Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

GAMBARAN KESIAPSIAGAAN PARA NELAYAN TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEJADIAN TENGGELAM (WATER RESCUE) DI PANTAI LABUHAN DESA ANTIGA Ni Putu Juliantari; I Gusti Ngurah Juniartha; I Kadek Saputra
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p14

Abstract

Keadaan darurat dapat terjadi kapan saja, termasuk di perairan. Salah satu kejadian darurat yang sering terjadi diperairan adalah tenggelam, yang kerap menimpa nelayan karena kurangnya persiapan saat melaut. Kematian akibat tenggelam bisa dicegah dengan pertolongan pertama yang cepat dan tepat, sehingga kesiapsiagaan sangat penting untuk mencegah dan menangani insiden tenggelam. Kesiapsiagaan tenggelam menjadi peran penting terhadap antisipasi maupun pemberian pertolongan pertama pada kejadian tenggelam. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik dan kesiapsiagaan nelayan dalam memberikan pertolongan pertama pada insiden tenggelam (water rescue) di pantai Labuhan, Desa Antiga. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional, dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 67 responden sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki pengalaman buruk terkait insiden tenggelam, seperti pernah tenggelam, diterjang gelombang, terjatuh dari kapal, atau terseret ombak. Tingkat kesiapsiagaan mereka tergolong cukup siap (52,2%), namun pengetahuan dan sikap cenderung kurang siap (55,2%), serta sistem peringatan bencana cenderung kurang siap (46,3%). Sementara perencanaan keadaan darurat masuk kategori sangat siap (52,2%), dan mobilisasi sumber daya berada pada tingkat sangat siap (46,3%). Kesimpulannya, banyak nelayan Desa Antiga menganggap bahwa kematian akibat tenggelam termasuk hal yang biasa dan dapat terjadi pada nelayan yang memiliki pengalaman. Karena itu, kesiapsiagaan perlu ditingkatkan. Penelitian ini menyarankan agar institusi keperawatan dan pemerintah mengadakan edukasi dan pelatihan terkait penanggulangan insiden tenggelam untuk meningkatkan kesiapsiagaan para nelayan.
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU CARING PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANGLI Putu Rapita Dewi; Made Oka Ari Kamayani; I Gusti Ngurah Juniartha; Komang Menik Sri Krisnawati
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p12

Abstract

Perilaku caring merupakan hal yang diharapkan pasien untuk dapat diberikan oleh perawat dalam proses perawatan. Adanya aduan masyarakat melalui website resmi Rumah Sakit Umum Daerah Bangli mengenai ketidakpuasan pada pelayanan perawat di ruang rawat inap mengindikasikan adanya perilaku yang kurang sesuai dengan harapan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku caring perawat di RSUD Bangli. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di empat ruangan rawat inap, ICU, dan ICCU selama dua minggu dengan jumlah sampel 75 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis univariat pada kedua variabel menyatakan nilai tengah skor kecerdasan emosional responden adalah 56,00 dan sebagian besar berada pada kategori tinggi yaitu 52 orang (69,3%). Rata-rata skor perilaku caring responden adalah 74,39, sebagian besar berada pada kategori baik sebanyak 72 orang (96,0%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji Spearman Rank diketahui nilai r = 0,536 dan nilai p = 0,000, artinya terdapat hubungan cukup kuat dengan arah positif antara kecerdasan emosional dengan perilaku caring perawat di ruang rawat inap RSUD Bangli. Tingkat kecerdasan emosional dan perilaku caring perawat yang sudah baik perlu dipertahankan dan untuk perawat dengan kategori kurang baik dapat ditingkatkan dengan cara mengadakan pelatihan agar kualitas pelayanan kesehatan juga meningkat.
GAMBARAN SAFETY CULTURE PRAMUWISATA DALAM PERTOLONGAN PERTAMA TENGGELAM PADA WISATA LUMBA-LUMBA DI PANTAI LOVINA Ni Kadek Dewi Yani; I Kadek Saputra; I Made Suindrayasa; I Gusti Ngurah Juniartha
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i03.p14

Abstract

Safety culture sangat penting diterapkan di sektor pariwisata bahari, khususnya aktivitas melihat lumba-lumba di Pantai Lovina. Safety culture yang mencakup budaya yang berkaitan dengan sikap dan perilaku pramuwisata lumba-lumba diimplementasikan bervariasi antar organisasi pemandu wisata di pantai Lovina, salah satunya penerapan safety culture penanganan tenggelam. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penerapan safety culture pramuwisata dalam pertolongan pertama tenggelam pada wisata lumba-lumba di Pantai Lovina. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif observatif. Responden pada penelitian ini merupakan pramuwisata lumba-lumba yang tergabung dalam organisasi pramuwisata di Pantai Lovina yang dipilih dengan melalui metode purposive sampling dengan jumlah 121 responden. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan Safety Culture Assessment Review Team (SCART). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan safety culture oleh pramuwisata lumba-lumba dalam pertolongan pertama tenggelam termasuk dalam kategori B dengan bobot total skor 748,63. Peringkat B mengindikasikan bahwa kinerja keselamatan sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan dan tidak menimbulkan risiko keselamatan. Namun, masih ada beberapa hal terkait keselamatan yang perlu ditingkatkan oleh pramuwisata ataupun organisasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan organisasi untuk meningkatkan perilaku safety culture pada pramuwisata yaitu dengan memberikan motivasi dan dukungan berkelanjutan. Hal ini dilakukan agar pramuwisata dapat memperkuat komitmen pramuwisata dalam mengutamakan keselamatan saat bekerja, yang salah satunya diwujudkan melalui kepatuhan penuh terhadap SOP yang ada.
HUBUNGAN PENGETAHUAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN LALU LINTAS DENGAN ALTRUISME PADA LINMAS Yuli Sartikah; I Made Suindrayasa; I Kadek Saputra; I Gusti Ngurah Juniartha
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p01

