≤ 10%), the quadratic algorithm optimization makes Brown’s DES method the preferred choice for planning clean water production for the January–June 2023 period.
Contrastivity of Vowel and Consonant Phonemes in Arabic and Indonesian: Systems, Similarities and Differences, and Phonological Implications in Foreign Language Learning Qurratul Aini
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v8i2.2241

Abstract

This study aims to analyze and compare the vowel and consonant phoneme systems in Arabic and Indonesian and examine their implications for the foreign language learning process. Arabic is known to have vowel phonemes that are distinguished based on quantity, namely long and short, while Indonesian does not recognize differences in vowel quantity phonologically. In addition, Arabic has distinctive consonants such as pharyngeal and emphatic phonemes that are not found in Indonesian. With a descriptive qualitative approach, this study collected data through interviews, observations, and analysis of documents and phonological literature. The results of the study indicate that differences in phoneme systems between the two languages ​​affect pronunciation accuracy and phonetic perception in learning. These findings provide a theoretical and practical basis for developing foreign language teaching strategies that are more adaptive to the phonological characteristics of each language. The implications of contrastive analysis in Arabic language learning include: teacher mastery of the system so that teachers are able to predict the difficulties experienced by students and the preparation of teaching materials is based on the results of comparisons starting from easy to difficult levels and conducting intensive exercises.