Abstract

Keterlambatan penanganan kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab kematian tertinggi nomor tiga di dunia, sehingga diperlukan pemberian pertolongan pertama segera. Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) merupakan masyarakat yang dibekali pengetahuan terkait penanganan bencana serta berpeluang besar menjadi first responder ketika terjadi kecelakaan lalu lintas, sehingga Linmas perlu memiliki pengetahuan pertolongan pertama. Pengetahuan pertolongan pertama erat hubungannya dengan altruisme, pengetahuan memiliki peran penting sebagai dasar seseorang melakukan suatu tindakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan pertolongan pertama pada kecelakaan lalu lintas dengan altruisme pada Linmas di sekitar desa di jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai, Denpasar Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan rancangan deskriptif korelatif dan pendekatan cross-sectional. Sampel yang terlibat berjumlah 52 Linmas dan dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian adalah uji Spearman Rank dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan pertolongan pertama dengan altruisme pada Linmas di sekitar desa di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai, Denpasar Selatan, dengan nilai signifikansi p=0,006 (p<0,05) dan nilai koefisien korelasi r=0,375 yang menunjukkan kekuatan hubungan antar variabel lemah. Linmas diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan pertolongan pertama serta altruisme yang dimiliki melalui berbagai sumber informasi terkait pertolongan pertama.
GAMBARAN KESELAMATAN BERSELANCAR OLEH PEMANDU SURFING DI PANTAI KUTA BALI Aulia Zahra; I Gusti Ngurah Juniartha; I Kadek Saputra; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p13

Abstract

Pantai Kuta merupakan destinasi wisata surfing yang merupakan salah satu daya tarik para wisatawan berkunjung ke Bali. Namun di samping daya tariknya, tidak sedikit laporan mengenai adanya kecelakaan-kematian saat wisatawan melakukan surfing. Terjadinya kejadian kecelakaan surfing yang mengakibatkan cedera fisik bahkan sampai kematian di Pantai Kuta. Untuk mencegah hal tersebut, dibutuhkan keterlibatan bystander salah satunya pemandu surfing. Pemandu surfing wajib memiliki pengetahuan yang luas tentang olahraga berselancar, kondisi di lokasi berselancar, serta pengetahuan tentang pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan keselamatan berselancar oleh pemandu surfing di Pantai Kuta, Bali dan memang belum pernah ditemukan pada penelitian terdahulu. Pemandu selancar memiliki peran penting dalam memastikan keselamatan dan pengalaman yang menyenangkan bagi peselancar. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dan pendekatan cross-sectional dengan jumlah sampel 52 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Metode penelitian menggunakan teknik wawancara dan pengisian kuesioner. Skor hasil dikategorikan dalam tingkat rendah, cukup, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan para pemandu surfing dalam kategori tinggi (100%). Peneliti selanjutnya yang ingin meneliti dengan topik yang serupa, dapat menambahkan komponen penelitian yang mengarah pada pengembangan intervensi yang dapat meningkatkan pengetahuan pemandu surfing atau bisa mengkaji faktor internal dengan indepth interview dalam penelitian kualitatif.
GAMBARAN TINGKAT DAN TUNTUTAN STRES AKADEMIK MAHASISWA BARU TAHUN PERTAMA PSSKPPN DALAM MENJALANI SEMESTER AWAL Ni Putu Nesia Santika Dewi; I Kadek Saputra; I Gusti Ngurah Juniartha
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p15

Abstract

Mahasiswa PSSKPPN Universitas Udayana semester awal mengalami tingkat stres akademik yang cukup tinggi sehingga memerlukan perhatian yang lebih. Faktor-faktor penyebab mahasiswa mengalami stres disebabkan oleh dua faktor yaitu internal dan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat dan tuntutan stres akademik mahasiswa baru tahun pertama PSSKPPN di Universitas Udayana. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif observasional. Responden penelitian ini adalah mahasiswa baru tahun pertama PSSKPPN di Universitas Udayana sejumlah 84 responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Probability Sampling dengan menggunakan metode Simple Random Sampling. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua instrumen pengambilan data menggunakan kuisioner Perception of Academic Stress (PAS) dan kuisioner Student-Life Stress Inventory (SLSI). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia 19 tahun sebanyak 62 orang (73,8%), dan didominasi oleh perempuan sebanyak 75 orang (89,3%). Hasil penelitian mengenai tingkat stres akademik mahasiswa sebagian besar responden memiliki tingkat stres akademik sedang sebanyak 59 orang (70,2%), tingkat stres akademik tinggi sebanyak 24 orang (28,6%) dan tingkat stres akademik rendah sebanyak 1 orang (1,2%). Dan hasil dari tuntutan stres akademik mahasiswa yaitu tinggi, mahasiswa mengalami frustasi dalam kategori tinggi sebanyak 44 orang (52,4%). Pada indikator konflik menunjukkan, sebagian besar mengalami tuntutan stres akibat konflik yang tinggi sebanyak 72 orang (85,7%), kemudian 72 orang (85,7%) mengalami tuntutan stres akibat tekanan dalam kategori tinggi. Sedangkan sebanyak 47 orang (56%) mengalami tuntutan stres akibat perubahan dalam kategori tinggi, serta sebanyak 43 orang (51,2%) mengalami tuntutan stres pemaksaan yang tinggi juga. Dari data ini, dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami tuntutan stres akibat konflik dan tekanan. Dari temuan tersebut disarankan mahasiswa dapat menerapkan strategi koping stres.